BROK3N

BROK3N
Bab 47 Kembalinya Zaki



Satu bulan sudah berlalu. Hari-hari ku dirumah juga sangat berbeda sekarang karna kehadiran baby Misela. Dia bayi yang sangat baik tak pernah rewel dan masih suka tidur entah itu siang atau malam. Jadi aku tak pernah sekalipun kewalahan merawatnya.


Kondisi ku juga sudah pulih karna aku melahirkan secara normal. Hanya sedikit saja masih ada rasa sakit dibagian intim ku karna jahitan paska melahirkan. Berbeda dengan mereka yang lahir secara cecar harus pulih untuk waktu yang lebih dari 3 bulan.


Bahkan masa nifas ku juga sudah selesai sejak satu Minggu lalu. Aku sudah bisa aktifitas seperti biasa dan bekerja lagi. Udah banyak waktu yang aku buang karna kami tidak mungkin mengandalkan orang lain terus. Untung saja aku punya bos yang baik hati dan pengertian seperti Bu Dania.


Putri dan teman-teman kerja ku sudah semuanya menjenguk Misela. Bahkan mereka banyak meninggalkan kado untuk baby Misela. Aku tak akan pusing untuk keperluan baby Misela saat ini karna pemberian dari tetangga juga.


Ibu juga lebih memilih berhenti bekerja di pasar katanya mau fokus mengurus cucu satu-satunya itu. Kita juga udah sepakat kalau Ibu yang mengurus baby Misela dan hanya aku saja yang kerja untuk menafkahi keluarga.


Aku akan kembali bekerja di toko Bu Dania. Karna Bu Dania sudah sangat membutuhkan karyawan, akhir-akhir ini tokonya cukup ramai pengunjung.


Sebelum bekerja aku akan pumping asi dulu untuk stok selama aku tinggal kerja karna kalau uangnya dibagi untuk beli susu formula gaji ku tidak akan cukup untuk kami semua selama satu bulan. Biarlah baby Misela asi eksklusif selama 6 bulan penuh. Itu juga saran dari bidan.


Jika aku sif pagi Hanan selalu menjemput ku. Tapi jika sif siang aku berjalan kaki sendiri tapi pulang dijemput Hanan. Begitu terus setiap harinya. Aku masih selalu merepotkan pada Hanan walau aku menolaknya dia tidak pernah mau mendengarkan ku. Aku hanya tidak mau dia jadi bahan gunjingan orang-orang.


***


Di toko Bu Dania.


"Selamat da.....tang.!" suara ku yang biasanya semangat tiba-tiba lemas melihat siapa yang memasuki toko tempat ku bekerja.


Ya aku tercengang melihat sosok seorang laki-laki dengan setelah kemeja abu-abu sedang bergandengan tangan dengan seorang gadis cantik yang memakai gaun mewah khas desainer ternama. Aku mengenal mereka. Dia adalah Zaki dan Sinta. Kami pun mematung sesaat.


"Adel?" Suara Zaki lirih memanggil nama ku.


"Eh Adelia siswi terpintar di sekolah bekerja di toko roti murahan begini haha gak salah?" Sinta mulai menghina ku.


"Jaga mulut mu Sin." Bentar Zaki.


"Miris banget sih nasib loe buat apa coba loe susah payah sekolah tapi cuma jadi karyawan receh begini haha." Sinta tak mendengarkan Zaki dia kembali mengolok-olok ku tapi aku tak akan menerima cacian itu.


"Iya kamu benar Sin kasian sekali nasib ku. Aku udah susah payah menggapai cita-cita ku agar aku bisa kuliah dan mengubah nasib ku tapi dihancurkan oleh laki-laki tak punya otak seperti dia." Cetus ku.


"Maksud loe apa? Loe mau bilang kalau Ka Zaki adalah laki-laki yang loe maksud? Jangan mimpi deh loe?" Sinta tak terima dengan apa yang aku ucapkan. Sepertinya Sinta belum tau semuanya.


"Loe tanya aja tuh sama Dia?" Ku ulurkan jari telunjuk ku pada Zaki. Menatap tajam penuh Amarah.


"Udah stop kita pergi ke toko lain aja." Zaki terlihat gugup lalu mengajak Sinta pergi.


"Iihh gue belum selesai bicara sama dia." Sinta ngotot untuk tetap berada di dalam toko tapi Zaki menariknya dengan paksa.


"Jangan buat keributan."


Mereka pun keluar dari toko tempat ku bekerja.


Aku sedikit bernafas lega karna sebelumnya rasa sesak di dada tiba-tiba datang begitu saja.


Tapi setelah melihat mereka naik mobil dan pergi tiba-tiba kaki ku menjadi lemah tak berdaya ahirnya aku terduduk dilantai. Aku diam sesat. Ka Hesti memegang kedua bahu ku.


"Del kamu gak papa? Perlu ku panggilkan Hanan?" Tanya Ka Hesti.


Aku hanya menggeleng kepala ku.


"Ka tolong bantu aku duduk." Ka Hesti lalu memapahkan ku kebagian kasir. Untung saja saat itu tak sedang ramai pengunjung. Mungkin kalau iya aku tak akan bisa meluapkan isi hati ku yang sakit hati karna perlakuan Zaki.


Bagaimana mungkin seorang laki-laki setega itu pada ku. Setelah mengambil kesucian ku dia pergi tak ada kabar dan sekarang malah asik dengan wanita lain. Tak bisakah dia tanya kabar ku dan anaknya. Aku dirundung pilu yang mendalam. Coba kalau Hanan melihat dia pasti akan ada baku hantam diantara mereka


"Ka jangan bilang Hanan masalah ini tadi ya. Orang tadi adalah orang yang udah ngancurin hidup ku. Kalau Hanan tau mungkin akan jadi panjang."


Ka Hesti hanya mengangguk kan kepala nya.


Jam kerja ku pun selesai. Hari ini aku sif pagi jadi pukul dua aku udah pulang. Ahirnya aku bisa pulang dan bertemu dengan baby Misela.


Aku pulang sendiri karna Hanan belum selesai.


Cuaca siang ini tak begitu panas. Ada banyak awan hitam yang melewati matahari sehingga membuat perjalanan ku nyaman.


Ku berjalan santai di trotoar jalan melihat sekeliling yang tak begitu ramai.


"Del tunggu." Ada seseorang yang memanggil ku dari arah belakang. Ku coba untuk membalikan badan ku.


"Zaki? Kenapa kamu mengikuti ku?" Aku tak menyangka dia berani menemui ku tapi kali ini dia sendirian tanpa Sinta lagi. Setidaknya aku tak perlu membuang tenaga ku untuk berdebat dengan Sinta.


"Del gue mau ngomong sebentar sama loe. Loe ada waktu gak? Please Del." Zaki memohon dengan wajah harunya.


Sebenernya aku tak mau menemui nya tapi mungkin dia akan memberikan alasan yang masuk akal untukku agar aku tak membencinya. Atau aku memang ingin mendengarkan apa kabar dia selama ini.


Ahirnya aku mengajak nya duduk di sebuah kursi kayu di bawah pohon yang ada di pinggir trotoar jalan.


Cukup lama Zaki tak memulai perkataan nya. Mungkin dia sedang mencari alasan atau dia bingung mau memulai nya dari mana.


"Maafin gue Del." Kata Zaki mengawali pertemuan kita.


"Maaf? Semudah itu kamu minta maaf setelah apa yang udah aku lalui bahkan aku gagal mendapatkan beasiswa kuliah ku karna ulah mu."


"Gue tau loe menderita banyak gara-gara gue Del. Makanya gue mau minta maaf sama elo. Terserah loe mau maafin gue atau engga. Tapi Del gue menghindari loe karna gue di ancam oleh Papah. Kalau sampai Papah tau gue ngehubungin loe atau ketemuan begini loe bakal dibuat celaka bahkan Ibu loe juga bakal ikut celaka." Zaki menjelaskan dengan tatapan kosong. Tapi aku melihat sebuah penyesalan yang mendalam disana.


"Terus kenapa kamu sekarang maksa ketemu sama aku Zak?"


"Papah gue lagi di rawat di Rumah Sakit Del sekarang kondisi nya sedang koma. Jadi gue pikir Papah gak akan tau pertemuan kita. Gue balik juga karna kabar Papah yang sakit. Tapi ada baiknya juga karna gue bisa ketemu sama elo Del."


"Apa? Pak Ibnu di rawat?"


"Gue balik dari Singapura baru tadi pagi karna tau kabar Papah koma. Sinta memaksa ku buat berhenti di toko tempat loe bekerja katanya untuk membeli kue sebagai oleh-oleh. Dia gak tau loe kerja disitu. Awalnya gue menolak tapi dia terus maksa. Ahirnya gue turutin. Tadinya gue gak akan pernah balik lagi ke Indonesia karna gue gak sanggup buat ketemu loe apalagi anak kita."


"Kamu tau semuanya?"


"Gue tau loe hamil dan loe mau bunuh diri saat itu. Gue juga Del yang maksa Papah buat bayarin biaya rumah sakit elo dengan syarat gue gak akan temuin loe lagi. Gue lakuin itu karna gue tau Tante pasti akan kebingungan dengan biaya perawatan loe."


"Terus kamu diem aja tanpa menemui ku. Kamu diem aja gak kasih penjelasan? Kamu dengan seenaknya pergi begitu saja? Apakah kamu punya hati Zak...hiksss...!" Tangis ku pecah mendengar Zaki mengetahui kondisi ku saat itu.


"Maafin gue Del maafin gue. Gue gak bisa apa-apa. Gue tau Papah akan bener-bener nyakitin loe kalau gue gak nurutin apa katanya Semua itu gue lakuin karna terpaksa gue berada dalam ancaman Papah. Kalau sampe gue deketin loe gue yakin Papah gak akan segan-segan buat kalian lebih sengsara lagi gue tau Papah gue Del."


Zaki mencoba memegang tangan ku tapi aku menepisnya. Aku tak mau mendengarkan apa-apa lagi darinya. Aku pun berdiri dari tempat duduk ku dan pergi.


"Del tolong mengerti lah keadaan gue saat itu."


Aku tak menghiraukan Zaki. Ku percepat langkah ku agar tak mendengar ucapannya lagi.


Jika alasannya adalah karna ancaman Papah nya itu tak bisa aku terima. Bagaimana mungkin seorang laki-laki selemah itu. Aku yakin dia lebih memilih harta dari pada wanita miskin seperti ku. Harusnya aku sadar dari dulu kalau aku tak bisa bersamanya karna perbedaan kasta kita.


"Assalamu'alaikum Bu."


"Wa'alaikumsalam Bunda udah datang."


"Bunda cuci tangan dulu ya sayang."


Setelah ku letakkan tas aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum memegang baby Misela.


"Aduhh anak Bunda pinter ya." Ku peluk anak ku dengan hangat. Ku pejamkan mata ku tapi tertiba aku melihat wajah Zaki dalam gelap ku.


"Kamu kenapa Del kok tiba-tiba kesal?"


"Bu tadi Adel ketemu Zaki."


"Apa? Berani sekali dia menemui mu setelah semua yang kamu lalui karna ulah dia. Jangan pernah percaya ucapan nya Nak. Biarkan dia mendapatkan balasan dari Tuhan." Ibu yang mendengar nama Zaki juga ikut kesal dan beberapa kali menghentak kan kakinya karna kekesalan nya itu.


"Bu Zaki bilang dia di ancam Papah nya supaya aku dan Ibu gak terluka. Zaki juga tau semuanya Bu. Zaki tau Adel hamil dan mau bunuh diri. Zaki yang melunasi biaya rumah sakit Adel waktu itu. Apa ibu gak tau?"


"Apa? Ibu hanya tau saat Asep akan membayar biaya perawatan mu saat itu juga semuanya sudah lunas. Asep gak tau siapa yang membayar itu semua. Tapi Nak Zaki tau akan kondisi mu tapi dia sama sekali tak menemui mu selama setahun ini? Dasar laki-laki brengs*k."


"Bu jangan gitu gak baik mengumpat. Zaki selama ini di Singapura Bu dia kuliah disana."


"Pokoknya kamu jangan sampai terpengaruh Nak. Ibu gak mau Ibu gak rela kamu sama dia. Ibu lebih setuju kamu sama Hanan."


Ibu terus saja marah-marah. Aku hanya bisa mendengar kan karna memang yang Ibu ucapan kan itu banyak benarnya. Tapi kebimbangan itu menghampiri ku.


*****


...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...