
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 am. Aku terbangun karna suara seorang bayi yang sedang menangis. Awalnya aku pikir itu adalah Misela ternyata itu baby yang baru saja datang untuk di rawat disini.
Akhirnya aku putuskan untuk ke toilet membersihkan diri. Lalu kembali ke kursi tempat ku tidur tadi.
Aku melihat Hanan masih tidur pulas dengan kepala bersandar di kursi dan tangan dilipat di bagian dada. Ku tatap wajahnya yang tampan dan bersih tanpa satu jerawat pun. Mungkin skin care nya mahal.
"Apakah aku bisa mencintai mu Nan? Kenapa kamu begitu baik pada ku Nan selama ini, padahal aku hanya menganggap mu sebagai seorang teman saja."
"Karna aku mencintai mu Del." Hanan menjawab pertanyaan ku tapi masih dengan posisi yang sama.
Aku terperanjat mendengar ucapan Hanan dan duduk sedikit menjauhi nya.
"Kenapa menjauh duduk lah sedekat tadi. Supaya aku bisa merasakan nafas mu." Hanan kembali bicara. Aku terdiam lalu Hanan pun membuka matanya dan memposisikan duduknya mendekati ku.
"Jadi kamu udah bangun dari tadi?" Tanya ku sedikit gugup.
"Hemm sejak kamu berjalan ke sana." Hanan menunjuk arah ruang rawat Misela dengan dagunya.
"Kenapa kamu gak pura-pura tak mendengar perkataan ku tadi sih." Gerutu ku dan melipat tangan ku.
"Hahaha ya gimana aku udah denger. Jangan ngambek gitu dong nanti cantiknya ilang heee."
"Tau ah." Aku membuang muka.
"Kamu jangan buat aku gemes dong. Gak tahan nih."
"Ih gak tahan apaan sih jangan ngaco."
"Gak tahan pingin cium kamu."
"Apa?"
"Haha ya udah aku mau ke toilet dulu ya."
Aku tak menjawab. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu sepagi ini. Aku pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala ku.
***
Matahari sudah bersinar terang. Udara segar sudah menyelimuti suasana di halaman rumah sakit.
Ibu juga sudah datang membawain kami sarapan nasi goreng ati ampela kesukaan ku. Aku dan Hanan melahap sarapan yang ibu bawakan.
"Kamu gak kerja Nan?"
"Kerja ntar. Tadi aku udah chat Bu Dania bakal telat masuk."
"Enak banget kamu."
"Iya pegawai kesayangan kan?"
"Haha pede banget sih."
"Kamu tau sebentar lagi aku bakal di angkat jadi chief lo."
"Serius Nan?"
"Dua riyus malah hahaha."
"Ihh jangan gitu nanti keselek."
"Iya serius. Kata Bu Dania karya ku udah bagus-bagus loh. Nanti chief yang disini di pindah ke cabang lain terus aku yang bakal gantiin chief disini."
"Wah gajinya naik dong. Asiiikkkkk…!"
"Aduhh duit aja cepet nyaut nya hahaha."
"Gak papa kan bakal aku juga yang terima gaji mu haha."
"Iihh kamu gemus amat sih."
Hanan mencubit kedua pipi ku yang masih penuh dengan nasi goreng.
"Tapi kan emang bener. Kalau aku jadi istri mu aku yang bakal terima gaji mu haha."
"Gak sabar deh pengen cepet-cepet nikahin kamu."
"Tuhh pagi-pagi udah gombal."
"Emang kamu gak mau aku nikahin."
"Engga."
"Jahat banget sih kamu Del."
"Engga salah maksudnya."
"Tuh kan kamu gemesin banget."
"Oiya kata Dokter Misela sore ini udah boleh pulang."
"Alhamdulillah akhirnya bisa main lagi sama putri Papi. Ntar aku jemput ya pulang kerja. Aku usahain pulang cepet."
"Okey."
Setelah selesai sarapan Hanan menjenguk Misela terlebih dahulu sebelum berangkat kerja. Terlihat baby Misela sedang di beri ASI oleh perawat disana.
"Gemes banget sih dia kayak bundanya.
"Jadi yang gemes siapa?"
"Baby Misela yang tergemes."
"Aku yang ter apa dong?"
"Masak cemburu sih sama anaknya sendiri."
"Iyalah."
" Haha ya udah aku berangkat kerja dulu ya."
"Iya kamu hati-hati ya."
"Bu Hanan berangkat dulu assalamu'alaikum."
Hanan pun mencium punggung tangan ibu lalu pergi.
"Wa'alaikumsalam."
Aku dan ibu duduk di kursi ruang tunggu. Ku sandarkan kepala ku di bahu ibu dan memeluk sebelah lengan Ibu.
"Iya."
"Hanan baik kan?"
"Tentu saja baik memang kenapa kok tiba-tiba tanya begitu?"
"Semalem Adel udah bilang sama Zaki kalau Adel udah pilih Hanan."
"Benarkah?"
"Heem."
"Semoga pilihan mu yang terbaik ya sayang."
"Makasi ya Bu. Semoga Hanan bisa jadi Papi yang baik untuk Misela ya Bu."
"Aamiin." Ibu pun memeluk ku.
"Oiya Ibu belum lihat Zaki pagi ini."
"Mungkin dia kerja Bu."
"Iya kamu benar papa nya kan lagi sakit."
"Adel belum sempat menjenguknya Bu."
"Jenguklah nanti beliau baik pada kita."
"Iya Bu."
*****
Setelah sepulang kerja Hanan langsung menjemput kami sesuai janjinya. Aku menghubungi Zaki tapi tak terjawab. Aku berencana untuk menjenguk Om Ibnu sebelum pulang. Tapi dari semalam dia tak menjenguk putri nya sama sekali. Akhirnya aku pun memutuskan untuk menanyakan ke bagian administrasi dimana ruang Om Ibnu di rawat.
"Aku mau jenguk Om Ibnu dulu Nan kamu sama ibu tunggu sini dulu ya. Aku cuma sebentar. Oiya ini resep dari dokter tolong kamu ke apotek dulu ya. Udah di bayar sama Zaki tinggal ambil aja obatnya."
Hanan hanya mengangguk mengiyakan perkataan ku.
Aku berjalan ke ruang VVIP sesuai arahan dari perawat yang aku tanyai tadi. Ku intip dari kaca pintu, disana hanya ada Om Ibnu sendirian. Biasanya Tante Dian tak meninggalkan ruang rawat Om Ibnu.
Aku pun memutuskan untuk masuk.
"Om ini Adelia. Maaf Adelia baru sempat menjenguk Om sekarang." Ku pegang tangan Om Ibnu dan duduk di sebelahnya.
"Om cepet sembuh ya. Adel akan doakan kesehatan Om. Tante dan Zaki pasti bakal sedih liat keadaan Om yang seperti ini."
Ku tatap Om Ibnu yang terbaring dengan banyak alat yang terpasang di tubuhnya. Aku pun berdiri dan hendak pergi.
"Om Adel pergi dulu ya. Oiya Om cucu Om cantik sekali. Kata Tante dia mirip sekali dengan Donita. Jika Om sembuh jangan lupa mampir ke rumah Adel ya mintalah Zaki untuk mengantar Om nanti. Adel pergi ya Om."
Tapi tangan ku yang hendak ku lepaskan dari tangan Om Ibnu ditarik perlahan oleh jarinya. Seolah-olah tak mengijinkan ku untuk pergi meninggalkan nya.
"Om… Om bisa bergerak?" Ku lihat mata Om Ibnu yang masih terpejam meneteskan air mata. "Om denger suara Adel ya? Tapi Om Adel harus pergi. Hari sudah semakin sore Adel udah harus pulang. Cucu Om Misela udah membaik sekarang. Kemarin dirawat disini juga dan Zaki sebagai Papa menanggung semua biaya perawatan Misela. Makanya Om harus segera bangun ya. Adel pergi dulu ya Om assalamu'alaikum." Aku pun meraih tangan Om Ibnu dan menciumnya.
Sebelum sempat aku keluar dari ruang Om Ibnu Tante Dian datang.
"Adel kamu disini?" Tante Dian memeluk ku.
"Iya Tan Adel cuma sebentar aja. Hari ini Misela udah boleh pulang."
"Tante abis beli makan tadi Tante laper banget makanya Om Tante tinggal dulu. Ayo Tante antar, Tante mau gendong Misela sebentar. Mungkin nanti Tante gak akan ketemu Misela dalam waktu lama."
"Memang Tante mau kemana?"
"Ya Tante disini jagain Om. Soalnya Zaki sibuk di kantor Papah nya."
"Oo gitu Iya Tan. Nanti kalau Om udah sembuh Tante ajak Om ya buat ketemu cucunya?"
"Pasti Tante bakal sering-sering main kalau Om udah sembuh."
Kami pun berjalan menuju pintu utama rumah sakit. Disana udah ada Hanan dan ibu menunggu ku. Terlihat tangan Hanan membawa sebuah kantong plastik dengan lambang rumah sakit ini. Artinya obat Misela udah di ambil.
"Duhh cucu Oma Alhamdulillah udah sembuh ya." Tante Dian menggendong Misela dan menciumi pipinya. "Jangan sakit lagi ya sayang. Kasian Bunda jadi sedih kalau Misela sakit." Terlihat Misela tersenyum menanggapi ucapan Tante Dian.
"Wah Misela makin pinter ya. Sekarang kalau di ajak bicara udah cenyum-cenyum. Oma bakal kangen sama kamu. Cucu Oma baik-baik ya sama Bunda. Oma bakal main kalau Opa udah sembuh. Oma janji sama Misela." Tante Dian terus saja bicara dengan cucunya.
"Maaf Tante tapi kami harus segera pulang. Hari udah semakin sore gak baik buat Misela." Kataku sambil mengambil Misela dari pelukan Tante Dian.
"Kata orang tua dulu pamali anak kecil di luar rumah menjelang magrib."
"Iya kalian hati-hati ya. Kalau ada apa-apa jangan segan-segan untuk menghubungi Tante."
"Iya Tan tolong sampaikan pada Zaki kalau Misela udah sehat. Dari tadi aku telpon dia gak bisa-bisa. Sejak semalam Zaki gak nengokin Misela."
"Iya nanti Tante sampaikan."
Kami pun menaiki sebuah taxy yang sudah dipesan Hanan dan pergi meninggalkan rumah sakit.
Sementara itu sosok pria dengan kaos oblong polos berwarna merah dan celana Chino hitam sedang memperhatikan ku sedari tadi. Dia terlihat sedih dan penuh penyesalan. Pria itu adalah Zaki.
Setelah memastikan aku dan Misela pergi Zaki pun menghampiri Tante Dian.
"Mah." Zaki memanggil Tante Dian yang akan beranjak masuk ke dalam.
"Loh Nak kamu dari mana aja Adel baru aja pulang dengan putri mu."
"Zaki tau mah Zaki udah liat mereka pergi dari."
"Kamu kenapa tak menyapa mereka?"
"Zaki merasa Zaki tak pantas merasa di tengah-tengah mereka."
"Maksudnya?"
"Sudahlah Mah Zaki mau pergi dulu ya."
"Mau kemana? Hari udah sore Nak. Temani Papah mu."
"Zaki mau menghibur diri."
"Zaki…!"
Zaki berlalu. Bahkan tak mendengar kan panggilan Mamah nya.
*****
...TERIMAKASIH READER ATAS DUKUNGAN NYA. TERUS BANTU AKU DENGAN TINGGALIN LIKE KOMEN DAN VOTE NYA SUPAYA AKU LEBIH SEMANGAT UP NYA 😍...