Alam Mandala

Alam Mandala
Aku tidak bisa membunuhnya



Zhu Nan akhirnya muncul dalam kegelapan malam. Ia sedikit mengernyitkan dahi ketika melihat Bing Jiazhi berdiri dan menyalakan api tanpa ada siapa pun di sekitarnya. Ia mulai bertanya-tanya. Apakah Bing Jiazhi pergi hanya untuk menjaga jarak dengan mereka, dan mengatakan untuk mencari jamur?


Zhu Nan kemudian menepisnya, karena ia melihat tiga jamur berada di atas api dan beberapa di sisinya. Lalu, apa alasan Bing Jiazhi melakukannya?


Bing Jiazhi mengangguk.


“Mengapa kau berada di sini? Dan menyalakan api? Kita sudah menyalakan api unggun di sana.”


Bing Jiazhi kemudian menoleh ke arah api unggun. Ia terkejut mendapati tidak ada seseorang di sana. Hanya ada dupa yang menyala. Ia kemudian berbalik menatap Zhu Nan dan menjawabnya dengan tenang, “Aku tadi bertarung dengan seekor ular dan merasakan di sini bukan tempat aman lagi. Oleh karena itu, aku membuat api baru untuk berjaga-jaga untuk menariknya datang dan ingin kembali untuk memperingati kalian.”


“Lalu kenapa kau memanggang jamur dan lama pergi?”


Bing Jiazhi kesulitan untuk menjawabnya. Ia diam dan mulai mencari jawabannya.


Tetapi ketika ia memikirkannya, tiba-tiba ia merasakan kehadiran sesuatu yang sangat kuat. Dengan cepat ia mengeluarkan pedangnya, kemudian mengayunkannya ke arah api unggun.


Angin yang di hasilkannya, langsung membuat api unggun padam.


Zhu Nan merasa keheranan dengan apa yang di lakukan Bing Jiazhi, sehingga memutuskan untuk bertanya, tetapi Bing jiazhi memotong dan memerintahkannya untuk bersembunyi seraya menarik tangannya.


“Apa yang terjadi?” bisik Zhu Nan ketika bersembunyi di balik pohon.


Bing Jiazhi mengisyaratkan untuk diam dan tidak bergerak.


Melihat ekspresi Bing jiazhi, ia dengan patuh melakukannya.


Tidak lama kemudian, hembusan angin yang sangat kencang muncul dari segala arah. Daun-daun berterbangan dengan paksa, pohon-pohon bergoyang-goyang, seolah mereka akan tercabut.


Kemudian angin itu semakin menjauh dan pohon-pohon kembali seperti semula. Namun daun-daun yang berguguran itu berserakan di tanah.


Bing Jiazhi dan Zhu Nan keluar dan kemudian melompat ke atas pohon untuk melihat. Mereka memandang ke arah langit, ke mana arah angin itu. Sosok putih yang sangat besar terbang di langit seraya sesekali mengeluarkan suara melengking yang sangat tajam.


Burung itu sekitar 100 meter panjangnya dengan diameter 50 m. Burung itu memiliki bulu-bulu berwarna putih yang sangat mengkilat, walaupun di langit kini mulai mendung.


Itu tidak lain adalah jenis dari burung surga, yang merupakan burung yang sangat langka. Ekornya panjang dan ketika terbuka, bagaikan ekor burung merak. Tubuhnya seperti ayam, namun memiliki warna putih saja. Ada janger di kepalanya dan memiliki mata putih dengan lingkaran hitam.


Zhu Nan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Tetapi ini adalah pemandangan yang sangat langka. ia tidak akan pernah melupakannya.


Sementara, Bing jiazhi terlihat biasa-biasa saja. Apa yang bisa di kagumi dengan hewan buas seperti itu, walaupun ia sangat cantik dan selalu di buru karena keindahan dan kekuatannya. Tetapi apa yang ada di depannya, harus ia nikmati dengan sebaik mungkin, Karena ia mungkin tidak akan pernah melihatnya lagi.


Mereka kemudian melompat ke tanah.


Bing Jiazhi memerintahkan Zhu Nan untuk pergi kembali ke tempat kakaknya.


“Bagaimana denganmu?”


“Aku harus berjaga-jaga di sekitar. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi.”


“Itu seharusnya menjadi tugas kami yang lebih senior. Kami telah menjelajahi hutan ini dan bertarung berbagai monster. Pemandangan yang tadi adalah sesuatu yang sangat langka. Aku dengar, hanya dua saja yang di lepaskan di hutan dan sangat langka. Burung itu salah satu yang terkuat yang ada di tempat ini. Sebagai seniormu, aku dan kakakku akan berjaga untukmu.”


“Kita melakukannya bersama-sama.”


“Adik junior benar. Kau bisa meningkatkan kemampuanmu di sini.”


Mereka kemudian pergi dari sana.


...----------------...


Hujan akhirnya turun di malam yang dingin ini. Butiran-butiran yang jatuh, menciptakan keramaian di dalam hutan.


Bing Jiazhi dan kedua rekannya memutuskan untuk berteduh di dalam gua. Sayang sekali, pakaian mereka harus basah karena letak gua terlalu jauh.


Mereka menggunakan daun sebagai payung sebelum mencapai gua. Tetap saja mereka kebasahan karena hujan yang turun begitu deras.


Zhu Han sendiri hanya bisa menghela nafas dan mulai membuat api unggun.


Bing Jiazhi berdiri di pintu keluar gua sembari memandang tetesan-tetesan hujan yang begitu banyak dan padat.


Ia merasa akan ada sesuatu yang sangat buruk terjadi. Lalu apa? Ia tidak tahu, tapi ia merasa itu ada hubungannya dengan dirinya.


Malam yang sebelumnya cerah, kini tiba-tiba di penuhi tetesan hujan dan suara-suara petir menggelegar.


Satu sampai dua jam, akhirnya hujan reda, meninggalkan genangan-genangan di beberapa tempat yang ada di hutan.


Beberapa juga di halaman rumah Yao yu.


Salah satu genangan itu menampilkan bulan yang mulai bercahaya lagi.


Tidak lama kemudian, Xue Yan berjalan menghampiri genangan itu. Satu tetas hujan dari payung yang di bawanya menetes ke genangan itu. Ketika gelombang menyebar, tidak di sangka-sangka, bayangan gadis itu perlahan-lahan berubah menjadi sosok dewasa dengan kedua mata yang sangat gelap.


Xue Yan menghela nafas menatap sosok dirinya yang telah dewasa di genangan itu. Ia selalu melihatnya dam berharap kali ini ia tidak melihatnya. Tapi sayangnya ia sekarang melihatnya. Bahkan bayangan itu tampaknya terlihat lebih menderita dari sebelumnya.


Xue Yan tidak pernah tahu mengapa ini bisa terjadi.


“Apakah kau lelah hari ini?” ia menyapanya dengan suara lembut.


Bayangan itu mengangguk.


“Kita sama-sama memiliki masalah yang sama. Kau tahu, betapa aku merindukan ibuku dan berharap bisa menemaniku. Tetapi kali ini harapanku sudah tidak ada lagi. Aku selamanya akan hidup sendiri dan tidak akan pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Nama itu tidak ada lagi, aku sudah membuangnya ke tempat sampah. Sekarang, hanya ada aku sendiri, tidak ada yang lain, bahkan ayah.”


...----------------...


Memandang sebuah pedang dan merasakan bagaimana memegangnya, jiu Jiu tidak pernah terpikir, bahkan untuk menyentuhnya. Tapi sekarang, ia memiliki satu pedang dan mulai berlatih pedang bersama Fang Enlai dan gadis itu.


Butiran-butiran salju tidak pernah berhenti bertaburan, tetapi ritmenya selalu berubah-ubah. Di malam ini, butiran-butiran salju berjatuhan dengan pelan dan lembut.


Dengan pedang di tangannya, ia sekarang berada di halaman rumah menatap seorang gadis yang telah lemas di ikat di sebuah batang pohon.


Gadis itu kedinginan, pakaian tercabik-cabik dan tangannya di penuhi luka. Suara nafasnya sangat lemah dan mungkin ia akan mati.


“Bunuh gadis itu,” Fang Enlai memerintahkan.


Jiu Jiu tidak pernah ingin membunuh, tetapi sekarang, ia harus melakukannya.


“Kau akan menolongnya jika kau membunuhnya,” seru gadis itu.


Jiu Jiu memandangnya. “Bagaimana mungkin dengan membunuhnya akan menyelamatkannya? Kita seharusnya memberinya pertolongan sama seperti apa yang kalian lakukan untukku.”


“Dia tidak seberuntung dirimu. Jika kita menyalamatkannya, dia tidak akan selamat. Kau harus cepat membunuhnya.”


Jiu Jiu kembali memandang gadis itu. Nafas gadis itu semakin melemah, kulitnya semakin membiru dan kedinginan. Ia tidak bisa melihat apa-apa karena sebagian rambutnya berada di depan wajahnya. Ia kemudian menelan ludah dan mengangkat wajahnya, tetapi karena ia sangat lemah, ia tidak bisa melakukannya.


“Bunuh dia,” ujar gadis itu.


Jiu Jiu memegang erat pedangnya. Ia tidak mau membunuh, tidak mau mengorbankan anak kecil yang telah sekarat dan membutuhkan pertolongan. Tapi, ia juga tidak bisa menolak permintaan dua orang yang telah menyelamatkannya dan yang telah mengajarinya, yang telah memberikannya tempat nyaman untuk hidup. Lalu, apa yang harus ia lakukan?


Ia memejamkan mata, memegang erat pedangnya dan berjalan mendekati gadis yang telah lemas itu.


“Maaf.”


Ia mengangkat pedang besarnya dan satu tangannya memegang lagi, kemudian mengayunkannya.


Serriiing!!!!