Alam Mandala

Alam Mandala
kemarahan



Dalam suasana bisu yang mencekam, Bing jiazhi duduk sembari membaca. Ia sekarang telah berada di perpustakaan untuk mencari cara cepat mengembangkan inti Mandalanya dan menaikkan tingkat kultivasinya lebih cepat. Jika ia prediksi, dalam sebulan, sangat mustahil baginya untuk bisa mengalahkan zhizhu, mengingat waktu yang di perlukan.


Ia harus melompat satu level lebih untuk dapat mengalahkannya, dan untuk mencapainya, di perlukan waktu kurang lebih 3 bulan. Ia tidak ada waktu menunggu selama itu, Selain itu juga, ia harus dengan cepat menaikkan level untuk membunuh gadis bordil yang telah menghianatinya.


Halaman demi halaman terus di buka oleh Bing Jiazhi.


Di sela-sela karpet kuning, matahari terus meninggi dan meningkatkan intensitasnya.


Ketika matahari mencapai puncak, Bing jiazhi menutup buku. Ia menghela nafas. Tidak ada Teknik apa pun yang bisa ia terapkan untuk masalahnya.


Ia kemudian berdiri.


“Kau mencari apa?”


Bing Jiazhi menoleh. Tidak jauh dari Bing Jiazhi, sepasang kekasih berdiri memakai pakaian putih dan hitam. Mereka berumur kira-kira 40 tahunan. Yang bertanya tadi sang wanita. Mereka sudah tentu adalah penjaga perpustakaan yang berada di sini.


Mereka kemudian menghampiri Bing jiazhi.


“kau mencari apa anak muda?” ia mengulangi pertanyaannya.


“Apakah ada cara cepat menjadi kuat?”


Sang wanita kemudian pergi menuju rak-rak yang ada.


“Jika kau ingin mendapatkannya, semua cara cepat tidak ada yang baik. Semua itu memerlukan risiko yang berbahaya.” Yang lelaki akhirnya berbicara.


“Aku tahu. Aku sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.”


Pria itu kemudian memandang Bing jiazhi dari atas ke bawah, kemudian tangannya di letakkan di dagunya, seperti sedang berpikir.


“Aku belum pernah melihatmu, apakah kau murid baru?”


“Iya, aku b-”


“Dapat!”


Bing Jiazhi menghentikan kata-katanya dan memandang wanita tadi. Ia sudah mendapatkan gulungannya dan menghampiri mereka kembali.


“Anak muda, ini gulungan yang kau inginkan.” Wanita itu menyerahkannya.


Bing Jiazhi menerimanya, kemudian membuka dengan perlahan-lahan. Ia begitu berat saat mulai membukanya dan kemudian semakin lama semakin berat. Tapi akhirnya ia berhasil.


Di dalamnya, tidak ada apa-apa; Gulungan itu murni tidak ada tulisan apa pun.


“Kau tidak akan melihat apa pun dalamnya. Gulungan ini harus kau cari tahu bagaimana cara membacanya.”


Bing Jiazhi mengangguk. Ia memberi hormat, kemudian pergi dari sana.


Ketika membuka pintu, sosok cantik dengan pakaian merah muda berdiri. Ia memainkan kaki-kakinya yang mungil dan kedua tangannya di letakkan di belakang. “kakak.... tolong katakan di mana ibuku berada...”


Xue Yan sangat imut dalam ekspresi seperti itu. Tapi sayangnya Bing jiazhi tidak terpengaruh. Ia kemudian memegang tangan gadis itu dan membawanya pergi.


“Kakak, apakah benar ibuku benar-benar ada?”


Bing Jiazhi terdiam dan memandang Xue Yan. Ia penasaran mengapa Gadis itu mengucapkan hal itu.


“Aku selalu merindukannya! Tapi, dia tidak datang sama sekali. Dari kecil hingga sekarang, aku berharap bisa bertemu dengan ibu, tapi, semuanya tidak akan pernah terjadi. Ketika kakak datang membawa patung itu, aku sangat gembira dan menduga akan mendapatkan informasi di mana ibu berada. Tapi kakak ternyata tidak mau memberikannya. Jadi, aku menyimpulkan jika sejak awal ibuku tidak ada, dia pasti sudah mati sejak kelahiranku. Jika dia ada, dia tidak mungkin tidak menemuiku.”


Bing Jiazhi mengerti dengan apa yang di rasakan Xue Yan. Ia kemudian berjongkok dan memandang gadis itu yang mulai mengeluarkan air mata. “Ibumu masih hidup.”


“iya kakak, semua ibu pasti hidup. Mereka akan selalu hidup di hatiku.”


“bukan. Tapi ibumu memang benar-benar masih hidup. Aku akan mengirimkannya surat dan meminta izin untuk bertemu.”


“kakak, janji?” Xue Yan mengangkat tangannya dan mengepalkan keempat jarinya.


“iya, kakak janji.” Bing Jiazhi hanya bisa mengikuti apa yang ingin di lakukan oleh gadis itu.


...----------------...


Beberapa siswa duduk dengan nyaman di ruangan kelas. Mereka sekarang sedang melakukan pembelajaran di kelas. Namun, tidak semuanya dengan tenang dan sungguh-sungguh memperhatikan apa yang guru mereka terangkan. Tentu saja, di antara mereka ada yang sudah bosan dan memainkan segala sesuatu yang ada di dekatnya, tidak jarang juga mereka akan mengusili teman-teman mereka sebangku atau di seberangnya.


Ada juga yang kelihatannya memperhatikan, tapi pikirannya melayang ke mana-mana, pergi seperti para peri kecil untuk melihat segala sesuatu yang menarik hatinya. Namun, di antara semua itu, ada beberapa juga yang serius memperhatikan sang guru menerangkan, ada juga yang banyak bertanya mengapa dan bagaimana tentang pelajaran yang berlangsung.


Di antara orang-orang itu, Zhu Nan dan Zhu Han bergabung. Zhu Nan sangat menikmati semua pelajaran yang berlangsung, namun sang kakak beberapa kali terlihat menguap dan menyandarkan kepalanya dengan tangan kanan dan sesekali juga terlihat menguap karena mengantuk.


Mereka adalah saudara dengan kelahiran yang tidak terlalu jauh, tapi memiliki sikap yang berbeda. Meski, Zhu Han seperti tidak menghiraukan pembelajaran, ia adalah sosok kakak yang baik dan selalu mengarahkan adiknya, Zhu Nan, memilih pilihan dan tindakan yang lebih baik.


Sementara Zhu Nan adalah adik yang selalu menghormati kakaknya dan berusaha memenuhi keinginan kakaknya, walaupun tidak semuanya bisa ia penuhi.


Mata Zhu Han yang mengantuk tiba-tiba terbuka dan mengangkat kepalanya, memandang ke arah pintu. Tidak hanya ia, bahkan adiknya dan yang lainnya juga ikut, memandang sosok yang datang.


Sang pria tua yang mengajar menghentikan pembelajarannya dan mencibir, “Murid baru datang, seolah dia yang sudah lama berada di sini dan menjadi murid spesial.”


Bing Jiazhi tidak mempedulikan pria tua itu dan melangkah menuju mejanya. Tetapi, pria itu menghentikannya. “Kau pikir dengan mudahnya datang duduk setelah terlambat? Kau pikir di sini tidak ada aturan yang di terapkan? Siapa dirimu? Jika kau merasa kuat dan tidak perlu pembelajaran, pergi dari sini dan lakukan hal apa pun sesuka hatimu. Pergi sana!”


Wajah Bing jiazhi tetap tenang menghadapi pria tua di depannya ini. Ia menganggap pria tua hanya seorang banyak bicara dan sedikit bertindak. Kata-katanya mungkin saja sangat baik, tapi perbuatannya tidak pernah ia percaya akan sesuai dengan mulut manisnya itu.


“Ya, kau benar.” Bing jiazhi kemudian berbalik dan melangkah ke tempatnya.


Pria tua itu kebakaran jenggot mendengar jawaban Bing jiazhi. Wajah keriputnya yang di penuhi bintik-bintik dan kumis panjang terlihat memerah dan nafasnya mulai lebih cepat.


“Ya! Kau benar! Oleh karena itu! Aku akan memberimu hukuman!” lima cincin langsung muncul di dahi pria tua itu, membuat para siswanya terkejut dan beberapa sulit menahan nafas.


Melihat kejadian ini, maka dapat di pastikan Bing jiazhi sulit selamat dari amukannya.


Tekanan yang di keluarkan guru ini sangat kuat, melebihi zhizhu kemarin, ia berada di tingkat alam mandala master, sebuah tingkat yang terbilang cukup tinggi.


Ia mengeram, kemudian memandang salah satu siswa. Tangan kanannya bergerak ke sana dan kemudian gerakkannya menyapu.


Dalam sekejap, dua meja yang ada di depan siswa itu terlempar cepat ke arah Bing Jiazhi.


Bing Jiazhi terdiam. Kemudian pedangnya terbang dari selongsongan. Bing Jiazhi mengambilnya dan beberapa kilatan putih muncul di bangku. Kemudian tiba-tiba bangku itu hancur menjadi ribuan kepingan.


Pria itu mengeram marah, kemudian kedua tangannya memperagakan seolah ingin mencakar seseorang.


“Kau murid kurang ngajar! Hari ini aku akan memberikanmu hukuman!”