Alam Mandala

Alam Mandala
Mendapatkan obat



Ia pun kemudian berlari dan mengayunkan belati di tangannya dengan sangat cepat. Bing jiazhi menghindarinya dengan menggeser tubuhnya ke kanan dan kiri. Kemudian ia mengambil belati itu dan menendang gadis itu dengan sangat mudah.


Gadis itu semakin kesal dan ia merasa kesakitan di bagian sikunya setelah terjatuh. “Kau! Tidak bisa menghargai seorang wanita!”


Ia kemudian mengeluarkan tiga cincinnya dan cahaya merah kemudian keluar dari dahinya, lalu merambat ke tangannya.


Bing jiazhi tidak ingin bertarung lama-lama sekarang, ia hanya ingin beristirahat, maka dari itu, pedang yang ada di atas meja kemudian bergetar dan terbang ke tangannya.


Lalu angin kemudian bertiup di sekitar pedangnya. Ini adalah bagian dari kemampuan cincin ke empatnya yang belum selesai : ribuan pedang. Elemen angin. Tanpa memberikan kesempatan, Bing Jiazhi menerjang ke depan.


“Kau meremehkanku!” gadis itu berseru dan sebuah lampion berwarna merah muncul di tangannya. Lampion itu berbentuk bunga teratai dengan warna merah yang indah. Berterbangan di tangannya kemudian bergerak cepat ke arah Bing Jiazhi.


Bing Jiazhi tidak peduli dengan lampion itu, sehingga ia hanya melompatinya saja dan kemudian bergerak mendekati gadis itu.


Wajah gadis itu di penuhi keterkejutan ketika Bing Jiazhi melompat, bukan karena itu hebat, melainkan ia tidak menyangka Bing Jiazhi akan melakukan tindakan seperti itu, yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Wajahnya kemudian di penuhi kekesalan. “Dasar bajingan! Kau meremehkan kekuatanku.”


Ia kemudian menggerakkan tangannya ke depan dan menariknya kembali. Membuat lampion itu berbalik mendekati Bing Jiazhi.


Bing jiazhi dengan cekatan berhenti dan memutar pedangnya setengah lingkaran.


Wajah gadis itu kemudian lagi-lagi di penuhi keterkejutan; alisnya terangkat tinggi dan mulutnya setengah terbuka. “B-bagaimana mungkin!!?”


Dalam satu tebasan itu, serangan gadis itu di patahkan, seperti lampionnya merupakan lampion biasa dan hanya bisa melayang. Lampion itu hancur lembur tanpa menyisakan apa pun.


Tapi, lagi-lagi ia terkejut, karena tiba-tiba Bing Jiazhi muncul di depannya lalu menebaskan pedangnya. Kedua matanya terlihat sangat kelam dan berwarna merah. Aura di tubuhnya terlalu mematikan. Bing jiazhi Sungguh bergerak tidak dapat di prediksi. “Jika kau ingin membunuhku, maka seharusnya itu bukan hal yang baik kau lakukan.”


Gadis itu pun terdiam mematung, seperti ia terhipnotis dan tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali kedua matanya terbuka lebar-lebar dan bergetar.


...----------------...


Di ujung selatan desa Ta Laoti, ada sebuah rumah mewah, seperti Villa dengan telaga yang ada di tengah-tengahnya. Beberapa bangunan terbuat dari kayu mengelilinginya dan di hubungkan dengan lorong-lorong kecil, melingkarinya. Di dalam telaga itu di penuhi lumut-lumut dan lumpur-lumpur yang telah mengedap. Akan terbangun ketika ikan-ikan berwarna hijau bergerak-gerak di dasarnya.


Di penuhi tanaman-tanaman teratai dengan warna putih dan ungu. Tubuh subur dan banyak, sehingga hanya beberapa celah yang terlihat dasar air dan lumut-lumut yang ada. Merupakan tempat terbaik bagi para ikan-ikan bersembunyi dari para predator, seperti burung-burung pemangsa.


Ada juga keong yang bergerak-gerak dan bertelur di batang-batang daun teratai, dan Huang Tang mengamatinya sembari ia bersandar di pagar lorong.


Sudah beberapa menit ia datang dan berbicara dengan wanita di sampingnya.


Wanita itu menghidangkannya teh lalu menanyakan apa maksud Huang Tang datang ke rumahnya.


“Aku ingin mendapatkan obat itu.”


Setelah mengetahui apa yang di inginkannya, wanita itu kemudian memandang sosok mungil yang ada di tepi telaga. Seorang gadis kecil memakai gaun putih berjongkok sembari ia menatap ke dalam telaga. Kemudian ia mengulurkan tangannya membelai lumput-lumput hijau dan daun-daun bunga teratai. Ikan-ikan yang menyadari itu kemudian bergerak-gerak semakin cepat.


“Aku tahu itu.”


Huang Tang kemudian memandang gadis kecil yang berumur sekitar 5 tahun itu, yang sedang berjalan semakin ke dalam telaga sembari mengangkat ujung gaunnya agar tidak terkena air. Tapi kemudian setelah beberapa langkah, ia berhenti dan berdiri di dana. Lalu di lepaskan kedua ujung gaunnya dan membiarkan air menyentuhnya.


“Betapa aku berusaha untuknya agar diriku selamat, pada akhirnya aku tidak bisa melangkah lebih jauh dan bebas tanpa suatu pengorbanan. Hal-hal duniawi tidak akan terlalu bermakna jika kita tidak mau melepaskannya. Ketika melepaskan sesuatu yang berharga, akan membuat kita semakin menghargainya.”


“Tapi hidupmu bukan hanya menyangkut soal duniawi.”


Huang Tang terdiam dan meminum minumannya.


Sementara gadis yang ada jauh di sana kemudian menampar- nampar air, membuatnya berkeciprak ke manapun dan membuat pakaiannya basah, namun gadis itu tidak peduli dan merasa senang. Ia tertawa bahagia seolah tidak ada keburukan yang akan menimpanya. Tidak peduli dengan gaun indahnya yang kotor dan warnanya mungkin tidak akan kembali seputih sebelumnya. Yang terlihat ia sangat tidak peduli dengan risiko yang terjadi, seolah ia terbebas dari semua itu.


“Jika kita berhasil mencapai tahap akhir maka hidup kita akan abadi, tapi menurutku semua itu hanya keinginan yang tidak perlu di wujudkan.”


“Mengapa kau berkata seperti itu?”


“Karena, keinginan kita berubah-ubah.”


“Aku juga pernah berpikir seperti itu, oleh sebab itu, aku pun memilih untuk mengandungnya dan merawatnya hingga tubuh sebesar itu.” Wanita itu kemudian memandang gadis kecil yang terus berjalan semakin ke dalam dan membiarkan tubuhnya semakin tenggelam dan gaun putihnya mengembang di air. Kakinya yang kecil menyerap hingga menyentuh bagian terdalam lumpur.


“Tapi dia bukan anak biasa.” Seru Huang Tang. “Terlahir dari perpaduan bunga dan seorang wanita, anak itu sangat penting dan sebesar apa bahaya nanti di hadapinya? Dia akan menanggungnya.”


“Aku ada di sisinya. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”


Huang Tang kemudian menghela nafas lalu menatap langit. “Apa kau akan memberikan obatnya?”


“Kau tunggu sebentar.”


Perkataan itu membuat Huang Tang terkejut sekaligus bahagia. Wanita yang ada di sampingnya saat ini bukan wanita sembarangan; ia adalah iblis dan orang-orang takut dengannya. Akan tetapi, ia memiliki ilmu pengobatan yang sangat hebat, yang di dapatkan ketika melakukan samadhi yang begitu lama.


Wanita itu berjalan di lorong, kemudian berbelok mendekati tempat gadis itu berada. Ia memanggil gadis itu seraya melambaikan tangannya.


Gadis itu terdiam menatapnya. Berpikir sejenak dan mendekatinya. Setelah itu, wanita itu memegang tangannya dan mereka kemudian masuk ke dalam lorong lagi.


Anak gadis itu melompat-lompat dan berputar-putar di depan wanita itu. Ia tertawa dan bercerita penuh senyum.


Huang Tang tidak tahu apa yang di katakannya, tapi ia tahun jika gadis itu sangat bahagia. Ketika melihatnya, ia tanpa sadar tersenyum dan ingatan tentang anaknya kembali muncul. Huang Shu adalah gadis pitar, ceria dan penuh trik. Ia sangat suka mengerjai ayahnya dan memainkannya. Dan Huang Tang sadar, jika anaknya itu sangat gembira dan nakal, tetapi kenakalannya itu adalah wujudnya dari bakat yang di milikinya di masa depan. Sehingga Huang Tang tidak perlu mengkhawatirkannya, dan apa Yang di prediksinya ternyata benar, Huang Shu sangat berbakat dan penuh dengan keajaiban. Tidak ada yang tahu seberapa besar pencapaian yang akan di alaminya nanti.


Tapi, kemudian Huang Tang merasa satu bagian Tubuhnya bergetar dan wajahnya kemudian tiba-tiba sangat kelam. Matanya memancarkan aura hitam pekat membuatnya seperti iblis. Lalu kemudian ia menghela nafas dan wajahnya kemudian normal. Ia lalu berpandangan ke arah telaga dan menunggu wanita itu.