Alam Mandala

Alam Mandala
Perlombaan melukis



Mendengar ucapan lembut dari seorang gadis di sampingnya, Bing Jiazhi tidak menoleh untuk memandang siapa yang telah mendekatinya, berbicara dengannya dan membawa bau yang sangat harum; Ia lebih menyukai pemandangan di langit, yang mana perlahan-lahan awan-awan hujan menghilang dan cahaya matahari kembali menyinari dunia.


Yang paling indah pelangi perlahan-lahan terbentuk. Tidak ada pemandangan yang sangat mengagumkan yang pernah ia lihat selama hidupnya.


Wanita di sampingnya tidak merasa kecewa ketika di acuhkan. Ia kemudian ikut memandang langit. Cahaya matahari itu membuatnya tanpa sadar menoleh.


“Aku menyukai pelangi.” Wanita itu tanpa sadar bergumam.


“Kau harus menyukai semuanya, tanpa awan-awan, hujan dan cahaya matahari, mustahil pelangi itu muncul.”


“Aku tidak peduli dengan semua itu.”


Bing jiazhi tidak membantah. Apa yang di kataka wanita itu merupakan pendapatnya sendiri, ia harus menghargai pendapat itu.


Wanita itu kemudian mengalihkan pembicaraan, “apa kau akan datang dalam perlombaan melukis?”


“Aku tidak tahu.”


“Kau harus datang.”


“Jika aku tidak datang?”


“Aku menyesal memilihmu.”


Barulah Bing Jiazhi tertarik memandang gadis itu, akan tetapi dia telah berbalik pergi mengemasi barang-barangnya dan pergi dari sana.


Meski Bing jiazhi tidak mengetahui siapa yang telah bersamanya, ia telah melihat sekilas pipinya yang cantik dengan balutan cadar dan ia telah melihat rambut panjangnya yang sangat indah dari belakang.


Bing Jiazhi merasa familiar dan mengenalnya, tetapi ia entah mengapa tidak merasa perlu bertanya lebih jauh lagi tentangnya.


Cahaya matahari pun perlahan tertutupi awan dan kegelapan pun perlahan-lahan menyelimuti ibu kota.


...----------------...


Ketika Bing jiazhi tiba di penginapan, Zhizhu memanggilnya untuk datang ke kamar Xiang we. Ia tidak bertanya mengapa Zhizhu memanggilnya. Setelah tiba, Xiang we telah terbaring di ranjang. Wajahnya terlihat pucat dan sedikit berenergi. Ia terlihat sakit.


Luka dalam yang di terimanya cukup parah dan harus menerima perawatan selama beberapa hari.


Ketika ia mendengar dua langkah kaki mendekat ia membuka matanya perlahan-lahan lalu memandang Bing Jiazhi dan Zhizhu.


“Aku ceroboh.”


Bing Jiazhi berkata tenang, “Apakah mereka telah mendapatkan Gulungan itu?”


Xiang we menggeleng pelan. “Mereka tidak berhasil mendapatkannya.”


Zhizhu berjalan dan meletakkan satu tangannya di atas tubuh Xiang we. Lalu cahaya berwarna biru keluar dari tangannya.


Xiang we merasakan perlahan-lahan tubuhnya mulai membaik dan rasanya lebih nyaman dari sebelumnya.


Setelah beberapa saat, Zhizhu menarik tangannya kembali. “Hanya butuh satu hari perawatan saja, kau akan sembuh.”


“Terima kasih. Jika bukan karena aku ceroboh, ini tidak akan terjadi.”


Zhizhu keheranan. “Kecerobohan apa yang kau buat?”


Xiang we menjelaskannya dengan baik dan singkat apa yang di alami.


Zhizhu dan Bing Jiazhi mengerti apa yang terjadi. Zhizhu kemudian bertanya, “Ke mana orang yang telah menolongmu?”


“Dia telah pergi.”


Zhizhu dan Bing Jiazhi tidak berkata apa-apa lagi. Mereka kemudian keluar setelah menyuruh Xiang we beristirahat.


Mereka bercakap-cakap sebentar, lalu pergi ke kamar masing-masing. Mereka mendiskusikan tentang bagaimana mereka akan memperkuat perlindungan terhadap Xiang We. Akan sangat berbahaya jika membiarkannya sendiri. Ia pasti akan di incar sebelum mereka mendapatkan Gulungan itu.


...----------------...


Bahkan beberapa orang tidak sempat melakukan gerakan karena kecepatan Bing Jiazhi begitu mengerikan.


Selain itu, tebasan-tebasan yang di lakukan Zhizhu tidak kalah mengerikannya.


Dalam waktu yang singkat itu, mereka telah membunuh setidaknya 5 orang.


Orang-orang yang menginap di penginapan sering merasakan ketakutan ketika mereka melihat kedua orang itu melintas. Apalagi melihat tatapan matanya yang sangat tajam dan dingin.


Tidak ada lagi orang-orang yang berani mencari gara-gara dengan mereka.


Sekarang, Bing Jiazhi dan Zhizhu berdiri di lantai dua penginapan memandang matahari yang perlahan-lahan terbit.


Mereka berdiri beberapa saat. Zhizhu bertanya seraya tetap memandang ke depan, “Apa kau tidak tertarik melihat acara itu?”


“Kakak senior?”


“Aku sedikit tertarik. Jika kau tertarik, kau boleh pergi terlebih dahulu. Aku akan tetap berada di sini untuk menjaganya. Setelah beberapa jam, aku akan pergi dan kau menggantikanku.”


“Kakak senior, kau tidak perlu melakukannya.”


“Mengapa tidak perlu?”


“Karena orang yang menjaganya telah datang.”


Bing Jiazhi kemudian memandang sedikit ke bawah. Di sana ada puluhan prajurit dan orang-orang memakai zhirah berbaris sedang menuju penginapan.


Zhizhu tidak terkejut sama sekali. Ia telah melihatnya, hanya saja belum mengetahui jika orang-orang yang datang adalah mereka yang akan menjaga Xiang We. Ia kemudian bertanya kepada Bing Jiazhi mengapa mereka datang ke sini dan siapa yang memerintahkannya.


“Tuan putri Gu Yue. Dia ingin sekali kita hadir dalam acara itu.”


“Apakah ada sesuatu yang di inginkannya, sehingga dia memerintahkan para prajurit itu datang ke sini?”


“Aku tidak tahu. Lebih baik kita berhati-hati saja.”


Bing Jiazhi kemudian melompat dan turun perlahan-lahan menghampiri kelompok prajurit itu.


Zhizhu kemudian menyusulnya.


Mereka bercakap-cakap sebentar, lalu Zhizhu dan Bing Jiazhi kemudian pergi ke acara perlombaan melukis. Ia sedikit tertarik dengan acara itu, beberapa pertanyaan bermunculan di benaknya. Seperti, mengapa Sekte itu melakukan acara tersebut, lukisan-lukisan apa saja yang akan di buat oleh para pelukis, dan yang paling membuat tertarik, siapa yang telah berbicara bersamanya dua hari yang lalu.


Mereka kemudian pergi setelah para prajurit itu memiliki kualifikasi untuk menjaga Xiang We. Ia juga memerintahkan segera melaporkan jika ada sesuatu yang tidak bisa mereka tangani.


Ia juga mengancam, jika tidak bersungguh-sungguh menjaganya, Bing Jiazhi akan memotong semua kepala mereka.


Para prajurit itu mengangguk dan meneguk ludahnya.


Bing Jiazhi dan Zhizhu akhirnya pergi dari sana.


...----------------...


Suasana balai kota sangat ramai pengunjung. Mereka duduk di arena melingkar seperti akan ada acara pertunjukan gulat. Mereka membicarakan berbagai hal tentang siapa yang akan menang.


Di bagian sebelah, beberapa orang-orang dari berbagai sekte duduk dengan di tengah-tengah seorang pria paru baya memakai jubah kemegahan dan mahkotanya. Di sampingnya, adalah istrinya dan di sisi lainnya, tuan putri, Liang Ting’er yang merupakan perwakilan Sekte bambu, kemudian perwakilan Sekte Tao Gong yang seorang pria paru baya memakai jubah putih, perwakilan-perwakilan lainya yang tidak di ketahui Bing Jiazhi.


Lalu di antara mereka ada seorang wanita berpakaian berwarna merah bercampur putih bersih. Ia memiliki aura yang mengagumkan dan membuat siapa saja tertarik dengannya. Bahkan ketika melihat pertama kalinya, mata orang-orang akan terpaku kepadanya.


Wanita itu berdiri dan berjalan lima langkah ke depan. Dia tersenyum. “Pagi yang cerah ini, aku umumkan perlombaan melukis tahun ini resmi di mulai!”


Orang-orang mulai berseru dan berteriak-teriak. Beberapa di antara mereka menyebut nama-nama yang di taruhankan uang.


Beberapa perwakilan sekte mulai memandang ke arah lapangan bulat yang berada di tengah-tengah.