BROK3N

BROK3N
Bab 41 Zaki Pergi Ke Singapura



Setelah koma cukup lama akhirnya aku siuman. Membuka mata secara perlahan dan melihat ke sekeliling.


"Adel kamu sadar Nak? Maafin Ibu udah buat kamu jadi begini huuu...." Ibu memeluk tubuh ku yang masih terbaring lemas. Aku tak bisa berkata apapun hanya meneteskan air mata merasakan pelukan Ibu. Lama ibu memelukku menyesali apa yang udah terjadi.


"Bu udah biarkan Adel bicara." Kata Putri. Ahirnya Ibu kembali duduk di sebelah ku.


"Ibu maaf Adel udah buat Ibu makin susah. Maaf udah buat Ibu kecewa atas perbuatan Adel hiks..."


"Tidak Nak kamu gak salah. Jangan pernah berbuat seperti ini lagi ya. Kita lupakan semuanya ya kita fokus untuk kedepannya ya?"


Aku mengangguk. Ibu menangis tanpa suara dan memegang tangan ku dengan erat. Sedangkan yang lain menatap ku dengan haru.


***


flashback


author POV


Dua hari setelah kejadian itu Zaki mengatakan apa yang telah terjadi antara Adel dan dia pada Papahnya karna Zaki tak mau di jodohkan dengan Sinta dan kuliah bisnis di Singapura.


"Dasar anak kurang ajar." Pak Ibnu murka pada Zaki.


Plakk


Sebuah tamparan mendarat di pipi Zaki.


"Pah jangan begitu. Kasian dia anak kita satu-satunya Pah huuu....." Bu Dian berusaha mencegah Pak Ibnu.


"Pah Zaki menyukai Adelia. Awalnya memang Zaki mendekati nya karna ingin balas dendam atas apa yang dilakukan Ayahnya dulu tapi setelah melakukan dengannya Zaki benar-benar menyukai nya." Zaki terkekeh.


Plaaakk


Untuk kedua kalinya Zaki ditampar lagi oleh Papahnya kali ini ada sedikit darah yang keluar diujung bibirnya.


"Pah cukup jangan menyakiti anak kita." Bu Dian memeluk Zaki.


"Mah kamu jangan ikut campur atau kamu juga Papah tampar." Pak Ibnu makin marah.


"Pah jangan sakiti Mamah." Zaki berdiri didepan mamahnya.


"Diem kamu anak kurang ajar. Mau jadi apa perusahaan Papah yang udah Papah bangun dengan susah payah kalau kamu gak mau menikahi Sinta tapi malah memilih wanita miskin itu. Semua harta yang Papah punya juga untuk mu untuk kebahagiaan mu. Kamu punya otak gak? Bisa kamu hidup tanpa uang hah? Menyesal Papah udah baik sama gadis miskin itu." Pak Ibnu mengambil handphone yang sedang Zaki genggam lalu membongkar nya mengambil kartun dan dirusak nya.


"Pah tolong Zaki cuma mencintai Adelia bukan Sinta Pah. Bukannya harta juga bisa dicari ada banyak cara buat pertahanan perusahaan Papah nanti."


"Kamu anak masih bau kencur ngomongin cinta? Tau apa kamu soal cinta hah? Keputusan Papah udah bulat setelah pengumuman kelulusan mu kamu harus berangkat dengan Sinta ke Singapura. Dan ingat jangan pernah menghubungi gadis itu atau Papah akan menyakiti nya." Pak Ibnu menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya.


"Pah...Papah dengerin Zaki dulu." Zaki berusaha mengejar papahnya tapi ditahan oleh Mamahnya.


"Sudahlah Nak kamu harus turuti kemauan Papah mu atau kamu akan menyesali jika Adelia terluka." Kata Bu Dian.


"Mah pasti Mamah tau perasaan Zaki kan?" Mereka saling berpelukan.


"Mamah tau Mamah tau sekali perasaan mu Nak tapi Papah mu melakukan ini juga untuk kebahagiaan mu."


"Tapi Mah bagaimana Zaki bisa bahagia dengan orang yang tak Zaki suka."


"Cinta itu pasti akan tumbuh seiring waktu Nak. Kamu hanya perlu mengenali nya lebih dekat. Ayo kita obati luka di bibir mu dulu."


Pengumuman kelulusan sekolah.


Sesampainya di halte Zaki yang melihat Adel gak beres ingin sekali keluar dari mobil tapi Hanan sudah disana jadi Zaki mengurungkan niatnya.


Lama Zaki menatap rumah Adel dari kejauhan. Dia ragu untuk menemui Adel. Dia penasaran kenapa Hanan tak kunjung keluar saat itu. Tapi semua itu tak membuatnya menemui mereka.


Dan saat dimana Adel dan Hanan akan berangkat kerja Zaki pun masih mengikuti mereka dari kejauhan.


Zaki juga hanya melihat Adel diluar ruangan saat Adel sedang sibuk bekerja. Ahirnya Zaki memutuskan untuk pergi karna Zaki takut Papahnya benar-benar akan menyakiti Adel. Tiba-tiba Adel pingsan Zaki kembali mengurungkan niatnya untuk pulang dan mengikuti mobil Bu Dania.


Saat Dokter selesai memeriksa Zaki pun menghampiri Dokter tersebut dan bertanya. Zaki sangat bahagia mendengar Adel sedang hamil. Kabar kehamilan Adelia akan Zaki beritahu pada Papahnya.


Sesampainya dirumah.


Plaakkk


Lagi-lagi Zaki menerima tamparan dari Papahnya. Zaki pikir kabar ini akan membuat Papahnya senang.


"Pah, Papah akan dipanggil Kakek sebentar lagi Pah. Itu anak Zaki Pah. Zaki mohon biarkan Zaki bersama Adel Pah." Zaki berlutut dikaji Papahnya. Pak Ibnu berpikir sejenak. Zaki berharap keputusan nya bisa berubah.


"Papah sudah urus semua keperluan mu. Dua hari lagi kamu harus berangkat ke Singapura." Pak Ibnu menendang tubuh Zaki supaya terlepas dari kakinya lalu pergi. Zaki masih berlutut dan menetes air mata.


"Nak ayo bangun." Bu Dian mencoba membangun kan Zaki yang masih lemas dilantai.


"Mah apa Mamah tak mau seorang cucu Mah?"


"Maafkan Mamah sayang Mamah tak bisa berbuat apapun huuu...." Bu Dian memeluk putranya yang juga sedang meneteskan air mata.


"Mah Zaki hanya ingin bersama Adelia Mah."


"Iya mamah mengerti sayang Mamah mengerti tapi kamu gak bisa menentang Papah mu."


"Zaki ke kamar dulu Mah."


Dua hari setelah itu sebelum Zaki berangkat ke Singapura Zaki diam-diam pergi untuk menemui Adelia. Tapi saat Zaki tiba disana Zaki melihat Adelia sedang dipangkuan Hanan dan menaiki sebuah motor. Zaki mengikuti mereka. Zaki sangat khawatir dengan keadaan Adelia.


"loe pasti sangat terpukul Del sampai loe mau bunuh diri. Maafin gue Del maafin gue yang tak bisa berbuat apa-apa."


Zaki terus mengikuti jejak Adel bahkan sampai ke rumah sakit. Setelah masuk ke rumah sakit Zaki pun mengikuti mereka tanpa sepengetahuan mereka. Zaki menanyakan keadaan Adel pun dari seorang perawat yang memberikan selembaran tagihan pada Asep.


Zaki menelpon Papah untuk melunasi biaya pengobatan Adel.


"Pah Zaki mohon bantu Adel Pah ini menyangkut cucu Papah juga Pah."


"Papah akan melunasi biaya pengobatan Adel tapi kamu harus janji tidak akan pernah menemui atau menghubungi nya sampai kapan pun. Jika kamu melanggar Papah akan buat Adel lebih menderita."


"Iya Pah Zaki janji."


Sebenernya kata-kata cucu membuat hati Pak Ibnu bergetar. Bagaimana tidak Pak Ibnu sudah berusia lanjut. Tentu saja dia sangat ingin seorang cucu. Tapi latar belakang Adelia membuat Pak Ibnu egois. Ahirnya Pak Ibnu mengirim seseorang ke rumah sakit yang dimaksud Zaki.


Ahirnya Zaki pergi ke bagian administrasi dan menunggu orang kiriman Papahnya.


Tak perlu waktu lama karna orang-orang Papahnya ada dimana-mana. Zaki membayar semua tagihan biaya perawatan Adel. Zaki pun pergi tanpa melihat keadaan Adel.


*****


...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...