Alam Mandala

Alam Mandala
Peserta pertama



Setelah beberapa saat orang-orang memandang ke pusat lapangan, seseorang wanita kira-kira berumur 23 tahun perlahan-lahan muncul dari pintu yang ada di sana. Ketika di pagi hari itu, cahaya menyinari Han Funya berwarna biru dengan lukisan-lukisan awan-awan. Jimat Ying Yang bergelantungan di pinggangnya yang ramping, namun tidak menimbulkan suara. Pinggangnya itu di ikat selendang yang sangat ketat, membuat bentuk tubuhnya terlihat indah.


Ia diam sejenak, kemudian melangka ke depan dan berjalan pelan. Sosoknya tidak terlalu cantik dengan alis yang tidak terlalu tebal dan tajam. Kulitnya kuning langsat, akan tetapi bentuk wajah dan lesung pipinya membuat ia terlihat cerah ketika tersenyum, dan walaupun saat ini ia tidak tersenyum, orang-orang masih tertarik dengannya, terutama wajahnya yang terlihat dingin dan memiliki aura misterius.


Ketika wanita itu berjalan, orang-orang mulai berbisik. Gadis itu adalah salah satu siswa dari Sekte lukis langit, yang bernama Bai Molihua. Ia tidak terlalu terkenal di bandingkan dengan Sheng Shu, namun ia merupakan salah satu murid yang perlu di pertimbangkan.


Kabar yang beredar, ia datang beberapa hari setelah melakukan latihan tertutup. Sekarang semua orang mulai penasaran dengan kemampuan apa yang di bawanya.


Bisikan demi bisikan terdengar, bahkan beberapa orang berteriak-teriak. Tetapi Bai Molihua tidak peduli dan berhenti di tengah lapangan.


Ia tidak mengangkat wajah untuk menatap para perwakilan sekte, tapi ia tetap memberi hormat.


Meski perlakuannya kurang sopan, tidak ada yang keberatan dengan sikapnya itu.


Ia kemudian melambaikan tangannya ke depan setelah seorang wanita yang tadi memulai perlombaan memberinya isyarat.


Kemudian tiba-tiba muncul satu kanvas dan berbagai alat lukis yang melayang di udara.


Ia kemudian mengambil kuas yang paling kecil. Kemudian melangkah mundur satu langkah dan memejamkan matanya.


Ketika adegan ini, semua orang tiba-tiba terdiam dan keheningan menguasai area itu beberapa saat.


Liang Ting’er mengambil minuman yang tersedia, lalu menyesapnya beberapa saat dan kembali memandang ke pusat lapangan.


Bai Molihua masih tetap berdiri, tetapi pusaran angin perlahan-lahan bertiup di sekitarnya membuat rambutnya berpencar seperti kipas. Energi alam Mandala perlahan-lahan tumbuh semakin kuat.


Liang Ting’er mulai serius menonton dan penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Perlombaan melukis ini bukan sekedar melukis biasa. Setiap peserta di tuntut untuk membuat seni yang sangat nyata dan indah yang membuat orang-orang kagum, yang tentu saja memiliki tingkat kerumitan luar biasa.


Selain itu, penggunaan energi akan mempengaruhi hasil akhir dari perlombaan ini.


Juri yang menilai jalan perlombaan ini hanya satu orang, ia tidak lain adalah wanita yang memulai lomba ini, dan merupakan ketua sekte lukis langit.


Ia sekarang fokus memandang jalannya perlombaan.


Sementara itu, Bing Jiazhi juga mulai perlahan-lahan memandang serius perlombaan. Ia pikir ini hanya perlombaan melukis biasa, ternyata lebih dari apa yang di perkirakannya.


“Jika begitu, ini adalah perlombaan yang sangat penting. Sangat menarik untuk di lihat dan sangat di sayangkan jika di lewatkan.”


“Aku juga dengar, Sheng Shu akan mengikuti lomba ini juga.”


“Sheng Shu...” Bing Jiazhi teringat dengan apa yang di perintahkan gurunya untuk membawa Gadis yang bernama Sheng Shu. “Aku sangat menantikan itu.”


Ketika mereka selesai berbicara, Bai Molihua membuka matanya secara tiba-tiba, seperti seseorang yang telah mendengar sesuatu yang membuatnya terkejut.


Ia kemudian mengayunkan kuas di tangannya, mengayunkannya ke atas, kemudian ke bawah ke samping. Melemparnya ke atas dan tangan kiri menggapainya. Ia seperti menari ketika melukis. Gayanya yang cepat namun indah membuat orang-orang terpukau. Lingkaran-lingkaran Mandala kecil bermunculan di pergelangan tangannya.


Dalam beberapa ayunan, itu secara otomatis berganti dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Selain itu juga, Bai Molihua secara cepat mengganti kuas-kuas yang di gunakannya.


Setelah beberapa detik, akhirnya Bai Molihua menyelesaikan lukisannya. Semua orang berteriak kagum dengan apa yang di tunjukannya.


Akan tetapi, Bing Jiazhi mengerutkan kening. Teknik melukis yang di gunakan Bai Molihua mampu membuatnya merasakan berdiri di antara pohon-pohon persik yang berguguran. Aroma, suasana dan kegembiraan menyelimutinya ketika berdiri di sana. Meski suasana begitu kelam dengan kabut yang memenuhi pohon-pohon.


Rasa yang di rasakan Bing Jiazhi sangat sulit untuk di katakan atau pun di ingat bagaimana rasa itu.


Ia kemudian memejamkan mata, lalu membukanya kembali. Tidak ada untungnya untuk dirinya memikirkan itu. Ia tidak akan mungkin mengetahuinya sekarang.


...----------------...


Setelah lukisan selesai, lukisan itu terbang dan memutari para perwakilan Sekte, kemudian di perlihatkan kepada semua orang.


Semuanya terkagum-kagum melihatnya.


Meski itu hanya seranting bunga Persik, warna-warni kelopak-kelopak memenuhi ranting tersebut, yang membuatnya tampak unik dan mengesankan.


Setelah menyelesaikan lukisannya, Bai Molihua memberi hormat kemudian pergi dari sana.


Lukisannya berputar-putar dan orang-orang memuji keindahan dan kemegahan lukisannya. Tidak sedikit juga yang bertanya-tanya bagaimana seorang bisa membuat lukisan seindah itu dalam beberapa detik saja, dengan hasil goresan dan campuran warna yang luar biasa juga.


Beberapa detik berputar-putar, akhirnya lukisan itu tiba di depan Bing Jiazhi dan Zhizhu.


Zhizhu mengangguk kemudian melihat ke arah tuan putri. “Memang benar yang di katakan tuan putri Gu itu, kita harus menghadiri acara ini. Aku belum pernah melihat lukisan seindah dan secepat ini di buat. Lukisan ini seperti di buat oleh tangan dewa.”