Alam Mandala

Alam Mandala
Pagi yang sedih



Tentunya penjaga itu tidak diam, ia kemudian mengeluarkan lima cincinnya, kemudian cahaya putih keluar dari dahinya, bersamaan dengan itu, pedang anggarnya terlihat lebih berkilauan dan lebih kuat.


Dengan kecepatan yang sangat cepat, ia menebas-nebas burung-burung itu tanpa ampun. Jika saja burung-burung itu adalah burung sungguhan, maka tubuh mereka akan terbagi menjadi ribuan potongan daging dan bulu-bulunya seperti kapas.


Namun sayangnya itu adalah air, sehingga hanya akan hancur saja.


Buih-buih itu kemudian berkumpul lagi di udara membentuk burung dan kembali menyerang.


Zhizhu hanya terdiam seolah ia menonton saja, dan itulah yang ingin di lakukannya. Ia hanya perlu mengulur waktu, bukan mengalahkannya.


Namun, penjaga itu mampu mengakalinya. Ia kemudian melompat dan menerjang ke depan.


Zhizhu kemudian mengeluarkan cincin terakhirnya, yang paling kuat. Ia melambaikan tangannya.


Dalam sekejap lima dinding muncul menghalangi laju penjaga itu.


“Jangan menghalangiku!”


Ia berteriak dan mengeluarkan satu cincinnya, bersamaan dengan itu, ujung pedangnya memanjang dan menembus tembok Zhizhu dan seolah ingin menusuknya.


Zhizhu sedikit tersenyum.


Setelah menusuk satu dinding, pedang itu akhirnya berhenti dan Penjaga itu kesulitan bergerak lagi, ia bahkan belum menembus dinding pertama.


Zhizhu kemudian berkata, “meski kau memiliki kekuatan di atas tingkat dariku, kau tidak akan bisa melewati dinding itu.”


Ia tentunya berbicara bukan tanpa sebab, karena di bawah tempatnya berpijak ada sumber mata air, sehingga kekuatannya bertambah lebih kuat dari sebelumnya. Selain itu, ia hanya perlu satu bulan lagi untuk mencapai lima cincin.


Pria itu memilih tidak percaya dan mengeluarkan kekuatan yang lainnya.


...----------------...


Sementara di dalam, Bing Jiazhi berjalan mendekat dan menggenggam pedang kemalangan musim semi. Ia merasa sangat bersemangat ingin membunuh seseorang.


Setelah bertahun-tahun tidak melakukannya, semangat untuk membunuh seperti gunung berapi yang akan meletus. Tatapan matanya sangat tajam dan di saat bersamaan sangat dingin.


Sementara Chao Ming mulai berkeringat dingin dan ia sangat ketakutan. Berkali-kali telah menggoyang- goyangkan loncengnya, tapi penjaganya juga tidak datang.


Chao Ming juga berusaha membuka pintu, tapi pintu terkunci.


Ia hanya bisa bersandar di pintu sembari melihat malaikat maut menghampirinya.


Ketika sudah dekat, mata Bing Jiazhi terlihat memerah dan memiliki aura yang sangat gelap.


Pedang kemalangan musim semi di angkat. Chao Ming tentu tahu itu adalah pedang kayu, tapi ia merasa sangat ketakutan melihatnya, dan tentunya ia tahu jika apa pun yang ada di tangan pria di depannya akan berubah menjadi senjata, tidak peduli apakah itu daun sekalipun.


Bing jiazhi mengayunkan pedang itu dan kepala Chao Ming terlepas begitu saja dan tanpa pemiliknya sadari, bahkan kedua tangan dan kakinya tidak melakukan reaksi apa pun.


Itu di lakukan sangat cepat.


Tubuh Chao Ming perlahan-lahan turun dan akhirnya terbaring di lantai dengan darah yang mulai mengalir dari lehernya.


Wajah Bing Jiazhi terlihat tidak peduli. Ia kemudian mengelap pedangnya dengan kain putih dan meletakkan kembali di punggungnya.


“Sudah selesai.”


Ia melangkahkan kakinya, tapi tiba-tiba petir menyambar di langit dan sekejap langit bagaikan siang. Petir sepanjang 20 meter membentang di langit, seperti akar-akar.


Bing jiazhi menatap sebentar, kemudian menghilang tiada jejak.


Sementara di luar, Penjaga itu menatap penuh kesedihan ke langit. Ia mulai merasakan jika tuanya telah tiada dan akhirnya ia gagal melakukannya.


Ia kemudian bersimpuh dan bergumam, “Aku gagal...”


Zhizhu yang jauh berada tidak ada reaksi apa pun ketika melihat petir itu. Ia kemudian menghela nafas. “Saatnya aku pergi.”


Ia pun menghilang begitu saja tanpa sesuatu.


...----------------...


Di lain tempat, Meng Lin berusaha melakukan proses kelahirannya. Ia berteriak begitu keras mendorong bayinya ke luar sembari di beri semangat oleh wanita tua itu.


Menggenggam beberapa kali sisi ranjang dan mengertakkan giginya, bahkan ia hampir merasa ingin pingsan memicingkan mata.


Namun, proses kelahiran yang di rasa akan memakan waktu yang lama, tiba-tiba saja bayi itu keluar pelan dalam pose telungkup.


Wanita tua yang menuntun merasa gembira ketika melihat bayi itu.


Tetapi, ia tiba-tiba terkejut mendengar suara petir yang menggelegar di langit. Sementara Meng Lin mulai tidak sadarkan diri


Ia mengangkat wajahnya menatap Meng Lin di ranjang penuh dengan keringat. Ia tentunya tidak boleh mengabarkan sesuatu yang buruk kepada wanita itu, maka dari itu, ia kemudian berkata, “Selamat yang mulia, anak anda perempuan. Dia memiliki wajah yang cantik dan ada tanda lahir di dahinya.


Mengenai tanda lahir itu, ada beberapa tanda seperti biji beras yang melingkar seperti berbentuk matahari.


“Saya akan membasuhnya terlebih dahulu.”


Wanita itu pun kemudian pergi dari sana.


Beberapa pelayan yang tersisa membersihkan ranjang dan merawat Meng Lin yang masih lemas.


Sementara Meng Lin hanya bisa mengatur nafasnya dan ia terlihat sangat lemah.


Mendengar apa yang di katakan pelayan itu membuatnya senang hingga sejenak melupakan apa pun yang terjadi sebelumnya.


...----------------...


Setelah ke luar dari pintu, wanita tua yang membawa bayi itu menghela nafas kemudian memandang bayi yang ada di pelukannya. Ia memiliki kulit putih yang lembut dan terlihat tertidur.


Sembari menatapnya, ia bergumam, “Bagaimana caraku mengatakan ini kepada yang mulia?”


Wanita itu mulai berpikir keras bagaimana dirinya akan mengatakan sesuatu yang buruk ini kepada Meng Lin. Jika mengatakannya, tentunya itu akan sangat menyayat hatinya dan jika tidak memberitahunya, cepat atau lambat, Meng Lin tentu akan mengetahuinya.


Sembari memikirkannya, ia berjalan ke sebuah ruangan dan membasuh bayi itu dengan lembut kemudian mengelapnya.


Ia berharap akan ada keajaiban, namun keajaiban itu tidak kunjung datang.


Setelah memandikannya, ia kemudian menyelimuti bayi itu dengan kain merah. Maka terlihatlah bayi itu sangat cantik dan memiliki wajah yang bundar.


Wanita itu ingin sekali mencubit pipi halusnya.


Tidak beberapa lama, para pelayan kemudian datang dan bertanya, “Bolehkah aku menggendongnya sebentar?”


“Dia tidak baik-baik saja.” Jawab wanita itu dengan wajah gelap.


Para pelayan kemudian memandang bayi itu setelah mereka merasa ada sesuatu yang ganjil di wajah wanita tua itu, dan apa yang mereka duga benar.


Bayi itu memejamkan matanya dan terlihat tidak bernafas.


“Bayi itu mati?” tanya salah satu pelayan.


Wanita tua itu dengan pasrah mengangguk. “bagaimana caranya menyampaikan ini kepada istri Gubernur?”


Para pelayan kemudian terdiam memikirkan cara bagaimana mengatasinya.


Maka, keheningan pun muncul dalam ruangan itu.


Yang seharusnya terjadi di malam itu adalah kegembiraan, namun hanya ada keheningan yang mencekam di rumah Gubernur.


...----------------...


Keesokan paginya, Meng Lin duduk di depan rumahnya sembari menikmati cahaya matahari pagi dan bau wangi bunga plum. Ia terlihat lebih pucat dan tua. Tubuhnya terlihat lebih langsing setelah melahirkan. Duduk di sana dengan tenang sembari sesekali meneguk air perasan lemon.


Setelah beberapa saat terdiam, ia mulai mengingat bagaimana keadaan bayinya, apakah ia hidup? Bagaimana rupanya? Apakah ia adalah anak setan?


Ia kemudian meneguk airnya kembali dan menghela nafas.


Pada akhirnya ia tetap tidak mau melihat anaknya. Ia takut jika anak yang di tunggu-tunggu akan menghancurkan semua harapannya. Meng Lin merasa lebih baik berdiam dan berusaha melupakannya. Tapi, sebagai seorang wanita ia tidak bisa melupakannya begitu saja dan hanya menganggap itu sesuatu yang tidak penting.


Tepat ketika ia berusaha tidak memikirkannya, dari lorong sebelah kanan seorang gadis muda yang merupakan pelayan di rumah datang menggendong seorang bayi.


Meng Lin tidak menoleh ke arahnya dan tetap memandang taman. Ia menganggap pelayan itu datang untuk membawakan makanan.


“Nona,”


Pelayan itu memanggil dan terdiam


Meng Lin terdiam sebentar sebelum menoleh ke arah pelayan itu sambil menyuruhnya, “Kau bisa meletakkan makanan di sa....” ia berhenti ketika melihat seorang bayi dalam genggaman tangan pelayan itu, dan kemudian bertanya dengan penuh sentimental, “Apakah itu anakku?”


Pelayan itu mengangguk dan berjalan mendekat. “Nona, ini adalah putri anda.” Pelayan itu kemudian menyerahkannya.


Meng Lin membopongnya dengan lembut dan memandang wajah bayi itu. Bayi itu terlihat sangat putih dan cantik. Kulitnya sangat lembut.


Pelayan itu ingin memberi tahu sesuatu, tapi Meng Lin terlebih dahulu berkata, “Dia telah mati.”


Nada itu begitu dingin terdengar di telinga pelayan itu. Ia tidak tahu berkata apa lagi, tapi untungnya Meng Lin menyuruhnya untuk pergi dari sana.


Pelayan itu segera pamit dan berjalan pergi. Samar-samar ia mendengar suara tangisan dari Meng Lin. Suara itu di penuhi kesedihan. Pelayan itu merasa sangat kasihan, tapi ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menghiburnya.