
Waktu pulang pun tiba. Yumna mengantar pulang Adelia dengan mobilnya ke kontrakan Adelia.
Tiba di rumah Adelia masih menggunakan kursi roda karna Adelia belum boleh belajar berjalan. Tapi pandangan semua orang tertuju pada wajah Adelia. Ada bekas luka bakar disana. Ada yang merasa iba dan kasihan tapi ada juga yang menatapnya dengan sinis.
Bu Retno yang selama ini mengasuh Misela pun menghampiri Adelia.
"Itu Bunda pulang sayang." Ucap Bu Retno pada Misela.
Misela yang melihat wajah Bunda nya itu berubah menjadi takut dan memeluk kembali Bu Retno.
"Sayang ini Bunda. Misela gak mau bunda gendong?" Kata Adelia dengan nada sedih.
Melihat adegan itu para tetangga bergosip ria.
"Kasian ya jeng anaknya aja sampe takut gitu."
"Iya katanya sih di siram air keras gara-gara merebut suami orang di kantornya."
"Masak sih jeng dia pelakor?"
"Gosipnya sih gitu. Sebelum nya kan dia emang cantik."
"Kasian ya dia sekarang punya wajah seperti itu."
Bu Retno yang tak tahan dengan ucapan mereka pun angkat bicara.
"Hei Bu jangan gosipin orang yang gak bener dosa kalian tau gak? Itu suami Adelia. Dan Adelia bukan pelakor. Udah bubar sana." Bu Retno membela Adelia.
"Ahh Bu RT gak asik ya yuk ah bubar."
"Iya iya ayuk bubar."
Ibu-ibu biang gosip itu pun pergi.
"Misela putri Papi sini Papi gendong." Hanan mencoba memberi pengertian pada Misela. "Misela sayang itu adalah Bunda sayang. Bunda lagi sakit. Misela sayang kan sama Bunda?"
"Unda?"
"Iya sayang itu Bunda Adelia. Masak Misela lupa dengan Bunda?" Hanan masih meyakinkan Misela.
"Unda dong."
(Bunda gendong)
"Sini sayang duduk di pangkuan Bunda."
Ahirnya Misela pun mau untuk ikut Adelia. Hanan pun mendorong kursi roda Adelia masuk ke dalam rumah.
"Bu Retno maaf ya sebelum Adelia sembuh Misela tetep tidur sama Bu Retno ya." Kata Hanan
"Iya Nak." Jawab Bu Retno.
"Engga Mas biar aja Misela tidur disini. Biar aku tenang juga kalau ada dia di dekat ku. Lagian Misela kalau malam jarang sekali bangun."
"Pasti itu gara-gara gak mau di ganggu malam pertama nya Ka Adel makanya Misela di suruh tidur sama Bu Retno." Asep tiba-tiba menyela.
"Bocil brisik amat sih loe?" Protes Hanan.
"Hahaha ketauan kan loe?"
"Diem loe."
"Gue udah tau maksud loe gue juga bukan bocil lagi nih kenalin pacar gue wanita paling cantik sedunia." Asep pun meletakkan tangannya di bahu Yumna.
"Baru punya pacar aja bangga. Berani gak loe ngawinin dia?"
"Beranilah tapi sayang dia belum mau."
Asep pun berhasil mendapatkan cubitan dari Yumna.
"Jangan berisik." Kata Yumna.
"Iya sayang maaf." Asep pun memelas.
"Sayang kamu mau duduk di kursi roda aja apa mau di kamar?" Tanya Hanan pada Adel.
"Aku di ruang tamu sini aja Mas. Mau main sama Misela aku kangen banget sama dia. Misela mau main sama Bunda?"
"Au nda."
"Ayo kita main boneka Barbie ya."
"Yeeee…."
"Tante gak di ajak main nih?" Kata Yumna pada Misela.
Yumna masih sangat asing baginya karna baru sekali mereka bertemu.
"Nda akut."
"Ini namanya Tante Yumna Misela." Kata Asep sambil menggendong Misela. "Tante ini uangnya banyak loh bisa ajak Misela main di Timezone sepuasnya hahaha."
"Yeeee main…!"
Adelia pun melirik Yumna seperti memberi isyarat. Benar saja bukannya Asep mendapatkan pujian dari Adelia dan Yumna Asep malah mendapat kan cubitan dari mereka.
Hingga sore hari mereka bermain bersama Misela di ruang tamu.
Yumna ada Asep pun pamit pulang.
"Sayang kamu mau mandi gak? Aku mandiin ya." Hanan menawarkan diri.
"Mandiin Misela aja aku bisa mandi sendiri Mas." Jawab Adel.
"Kan ini bukan rumah sakit lagi sayang kamu masih malu-malu gitu ah." Hanan berlutut di depan Adelia. "Ayo aku bantu kamu mandi ya." Hanan memegang kedua tangan Adelia.
"Iihh genit ah kamu Mas." Adelia menepis tangan Hanan lalu mendorong kursi rodanya menuju kamar mandi.
"Yah namanya juga pengantin baru yang belum pernah main bola dan masuk ke gawang." Hanan menyangkal.
"Kita udah satu bulan menikah Mas." Adelia tak mau kalah.
"Tapi kan belum pernah ituan."
"Ituan apa sih aku mau mandi dulu ya Mas."
Adelia pun masuk ke kamar mandi dengan kursi rodanya.
"Yahh gagal maning gagal maning." Gunam Hanan.
"Misela putri Papi abis Bunda mandi Misela juga mandi ya." Hanan pun merayu Misela agar mau mandi.
"Ela andi ama unda."
Ahirnya dengan bujukan Hanan Misela pun mau mandi.
*****
Malam pun tiba. Misela masih sibuk main dengan mainannya. Sedangkan Adelia merasa kan cacing diperut nya berteriak.
"Mas mau makan apa?" Tanya Adelia.
"Em adanya apa emangnya?" Hanan malah bertanya balik.
"Iya Mas kita belum punya stok bahan makanan. Kan kita baru datang tadi."
"Beli ketoprak aja gimana?" Hanan memberi ide.
"Oiya di gang depan situ ada yang jual ketoprak Mas."
"Kalau gitu Mas beli dulu ya? Pedes gak?"
"Em sedeng aja deh."
"Okey."
"Oiya Mas nanti kan lewat depan warung sekalian beli telor ya buat makan Misela."
"Siap ibu ratu ku."
Hanan pun pergi.
Tak berapa lama Hanan pun kembali. Mereka pun menikmati makan malamnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pm. Terlihat Misela sudah menguap terus tanda dia sudah mengantuk.
"Sayang udah ngantuk ya? Sini Papi gendong."
Misela pun mengangkat tangannya.
"Ayo Papi buatin susu ya."
"Biar aku aja Mas. Kamu tunggu sini."
"Emang bisa?"
"Bisa kok kan bukan tempat yang mengharuskan berdiri jadi bisa."
"Udah kamu diem aja disini aku aja yang buatin."
"Aku juga mau beraktivitas Mas aku gak mau terlalu merepotkan mu."
"Gak papa nanti kalau kamu udah sembuh aku akan duduk manis. Gimana?"
"Baiklah."
Hanan pun membuatkan susu untuk Misela sembari menggendong nya. Lalu menidurkan Misela di tempat tidurnya.
Adelia menunggu Hanan di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
"Udah tidur Mas?" Tanya Adelia.
"Tentu saja sudah sayang. Kan aku Papi yang sangat pintar." Jawab Hanan dengan bangga.
"Terima kasih ya Mas kamu sudah mau mengurus Misela dengan sangat baik."
"Jangan begitu bukankah dari dulu sudah aku katakan kalau dia adalah putri ku." Hanan kembali berlutut di hadapan Adelia sambil memegang tangannya.
"Kamu mau minum kopi Mas?"
"Engga sayang aku maunya itu."
"Itu apa sih Mas?"
"Itu lo aku maunya buatin Misela adik."
"Jangan ngaco deh Mas."
"Tapi aku gak sabar nih."
"Tunggu aku bisa jalan ya Mas. Aku takut. Maaf kalau harus membuat mu menunggu terlalu lama."
"Hahaha kamu serius amat sih. Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku setega itu sama istri ku yang cantik ini."
"Jangan gombal Mas. Saat ini aku sangat jelek bahkan Misela saja takut dengan ku."
"Bagiku kamu tetap cantik sayang."
Hanan mengubah posisinya. Kini Hanan mengambil sebuah kursi dan duduk di hadapan Adelia.
"Besok aku tinggal ya?"
"Kemana Mas?"
"Ya mau cari kerja dong. Uang tabunganku tak begitu banyak kalau aku tak kerja bagaimana bisa aku menghidupi kalian hehe."
"Kamu gak coba tanya Yumna Mas? Siapa tau dia ada lowongan. Kita bisa satu kantor nanti."
"Aku tak minat kerja di kantor. Aku mau cari kerja sesuai hobi ku."
"Kamu yakin Mas? Nanti kalau tempat kerjanya jauh gimana?"
"Kita liat aja. Semoga aku bisa dapet kerjaan yang sesuai."
"Iya Mas."
"Sayang aku boleh cium kamu?"
Hanan mendekati wajah Adelia.
"Kita kan suami istri kenapa cium aja pake tanya bukannya biasanya juga main nyosor aja. Sekarang udah jadi su...?"
Hanan tak tahan dengan wajah gemas Adelia dan langsung menutup mulut Adelia dengan mulutnya. Adelia pun terdiam dan membalas ciuman nya. Mereka pun saling memberikan kehangatan dari bibir mereka masing-masing.
################################
...Hallo Reader yang budiman. Mohon dukungannya ya dengan tinggalin jejak kalian setelah membaca novel ini 😁🙏 ...
...like, komen , favorit dan vote-nya ya....
...Kalau kalian mau tanya seputar novel ini bisa langsung follow ig ku @deliss_aa1...
...Terimakasih banyak dukungannya terutama kepada para author yang baik hati selalu memberikan jempol dan komentar nya 😘...