
Malam ini aku dan Ibu akan berkemasan. Membereskan beberapa perabotan rumah dan merapikan setiap sudut rumah supaya pembelian puas dan segera setuju untuk menempati rumah kami.
Pak Rudi sudah menawarkan ke beberapa klien nya katanya ada dua orang yang berminat dengan rumah ini jadi aku dan Ibu sangat antusias bersih-bersih.
Aku sudah minta Putri untuk mencarikan kami kontrakan yang agak luas disana. Aku memutuskan untuk mengontrak saja karna uang ku tidak cukup untuk membeli sebuah rumah di kawasan Jakarta.
Aku juga minta Putri untuk mencarikan ku pekerjaan yang cocok untuk ku. Putri sangat tau apa yang aku suka dan engga nya.
Aku juga hanya bawa baju-baju yang penting saja karna koper yang aku bawa nanti akan penuh dengan keperluan Misela. Ku masukan baju yang gak perlu kedalam kardus untuk di sumbangkan besok.
"Bu jangan bawa baju banyak-banyak ya nanti kita beli aja yang baru di Jakarta. Ibu juga udah lama kan gak beli baju." Kata ku sambil masuk ke kamar Ibu.
"Iya Del ibu gak bawa banyak kok nanti koper ibu bisa kamu isi dengan bajunya Misela." Sahut Ibu.
"Iya Bu baju Misela banyak banget yang baru-baru dapet dari kadoan."
"Terus baju yang gak kepake ini gimana dibuang Del?"
"Ya engga lah Bu, ibu pisahin baju yang masih layak pakai sama yang engga. Besok kita ke panti asuhan dulu ya Bu nyumbangin baju-baju yang masih bisa di pake Bu. Pokoknya kita bawa seperlunya aja ya biar gak ribet nanti."
"Oiya boleh deh. Ini Ibu pisahin baju yang udah ada sobekannya sama jahitan udah amburadul. Nanti kita masukin gudang aja ya siapa tau pembeli rumah ini butuh buat lap kaca hehe"
"Ibu ada-ada aja. Adel mau tidurin Misela dulu ya Bu. Dari tadi udah nguap aja."
"Iya, dah cucu Oma. Bobo yang nyenyak ya."
"Tatah ma…"
***
Pagi pun tiba. Aku mengumpulkan kardus yang akan kami sumbangan kan. Jumlahnya ada 7 kardus.
"Bu itu taxi nya udah dateng ayo berangkat." Teriak ku memanggil ibu yang sedang bersiap-siap.
"Iya ini Ibu udah selesai kok."
Aku berjalan keluar rumah dan memanggil supir taxi yang nomornya aku dapat dari google.
"Pak tolong ini kardusnya di masukin ke bagasi ya."
"Iya mbak." Pak supir pun memasukan satu persatu kardus baju kami. Ibu ikut membantu.
"Bu biarin aja supirnya yang angkat nanti ibu kecapekan bawa berat-berat gitu."
"Iya deh." Ibu pun meletakkan kembali kardus yang di bawanya dari kamar.
"Bu masuk mobil aja dulu sama Misela Adel lupa tas Adel ketinggalan di kamar. Nanti Adel yang kunci pintunya."
"Ini kuncinya."
Aku kembali ke kamar ku untuk mengambil tas dan handphone ku.
Baru aku mau keluar rumah Pak RT sudah berdiri berhadapan dengan Ibu di luar rumah. Aku pun bergegas mengunci pintu dan menghampiri mereka.
"Ada keperluan apa Pak sepagi ini menemui kami? Bu gak bilang apa-apa kan?"
"Engga, Pak RT baru aja dateng."
"Ibu sama Misela masuk ke mobil dulu nanti Adel nyusul."
Ibu pun masuk ke dalam mobil.
"Ada apa Pak?" Aku kembali bertanya pada Pak RT.
"Nak Adel mau kemana sepagi ini?"
"Apa itu penting Pak?"
"Maaf tadi saya liat nak Adel masukin banyak kardus apa mau pindah rumah?"
"Kalau iya emang kenapa Pak?"
"Apa Nak Adel benar-benar tidak mau memberi Hanan kesempatan untuk menjelaskan? Hanan sangat kehilangan Nak Adel. Dia bahkan belum makan sejak kemarin."
"Menjelaskan apa Pak? Semuanya kan udah jelas. Apa yang perlu di jelaskan lagi. Dan urusan Hanan gak makan nanti juga pasti makan Pak kalau dia lapar. Dan maaf saya buru-buru sekali ini. Bapak bisa pergi sekarang. Kami mau ke panti asuhan. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Aku pun masuk ke mobil dan berangkat ke sebuah panti yang udah aku search juga di Google. Aku melihat ke belakang Pak RT masih menatap mobil kami.
"Ayo jalan Pak."
"Baik mbak."
"Maafin Adel ya Pak, maafin aku Nan. Hati ku belum bisa menerima kebohongan kalian."
***
"Assalamu'alaikum." Pak RT membuka pintu rumahnya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Hanan yang sedang berbaring di sofa ruang tamu. Terlihat Hanan yang lesu dan memejamkan matanya.
"Nan kamu tidur pagi-pagi begini. Kena stroke nanti." Pak RT memukul telapak kaki Hanan lalu duduk.
"Ini juga udah mau kenak stroke Pakde." Ujar Hanan dengan nada lemas.
"Iih amit-amit deh. Ini ada makanan enak kok di anggurin sih kamu udah gak doyan ya?" Pak RT mendekatkan piring yang berisi singkong rebus di meja.
"Belum selera makan aja." Jawab Hanan.
"Oo gitu. Tadi Pakde ke rumah Nak Adel loh." Kata Pak RT sambil memakan singkong rebus yang masih hangat di hadapan nya itu.
"Ketemu sama Adel nya Pakde?" Hanan langsung bangun dari rebahan nya dan sangat antusias mendengarkan bicara Pakde nya itu.
"Biasa aja dong."
"Pakde ketemu gak sama Adel?"
"Iya sabal sih Pakde Telen ulu singkong na." Terlihat mulut Pak RT penuh dengan singkong yang ia makan.
"Ah Pakde kelamaan."
"Seret nih." Pak RT menelan singkong yang ia makan dan minum air mineral. "Iya Pakde bertemu dengan mereka. Pakde melihat mereka memasukan beberapa kardus ke dalam mobil. Pakde pikir mereka mau pindah rumah tapi ternyata mereka mau ke panti asuhan." Terang Pak Iskandar pada Hanan.
"Buat apa mereka ke panti asuhan dan membawa banyak kardus sepagi ini. Pakde tau isi kardus itu?" Hanan terheran.
"Gimana Pakde bisa tau, Nak Adel aja masih enggan bicara dengan Pakde. Tadi aja gaya bicaranya jutek banget hii serem deh kamu pasti ketakutan…!" Pak Iskandar malah menggoda Hanan yang terlihat serius mendengarkan nya.
"Pakde malah bercanda sih."
"Hehe lagian kamu serius gitu dengerin. Waktu Pakde datang tadi kamu lemah lunglai kan, udah tidur lagi sana."
"Hanan bener-bener takut kehilangannya Pakde."
Pak Iskandar merasa iba melihat Hanan.
"Kita serahkan semuanya pada yang di atas ya. Kamu banyak berdoa semoga di dekat kan dengan nya jika dia memang jodoh mu. Pakde mau makan Pakde laper." Pak Iskandar menepuk bahu Hanan dan berjalan menuju dapur.
Sementara itu Asep yang di kamar mendengar percakapan mereka mendengar Bapak nya pergi Asep pun keluar kamar dan menghampiri Hanan.
"Gimana kalau loe mau ikut gue aja ke Jakarta Nan?"
"Ogah ah mau ngapain disana?"
"Ya cari cewek baru lah."
"Brengs*k loe. Gue tonjok juga loe."
"Hahaha… Tapi gue serius. Kita kuliah bareng aja disana. Bagus kan ide gue?"
"Bagus tapi duit dari mana buat kuliah?"
"Loe bego apa gimana sih kan ada jalur beasiswa."
"Gak deh gaji gue tempat Bu Dania udah gede. Cewek disini juga banyak yang cantik-cantik."
"Si*l... loe mau berhianat? Gue pites jadi kutu loe."
"Lagian kan elo yang mulai kampr*t."
"Makan sono tar loe sakit lagi, terus gak bisa cari cewek."
"Brengs*k loe." Hanan hendak memukul Asep tapi Asep yang sigap langsung menghindar dan melarikan diri ke kamarnya.
"Haha pukul tuh angin sampe puas." Asep makin meledek Hanan. Karna cuma itu yang bisa dia lakukan untuk menghibur sepupunya itu.
"Jangan ngumpet di kamar loe dasar ban** cepet keluar." Hanan menggedor-gedor pintu kamar Asep tapi Asep tak kunjung keluar.
"Gedor terus sampe capek hahaha." Asep berteriak di balik pintu kamarnya.
"Awas aja loe kalau keluar." Ancam Hanan. Tapi tak ada jawaban. Asep malah memasang earphone lalu bermain game online. Dia merasa senang berhasil mengejeknya. Karna siapa tau dia kelelahan dan mau makan.
Tapi Hanan tak mau membuang tenaganya dan tak menghiraukan nya lagi lalu kembali rebahan di sofa.
##############################
...Hallo Reader yang budiman. Happy Reading ya 😁...
...Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏...
...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...
...Terimakasih banyak dukungan 😘...