
Putri Gu Yue membawa rombongan Bing Jiazhi masuk ke dalam istana. Semua prajurit membungkukkan badan mereka memberi hormat ketika putri Gu Yue berjalan masuk.
Mereka harus melewati beberapa tembok besar dengan beberapa penjaga. Setiap tembok di penuhi prajurit dan tanaman-tanaman hias dengan pemandangan yang sangat mengagumkan.
Bing Jiazhi hanya memandangnya dengan datar, sementara Zhizhu terlihat tidak peduli sama sekali dengannya. Ia sebenarnya lebih tertarik mengelilingi ibu kota dari pada harus berkunjung ke istana yang entah apa tujuannya, dan Xiang We memandang ke sekitarnya, tapi ia tidak terlalu tertarik, hanya melakukan beberapa kali saja.
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka tiba di pintu utama Istana. Dua prajurit yang berjaga langsung memberi hormat dan membukakan pintu.
Putri Gu Yue mengangguk kemudian masuk.
Ruangan yang sangat megah dengan kain-kain menghiasinya adalah ruangan aula yang biasanya raja duduk mendiskusikan sesuatu, tapi sekarang ia tidak ada di kursinya, dan ruangan itu sepi.
Putri Gu kemudian masuk ke salah satu pintu yang ada di sana. Mereka kemudian tiba di sebuah ruangan dengan kain-kain merah bergelantungan. Beberapa para pelayan ada di sana kemudian memberi hormat sambil menunduk. “Hormat tuan putri...”
Tuan putri Gu Yue mengangguk lemah. “Kalian persiapkan semuanya.”
Semua pelayan mengangguk dan menundukkan kepala dengan suara rendah menjawab, “Baik Yang mulia.”
Lima pelayan yang ada kemudian menutup pintu masuk, yang membuat ruangan itu menjadi gelap gulita, yang bahkan tidak ada seorang pun yang bisa melihat.
Zhizhu mengerutkan kening karena keheranan, entah apa yang akan di rencanakan Putri Gu Yue, sementara Bing Jiazhi telah mempersiapkan inti Mandalanya, ia berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang berbahaya. Xiang We melakukan hal yang sama.
Tidak lama kemudian, satu cahaya muncul di sudut-sudut ruangan, yang mana itu adalah cahaya yang berasal dari Lilin yang menyala, kemudian terlihat seorang gadis yang memakai Han fu putih bersih sedang menjaga agar lilin itu tidak mati. Ia lalu tersenyum ketika Lilin itu hidup.
Pemandangan ini seperti ada di sebuah film. Lalu di ujung ruangan lain lagi, lilin hidup, kemudian menyusul dua titik lagi. Ini seperti penyambutan.
Ruangan itu menjadi lebih terang dari sebelumnya, tapi sedikit remang-remang, tapi itu memberikan suasana misterius.
Empat pelayan kemudian pergi dari sana.
“Silakan duduk,” Sambut Gu Yue memberikan kelompok Bing Jiazhi duduk di kursi-kursi yang telah di persiapkan.
Mereka kemudian duduk setelah semuanya merasa aman.
Tidak lama kemudian tiga pelayan datang membawa berbagai macam kue. Mereka menghidangkannya di beberapa titik di atas meja.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Zhizhu merasa jengkel dan keheranan setelah para pelayan keluar.
Tatapan Zhizhu sangat tajam dan mengintimidasi, akan tetapi putri Gu Yue tidak merasa takut dengannya. “Hanya penyambutan. Kami keluarga kekaisaran akan selalu menyambut kalian dari sekte-sekte. Kalian sangat kami hormati, terlebih lagi dengan adanya kalian, kekuatan kekaisaran akan bertambah lebih kuat. Selain itu, karena juga kami, keluarga kekaisaran sangat berhutang pada kalian, khususnya pada leluhur kalian yang telah membantu mempertahankan setiap jengkal tanah ibu Pertiwi.”
“Hanya itu?”
Gu Yue mengangguk. Tangannya kemudian mengambil satu kue dan memakannya dengan anggun.
Xiang We ikut melakukannya, perutnya sudah merasakan betapa nikmatnya kue-kue itu.
Bing Jiazhi hanya mengamati apa yang akan di katakan lagi oleh tuan putri.
Zhizhu kemudian bertanya setelah melihat tuan putri selesai makan, “apakah kau mengajak kami hanya untuk makan saja?”
“Tentunya tidak. Sebentar lagi, sekte sky painting akan mengadakan lomba melukis yang akan diadakan di aula kota, setiap orang dari beberapa sekte akan datang untuk melihatnya. Perlombaan ini adalah salah satu acara penting yang terjadi tahun ini, dan akan terjadi lagi beberapa tahun ke depannya. Aku ingin mengundang kalian untuk datang ke sana.”
“Kapan itu terjadi?”
“Dua hari dari sekarang.”
Bing Jiazhi terdiam beberapa saat. Ketika ia ingin berbicara, Xiang We mendahuluinya, “Jika hanya dua hari saja, kami akan mengunjunginya. Terima kasih atas undangannya tuan putri.”
Meski ia harus balas dendam, itu hanya masalah memberi hukum, bukan menyelamatkan, entah lambat atau lebih cepat, adiknya juga tidak akan selamat, dan lagi pula hanya beberapa hari saja, Xiang We juga ingin menikmati suasana kota ini lebih lama.
Tuan putri lalu memandang mereka semua. “Kita akan bertemu lagi di sana.”
“Apa hanya ini saja tuan putri?” Tanya Zhizhu.
Tuan putri Gu Yue mengangguk kemudian berdiri. Ia membungkuk dalam. “Terima kasih telah mengunjungi Istana. Aku harap kalian menikmati layanannya.”
Bing Jiazhi dan yang lainnya berdiri dan memberi hormat juga. “Terima kasih tuan putri.”
Mereka kemudian pergi dari sana. Tuan putri Gu Yue mengantarkan mereka hingga di gerbang terluar istana. Sepanjang perjalanan, tuan putri memberikan mereka fasilitas penginapan gratis selama mereka tinggal di kota, dan mereka menerimanya dengan senang hati.
“Kita akan berjumpa lagi di sana,” kata Gu Yue sambil tersenyum.
Bing Jiazhi mengangguk dan kelompoknya kemudian pergi.
Mereka kemudian pergi ke penginapan yang di maksud, lalu menyerahkan lencana yang telah di berikan Tuan putri.
“Silakan Nona, tuan.” Pelayan itu mengantarkan Bing Jiazhi ke atas. Ia kemudian mengantar mereka ke kamar-kamar yang ada di sana.
Setelah mendapat kamar, Bing Jiazhi memutuskan untuk pergi mengunjungi Rumah bordil yang pernah ia kunjungi, sementara Zhizhu memutuskan untuk berjalan-jalan dan hanya Xiang We yang ada di penginapan.
Ia duduk bersolek di depan cermin. Wajahnya yang cantik dan rambut panjangnya menjadi ciri khas yang di milikinya. Tiba-tiba ia merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk mandi, tapi sebelum itu, ia sejenak membuka jendela dan menikmati hembusan, suasana ibu kota kekaisaran.
Gaun merahnya meluncur indah dan memperlihatkan kulitnya yang putih dan lekukan tubuhnya yang menawan. Dua buah dada yang tidak terlalu besar di tutupi dengan kedua tangannya yang mulus.
Ia menghela nafas, kemudian berjalan ke bak mandi. Meniduri tubuhnya dengan lembut dan menikmati langit-langit kamar. Ia kemudian memejamkan matanya dan membiarkan rambutnya melayang-layang di dasar air
Setelah beberapa menit, ia membuka matanya dan terbangun, membuat rambutnya meneteskan air. Itu terdengar indah. Mengambil kain yang ada di sana dan mengeringkan rambut, lalu melapisi tubuhnya dengan kain putih yang satunya lagi.
Xiang We tersenyum menikmatinya, tapi kemudian tiba-tiba wajahnya sedikit mengkerut. ia merasakan kehadiran beberapa orang.
Setelah keluar, dua orang berpakaian hitam telah menggeledah laci-lacinya tanpa suara sedikit pun.
“Apa yang kalian inginkan?” Tanya Xiang We dengan tenang.
Dua orang itu terkejut dan langsung menghunuskan pedang ke arah Xiang We.
“Di mana kau menyembunyikannya?” Salah satunya bertanya.
Di hadapkan dengan situasi seperti ini, Xiang we tetap tenang. Ia tahu apa yang di maksud oleh orang itu, oleh karena itu, ia menjawab dengan tenang, “Gulungan itu berada di laci.” Ia lalu memandang laci yang ada di ujung kiri, yang mana sebelumnya telah ia taruh gulungan seribu pedang palsu.
Salah satu orang bergegas ke sana dan menarik laci. Ia tersenyum setelah melihat ada satu gulungan.
Setelah membukanya dan memastikan itu benar, ia mengangguk.
“bisa kalian pergi dari sini sekarang?” tanya Xiang We tenang.
Salah satu dari mereka kemudian menjawab dengan suara wanita, “tidak, sebelum kami membunuhmu.”