Alam Mandala

Alam Mandala
Pedang angin kering



Ketika matahari telah turun, Bing Jiazhi membuka gulungan seribu pedang lagi, kemudian mengamati pedang mana yang akan di fokuskannya.


Setelah berpikir dan mengamati beberapa saat, akhirnya ia memilih pedang yang ada di tenggara. Pedang itu sangat elegan dan panjang. Ada huruf kaligrafi di bilahnya, yang sulit di mengerti.


Bing jiazhi kemudian menyentuhnya, lalu ia tidak sadarkan diri, dan setelahnya, ia tiba-tiba terbangun di dalam ruangan.


Ketika itu, ia merasa bergoyang- goyang, lalu terdengar suara ombak di luar. Ruangan itu sepenuhnya terbuat dari kayu, dan di beberapa titik di penuhi lilin-lilin sebagai penerang. Lilin-lilin itu bergoyang-goyang dan ada beberapa yang tumpah. Bing jiazhi tidak mengerti mengapa orang-orang menggunakan lilin sebagai penerang di ruangan itu, yang tentunya memiliki risiko besar terjadi kebakaran.


Ia pun kemudian beranjak dari ranjangnya, lalu berjalan ke luar. Ruangan yang besar pun muncul dengan sedikit panjang.


Di ujungnya ada tangga menuju ke atas. Bing jiazhi menaikinya. Setelahnya, suara ombak semakin besar terdengar dan bau laut yang khas. Bing jiazhi sudah lama tidak merasakan situasi seperti ini dan ia menikmatinya.


Ketika mencapai di ujung tangga, akhirnya Bing Jiazhi tiba di geladak kapal yang sunyi. Dua buah lentera yang ada di samping-samping pintu telah pecah dan mati, namun masih bergoyang-goyang dan menimbulkan suara, tapi meski demikian, suasananya masih sangat sepi, karena tidak ada lagi penerangan di geladak itu.


Bing jiazhi mengamatinya sebentar, kemudian berjalan beberapa saat. Ia kemudian melihat jauh di ujung ada cahaya kekuningan yang bergoyang-goyang. Itu tepatnya berada di ujung kapal.


Ia pun kemudian berjalan mendekatinya. Seiring berjalan, layar kapal yang robek bersuara seram dan beberapa burung-burung gagak berbunyi kemudian berterbangan.


Ternyata, ia adalah seorang gadis berusia 16 tahun berdiri memegang lentera, menatap ke arah laut. Rambutnya tidak di ikat, sehingga angin memainkannya dengan leluasa. Sebagian orang melihatnya sangat cantik, tapi sebagian, ia terlihat seperti hantu dengan rambutnya seperti itu. Gaungnya yang berwarna kuning sedikit berwarna dalam kegelapan itu.


Ia berdiri mematung dan tidak terlihat akan menoleh ke arah Bing Jiazhi, maka dari itu, Bing Jiazhi berjalan mendekatinya, dan pada saat itulah, suaranya yang dingin tapi anggun terdengar, “Sudah saatnya saya menyerahkan pedang ini.”


Setelah kata-kata itu di keluar, gadis itu kemudian berbalik memandang Bing Jiazhi. Benar, apa yang di pikirkan Bing Jiazhi, gadis itu memiliki wajah yang dingin, dan sederhana tanpa hiasan apa pun, namun ia masih di kategorikan sebagai gadis yang cantik. Bing jiazhi bertanya-tanya pedang apa dan siap gadis yang ada di depannya saat ini.


Gadis itu kemudian melentangkan tangannya.


Tidak beberapa lama, suara siulan terdengar dan sebuah pedang dengan kecepatan mengesankan terbang lalu mendarat di tangannya. Pada saat itu juga, angin berembus kencang dan mampu membuat Bing Jiazhi bergoyang.


Wanita itu kemudian berkata setelah pedang itu di tangannya, “Anak muda, Saya telah lama menunggu kehadiran seseorang, Anda tidak boleh mengecewakanku.”


Gadis itu kemudian melangkahkan kakinya, tapi ia tidak bergerak maju, namun berputar di tempat dan mengayunkan pedangnya ke arah Bing Jiazhi.


Tidak terjadi apa-apa dan tiba-tiba terasa lebih hening dari sebelumnya.


Bing jiazhi bertanya-tanya apa yang terjadi, tetapi kemudian ia merasa sangat sakit lalu bersimpuh dan kemudian memuntahkan darah.


Belum sempat Bing Jiazhi memandang gadis itu, pedang di tangan gadis itu kemudian melesat menyerang Bing Jiazhi. Pria itu kemudian menghentakkan kakinya lalu berputar di udara sebelum akhirnya bisa melompat mundur.


Pedang gadis itu kemudian kembali ke tangannya dan tidak melanjutkan serangannya.


Bing jiazhi jauh berdiri mengambil pedang dan bersiap untuk menghadapi serangan berikutnya.


Maka setelah ia berkata, ekspresinya tampak lebih serius dan aura intimidasi semakin terpancar dari tubuhnya. Ia seolah seorang jenderal yang sedang memimpin pasukan di medan perang.


Bing jiazhi sangat penasaran siapa gadis itu, dan seberapa kuat dirinya. Sekarang, berdiri memegang pedang tanpa kekuatan inti Mandala, ia sudah mampu memprovokasinya, jadi, jika ia menggunakan segenap kekuatannya, maka apa yang akan terjadi?


Bing jiazhi tahu, jika pemilik pedang angin kering itu bukan sosok semarang dan pemilik pedang Peri kemarin juga bukan orang sembarangan, maka dari itu, ia mengeluarkan segenap kekuatan yang di milikinya sekarang tanpa menahan diri sedikit pun.


Gadis itu kemudian tersenyum dan mengayunkan pedangnya ke bawah, dan...


Bommm!!!!


Satu ayunan itu mampu membelah kapan menjadi dua, kemudian hancur menjadi ribuan kepingan dan serpihan-serpihan.


Bing jiazhi terkejut, tapi untungnya ia mampu melompat dan berdiri di salah satu papan. Sementara gadis itu telah berada semakin jauh darinya.


Gadis itu kemudian melompat-lompat dari satu serpihan ke serpihan lainnya. Bing jiazhi kemudian mempersiapkan pedangnya, tetapi ia di kejutkan dengan kemunculan tiba-tiba gadis itu di depannya. Sembari ia berseru, ia mengayunkan pedangnya, “Aku datang lebih awal!”


Bommm!!!!


Angin muncul ketika ia mengayunkan pedangnya dan air laut bergejolak ke atas seperti meletus. Air-air itu kemudian membasahi kedua orang itu.


Bing jiazhi pun kemudian mengeluarkan tiga cincinnya dan dua di antaranya kemudian di aktifkan.


Ia bergerak cepat mengayunkan pedangnya menyerang gadis itu. Dan lima bayangannya kemudian muncul, lalu mulai menyerang.


Gadis itu kemudian melompat lebih tinggi. Kemudian ia berseru dan mengayunkan pedangnya, “Ini tidak akan mampu menipuku!”


Angin kemudian menyebar dari tubuhnya dan dalam sekejap menghilangkan semua bayangan Bing Jiazhi dan ia kemudian melompat mundur.


Lalu mengamati gadis yang telah melayang itu. Bukan hanya angin, tapi Bing Jiazhi juga merasakan hawa panas dari angin itu. Dan merasakan jika pedang itu sangat kuat.


Bing jiazhi kemudian memandang pedangnya yang tiba-tiba bergetar. Lalu muncul cahaya hijau darinya.


Gadis itu menyadari sesuatu sedikit mengerutkan keningnya dan berkata, “Pedang yang bagus. Tapi sayangnya kau belum mampu mengendalikan dengan baik. Sekarang, saatnya mengakhiri ini semua.”


Pedang Angin kering kemudian melesat dan menyerang Bing jiazhi. Pedang itu seperti kilatan putih yang menyerangnya. Kecepatannya begitu cepat, hingga membuat Bing Jiazhi merajut alisnya untuk menghindarinya. Ia bahkan melompat-lompat dari satu tempat ke tempat lainnya sembari ia memikirkan bagaimana cara mengalahkannya. Sesekali ia menahannya, tapi itu membuatnya terluka.


Tidak beberapa lama, ia ingin menggunakan ledakan atomnya, tapi ia teringat sesuatu dan menahan dirinya.


Sementara itu, gadis yang sejak tadi memandangnya kemudian mengulurkan tangannya dan pedang itu kemudian ke tangannya. “Sekarang, lihat kemampuanku yang lainnya.”