Alam Mandala

Alam Mandala
Daerah utara



“Aku mendapatkannya dari kuil.”


“sepertinya kakak berbohong.”


Bing Jiazhi terus berjalan dengan wajah panik. Gadis di belakangnya ingin memainkannya.


“Kakak, sekali lagi aku minta maaf. Kelak jika kita bertemu, aku akan mengajak kakak berkenalan dengan berbagai wanita cantik!”


Bing Jiazhi melambaikan tangannya dan menyembunyikan wajah tidak nyamannya.


Ketika mereka tiba di beberapa undakan terakhir, seorang gadis berdiri menanti mereka. Gadis ini sangat gemuk, matanya besar dan rambutnya panjang terurai.


Bing Jiazhi dan Yang Hua tidak mempedulikannya.


Tetapi Gadis itu berbalik dan menanyakan siapa mereka. Tetapi baik Bing Jiazhi mau pun Yang Hua tidak menjawabnya.


Gadis itu kesal dan mulai mengeluarkan air matanya. “Kenapa kalian tidak memedulikanku?”


Setelah Bing Jiazhi dan Yang Hua berada di luar gerbang, mereka berhenti.


“Terima kasih,” kata Bing Jiazhi memberikan hormat.


Yang Hua berbalik. “Aku melakukannya karena kau telah menolongku. Kedepannya, aku tidak akan bisa memastikan keselamatanmu. Berhati-hatilah.”


Bing Jiazhi mengangguk. “Aku akan berusaha mandiri dan menjadi lebih kuat.”


Ia kemudian memandang ke gerbang jauh ke dalam. Ia sebelumnya berharap akan bertemu dengan Huang Shu, namun ternyata Huang Shu tidak ada di sana.


Setelah bertarung, Bing Jiazhi berencana untuk mengunjunginya, namun ia lupa. Untuk kedepannya, ia berharap akan menemuinya.


Bing Jiazhi mengangkat tangan kanan yang ada pita lonceng pemberian Huang Shu ketika mereka menikah. Menghela nafas dan pergi dari sana.


...----------------...


Malam dengan cepatnya mulai memenuhi langit. Di bawah sebuah pohon, wajah cantik Huang Shu di terangi warna kuning api. Kedua matanya lembut memandang pergerakan api dan mendengarkan suaranya dengan tenang.


Pohon-pohon tinggi mengelilinginya dan sesekali suara aneh terdengar.


Di pangkuannya Jiu jiu tertidur lembut menghadap ke arah api. Ia memakai kedua tangannya sebagai bantal dan kedua kakinya di tekuk ke belakang. Wajahnya terlihat sangat menikmati tidur di malam ini.


Tangan Huang Shu mengusap-usap kepalanya dengan lembut agar Jiu jiu merasa nyaman. Ia harap tidak akan bertemu hewan buas lagi setelah melewati hutan ini. Berbagai jenis hewan buas dan monster-monster menyerang mereka sepanjang perjalanan. Jika bukan karena Huang Shu jenius maka mereka tak akan selamat.


Huang Shu mengangkat tangan kirinya yang di selimuti kain putih. Ada bekas darah di sana, yang menandakan itu adalah luka. Huang Shu mendapatkannya setelah bertarung sengit melawan monster-monster.


Tetapi bukan itu yang muncul dalam benaknya, ia mengingat wajah jiu jiu di penuhi kekhawatiran dan langsung menggunakan pakaiannya untuk menghentikan pendarahan.


Tidak pernah selama ini ia di perlakukan seperti itu. Ibu dan ayahnya sudah lama tidak memperhatikan Huang Shu, bahkan ia hanya beberapa kali di gantikan pakaian oleh ibunya, setelahnya harus mandiri.


Ia sangat senang sekarang ada Jiu jiu di sampingnya yang seperti saudara. Tetapi tiba-tiba ia mengingat, apakah ia akan bertemu lagi dengannya atau tidak, mengingat pembekuan dirinya akan terjadi.


Mengingat itu, membuat dadanya sesak dan bersedih. Ia mengangkat wajahnya. “Jika kita bertemu lagi, aku harap kau akan menjadi saudara kandungku.”


Malam pun terus berlalu dan berlalu, hingga matahari mulai terbit. Jiu jiu mulai terbangun. Ia sangat berharap Huang Shu muncul menyambutnya, tetapi tidak ada. Muncul sedikit rasa kesal, tetapi langsung di sembuhkan dengan ingatannya di malam hari, di mana Huang Shu memberikannya tidur di pangkuannya dan membelai kepalanya dengan lembut. Bagi Jiu jiu, itu adalah kebahagiaan yang sangat berharga di dalam hidupnya.


Ia kemudian berdiri dan merentangkan tangannya. “Aku harus mencari makanan dulu sebelum Nona datang.”


Dengan begitu, ia pun pergi dari sana, tetapi setelah beberapa meter, ia diam dan tersenyum mengingat bagaimana perjalanannya dengan Huang Shu. Perjalanan ini adalah hal paling romantis yang pernah ia rasakan. Jiu jiu mengeluarkan diarnya dan mulai menulis. Setelahnya pergi dari sana.


Jiu Jiu berjalan-jalan ke hutan dengan wajah semangat dan bersenandung mencari berbagai tumbuhan yang dapat di makan.


Ia tidak perlu khawatir dengan hewan-hewan buas dan monster karena tidak ada yang berada di dekat-dekat sana.


“Sepertinya ini sudah cukup.”


Ia mengangkat ikatan kayu bakar yang di penuhi berbagai buah dan tumbuhan yang bisa di makan, setelahnya pergi menuju tempat sebelumnya.


Setelah tiba, Huang Shu tidak ada juga di sana, membuatnya bertanya-tanya ke mana pergi nonanya itu.


“Apakah Nona pergi ke Sungai?”


Jiu jiu meletakkan semua barangnya dan pergi ke sungai.


Di tempat mereka berada sekarang, ada satu Sungai besar dengan lebar 20 meter dan panjang.


Airnya berwarna hijau bersih. Di pinggir-pinggirnya membentang tanaman teratai berbagai warna dan di kelilingi pohon-pohon tinggi, sesekali terlihat pohon Magnolia yang menjorok ke dalam sungai.


Jika musim berbunga, bunga itu sangat Indah terlihat dari dalam perahu.


Ketika Jiu Jiu tiba, di sana Huang Shu berdiri dan tidak jauh darinya seorang pria tua berdiri di sebuah perahu.


“Nona, aku sudah mencari makanan, ayo kita sarapan dan melanjutkan perjalanan.”


“Baiklah.”


Jiu jiu menarik tangan Huang Shu dan makan bersama. Huang Shu makan dengan tenang dan Jiu Jiu mengamatinya.


Setelah makan, mereka pun kembali ke pinggir sungai.


“Nona, apa yang akan kita lakukan sekarang?”


“Menaiki perahu.”


Huang Shu memegang tangan Jiu Jiu yang membuatnya salah tingkah. Dalam sekejap mereka mendarat di atas perahu.


Pria tua tadi langsung mengambil ali kendali dan mendayung perahunya.


Huang Shu berjalan menuju ujung perahu dan duduk bersila di sana.


Pakaian putihnya sangat indah terlihat ketika matahari menyinarinya. Itu adalah pakaian yang di dapatkan ketika pakaian yang sebelumnya rusak saat bertarung.


Jiu Jiu memandangnya sebentar dan duduk. Mengeluarkan buku pribadinya dan mulai menulis.



Sepanjang perjalanan, angin lembut terus berhembus; daun-daun terus berhamburan menyentuh air sungai.


Mereka terus berjalan dan berjalan, melihat berbagai keindahan, rumah-rumah di pinggir sungai, orang-orang yang sedang memancing, melewati air terjun dan lain-lain.


Malam dan siang terus silih berganti, hujan dan terang terus berputar.


Hingga mereka selesai memakai perahu. Mereka mulai berjalan lagi dan sesekali bertemu dengan monster, yang kadang-kadang membuat Huang Shu bertarung atau melarikan diri.


Kemudian, kadang-kadang Huang Shu membopong Jiu Jiu dan melompat-lompat tinggi melewati hutan. Adegan ini membuat detak jantung Jiu Jiu bergetar hebat dan rasa senang menyelubunginya.


Setelah tiba di daerah es, badai es kadang-kadang menghambat perjalanan mereka. Monster-monster es kadang kala datang dan menyerang mereka.


Hingga mereka akhirnya pun tiba di tempat yang di tuju.


Huang Shu berdiri di pinggir tebing memandang gunung es tinggi di depannya.


Jiu Jiu menatapnya dengan sedih dan tidak tahu apa yang harus di katakan untuk perpisahan yang sedih ini. Berbagai kebahagiaan telah ia lalui bersama Huang Shu, berat rasanya berpisah sekarang.