Alam Mandala

Alam Mandala
Hujan ribuan pedang



Semua orang tersenyum dan puas menyaksikan ledakan itu.


Gado Feng hanya bisa menghela nafas, sepertinya ia gagal mendapatkan obat untuk muridnya.


Wajah Xiao Na seperti terpaku menyaksikan ledakan itu, dan air matanya tanpa sadar menetes.


‘Apakah ini sudah berakhir? Tidak, ini masih belum berakhir.’


“hahaha... Sampah hanya sampah!” Ujar beberapa siswa yang puas.


Xiang Li tersenyum. Dengan demikian dendam adiknya telah terbebaskan.


Tetapi beberapa orang juga masih berharap akan ada kejutan setelah kabut menghilang dari arena.


Ketika perlahan-lahan angin meniup kabut, dua bayangan tiba-tiba muncul di tempat Bing Jiazhi. Melihatnya membuatnya menjadi penasaran.


“Kakak masih hidup!” Xiao Na tiba-tiba gembira melihat Bing Jiazhi masih hidup.


Di samping Bing Jiazhi, Yang Hua berdiri dan di depannya pedang besar dengan panjang 10 meter tertanjab di Aula dengan percikan-percikan Petir.


Bai Shia dan Xiao Ning’er bertanya-tanya siapa orang yang telah menolong bajingan di depannya ini.


“Kau tepat waktu,” Kata Bing Jiazhi dingin setelah melihat Yang Hua berdiri di sampingnya. Jika tidak, maka ia akan berakhir sekarang.


“ah... Sepertinya hari ini sangat panas, bagaimana kalau kita berharap kepada dewa untuk menurunkan hujan? Tidak, tidak, bagaimana kalau hujan pedang? Sesuai dengan tema hari ini, bukankah akan menarik?”


Yang Hua memandang langit yang di ikuti semuanya. Langit kembali menjadi gelap, bukan karena awan-awan hujan, melainkan ratusan ribu pedang dengan besar 10 meter menghiasi langit. Semua orang menelan ludah, Jika semua pedang itu terjatuh apa yang akan terjadi? Bahkan ketua sekte tidak akan bisa menyelamatkan dirinya. Mungkin tubuh setiap orang akan tercabik-cabik menjadi ribuan keping karena serangan-serangannya, mungkin semua pohon, hewan, tanah dan lain-lain di hancurkan oleh pedang-pedang itu. Benua rumput biru akan berubah nama menjadi Benua ribuan pedang.


Shui Liu, Gado Feng dan qiu qiu sangat terkejut dengan kemunculan Yang Hua. Shui Liu dan Qiu Qiu memandang Gado Feng untuk memberikan solusi untuk ini.


Gado Feng menghela nafas. “Liang Ting’er gagal menyakinkan Yang Hua.”


Gado Feng kemudian berdiri dan memberi hormat. “Selamat datang master....” suaranya di penuhi kehormatan.


Yang Hua tersenyum. “Apa kabar ketua sekte bambu? Aku pikir kau tidak mengetahuiku.”


“Baik master, Bagaimana mungkin aku tidak mengenal master.”


“Baiklah, jangan basa basi lagi, pemuda yang ingin kau serang hari ini adalah salah satu orang penting bagiku, jika kau berani menyentuhnya, maka tidak hanya sektemu, bahkan semuanya akan aku ratakan.”


“Baik master, aku tidak akan menyentuhnya lagi.”


“Baiklah.” Yang Hua kemudian memandang Bing Jiazhi. “Ayo kita pergi.”


Bing Jiazhi mengangguk dan pergi dari sana.


Semua orang menatap kepergian kedua orang itu dengan perasaan campur aduk. Tidak ada yang berani berbicara, dan suasana sangat mencekam.


Cahaya matahari mulai bersinar lagi, dan pedang-pedang pun menghilang. Keributan pun mulai pecah.


Gado Feng duduk dan menghela nafas. Akhirnya ia bisa mengatasinya.


“Siapa dia ketua?” Secara bersamaan Qiu Qiu dan Shui Liu bertanya keheranan.


“Aku juga belum mengetahuinya.”


Gado Feng mengangguk. “kita tidak akan mendapatkan pemuda itu untuk selamanya.”


Liang Ting’er meminum tehnya.


Ia sebelumnya sudah merasakan kehadiran seseorang dan ingin membunuhnya. Namun siapa yang menyangka bahwa ia adalah keinginan dari segala keinginan. Oleh karenanya, ia memberikan telepati kepada Gado Feng untuk bertindak hati-hati.


Setelahnya, ia mulai bercakap-cakap dengan Yang Hua mengenai mengapa ia datang. Setelah mengetahui kedatangannya untuk melindungi Bing Jiazhi, Liang Ting’er mulai bertanya tentang mengapa ia menolongnya, tetapi yang tidak memberikan jawaban dan mengancam akan membunuh dan menghancurkan siapa pun yang berani melukai Bing Jiazhi.


Liang Ting’er lalu menawarkan bagaimana kalau Yang Hua memberikan perlindungan Bing Jiazhi kepadanya dan menawarkan obat panjang umur, tetapi Yang Hua menolaknya mentah-mentah, membuatnya tidak akan pernah mendapatkan Bing Jiazhi.


...----------------...


Bing jiazhi dan Yang Hua kini berjalan menuruni tangga. Ketika mereka terus berjalan, suara seorang gadis memanggil Bing Jiazhi dari belakang.


“kakak!”


Sebelum Bing Jiazhi sempat mengetahui wajah gadis itu, ia tiba-tiba di peluk dengan sangat erat. Yang memeluknya tidak lain adalah Xiao Na.


“Kakak, aku sangat khawatir tadi, tapi syukurlah kau selamat dan mampu menunjukkan kekuatanmu sebenarnya. Aku tahu, kakak memang sangat berbakat, hanya perlu waktu untuk berkembang. Dan juga... Aku pikir kakak tidak selamat waktu itu, tapi syukurlah langit membantumu dan membuatmu seperti sekarang. Kakak, aku Xiao Na meminta maaf setelah apa yang telah aku lakukan. Aku berjanji tidak akan pernah mengulangnya lagi.” Xiao Na berkata setelah melepaskan pelukannya dan mengangkat jari kecilnya untuk berjanji.


“Kau tampaknya lebih gembira dan lucu dari sebelumnya.” Bing Jiazhi mengusap-usap rambut gadis itu.


“Tidak kakak, aku harusnya lebih dewasa! Kakak, apakah kau akan pergi sekarang?”


Bing Jiazhi mengangguk. “Aku harus pergi. Di sini tidak aman bagiku.”


“Kakak memang harus pergi. Orang-orang itu pasti akan mengincar kakak, meski kakak tidak berada di sini, terutama keluarga Xiang, mereka pasti akan marah setelah melihat tuan mudanya cacat. Kau harus berhati-hati, jangan pernah gegabah, jangan pernah minum dan jangan pernah bermain wanita.”


Bing Jiazhi langsung memukul kepala xiao Na dengan lembut. “Kau terlalu banyak mengatur.”


“Kakak ternyata memiliki sikap seperti ini. Ternyata kau sama seperti laki-laki di luaran sana.”


“Tidak, aku berbeda.”


“Terserah kakak saja.”


Setelah mengusap-usap kepalanya, Xiao Na mendekati Yang Hua yang ada beberapa undakan tangga di bawah dan berjalan turun.


“Salam Master.” Xiao Na menundukkan kepala dan memberi hormat sangat dalam.


Ketika Yang Hua berbalik, Xiao Na berkata, “Master, terima kasih telah menyelamatkan kakak Bing. Pertolonganmu sangat berharga. Tanpa ada master, aku tidak bisa membayangkan hal mengerikan apa yang menimpa Kakak Bing.”


Yang Hua tersenyum tipis. “Aku melakukannya karena dia telah menyelamatkanku, kau tidak perlu berterima kasih.”


Yang Hua kemudian berbalik dan menuruni tangga.


“Master, senyumanmu sangat menawan!” Xiao Na tersenyum dan melambaikan tangannya.


Ketika Bing Jiazhi lewat, Xiao menghadangnya. “kakak, aku tebak, kau pria yang suka bermain-main dengan wanita.”


“Tidak mungkin. Aku tidak tertarik pada hal kotor itu.”


“Lalu, siapa yang telah kau nikahi?” Xiao Na memandang tangan Bing Jiazhi yang di hiasi lonceng-lonceng.