
Menyandarkan kedua bahunya di tepi bawah jendela, wajah Meng Lin semakin redup dan di penuhi melankolis. Tentunya ia sangat menginginkan kabar baik dari biksu tersebut dan berharap mendapatkan jawaban yang jelas dan tanpa teka-teki seperti itu. Ia menginginkan jika kandungannya baik-baik saja dan akan melahirkan bayi yang sehat, segar dan seorang bayi wanita cantik, meskipun suaminya menginginkan seorang anak laki-laki. Bagi Meng Lin, bayi perempuan memiliki sebuah seni di dalam diirinya sendiri dan memiliki penampilan yang mampu membuat semua orang tergerak untuk melihatnya, dan meski pun ia tahu jika anak laki-laki pun juga memilikinya, selain itu, tergantung bagaimana ia bisa membentuk kepribadiannya.
Ia kemudian menghembuskan nafas kesal, berharap semoga rasa kesal menghilang begitu saja dalam sekali hempasan.
Kemudian ia pun bergumam seraya melihat perkarangannya yang di penuhi kelopak-kelopak bunga yang berguguran karena hujan. “Hari ini sama seperti kemarin.”
Selain kelopak-kelopak yang elok bertebaran di sana, beberapa juga terlihat di penuhi kotoran tanah yang mampu menghalangi keindahan bunga-bunga itu. Meng Lin kemudian mengasihani keindahan bunga-bunga itu, yang seharusnya kini terpancar di ranting-ranting tanpa halangan daun-daunnya.
Ia pun kemudian memandang pohon-pohonnya yang besar dan di penuhi beberapa ranting-ranting yang terlihat menyedihkan ketika sebagian besar bunga-bunganya berguguran.
Sejenak, angin bertiup menyentuh pipi Meng Lin, yang membuatnya terasa dingin, lebih dingin dari sebelumnya.
Memperhatikan beberapa saat, Meng Lin teringat jika ia menyukai bunga-bunga plum berwarna merah muda daripada merah cerah. Ia menganggap, bunga merah muda, meski pun warnanya tidak terlalu mencolok, warnanya itu terlihat lebih lembut dan memiliki daya tarik sendiri, dan meskipun terlihat lemah, jika di perhatikan lebih dalam, ada kekuatan-kekuatan yang sulit untuk di ketahui.
Meng Lin memerhatikan kepala putik, sari dan mahkotanya yang indah ketika sewaktu masih kecil. Ia mengagumi bunga itu dan menganggap bunga itu adalah bunga terindah yang pernah di lihatnya. Maka dari itu, ia pun berusaha memiliki banyak pohon-pohon bunga seperti itu, bahkan hingga sekarang, ia masih sangat menyukainya.
Meng Lin menarik nafas dalam-dalam merasakan bau harum dari bunga itu, kemudian menghembuskan dengan perlahan-lahan. Teringat kembali dengan kandungannya ketika merasakan sakit di perutnya.
Meng Lin kemudian mengelusnya. Ia semakin khawatir dan takut, anaknya terjadi sesuatu, tapi kemudian ia menghela nafas antara pasrah ataupun menganggap ini sesuatu yang tidak adil baginya.
Ia kemudian menutup jendela dan beranjak ke ranjangnya. Dari pada memikirkan hal-hal yang membuatnya bersedih, lebih baik ia tidur tanpa memikirkannya, kemudian menyelami dunia mimpi yang luas.
...----------------...
Chao Ming Setiap hari akan pergi ke kantor pusat pemerintahan daerah, ia akan menikmati pekerjaannya itu, yang tidak semua orang ingin melakukannya, meski itu adalah pekerjaan yang membawa harum setiap orang yang menggapainya.
Ia akan membaca laporan-laporan dan memberi solusi yang di pikirkannya, kemudian mengatur agar daerah yang di perintahkannya berjalan sesuai dengan kehendak hatinya. Ia akan berusaha meluruskan sesuatu yang memang ingin ia lakukan dan akan memotong apa pun yang membuatnya merasa jengkel dan menyentuh ketenangan hatinya.
Berbagai tindakan anarkis ataupun secara diam-diam ingin membunuhnya, ia akan membasminya secepat mungkin, seperti seseorang yang sedang mendengarkan suara nyamuk yang jauh dalam sebuah ruangan, kemudian akan mencarinya hingga mampu di bunuh, jika tidak mampu, akan selalu mengganggu pikirannya.
Kemudian, setelahnya ia akan mempelajari dan membendung berbagai tindakan-tindakan yang akan di timbulkan oleh tindakan anarkis tersebut dengan berbagai solusi yang tentunya agar semuanya menjadi puas kemudian tidak mengganggunya lagi.
Beberapa tahun yang lalu, kehidupan kota tidak sebaik ini, di karenakan posisi antara laki-laki dan perempuan sangat tidak setara. Chao Ming yang mempertahankan tradisi lama perlahan-lahan sadar, jika ia tidak akan mampu mengendalikan berbagai tindakan-tindakan yang nantinya akan muncul di kalangan masyarakat oleh ketidak adillan seperti itu, oleh sebab itu, ia perlahan-lahan mulai menerapkan berbagai undang-undang, yang tentunya akan menimbulkan berbagai ketidak puasan berbagai pihak.
Oleh sebab itu, seperti setetes air yang terus terjatuh di atas batu, Chao Ming melakukan reformasi secara perlahan-lahan sembari ia menghancurkan berbagai pihak yang tidak setuju dengannya.
Itu ia lakukan karena ia sadar, jika menahan sikap konservatifnya, akan membawa bencana di dalam karirnya.
Selain itu, ia juga mulai menyadari jika ia telah jatuh cinta kepada gadis yang di belinya di kota untuk menemani hidupnya. Awalnya, ia berkehendak untuk menjadikannya budak, tetapi ia tidak menyangka jika sebuah bunga bermekaran di hatinya.
Setelahnya, sesudah ia membaca buku yang di karang Seorang gadis yang di hukum karena tindakan anarkis, ia menjadi sadar akan kesalahannya dan mulai memperbaikinya.
Semuanya berjalan lancar, tetapi di suatu titik, ia akhirnya bersedih kembali, tidak peduli seberapa banyak lawan-lawan politik yang ia kalahkan, ia tidak akan pernah mengalahkan kehendak langit, yang menakdirkannya sulit mempunyai anak.
Berbagai tindakan di lakukan dan berbagai sikap telah di ambil untuk mengatasinya, tetapi ia masih belum mendapatkannya.
Kali ini, ketika seorang pria lengkap dengan seragam kemiliteran menghampirinya, ada secercah harapan di hatinya.
Bertahun-tahun ia telah mencari berbagai tabib untuk memeriksa istrinya itu, dan beberapa tahun kemudian akhirnya itu membuahkan hasil, tapi sekarang, selama sembilan bulan kandungannya, ia berharap keberuntungannya akan datang secepat yang di harapkan.
Ketika mendengarnya, wajah Chao Ming terlihat dingin. Ia kemudian tanpa berpikir panjang memerintahkan pria itu untuk menyampaikan bahwa hari ini ia sibuk.
Pria itu kemudian pergi dari sana, tapi kemudian kembali datang lagi dan berkata dengan nada tergesa-gesa, “Tuan, dia mengatakan bisa menyembuhkan istri anda dan tahu apa yang terjadi kepadanya.”
Wajah Chao Ming mendadak terbit, kemudian ia berkata tenang, “Apakah kau tidak menipuku?”
“Tidak tuan, dia memang berkata seperti itu.”
Chao Ming tidak langsung bergegas keluar, ia kemudian mulai menyelidiki wanita itu, “Apakah dia sudah tua?”
Pria itu diam sebentar kemudian menjawabnya, “Dia masih muda dan sangat cantik. Memiliki rambut hitam panjang dan tubuh yang tinggi.”
Semangat Chao Ming menurun. Ia tentunya tidak percaya dengan fisik seperti itu memiliki ilmu pengobatan yang tinggi, dan juga, ia curiga jika wanita itu datang menggodanya.
Ada sedikit jeda dalam pembicaraan mereka. Chao Ming memikirkan jawaban yang tepat, sementara prajurit itu mulai menebak-nebak apa yang akan di katakan gubernur Jiangsu itu, dan pada akhirnya Chao Ming kemudian berkata setelah mempertimbangkannya, “Katakan aku akan datang menemuinya nanti.”
Pria itu kemudian kembali pergi dan Chao Ming kembali berkerja.
...----------------...
Sementara itu, Meng Lin duduk di kursinya dari pagi hingga siang ini, dan di temani seorang pelayan muda. Ia sedang membaca sebuah buku sembari menikmati suasana hari itu.
Duduk di kursi yang nyaman dan di temani bau bunga-bunga plum, membuat ia merasa sangat nyaman, meskipun kenyataannya cara itu adalah pengalihan dari apa yang di rasakannya sekarang.
Gadis yang menunggu di sampingnya berusaha menjaga agar tidak merasa bosan, ia telah menatap setiap detail yang perlu di beri komentar dan pertanyaan di taman rumah itu, namun meski demikian, pada akhirnya ia tetap merasa bosan dan mulai mengantuk. Tatapannya mulai redup dan beberapa kali ia harus menyeimbangkan tumbuhnya karena menahan kantuk.
Tepat ketika matahari sedikit turun di barat, Meng Lin memerintahkan untuknya tidur.
Pelayan itu langsung sadar dan berkata tegas, “Tidak Nona, aku tidak apa-apa.”
Meng Lin tahu jika gadis itu berbohong demi tugas yang di jalankannya, dan ia tahu itu adalah tugas penting yang di berikan suaminya itu. Jika terjadi sesuatu dengannya, maka gadis itu lah yang pertama kali mendapatkan hukuman, maka dari itu, Meng Lin kemudian berkata sembari menurunkan bukunya, “Perutku terasa lebih baik dari sebelumnya. Jika nanti terjadi apa-apa, tidak mungkin para pelayan yang lainnya membiarkan itu terjadi.”
Ada banyak pelayan di kediaman gubernur, tetapi, mereka telah mendapatkan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Tetapi, jika mereka mendengar suara teriakan kesakitan, apakah mereka hanya akan diam saja?
Meng Lin kemudian berkata lagi agar Gadis itu tidak bisa menolak permintaannya, “statusmu di sini hanya sebagai pelayan untukku, seharusnya, kamu tidak boleh melawan perintahku. Juga, kamu di bayar karena sikap penurutmu, bukan melawanmu.”
Gadis itu tidak bisa memikirkan jawaban lain untuk membantahnya, tetapi ia merasa enggan untuk pergi, karena ini adalah tanggung jawabnya, Selain itu, bagaimanakah tanggapan rekan-rekannya jika melihat ia tertidur?
Tetapi, ia tidak bisa melawan dan akhirnya pergi dari sana.
Meng Lin memasang telinganya tajam – tajam, dan setelah memastikan gadis itu pergi, ia kembali membaca.
Buku yang di bacanya adalah sebuah buku karangan seorang gadis yang telah meninggal karena tindakan anarkisnya. Walaupun demikian, bagi Meng Lin, ia adalah sosok yang mampu mengangkat derajat wanita di tempatnya dan menjadi seperti ini sekarang.
Buku-buku yang ia tulis mampu membuat Meng Lin merasakan keindahan dunia lewat tulisan, dan sebagai rasa terima kasihnya, ia dan beberapa wanita di kota sempat pergi ke tempat pemakamannya.