BROK3N

BROK3N
27. First Kiss Zaki



Siang ini matahari tak terasa hawa panasnya karna diselimuti awan hitam. Aku dan Zaki masih duduk bersandingan di dalam Bus. Ya Zaki benar-benar mengantar ku pulang karna cemburu dengan Hanan.


"Kayaknya mau turun hujan Zak, mendung banget." Aku menatap keluar jendela bus.


"Oiya kenapa ya tiap kita jalan berdua selalu hujan.haha ini masih jauh?"


"Engga sih bentar lagi itu tinggal satu halte lagi."


"Jalan kerumahnya jauh gak?"


"Engga juga cuma dua menit kok."


"Jadi tadi pagi kamu sama Hanan begini duduk dan jalan berdua?"


"Hmmm."


"Wahh gak kali ini gue bener-bener marah."


"Serius?" Ku tatap wajah Zaki dengan nampak melas dan lugu supaya dia tak jadi marah. Dan benar saja Zaki malah mengelus kepala ku.


"Dasar untung aja loe imut dan cantik jadi hati ku meleleh." Aku berusaha menahan tawa. "Jangan senyum-senyum aja lepasin kalau mau ketawa."


"Heeee engga kok. Aku pikir kamu orangnya pendiem gitu ternyata kamu bisa bergaya begini juga ya."


"Ya kan biar narik perhatian mu sayang hahaha."


"Hust jangan keras-keras."


"Upst...."


"Udah mau sampe tuh ayo siap-siap turun. Duh udah gerimis lagi."


Bus pun berhenti di halte bercat biru. Dan hujan pun turun. Lama semakin lama hujan makin deras hingga di depan halte ada genangan air.


"Dingin gak?" Tanya Zaki.


"Lumayan sih untung pake sweeter ini."


Zaki celingukan dan sesekali menggosokkan kedua telapak tangannya artinya dia sedang kedinginan. Hanya ada kami berdua disitu. Jalannya begitu sepi juga.


Tiba-tiba ada sebuah mobil sedan dengan kecepatan di atas rata-rata lalu melewati genangan air di depan halte. Seketika Zaki membalikkan badannya dan sedikit mendorong badan ku mendekati papan rute Bus lalu memeluk ku untuk melindungi ku dari air.


Aku terbujur kaku dengan pelukan Zaki. Menyelipkan kepala ku di dadanya. Setelah mobil itu menjauh ku angkat kepala ku menatap Zaki. Zaki tersenyum hangat ditambah pelukannya yang belum ia lepaskan.


Kami saling bertatapan. Tapi Zaki semakin menunduk mendekati wajah ku. Tangan kanannya memegang leherku. Dan tangan kirinya memegang kepala ku. Lalu hidung kamu saling beradu di susul dengan bibir Zaki yang menyatu dengan bibirku. Ku pejamkan mata merasakan sentuhan bibir Zaki. Tak lama Zaki membuka mulutnya dan mengul** bagian bawah bibir ku.


'Hangat sangat hangat, jadi seperti ini rasanya first Kiss.' Batin ku.


Tak berhenti disitu Zaki mulai memasukan lidahnya ingin bermain lebih jauh dari sekedar mengul** bibir bawah ku. Aku masih terdiam menikmati hangatnya lidah Zaki yang menari-nari didalam.


Diiiaaarrr....


Suara petir yang begitu keras menghentikan permainan kita. Zaki melepaskan tangannya dan berbalik menatap lurus ke arah jalan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celananya. Aku yang salting hanya membelai-belai rambut ku yang sempat Zaki acak-acakan saat kissing tadi.


Kami saling menatap dan tersenyum malu.


Cukup lama kami berdiri di halte menunggu hujan reda. Hingga akhir nya kami bisa pulang.


"Assalamu'alaikum Bu Adel pulang."


"Wa'alaikumsalam, Eh nak Zaki dingin ya mau Tante buatkan teh hangat?"


"Engga perlu Tan." Tolak Zaki.


"Jangan gitu dong kamu pasti kedinginan itu basah bajunya."


"Kalau gitu air putih hangat aja Bu."


"Kalau gitu ibu pinjamkan baju Ayah nya Adel buat ganti ya takut masuk angin?"


Deg


Jantung Zaki langsung bergejolak mendengar kata Ayah Adel. Dia ingat dengan ucapan Papah dan Pak Hanif waktu itu.


"Zak kamu kok malah ngelamun?"


"Eh iya Del maaf pikiran ku tadi ke tempat lain."


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Engga kok engga penting."


"Ini nak ganti bajunya di kamar mandi ya, Ini plastik buat baju basah mu." Ibu memberikan kaos oblong warna Navy Ayah bertuliskan *Jujur itu Makmur* sebenarnya aku pengen ketawa membaca tulisannya tapi aku tau itu baju satu-satunya Ayah yang baru sekali dipakai. Tentu saja Ayah gak mau pakai lagi karna tulisannya. Dan sekarang bahkan Ayah tak bisa memakainya.


"Zaki ke kamar mandi dulu Tan."


"Iya silahkan."


"Adel ganti baju dulu ya Bu."


Ruang tamu pun kosong.


Dikamar setelah selesai mengganti baju aku duduk di kursi meja rias ku. aku termenung di depan kaca. Menyentuh bibir dengan jari telunjuk. Merasakan kembali kecupan dari bibir Zaki.


'Bibir ini sudah jadi milik Zaki. Untuk yang pertama kalinya aku merasakannya. Aku harap Zaki tak akan menyakiti ku.'


tok


tok


"Adel ini Zaki kok dibiarin sendiri sih."


"Eh iya Bu bentar lagi."


Ku tersadar dari lamunanku dan bergegas ke ruang tamu.


"Sorry ya tadi ngelamun."


"Ngelamunin yang di halte?"


"Paan sih!"


"Mau di ulang?"


"Ihh genit banget sih."


"hahaha aku cuma bercanda."


Kami berdua mengobrol saling berhadapan di ruang tamu sambil menunggu supir Zaki dan makanan yang Ibu siapkan.


Aku masih menunggu penjelasan dari Zaki tapi tak sedikit pun yang dia bahas tentang Sinta.


***


Sementara itu Pak Ibnu Papah nya Zaki baru pulang dari kantor.


"Zaki mana mah?"


"Belum pulang Pah."


"Loh kok jam segini Zaki belum pulang. Bukannya hari ini Ujian Nasional dan harusnya sudah pulang dari siang tadi?" Kata Pak Ibnu sambil memberikan tas kerjanya ke Bu Dian.


"Mamah telpon juga gak diangkat Pah."


"Mamah udah bilang kalau nanti malam kita ada acara makan malam dengan keluar Pak Bromo?"


"Loh bukannya ahir pekan ya Pah?"


"Jadi Mamah belum Papah kasih tau?"


"Papah gimana sih ya belumlah kan Mamah taunya ahir pekan."


"Cepet telpon Zaki sampe di angkat suruh dia cepat pulang besok Pak Bromo mau ke Singapura jadi dipercepat acaranya."


"Iya Pah Mamah coba telpon lagi. Tunggu Mamah telpon Pak Tarjo aja."


Bu Dian menelpon Pak Tarjo.


//*Hallo Pak Tarjo dimana Zaki?//


//Iya nyonya ini sudah jalan pulang sekitar 15 menit lagi.//


//Oo gitu ya sudah Pak*.//


Zaki sampai dirumah.


"Kamu dari mana aja sih Nak." Bu Dian menghampiri Zaki yang baru masuk rumah.


"Emang ada apa Mah?"


"Kamu cepet mandi siap-siap Pukul 7 pm kita di undang makan malam sama temen kerja Papah."


"Terus urusannya sama Zaki apa Mah?"


"Sudahlah ikut aja kata Papah."


"Iya Mah Zaki ke kamar dulu."


"Eh tunggu kok kayak ada yang beda." Bu Dian kembali menghampiri Zaki yang akan menaiki tangga. "ini baju siapa Mamah belum pernah beliin kamu baju jelek kayak gini? Apa ini tulisannya juga gak bermutu banget Zak?" Bu Dian memutar badan Zaki memperhatikan baju yang Zaki kenakan.


"Mah ini tadi Zaki beli karna baju Zaki basah kehujanan. Ya sudah Zaki naik dulu ya." Zaki langsung menaiki tangga dengan cepat.


*****


.


.