Alam Mandala

Alam Mandala
Memikirkan



Orang itu hanya terdiam. Berdiri tanpa alas kaki, namun tanpa alas sekali pun, kulit dan kaki mungil yang putih terlihat sangat indah.


Para pengunjung penginapan berdiri di lantai dua menikmati kecantikan itu, sembari mereka bertanya-tanya siapa gadis cantik itu, yang mampu membuat mereka terpaku menatapnya. Tubuhnya mungil, tapi tidak terlalu mungil. Pakaiannya yang di kenakannya adalah Han fu berwarna merah muda dengan ikat kekuningan. Ia memakai setelan Han fu lengkap.


Jika menatapnya dari jauh, tangan, sepasang telinga dan rambutnya yang tidak terlalu panjang sangat halus dan seperti memancarkan aura keindahan sari bunga yang dapat menarik lebah mendekatinya.


Ia seperti peri. Seperti bunga Plum berwarna putih dengan sari kuning, yang sangat indah ketika bermekaran saat akhir musim dingin. Seperti bunga sakura yang terlihat berani dan elegan.


Zhizhu kemudian berjalan dari samping Bing Jiazhi dan berdiri di sampingnya. Ketika itu juga, Bing Jiazhi menatapnya.


Zhizhu tanpa ekspresi berkata, “Dia adalah wujud asli dari ibu mertuamu dan guruku.”


Bing jiazhi kemudian memandang gadis yang ada di telaga itu tanpa tertarik melanjutkan pertanyaan yang muncul di hatinya.


...----------------...


Huang Tang kemudian muncul dari balik pintu sembari ia membawakan sepasang sandal indah untuk istrinya itu.


Hubungan mereka tidak ada kepastian setelah penyelamatan itu. Shao Dong’er hanya terdiam dan bersikap dingin setelahnya. Ketika Huang Tang ingin berkata, ia langsung pergi atau tidak menghiraukan apa yang di katakan Huang Tang.


Sekarang setelah kejadian itu, Huang Tang berharap mampu meluluhkan hatinya dan kembali seperti dulu.


Ia kemudian menaruh dua sandal itu di depan Shao Dong’er lalu berdiri lagi. Ia kemudian menatap Shao Dong’er dan bertanya-tanya mengapa ia tiba-tiba mengungkapkan wujud aslinya di depan umum. Dengan mengungkapkannya, itu akan membuatnya terancam dan di incar orang-orang. Tidak ada kecantikan seindah itu yang tidak menarik perhatian orang-orang!


Shao Dong’er kemudian memandang ke bawah. Menatap dua sandal indah itu beberapa saat. Kedua matanya terlihat ke-tidak pedulian terhadap sepasang sandal itu. Kedua matanya juga seperti mengandung luar angkasa tanpa bintang-bintang; hanya gelap dan tidak tahu apa yang di inginkannya


Melihat sikapnya, Huang Tang merasa gugup. Ia tentunya sangat menginginkan Shao Dong’er memakainya. Selain itu sebagai wujud kedamaian mereka, ia tidak ingin kaki istrinya itu memerah karena terik matahari dan kotor karena debu.


Shao Dong’er menatapnya sejenak. Kemudian ia mengangkat kakinya. Sejenak Huang Tang merasa senang, akan tetapi Shao Dong’er tiba-tiba berhenti dan mengurungkan niatnya.


Wajah Huang Tang pun di penuhi tanda tanya, mengapa istrinya melakukannya.


Akan tetapi, kemudian ia kembali mengangkat kakinya, dan sekarang berhasil masuk ke dalam sandal itu.


Shao Dong’er kemudian mengangkat kakinya dan melihat berbagai sisi dari sandal itu.


Ia kemudian tersenyum tipis, lalu menurunkannya dan memandang Huang Tang. “Rasanya sangat nyaman dan terasa kuat. Terlihat bercahaya ketika di siang hari. Di mana kau membelinya?”


Huang Tang gembira mendengar kata-kata itu. Rasa-rasanya, kata-kata itu adalah melodi yang sangat indah yang sebelumnya pernah ia dengar. Juga seperti suara air yang mengalir saat sebelumnya sering mendengar kebisingan suara motor.


“Ini adalah hadiah ulang tahunmu, Dong’er. Suamimu ini tidak akan pernah melupakannya.”


“Hadiah ulang tahun. Hari ulang tahunku tinggal tiga hari lagi, Jadi, mengapa kau sekarang memberikannya?”


“Dong’er, bagaimana mungkin aku tahan jika melihatmu marah kepadaku?”


“Suaminya pergi dengan wanita lain dan melanggar janjinya, bagaimana aku tidak marah?!”


“Pergi dengan wanita lain?” Huang Tang terkejut dan mengingat-ingat.


“Kau lupa?”


“Aku rasa, aku tidak melakukannya. Lagi pula, aku sudah mempunyai anak, untuk apa aku melakukan hal seperti itu?”


Shao Dong’er kemudian memakai satu lagi sandalnya. “Malam ini, aku merindukan suasana malam di desa. antarkan aku ke sana.”


“Apa pun yang kau inginkan, aku akan melakukannya.”


Shao Dong’er tersenyum. “Memang seperti itu harusnya. Domba harus melayani Pengembalanya.”


...----------------...


“Sepertinya mereka telah berdamai.” Ujar Zhizhu sembari menatap mereka.


Sementara Bing Jiazhi berpikir dan kemudian mengangguk. Melihat bagaimana mereka bersikap, Bing Jiazhi mengetahui ada masalah di antara mereka dan sekarang masalah itu akhirnya selesai.


Shao Dong’er kemudian mengeluarkan seruling dan kemudian meniupnya pelan seraya memejamkan matanya.


Sementara Huang Tang mengeluarkan araknya dan meneguknya beberapa kali.


Suara seruling itu seperti seseorang gadis mendayung perahu dengan susah payah, kemudian akhirnya merasa lega setelah tiba di tengah aliran sungai kemudian arus sungai mendorong perahunya. Gadis itu kemudian berdiri setelah aliran sungai membesar dan menjadi tenang. Ia lalu melihat keindahan pohon-pohon dan tanaman-tanaman yang tumbuh di sekitarnya.


Mereka kemudian terlihat bercakap-cakap dan sesekali terlihat Shao Dong’er tertawa pelan. Pasangan itu akhirnya berdamai dan kembali tentram.


...----------------...


Malamnya, Bing Jiazhi berdiri sembari menatap langit yang di penuhi bintang-bintang. Ia berdiri beberapa saat memikirkan apakah ia langsung saja mulai menyerap niat pedang berikutnya atau meningkatkan keterampilannya terlebih dahulu sebelum melakukannya.


Jika ia melakukannya langsung, takutnya itu akan membuatnya kalah dan terluka, sehingga akan menambah durasi penyerapan dan menghambatnya.


Ia kemudian masuk ke ruangannya dan membuka gulungan itu. Sekarang tinggal delapan pedang yang harus di lawannya dan entah pedang-pedang apa yang akan di lawannya.


Mengamati dan menduga-duga seberapa kuat pedang-pedang itu, ia mulai berpikir jika ia harus berlatih lebih giat dan meningkatkan kemampuannya sebelum melakukannya lagi.


Ia lalu menggulungnya kemudian ke luar. Di saat itulah Zhizhu muncul dan menyapa Bing Jiazhi. “kakak senior, aku harus kembali ke sekte untuk meningkatkan kultivasiku.”


Bing jiazhi memutuskannya dengan cepat. Ia hanya mempelajari gulungan peningkatan kultivasi dengan cepat saat berada di perpustakaan, dan sekarang tidak berguna sebelum ia mampu memasang cincinnya.


“Kapan?”


“Dua hari lagi.”


Zhizhu mengangguk, lalu meninggalkan Bing Jiazhi.


...----------------...


Saat malam semakin larut, Zhizhu mengunjungi Huang Tang di kamarnya. Ia ingin mengetahui kelanjutan dari cerita tentang Dewi pedang bunga persik. Ia mengetuk pintu kemudian membukanya.


Di dalam, Huang Tang duduk bersila memegang botol araknya, kemudian di seberang, Shao Dong’er bersimpuh dan mengangkat kedua tangannya untuk meminum arak. Mereka di pisahkan meja pendek kecil.


Mereka secara otomatis memandang Zhizhu setelah mendengar pintu terbuka. Huang Tang menyambut, “Nona, anda berkunjung lagi.”


Shao Dong’er menatapnya tanpa ekspresi, “Zhizhu, kau mengunjungi gurumu.”