
Prrranggg.....
"Kayaknya suara dari kamar Adel Nan?" Kata Putri
"Ayo cepet kesana." Ibu mulai panik.
Semuanya berlari ke arah kamar ku. Tapi aku sengaja mengunci pintu kamar ku supaya gak ada yang bisa masuk nantinya.
"Adel buka pintunya." Hanan mengetuk pintu secara terus menerus. Tentu tak ada jawaban. "Del...!"
"Coba Sep kamu liat dari jendela nya." Kata Ibu.
Asep berlari ke luar rumah dan mencari keberadaan ku lewat jendela kamar. Asep terkejut lalu berlari kembali ke dalam rumah.
"Gawat Adel coba bunuh diri, kita dobrak aja Nan." Asep makin panik ahirnya mendobrak pintu kamar ku bersama Hanan.
"Satu dua tiga." Kata mereka bersamaan dan brakkkk....pintu terbuka.
Darah segar dari pergelangan tangan ku sudah mengalir bahkan begitu cepat tetesannya.
"Aaacckkkkk.... Adel anak ku." Ibu teriak karna syok dan lemas di pangkuan Putri.
"Cepet loe siapin motor kita bawa Adel ke klinik." Kata Hanan pada Asep sambil membalut luka dipergelangan tangan ku dengan sapu tangannya. "Put loe sama Ibu nyusul ya gue duluan. Loe tenangin Ibu dulu." Putri hanya mengangguk sambil menompang tubuh ibu yang lemas melihat ku mencoba bunuh diri.
Ahirnya aku di bawa ke sebuah klinik yang tak jauh dari rumah ku. Hanan berlarian menuju UGD.
"Sus tolong sus." Ucap Hanan pada seorang suster yang berjaga di ruang UGD.
"Silahkan baringkan disini biar kami tangani. Silahkan tunggu diluar ya Pak." dua perawat itu membuka balutan sapu tangan Hanan dan syok karna luka yg cukup dalam sehingga aku kehilangan banyak darah. Ahirnya perawatan satunya memanggil Dokter untuk ditindak lanjuti.
Lama penanganan yang mereka lakukan dan Ahir nya dokter keluar dari ruang rawat ku.
"Dengan keluarga pasien?"
"Iya Dok bagaimana keadaan Adelia?"
"Pasien saat ini sangat kritis karna kehilangan banyak darah jadi harus transfusi darah dan luka ditangannya cukup serius sebaiknya pasien dirujuk ke rumah sakit karna disini banyak keterbatasan alat medis. Nanti saya buatkan rujukannya."
"Baik Dok terimakasih."
Ibu dan Putri pun tiba dengan tangisan.
"Bagaimana keadaan Adel Nan? huuuu...." Ibu menangis tiada hentinya.
"Adel harus dirujuk kerumah sakit Bu." Jelas Hanan.
"Kira-kira butuh biaya banyak gak Nak huuu...." Karna kehidupan kami pas-pasan jadi ibu gak punya dana darurat.
"Soal biaya tenang aja Bu biar Asep yang tanggung." Kata Asep lalu pergi.
"Terimakasih Nak Asep nanti Ibu cicil ya."
"Gak perlu Bu yang penting kita fokus pada kesembuhan Ka Adelia ya Bu. Gue balik dulu Nan." Hanan hanya mengangguk sebenarnya dia ingin sekali membantu biaya perawatan ku tapi dia sendiri tak punya banyak tabungan.
"Ibu yang sabar dan tenang ya kita berdoa supaya Adelia baik-baik saja. Kita pasrahkan semua sama Tuhan ya Bu." Kata Putri sambil mengajak Ibu duduk diruang tunggu.
"Ini semua salah Ibu, andai Ibu tak semarah itu pasti Adel gak akan bunuh diri hu huuu...." Ibu kembali menangis.
"Ini surat rujukannya tunggu ambulance ya Pak Bu nanti silahkan ikut dengan mobil ambulance." Kata seorang perawat sembari memberikan sebuah map warna pink pada Hanan.
"Terimakasih sus."
Tak butuh waktu lama ambulance pun tiba lalu aku dinaikan ke ambulance dan menuju rumah sakit. Untungnya Asep datang sebelum ambulance berangkat.
***
"Dengan keluarga pasien?" Tanya seorang Dokter.
"Iya Dok saya ibunya, bagaimana keadaan putri saya Dok?"
"Pasien sangat kritis Bu dan perlu seorang donor darah. Kebetulan stok darah pasien habis. Apakah ada yang sama golongan darah di antara keluarga pasien?" Jelas Pak Dokter.
"Golongan darahnya apa Dok?" Hanan langsung bertanya.
"Golongannya A+." Kata Pak Dokter.
"Saya A+ Dok." Hanan, Asep dan Putri menjawab serentak.
"Baiklah karna pasien butuh 2 kantong darah jadi silahkan ikuti suster ini untuk pemeriksaan ya."
Hanan, Asep dan Putri mengikut seorang suster masuk ke sebuah laboratorium.
Pemeriksaan tak butuh waktu lama, hanya Hanan dan Asep yang bisa donor darah karna Putri saat itu sedang datang bulan jadi gak bisa donor. Ahirnya Putri kembali pada Ibu.
"Gimana Nak?" Tanya Ibu gugup.
"Tenang Bu Hanan dan Asep siap untuk donor darah. Kita tunggu saja disini ya. Semoga semuanya lancar." Kata Putri sambil memeluk ibu dan menepuk-nepuk bahu Ibu.
"Adel...huuu... jangan tinggalin ibu ya Nak, Ibu gak akan kuat. Setelah kehilangan Ayah mu cuma kamu Del penyemangat Ibu huu huu..." Ibu kembali menangis di pelukan Putri.
***
Dokter dan paramedis pun keluar dari ruang operasi.
"Sodara Adelia selamat Bu, Kita tinggal menunggu nya siauman. Tapi diusahakan jangan sampai stress ya Bu karna bisa mempengaruhi kehamilan nya." Jelas Pak Dokter.
"Terimakasih Pak." Kata Ibu.
"Silahkan untuk biaya administrasi nya." Seorang suster menyodorkan selembar kertas.
"Iya sus." Kata Asep dan mengambil selembar itu.
"Berapa Nak Asep biayanya." Tanya ibu penasaran.
"Tidak usah khawatir Bu uangnya cukup kok." Jawab Asep
"Tidak sini Ibu mau lihat." Ibu merebut kertas ditangan Asep.
"Astaghfirullah tujuh juta sembilan ratus?" Ibu terkejut dengan biaya pengobatan ku. "Bagaimana Ibu bisa membayar ini Nak?" Mata Ibu sudah berkaca-kaca hendak menangis lagi.
"Bu jangan khawatir ya. Asep ikhlas."
"Bagaimana pun akan Ibu bayar Nak tapi tolong sabar ya."
"Iya terserah Ibu saja Asep kebagian administrasi dulu ya Bu."
"Gue ikut Sep." Kata Hanan.
Mereka pun berjalan ke bagian administrasi.
"Loe yakin Sep? Bukannya itu buat biaya sekolah dan kuliah elo?"
"Nan gue beneran suka sama Ka Adel." Asep pun menghentikan langkahnya.
"Apa?" Hanan kaget.
"Gue serius gue mau lakuin apapun buat Ka Adel." Asep kembali berjalan tapi Hanan tak mengikuti nya. Hanan tertiba mematung dengan perkataan Asep.
"Gue juga sayang sama Adelia Sep. Bagaimana bisa saingan ku sepupu ku sendiri dan bahkan loe selalu baik sama gue dari gue kecil." Hanan bergunam.
Asep tiba di bagian resepsionis.
"Atas nama pasien Adelia sus."
"Sebentar saya cek dulu Pak." Suster itu mengecek komputer nya. "Atas nama pasien Adelia Putri Winata sejumlah tujuh juta sembilan ratus ribu rupiah sudah lunas Pak."
"Hah lunas? Siapa yang bayar sus?"
"Kurang tau Pak beliau tidak menyebutkan namanya. Semua biaya perawatan pasien selama tiga hari termasuk obat sebesar tiga juta delapan ratus juga sudah lunas. Baru saja beliau keluar dengan memakai jas warna abu-abu."
"Terimakasih sus saya permisi."
Asep yang penasaran langsung menuju pintu keluar rumah sakit. Asep celingukan tapi tak ada orang yang di maksud oleh suster itu.
Ahirnya Asep kembali ke ruang rawat ku.
"Terimakasih ya Nak Asep." Ibu memeluk Asep selayaknya anak Ibu sendiri.
"Bu biaya rawat Ka Adel sudah ada yang melunasi."
Semuanya terperanjat. Termasuk Hanan.
"Maksudnya gimana Sep?" Tanya Hanan.
"Waktu gue ke bagian administrasi semua biayanya udah di bayar. Gue gak ngeluarin uang sepeser pun. Bahkan buat biaya perawatan Ka Adel untuk tiga hari kedepan sejumlah tiga juta delapan ratus juga udah di bayar dan termasuk obat-obatan selama Adel dirawat." Jelas Asep.
"Lo tau siapa orangnya?" Tanya Hanan kembali.
"Sayangnya waktu gue keluar orang dengan ciri-ciri yang dimaksud gak ada."
"Ibu berterima kasih sekali pada orang itu, semoga perbuatan baiknya di balas yang di atas."
"Ibu gak ada sodara lagi Bu?" Tanya Hanan.
"Engga ada Nak. Emang kenapa?"
"Gue curiga itu Zaki, tapi kenapa dia gak liat kondisi Adelia?" Bathin Hanan.
"Nan loe malah ngelamun." Asep menepuk bahu Hanan.
"Ah gue ke toilet dulu ya udah kebelet nih."
"Jorok amat sih loe cepetan sana." Kata Asep mendorong tubuh Hanan untuk segera pergi.
*****
...HAI READER YANG BAIK HATI JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE NYA BUAT DUKUNG KARYA AKU....
...TERIMAKASIH YANG SETIA MEMBERIKAN AKU SUPPORT 🙏...
...JANGAN LUPA MAMPIR DI STORY CINTA SUCI ANAYA 🌟...