Alam Mandala

Alam Mandala
Perasaan



Rambut hitam yang meski malam masih berkilauan itu sangat indah di lihat. Sekarang yang membuatnya indah, tidak lain adalah bulan yang telah bersinar di atas. Hanya sebagian, tapi sekarang langit yang cerah dengan awan-awan tipis, membuat malam itu bercahaya terang sedikit putih.


Rumput-rumput lentera biru bergoyang-goyang lembut, beberapa bunga-bunganya berterbangan tertiup angin dan sebagian pula berguguran.


Shen Shu memandang bunga yang ada di telapak tangannya sembari bersandar di sebuah pohon. Bunga itu kecil berwarna biru dengan lima kelopak. Ia menemukannya tadi sore ketika angin tiba-tiba bertiup kencang. Satu kelopak bunganya berwarna kuning kecoklatan, yang berarti sudah busuk. Mungkin itu adalah bunga yang berguguran dan tertiup angin setelahnya. Tapi bunga apa ini?


Sheng Shu mendekatinya. Hampir-hampir bulu mata dan kulit yang indah dan mulus itu menyentuhnya. Ia lalu menciumnya. Ada bau masam dan sedikit wangi. Sheng Shu kemudian menghela nafas dan memundurkan wajahnya. Meski bau bunga itu sedikit unik, ia sekarang lebih memikirkan perasaan apa yang muncul di dalam hatinya, sebuah perasaan aneh, yang membuatnya bahagia, mampu menggetarkan hati dan jiwanya tanpa harus menyentuhnya. Perasaan suka? Tidak, itu lebih dalam. Cinta? Kenapa aku merasakannya?


Ia merasa seperti berada di awan angkasa, terasa melayang-layang dan lega, di tambah lagi ketika mendengar kabar jika pria itu telah melakukan sesuatu yang mengagumkan.


Sheng Shu kemudian meletakkan bunga itu di telinganya sembari memikirkan, mengapa perasan ini tiba-tiba menghampirinya dan tumbuh begitu saja seperti tumbuhan ajaib yang tumbuh dalam sedetik.


Namun sayang sekali, betapa pun kerasnya ia memikirkannya, tidak ada jawaban untuk itu, dan ia membutuhkan waktu yang lama untuk mencarinya.


Sheng Shu tidak tahu, entah kapan ia akan menemukannya.


Ia kemudian berdiri. Di sampingnya, Ada sebuah dupa yang telah di hidupkan setelah ia datang. Dupa itu terjepit di antara lubang-lubang kecil yang ada di kulit pohon tua besar itu. Jika orang-orang mengamatinya lebih dekat, akan terlihat tumbuh-tumbuhan hijau muncul dari sela-selanya dan tetesan jernih.


Beberapa titik juga tumbuh lumut-lumut hijau muda, memanjang dan berkelok-kelok membentuk seperti ulat di sana.


Sheng Shu sering memandangnya kemudian berpikir, jika alam pun mampu membuat sebuah kesenian yang berharga dan tidak dapat di buat oleh manusia.


Mengernyitkan dahinya, Sheng Shu kembali duduk. Ia perlahan-lahan melepaskan ikatan bajunya, kemudian perlahan-lahan gaun indah itu turun, lalu memperlihatkan kulit putih dengan bulu-bulu halus dan lembut, seperti seorang bayi yang berumur 3 bulan; sangat kenyal.


Di atasnya ada leher ramping dan di tutupi helaian rambut hitam panjang, yang terlihat sangat bersih. Jika di bandingkan dengan leher bangau berwarna putih dengan bulu-bulu halus, itu tidak bisa di bandingkan.


Sheng Shu mengangkat tangan kiri dan di sana terlihat luka di bagian lengan tangannya yang cukup dalam dan mengeluarkan darah.


Ia kemudian menghisap darah yang mengalir, lalu memuntahkannya, membuat rumput-rumput hijau yang ada di sana berwarna merah.


Kemudian mengambil kain panjang yang telah dibawanya, lalu mengikatnya.


Pertarungan melawan orang tadi siang membuatnya terluka, tetapi untungnya ia berhasil membunuh orang itu. Mereka adalah orang-orang yang ingin melamarnya, namun karena di tolak, mereka balas dendam.


Ibunya, Sheng jie membiarkannya begitu saja. Ia menganggap itu sebagai hukuman karena telah melanggar perintah untuk mengikuti lomba melukis dengan baik.


Karena Sheng Shu berbakat, ia mampu mengalahkan semuanya, meski beberapa bagian tubuhnya terluka.


Ia kembali memakai pakaiannya dan berdiri. Malam semakin larut.


...----------------...


Di dalam ruangan yang redup itu, Bing Jiazhi duduk bersila. Ekspresi wajahnya sangat pucat, dan beberapa kali menahan sakit karena Zhizhu mencabut satu persatu jarum yang menusuk punggungnya.


Ketika satu tercabut, darah akan keluar, kemudian rasa sakit yang mengerikan akan terasa.


Zhizhu merasa kasihan melakukannya, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ingin sekali ia memukul pria di depannya sekarang, tapi melihat ekspresi itu, membuatnya mengurungkan niatnya itu. Tidak ada kata lain selain ingin memarahinya sekarang. Ia ingin mengatakan pria itu bodoh dan sok menjadi pahlawan.


Namun, tidak beberapa lama ia teringat, jika ia maju melawannya, maka ia sudah pasti akan menjadi korban dan menderita hal yang sama, yang bahkan ia harus berpikir dua kali melakukannya jika merasakan sakit seperti apa yang di alami Bing Jiazhi.


Oleh karenanya, ia pun berterima kasih sambil tetap fokus mencabut.


Bing Jiazhi tidak menjawabnya, karena tubuhnya terasa sangat sakit dan kelelahan akibat bertarung.


Setelah diam, Zhizhu ingin memarahinya, tapi teringat dengan sakit yang di deritanya, membuat ia mengurungkan niatnya.


Malam semakin mencekam. Di ruangan itu hanya keheningan dan beberapa suara menahan sakit terdengar. Di luar, sama seperti sebelumnya, burung-burung tertidur dan daun-daun berguguran, hanya saja bulan tidak terlihat karena awan dan lilin yang menyala di ruangan itu semakin lama semakin redup.


Pada akhirnya Zhizhu menghela nafas, kemudian melihat darah-darah yang keluar dari punggung Bing Jiazhi yang tidak bisa di bayangkan bagaimana rasa sakitnya.


Ia kemudian berdiri dan berjalan ke luar. Saat tiba di pintu, ia diam. Ingin berbalik, tapi menahannya. “Bing Jiazhi, kau harus menjaga dirimu lebih baik.”


Tanpa menunggu jawaban, ia pergi dari sana. Tidak lama kemudian pintu perlahan-lahan tertutup sendiri.


Butuh satu batang dupa untuk Bing Jiazhi membuka kedua matanya. Wajahnya terlihat lebih pucat dan ia seperti orang demam.


Kemudian ada sesuatu di dadanya. Ia kemudian teringat jika kertas yang di berikan Sheng Shu berada di sana. Hanya tiga aksara yang tidak di mengertinya. Ia tidak ingin mengeluarkannya, tapi ia kemudian teringat jika tiga aksara itu memiliki arti yang sulit untuk di pahami, maka dari itu, ia kemudian mengeluarkan dan membukanya.


Ia kemudian mengernyitkan dahi karena tiba-tiba tubuhnya terasa sakit.


Tidak lama kemudian tiga aksara itu bercahaya. Sedetik kemudian kertas itu berubah menjadi cahaya warna-warni indah seperti pelangi. Cahaya itu kemudian mengitari tubuh Bing Jiazhi seperti ingin menelusuri setiap jengkal tubuhnya.


Ia merasa keheranan, tapi kemudian lebih penasaran dengan perasaan apa yang muncul setelah cahaya itu mengitarinya; tubuhnya terasa lebih ringan, lebih nyaman, dan ras sakit perlahan-lahan menghilang.


...----------------...


Angin kencang akhirnya bertiup. Bulan yang sebelumnya menghilang akhirnya muncul kembali. Cahayanya menerangi dua pagoda biru yang ada di ibu kota kekaisaran Bintang biru. Cahya itu menggantikan cahaya matahari yang terasa panas.


Di depan Pagoda, Sheng Shu mengangkat wajahnya memandang bulan itu. Cadar putih yang di kenakannya memperlihatkan sedikit senyuman yang sangat manis, indah dan mengagumkan.


Han Fu berwarna abu-abu itu terasa bercahaya di malam ini. Di lantai pagoda, orang-orang memandangnya sambil menikmati malam atau sekedar menikmati secangkir arak.


Di tangannya yang putih ada setangkai bunga rumput biru. Bunga itu masih segar dan baru di petiknya.


Sementara tangan yang satunya lagi ada cahaya warna-warni mengitarinya.


Ia kemudian berbalik lalu pergi dari sana.


Hatinya terasa tenang setelah beberapa saat merasa tidak nyaman. Ia mengira-ngira mungkin karena angin malam itu terasa lebih sejuk dari sebelumnya.