Alam Mandala

Alam Mandala
Huang Tang



Huang Tang adalah ayah dari Huang Shu, sekaligus ayah mertua dari Bing Jiazhi. Mereka bertemu Ketika masih kecil, saat Bing jiazhi di adopsi olehnya dan membawanya ke rumah keluarga Huang. Saat itu, api melahap sebagian rumah di desa, teriakan orang-orang meminta bantuan terdengar jelas malam itu. Ketakutan, kengerian, peristiwa berdarah terjadi malam itu, yang bahkan bulan yang semulanya berwarna putih berubah menjadi merah.


Para kelompok penjahat menjarah seisi desa dengan segenap kekuatan yang di miliki. Para penduduk sangat ketakutan akan jumlah mereka yang banyak dan membawa senjata. Setiap rumah yang di datangi, mereka akan melempar obor dan menyuruh orang-orang untuk keluar, jika tidak menurutinya, maka mereka akan mendobrak pintu, menghancurkan jendela atau mengancam mereka di bakar hidup-hidup di dalam rumah.


Semua rumah penduduk yang tidak banyak itu di bakar dan asap hitam yang sangat mengerikan terbang ke atas langit.


Bing Jiazhi kecil ketika berumur 5 tahun di perintahkan ibunya untuk bersembunyi di gentong arak, sementara ibunya akan keluar menemui para perampok itu.


Tubuhnya gemetar, serta rasa takut kehilangan ibunya, Bing Jiazhi memegang erat kaki ibunya dan tidak membiarkannya melangkah selangkah pun. Ia berteriak sembari menangis, “ biarkan mereka masuk, ibu dan aku bersembunyi di sini! Mereka tidak akan menemukan kita di dalam sana!”


Tetapi ibunya melempar Bing Jiazhi ke dalam sana dengan kasar kemudian berlari pergi sambil memerintahkan untuk tetap di dalam sana, jika tidak ingin mati.


Nada ibunya sang mengerikan dengan mata yang mengakukan, yang membuat Bing jiazhi mengangguk dan bersembunyi di dalam sana.


Tidak lama setelahnya terdengar jeritan ibunya dan para penjahat kemudian masuk dan menggeledah seisi rumah. Keberuntungan tidak berpihak pada Bing Jiazhi, ia dengan mudah di temukan oleh para penjahat itu. Ia berteriak dan melempar batu yang ada kemudian berlari ke luar. Saat itulah ia melihat ibunya dan menangis. Kemudian menyadari jika semua rumah di desa tempatnya tinggal sudah di lahap oleh api yang ganas.


Ia bertanya, apa yang terjadi, dan mengapa mereka semua melakukan ini. Tetapi ia tidak sempat memikirkannya, kemudian berlari dari mereka. Namun, kembali ia tidak beruntung, ia tersandung dan terjatuh.


Pria yang mengejarnya menyeringai bagaikan dewa kematian yang membuat Bing jiazhi ketakutan dan memohon pengampunan.


Tentu saja, orang itu tidak peduli dan tetap ingin membunuhnya. Tetapi, seperti meski kesialan terjadi beruntun, akan ada keberuntungan yang terjadi, Huang Tang datang menusuk dada pria itu kemudian mendekati Bing Jiazhi.


Wajah menawan dan kedewasaan Huang Tang membuat ia menatap lama dan mengagumi pria itu. Pakaian dan pedang yang di bawanya, dan bagaimana ia berekspresi, membuat Bing Jiazhi yakin jika pria paru baya dengan pakaian merah muda itu adalah orang baik.


Saat mengulurkan tangannya dan berkata, “Ikutlah bersamaku,” membuat Bing Jiazhi terhipnotis oleh nada lembutnya dan tanpa sadar memegang tangan pria itu kemudian mengikutinya. Itulah pertemuan mereka.


Huang Tang kemudian berjalan dan menaiki kereta kuda tanpa berbicara. Kemudian ia tersenyum seperti ada sesuatu yang membuatnya bahagia.


Sementara di dalam, kotak pedang bunga persik bergetar dan semakin lama semakin keras, lantas penutupnya terbang dan pedang itu melesat ke depan ingin nusuk Huang Tang, namun Huang Tang kemudian berubah menjadi asap hitam dan pedang itu kemudian bergetar di tempat, seolah ingin berusaha melepaskan dirinya.


Huang Tang kemudian bersila di samping sembari memegang pedang itu. Ia terlihat tenang dan seolah pedang itu bukan apa-apa baginya.


Bing Jiazhi kemudian kembali ke atas kereta kuda dan bersila di sana. Kemudian kereta kuda kembali berjalan. Huang Tang mengambil sebuah koin dari bajunya kemudian melemparnya ke atas dengan mudah dan sekejap koin itu berubah menjadi botol arak. Ia kemudian mendongak meminumnya kemudian menyerahkannya kepada Bing Jiazhi.


Setelah meminumnya, Bing Jiazhi kemudian berkata sambil menoleh, “Aku telah membunuh keluargamu, setidaknya kamu datang untuk membunuhku hari ini, bukan untuk menolong.”


Huang Tang menghela nafas. Ia kemudian melempar pedang bunga persik ke atas dan dengan sigap Zhizhu mengambilnya dengan mudah. “Ini sudah menjadi pemandangan yang biasa. Dan jika aku melakukannya, apakah semua keluargaku akan kembali lagi?” Huang Tang diam sebentar, “inilah yang di sebut kesialan dua kali tanpa di sadari.” Ia kemudian meneguk araknya kembali.


Bing jiazhi kemudian memikirkannya dan memandang ke depan lagi.


Sementara Zhizhu memandang Huang Tang penuh dengan keheranan. Ia bertanya-tanya, bagaimana pria itu bisa menghilangkan sesuatu dari pedang bunga persik dan membuatnya mampu di kendalikan dengan mudah. ia kemudian bertanya penuh penasaran, “Tuan, bagaimana caramu menghilangkan sesuatu di dalam pedang ini?”


Huang Tang tersenyum. “Itu sangat mudah Nona! Yang perlu kau ketahui, adalah niat pedang.”


“Niat pedang?”


Huang Tang mengangguk. “Niat pedang adalah niat yang di berikan kepada pedang saat di buat. Para ahli pembuat senjata sangat tahu tentang ini dan mereka menaruh niat pedang pada setiap pedang yang di buatnya. Tujuannya, agar jiwa yang ada di dalam pedang itu memiliki tujuan dan mampu melindungi tuan mereka. Niat yang di tanamkan berbeda-beda oleh setiap orang, oleh sebab itu, anda harus mencari tahu niat pedang sebelum bisa menggunakannya dengan baik.”


Zhizhu sedikit mengerti apa yang di sampaikan Huang Tang, Namun ia penasaran bagaimana Huang Tang mengetahui Niat pedang yang ada di pedang bunga persik itu. Maka dari itu, ia bertanya tentangnya.


“Niat pedang bisa kita ketahui langsung dari pembuatannya, atau mengamati bagaimana Pedang itu berperan melindungi tuan mereka.”


Zhizhu mengerti kemudian bertanya, “Maksud anda, kita harus mengetahui pemilik dan pembuatnya? Jika seperti itu, bukan berarti anda pernah bertemu dengan pemilik pedang bunga persik dan bertarung dengannya?”


Huang Tang tersenyum. “Bisa di katakan begitu.” Ia kemudian meminum araknya kembali. “Ah, aku akan tidur sebentar. Bocah berengsek, berjalan lebih lambat lagi.”


Bing jiazhi mengangguk dan menarik tali sembari ia memikirkan apa yang di katakan Huang Tang sebelumnya.


Huang Tang, Adalah salah satu master bela diri yang tersembunyi, yang bahkan keluarganya sendiri tidak mengetahuinya, tetapi sebuah keberuntungan Bing Jiazhi mengetahuinya, oleh sebab itu, ia menyerang keluarga Huang ketika ia pergi, dan lagi pula targetnya hanyalah wanita tua yang ada di sana, tetapi orang-orang terlalu bersikukuh melindunginya, maka dari itu, ia pun tidak punya pilihan lain selain membunuh mereka semua.