
...----------------...
Fang Enlai menghela nafas menyaksikan Jiu Jiu tidak membunuhnya dan menghentikan pergerakan pedangnya. Itu menandakan ia tidak pernah membunuh dan memiliki perasaan yang baik dan dalam ke pada sesama manusia, mungkin terhadap yang lainnya juga. Melihat tindakan gadis itu, ia teringat dengan Zhi Tianzhi yang terdahulu, yang sangat lemah dan tidak bisa membunuh, bahkan terhadap serangga kupu-kupu sekali pun. Ia terlihat sangat lemah dan tidak mampu mengambil pedang, bahkan ia melihatnya sudah tidak kuat.
Ketika Fang Enlai melemparnya pedang, ia dengan sengaja menghindar dan tidak mau mengambilnya. Tapi, sekarang siapa yang menyangka gadis itu telah tumbuh menjadi gadis yang kuat dan penuh keberanian.
Walaupun lebih baik dari Zhi Tianzhi, sikap Jiu Jiu ini tidak bisa di biarkan. Jika Jiu Jiu ingin menjadi kuat, ia harus memiliki perasaan yang dingin dan tanpa belas kasihan.
Pemandangan ini adalah pertama kalinya Jiu jiu saksikan dan pertama kalinya ia di suruh membunuh. Lalu bagaimana dengan gadis kecil yang bertahun-tahun bersamanya, dan menyaksikan pembunuhan dan telah membunuh orang-orang, bahkan terhadap wanita hamil sekali pun?
Zhi Tianzhi terdiam menyaksikan Jiu jiu. Wajahnya terlihat kecewa dengan apa yang di lakukan gadis itu. Walaupun ia lebih muda dari Jiu Jiu, sikapnya lebih sadis dan lebih dewasa dari Jiu jiu. Ia sudah mengerti apa itu penderitaan dan bagaimana cara menghentikannya. Tidak semua yang di pikirkan orang-orang sama dengan apa yang di pikirkan orang yang menderita. Oleh sebab itu, mengambil tindakan aneh bukan suatu kejahatan, melainkan kebaikan yang sulit orang lihat.
Bukan sikap umum yang harus di ambil ketika melihatnya, tapi mengambil sikap terbaik.
Gadis yang ada di depan Jiu Jiu adalah gadis yang telah mampu bertahan dalam badai salju dan telah kehilangan apa pun yang di milikinya. Ketika Zhi Tianzhi bertemu dengannya, ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya sangat dingin dan gemataran. Ia sudah tidak bisa di selamatkan lagi, bahkan dengan kekuatan Fang Enlai sekali pun.
Bahkan, kesehatannya sudah sangat buruk. Tidak ada cara lain menyelamatkannya selain membunuhnya.
Jika pun Jiu Jiu merawatnya, usaha itu akan sia-sia, karena gadis itu tidak akan selamat.
Jiu Jiu kemudian roboh dan bersimpuh di tanah. Ia tidak sanggup melakukannya ataupun menyelamatkannya. Tubuhnya terasa tidak bertenaga sedikit pun saat ini. Ia bertanya-tanya, mengapa dan mengapa ia harus melakukannya. Ia tidak bisa melakukannya.
Zhi Tianzhi dengan mata dinginnya, berjalan mendekati Jiu jiu. Ia memandang Jiu Jiu dan mengejeknya, “Gadis lemah.”
Ia kemudian mengambil pedang Jiu Jiu hanya dengan satu tangannya.
“Bukan bersikap lemah yang kau tunjukkan, tapi sikap dan cara yang tepat harus kau ambil!”
Zhi Tianzhi mengayunkan pedangnya.
Jiu Jiu terkejut dan berteriak menghentikannya.
Namun, Zhi Tianzhi tidak mempedulikannya dan mengayunkan pedangnya itu.
“Berhenti...”
Tiba-tiba Fang Enlai menghentikannya.
Darah segar menetes seperti tetesan hujan dari leher gadis itu. Jika Fang Enlai tidak menghentikannya, leher gadis itu sudah terpotong.
Jiu Jiu terdiam dan merasa lega di hatinya. Kedua matanya yang terbuka lebar, mampu mengecil dengan lebih baik.
Zhi Tianzhi kecewa, kemudian memandang Fang Enlai.
Fang Enlai diam sejenak, “Kita harus memberikannya kesempatan.”
Ia kemudian berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Zhi Tianzhi kecewa. Ia menjatuhkan pedangnya, lalu memandang Jiu jiu. “Tunjukan kepadaku, apa yang bisa kau lakukan.”
Zhi Tianzhi kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
...----------------...
Ia membuka kedua matanya dengan pelan. Xue Ni telah melakukan kultivasi semalaman, selama itu ia merasa sangat damai dan menyenangkan, tetapi saat ini tiba-tiba perasannya menjadi tidak baik dan merasa akan ada sesuatu yang buruk menimpa dirinya.
Ia bertanya-tanya apa yang akan menimpa dirinya, tapi ia tidak tahu.
Ia kemudian berdiri.
Dari kejauhan, burung putih terbang mendekatinya dengan membawa surat.
Ia harap itu bukan surat membawa kabar buruk.
Setelah membacanya, ia bergegas mengemasi barang-barangnya. Ketika pergi, neneknya muncul di halaman rumah.
“Aku harus pergi menyelamatkannya.”
“Anakmu?”
“Ia dalam masalah, aku harus menolongnya.”
Neneknya mengerti dan membiarkan Xue Ni pergi.
Sejak kecil, pernah salah satu bisu mengunjungi Xue Ni dan memberikan ia nama. Biksu itu pernah berkata, “Anak yang terlahir dari rahimnya bukan anak-anak biasa; mereka memiliki takdir yang mampu mengubah keseimbangan dunia dan mampu mengubahnya. Apakah ini anugerah atau kutukan, hanya ia yang bisa melakukannya.”
Neneknya menggendong Xue Ni kecil dan memandangnya. Bayi yang ada di gendonganya sangat cantik dan memiliki rambut lebat. Mulutnya yang sedikit terbuka dan selaput mata yang lembut, membuat siapa saja ingin menciumnya. mengayunkannya dengan lembut dan memandang telaga tempat tinggalnya. “Sebagai Neneknya, aku harus menjadi penuntunnya.”
Neneknya telah gagal menyelamatkan anak gadis Xue Ni pertama karena kesalahannya dalam mengambil keputusan, kali ini ia harap tidak salah lagi.
...----------------...
Malam telah berlalu. Kekesalan, kemarahan dan berbagai keluhan telah di gantikan dengan cahaya kuning yang terasa lembut dari ufuk timur. Pagi ini mereka membuat api unggun untuk memanggang jamur yang mereka temukan di gua.
Semua pakaian mereka basah ketika hujan, kini masih lembab. Zhu Nan sangat kesal dengan pakaiannya yang basah. Sebagai seorang wanita, ia tidak bisa melepaskan pakaiannya semalam, membuatnya kedinginan dan tidak bisa tidur. Di tambah lagi gua yang ia tempati sangat kotor dan malam tadi adalah pertama kalinya ia tidur di gua, membuatnya sangat tidak nyaman.
Ia telah menjelajahi hutan ini, tapi tidak pernah ia tidur di gua seperti malam tadi.
Sehingga ia menghabiskan waktu semalaman dengan tidak nyaman.
Bing Jiazhi berdiri menatap cahaya kuning matahari. Sangat hangat ketika pagi ia rasakan. Untung saja tidak ada pohon yang terlalu tinggi di tempatnya berada sekarang.
Zhu Nan memandangnya. Ia mengambil jamur yang telah di panggang, lalu memandang Zhu Han yang dengan lahap menikmati jamur. Ia sedikit menggelengkan kepalanya. Kakaknya seperti seseorang yang tidak pernah makan jamur seumur hidupnya.
Ia berdiri dan mendekati Bing Jiazhi. Kemudian mengulurkan jamur panggang.
Bing Jiazhi mengambilnya. “Terima kasih, kakak senior.”
“Ada apa denganmu?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Makanlah, setelah itu kita akan berangkat lagi. Kau mestinya belum bertemu berbagai hewan buas yang unik dan menyeramkan. Kau akan kagum melihat mereka. Kemarin malam, kau sungguh beruntung bisa melihat burung itu.”
Bing Jiazhi mengangguk dan melahap satu jamur.