
An Bai Kemudian mengeluarkan dua cincinnya dan cahaya hijau keluar dari dahinya, kemudian mengarah ke pedangnya, secara bersamaan pedangnya mengalami pembesaran beberapa meter dan menjadikan pedang itu seperti golok. Ia kemudian melesat dan mengayunkan pedang besarnya dengan dua tangan.
Sementara pria itu masih tetap tenang, kemudian ia tersenyum dan mengayunkan pedangnya juga.
Dua benturan senjata itu sangat nyaring terdengar dan kilatan api muncul ketika dua bilahnya bergesekkan.
An Bai kemudian menarik pedangnya dan mengayunkan ke depan, ke segala arah, dan karena itu pria itu juga ikut melakukannya. Kecepatan mereka berdua terlalu cepat untuk mata biasa, tetapi terlihat jelas, jika An Bai lebih lemah dari Pria itu dan membuatnya terpojok.
Ketika Pedang pria itu hampir mengenainya, Ia memosisikan pedangnya sebagai pertahanan, namun itu masih mampu membuatnya terdorong mundur.
An Bai tahu jika lawannya bukan tandingannya sama sekali, tapi di hadapan orang banyak ia tentunya tidak akan menyerah. Ia kemudian mengeluarkan satu cincinnya lagi kemudian melemparkan pedangnya ke arah pria itu.
Di udara pedang itu berputar-putar dan berubah menjadi semakin besar dan membesar.
Jika melihat ukuran dan kecepatannya, tentunya itu akan mampu membelah tubuh manusia dalam sekali ayunan dan orang-orang berpikir, jika pria itu tidak bisa menahannya, maka ia akan mati. Namun, pria itu dengan tenang mengarahkan telapak tangannya ke depan dan di saat itu juga pedang itu mendarat di tangannya, berusaha menekan pria itu namun tidak berhasil.
Pria itu kemudian tersenyum dan mendorong pedang itu sambil berkata, “Sampah!”
Angin kencang kemudian bertiup dan pedang itu melesat kembali ke pemiliknya dengan kecepatan yang luar biasa.
An Bai tentunya tahu jika kecepatan pedang itu tidak bisa di tahannya, namun ia tidak sempat menghindar, sehingga ia menahan pedang itu dengan kedua telapak tangannya. Sayangnya, ia hanya mampu bertahan beberapa detik saja sebelum akhirnya terdorong dan menghantam tembok kayu yang berada di sudut dan meninggalkan lubang di sana.
Pria sombong yang melihatnya tersenyum dan mencaci maki An Bai sebelum akhirnya memandang Xiang We di panggung. Ia kemudian berkata, “Aku terlah memenuhi syaratnya, maka sekarang giliranmu.”
Xiang We terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab, “Kau tidak memenuhinya. Pria itu yang layak bersamaku.” Ia memandang An Bai yang telah tidak sadarkan diri kemudian memandang pria itu kembali. “Selain itu, kau harus membayar semua yang telah kau lakukan.”
Pria itu tertawa sebentar kemudian memandang tajam ke arah Xiang We. “Bodoh! Sudah aku katakan yang terpenting adalah kekuatan!”
“Hahahaha!”ketika Xiang We ingin menjawabnya, tiba-tiba seseorang pria tertawa kemudian orang-orang yang menghalanginya membukakan jalan dan terlihat seorang pria duduk tenang sambil menikmati araknya. “Orang-orang lupa jika mereka terlalu cepat puas dengan pencapaiannya.” Ia meneguk Araknya kemudian memandang pria sombong itu. “Anak muda, yang terpenting adalah kekuatan, tapi kau lupa jika yang terpenting adalah menyembunyikannya, bukan memperlihatkannya.”
Pria paru baya itu kemudian menunjuk pria itu dengan jari telunjuknya kemudian berkata, “Mati.”
Pria sombong itu ingin tertawa, tetapi cahaya biru melesat dari tembok dan menusuknya dari belakang. Bibir pria itu kemudian mengeluarkan darah. Ketika pedang itu menembus tubuhnya, ekspresi kesakitan yang tidak bisa di gambarkan terlihat di wajahnya, dan tubuhnya kemudian terjatuh.
Semua orang tentunya terkejut, tapi ketika mereka kembali melihat pria yang melakukannya, ia sudah tidak ada di sana dan menghilang begitu saja.
Wanita yang sebelumnya kesal dengan pria sombong itu akhirnya tersenyum puas, akhirnya pria itu mati. Ia kemudian berseru, “jika ada di antara kalian berani melakukan hal itu lagi, maka itu yang akan kalian dapatkan!”
Meski ia tidak tahu siapa pria itu, setidaknya ia telah menolongnya.
Sementara itu, Xiang We kemudian berkata kepada dua gadis yang ada di sampingnya. “Pemenangnya telah di tentukan, bawa dia ke kamar.”
Dua gadis yang ada di sampingnya mengangguk dan berjalan mendekati An Bai, sementara Xiang We berbalik dan pergi dari sana.
Wanita yang ada di panggung kemudian mengumumkan hasilnya telah di tentukan dan berharap semua yang tidak beruntung hari ini akan mendapatkannya nanti. Ia kemudian pergi dari sana, dan tidak lama setelahnya berbagai harapan dan keluh kesah orang-orang yang tidak beruntung itu terdengar.
...----------------...
Wajahnya sedikit membengkak karena terbentur dan dari balutan selimut beberapa bagian tubuhnya terluka.
Di sampingnya Xiang We berdiri memandang pria itu. Wajahnya seperti tidak memperlihatkan emosi sedikit pun. Ia kemudian menggeleng dan mengasihani pria yang menang itu.
Ketika ia ingin beranjak pergi, akhirnya An Bai membuka matanya. Xiang We tahu, tapi ia memutuskan untuk pergi dan tidak lama kemudian membawa pot dengan satu cangkir.
Setelah tiba, ia meletakkannya di atas meja lalu menuangkan cairan ke dalam cangkir. Kemudian menghampiri An Bai lalu ia mengangkat kepalanya dengan lembut dan memberinya minum cairan itu.
Setelahnya menaruh kembali cangkir itu.
Perlakuan khusus yang di berikan Wanita itu membuat An Bai merasa senang dan bertanya-tanya mengapa wanita itu berada di sampingnya saat ini. Selain perlakuan itu, bau harum yang ada dalam tubuhnya, serta kulitnya yang halus saat menyentuh punggung leher An Bai membuatnya sensasi lembut yang sangat membahagiakan.
An Bai kemudian menyeimbangkan tubuhnya untuk duduk lalu memandang wajah Xiang We. Ia terpana melihat kecantikan itu. Tidak ada kecantikan lain yang pernah ia lihat sangat memukau seperti ini.
Sementara itu, melihat An Bai terpana seperti seseorang anak kecil menatap mainan yang sangat di diinginkannya, membuat Xiang We tertawa. Ia kemudian berkata untuk memecahkan lamunan itu, “Apa ada sesuatu di wajahku?”
“Tidak ada.”
Tapi An Bai masih terpana ketika menjawabnya, itu membuatnya terlihat seperti anak kecil yang polos.
Xiang We tidak bisa menahan tawanya. Ia sedikit menunduk dan tertawa kecil membuat beberapa helaian rambutnya menyentuh pipinya. Ia kemudian menyibak ke belakang dan mendekati An Bai lalu bertanya sambil menahan tawa, “Kenapa... Kenapa kau memandangku seperti itu? Apakah aku terlalu cantik di matamu?”
“Iya, kau terlalu cantik.”
Xiang We kemudian mendorong tubuh An Bai ke ranjang dan membuatnya terbaring. Ia lalu mendekati wajahnya, sang dekat hingga kedua masing-masing merasakan nafasnya. Pori-pori dan kulit halus Xiang We terlihat lebih jelas di mata An Bai dan bau harum itu membuatnya sangat bahagia.
Xiang We kemudian berbisik, “Hari ini kau memilikiku, nikmati sepuasnya...”
Wajah An Bai memerah ketika mendengar ucapan itu, dan berpikir jika ia telah memang, bagaimana caranya, ia tidak tahu.
Xiang We kemudian mendekat dan lebih dekat. An Bai merasa jantungnya berdetak kencang dan sangat tidak nyaman. Ia kemudian memejamkan matanya, berpikir jika Wanita itu akan menciumnya.
Tetapi, ternyata wanita itu hanya menggodanya. Setelah membuka matanya kembali, Xiang We menuangkan kembali cairan yang sangat tidak di sukainya. Ia kemudian mengulurkannya. “Minum selagi panas.”
Demi kesembuhannya, An Bai meminumnya seraya memejamkan mata.
Ia kemudian ingin berdiri, tapi rasa sakit di kakinya berkedut membuatnya terkejut dan hampir jatuh.
Xiang We menolongnya kemudian mendorongnya. “Apa yang kau lakukan? Apakah kau terlalu bahagia sehingga melupakan cederamu? Berbaringlah, aku akan menjagamu di sini.”
Dengan ucapan seperti itu, An Bai Kemudian membaringkan tubuhnya. Sepanjang malam itu Xiang We berbicara dengan lembut dan menolong An Bai. Meski pun itu bukan sesuatu yang di inginkan An Bai, setidaknya ada seseorang wanita cantik yang menemaninya.
Tepat di tengah malam, ia pun mengungkapkan jika ia telah jatuh cinta kepadanya.