Alam Mandala

Alam Mandala
Bagian 2



Rasa takut ini tentunya berasal dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebab, ia tidak pernah melihat dan merasakan kekuatan mengerikan seperti ini. Jika pun ia pernah bertarung dengan seseorang yang lebih tinggi satu tingkat darinya, ia tidak akan se-takut ini. Hanya Huang Tang yang mampu membuatnya sangat takut.


Huang Tang kemudian melangkahkan kakinya, dan berjalan mendekati pria itu. Sekali pun Huang Tang mampu bergerak cepat, ia tidak melakukannya, karena ia yakin, kemenangan berada di tangannya.


Pedangnya kemudian di selimuti aura kehitaman, seperti asap yang berasal dari api yang berbeda. Ia kemudian menusukkan pedangnya ke tanah sembari berujar, “Jika kau tidak ingin mati, maka jangan menghalangiku!”


Tanah kemudian retak dan merambat ke arah pria itu.


Pria itu kemudian melompat ke samping. Tepat saat itu, tangan-tangan tanah muncul dari retakan-retakan itu. Itu bukan tangan biasa, melainkan tangan iblis yang sangat menyeramkan; berkeriput dan penuh dengan kerutan-kerutan.


Pria itu lalu mengayunkan pedangnya beberapa kali dan tangan-tangan itu kemudian terpotong. Saat ia memandang keberadaan Huang Tang sekali lagi, Huang Tang tidak lagi berada di sana. Ia kemudian memandang ke sekitarnya, tapi juga tidak ada Huang Tang.


Namun, tidak beberapa lama kabut putih tipis perlahan-lahan muncul dan semakin tebal, yang bahkan pohon-pohon dan langit tidak terlihat lagi.


Setelahnya, dari kejauhan pria itu melihat bayangan. Ia kemudian melempar pedangnya dan melesat. Tapi tidak mengenai apa pun dan Pedangnya kembali.


Pria itu kemudian menghentakkan kakinya guna untuk melompat dan terbang. Tetapi, sebuah tangan tanah muncul dan menariknya. Pria itu memotongnya dan lagi-lagi beberapa tangan-tangan muncul dan menariknya. Pria itu sedikit kesusahan akhirnya bisa melompat menghindar.


Ia kembali berujar, “Keluarlah! Ini bukan petak umpet!”


Maka setelah kata-kata itu di jatuhkan, kabut mulai menipis dan Huang Tang kemudian terlihat lagi beberapa meter darinya. Pria itu senang. Ia tidak melewati kesempatan ini. Tiga cincinnya muncul dan berdering.


Ia kemudian berlari. Cahaya kuning muncul di dahinya dan kemudian mengalir ke pedangnya. Pada sat itu juga, pedang itu berubah menjadi sebuah bambu dan ia kemudian melepaskannya.


Di udara, bambu itu memanjang dan bercabang-cabang ingin menyerang Huang Tang. Huang Tang kembali melompat-lompat menghindar.


Sementara pria itu kemudian mengeluarkan kemampuan keduanya. Ia tiba-tiba menghilang dan muncul dari batang Bambu itu kemudian ingin menggapai Huang Tang, namun untungnya Huang Tang mampu menghindar.


Bambu itu, semakin lama semakin tumbuh panjang seperti tanaman rambat, selain itu, tubuhnya juga semakin membesar dan menghancurkan pohon-pohon di sekitarnya.


Pria itu kemudian muncul lagi dan ia mengeluarkan cincin ke tiganya dan beberapa boneka- boneka Bambu uncul dan tangannya kemudian meledak dan menjadi sebilah pedang tajam.


Huang Tang kemudian mengeluarkan satu cincinnya dan ia bergerak lebih cepat, menebas-nebas boneka yang datang menyerangnya. Satu persatu Boneka hancur dan terpotong-potong, namun, satu persatu juga boneka itu juga muncul.


Tepat saat itu juga, pria itu tiba-tiba muncul dari batang bambu yang besar, hendak ingin menyerang Huang Tang, tapi Huang Tang begitu cekatan, dan ia gagal lagi.


Satu cincin Huang Tang muncul, lalu kabut mulai muncul lagi. Perlahan-lahan hingga akhirnya kabut itu memenuhi dan menutupi semua pandangan. Pria tadi kemudian muncul dari kulit bambu dan mengamati apa yang akan terjadi selanjutnya.


Dengan kemampuan kabut ini, ia merasa jengkel dan membuat pertarungan ini terasa sangat membosankan. Apakah ini cara orang kuat untuk bertarung?


Ia hanya terdiam mengamati apa yang akan terjadi. Namun, kemudian tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang sangat dahsyat dari dalam tanah. Kemudian ia merasakan bambu yang di pijakinya bergetar. Apa ini?


Bommm!!!!


Tubuhnya perlahan-lahan menghilang dalam ledakan. Pohon-pohon berubah menjadi abu, seperti ledakan bom atom yang sangat mengerikan; membuat semuanya menjadi debu.


...----------------...


Ledakan itu meluas dan menimbulkan cekungan yang dalam, bahkan hingga batu-batu di Tanah terdalam bermunculan.


Bing jiazhi, Zhizhu dan Gadis yang sebelumnya memperkenalkan diri bernama Xiao Yuna berdiri di dataran tinggi sembari melihat pemandangan itu.


Mereka mengamati pertarungan dari awal hingga saat ini.


Zhizhu ingin sekali membantu Huang Tang, karena selain ia adalah suami dari gurunya, ia belum mengetahui banyak tentang Dewi bunga persik. Jika terjadi apa-apa dengan Huang Tang, maka ia tidak akan mendapatkannya dan mencari orang lain lagi.


Saat melangkah, Bing Jiazhi menghentikannya dan mengatakan semua baik-baik saja. Zhizhu percaya dan mengikutinya. Ia percaya dengan apa yang di katakan Bing Jiazhi.


Sementara Xiao Yuna bergidik ngeri melihat pertarungan itu. Itu adalah pertarungan di antara orang-orang master. Dan ia sangat mengenal siapa yang di lawan Huang Tang. Ia adalah salah satu anggota organisasi mawar hitam, dan merupakan salah satu kekuatan organisasi tersebut.


Ketika melihat pemandangan tersebut, ia tanpa sadar mengatakan ‘Wen Lin, dia adalah Wen Lin! Aku masih ingat apa yang di katakan Kakek! Dia salah satu andalan organisasi Mawar hitam!’


Saat mendengarnya, Zhizhu tertarik. “Apakah dia berasal dari organisasi yang sama denganmu?”


“bukan, tapi ketua kami memiliki hubungan dengan ketua mawar hitam. Aku pernah mendengar Jika Ketua mawar hitam adalah adik dari ketua kami, oleh sebab itu, kami selalu mengawasi pergerakan organisasi tersebut. Ups! Kenapa aku mengatakannya??” buru-buru ia menutup mulutnya.


“Kakak! Jangan mengatakannya kepada siapa pun! Ini adalah rahasia kami! Jika tidak, Kakek akan membunuhmu!”


Baik Zhizhu maupun Bing jiazhi tidak mempedulikan ucapan gadis itu, mereka melihat kabut yang mulai samar-samar menghilang.


Tidak beberapa lama, Zhizhu bertanya kepada Xiao Yuna, “apakah ketua organisasi mawar hitam dengan ketua organisasimu berseteru?”


“Tidak! Aku tidak mau mengatakannya!”


Zhizhu kemudian memandang tajam ke arah gadis itu, dan membuatnya sangat terkejut dan ketakutan. “baiklah... Aku akan mengatakannya, tapi jangan katakan kepada siapa pun, ya, ya?”


Zhizhu kembali memandang ke depan dan mengangguk.


Xiao Yuna menarik nafas panjang kemudian bercerita, “Kami tidak bersertu, tapi kami saling bersaing. Kakak tentu tahu apa yang aku maksud. Jika organisasi kami berkembang pesat, maka kami akan melahap yang lemah dan terus menjadi kuat, hingga tidak ada lagi yang tersisa. Ketua kami berasal dari keluarga yang memiliki kebudayaan yang di mana, persaingan adalah hal yang harus ada setiap generasi. Keluarga itu percaya, dengan persaingan, maka akan ada semangat perjuangan dan selalu ingin berkembang. Oleh sebab itu, hingga sekarang, kami pun bersaing hingga ada yang kalah atau menang.”


Zhizhu tidak bertanya lagi, dan kemudian memikirkannya. Sementara Bing Jiazhi menikmati pertarungan yang akan di mulai lagi.