
Melihatnya, Xiang we tertawa dan Bing Jiazhi memandangnya datar, kemudian menggeleng pelan. Mereka lalu masuk dan membicarakan mengapa harus pergi ke sana dan apa tujuan Bing Jiazhi melakukannya. Sementara tuan kusir melanjutkan pekerjaannya.
Kereta kuda melaju lagi dengan aman. Tujuan mereka adalah desa Laut biru, yang berada di selatan, sehingga akan memakan waktu yang cukup lama untuk menujunya.
Sepanjang perjalanan itu, mereka melihat orang-orang, bertarung dengan para perampok, membantu orang-orang dan mengunjungi berbagai restoran serta mengunjungi tempat-tempat indah.
Hingga mereka pun akhirnya singgah di ibu kota kekaisaran Bintang biru yang sangat megah.
Bing Jiazhi tidak memperlihatkan ekspresi ketertarikan apa pun ketika melihat ini, mungkin karena ia telah melihatnya dua kali.
Kota yang sangat luas, dengan istana kekaisaran yang ada di tengah-tengah kota seperti jantungnya. Tembok-tembok berlapis-lapis untuk pertahanan dan orang-orang dengan zirah besi mereka berdiri dengan gagahnya.
Ketiga orang itu terkagum-kagum melihat gerbang Istana kekaisaran yang sangat megah dan tinggi.
Di atas gerbang itu, ada bangunan bertumpang tiga, di dalamnya ada beberapa orang yang berjaga dan sekitar tembok.
Tembok itu sangat besar dan tinggi. Saking besarnya, mereka harus menengadah melihat ujungnya. Di sana ada bendera biru kekaisaran yang berkibar.
Matahari telah berada di barat sekarang dan gerbang itu menghadap ke timur, sehingga mereka di selimuti oleh bayangannya yang sangat tinggi itu.
Ini adalah satu di antara beberapa gerbang kekaisaran. Ada beberapa lagi di beberapa sisi tembok, yang masing-masing memiliki peranan sendiri.
Bing Jiazhi berkata dengan dingin, “Aku tidak pernah melihat gerbang setinggi ini selama hidupku. Gerbang ini adalah simbol keinginan manusia.”
Zhizhu tertarik. “Dan gulungan, tingkat kultivasi serta hewan-hewan buas adalah perwujudan keinginan orang-orang seperti kita.”
Xiang we menatapnya beberapa saat, kemudian menatap orang-orang yang berjalan di atas gerbang dengan gagah berani, lalu menatap jauh ke dalam gerbang, yang mana taman indah berada dan kemegahan istana jauh di ujung. “Dengan kekuasaan, kekuatan dan kecerdasan, seseorang akan memilikinya.”
Mereka bertiga kemudian kembali ke kereta kuda dan berjalan dengan pelan.
Ketika itu, kereta kuda yang lain datang dan ada beberapa dayang-dayang Istana di sekitarnya. Kereta kuda itu tidak lain berasal dari kekaisaran dan orang yang ada di dalamnya, tidak lain anggota keluarga kekaisaran.
Ketika melintasi mereka bertiga, kereta kuda itu berhenti.
Empat dayang yang ada kemudian berlutut. Tidak jelas apa yang mereka lakukan. Tampaknya orang yang ada di dalamnya akan keluar.
Bing Jiazhi dan yang lainnya memandang heran dan bingung dengan apa yang akan terjadi.
Perlahan-lahan sosok indah keluar dari pintu depan. Ia memakai gaun berwarna putih dengan lukisan-lukisan bunga sakura di beberapa titik. Tubuhnya yang tinggi langsing, dan wajahnya yang terlihat natural, ia seperti memiliki daya tarik tersendiri.
Ia kemudian turun dengan bantuan salah satu pelayan. Mendekati Bing Jiazhi kemudian memberi Hormat. “Salam dari saya, tuan putri Gu Yue. Alangkah senangnya saya bisa bertemu dengan murid-murid dari sekte Tao Gong. Sebuah kehormatan jika Kalian datang mengunjungi istana kekaisaran.”
Zhizhu memandangnya dengan tatapan merendahkan. “Apa dengan ini, anda memberikan kami izin untuk masuk?”
“Bisa di katakan begitu.”
Bing Jiazhi bertanya pelan, “Apa yang akan kami dapatkan di dalam?”
Pertanyaan yang di lontarkan Bing Jiazhi sangat tidak sopan, tapi ia tidak peduli.
Xiang we yang ada hanya bisa diam. Di bandingkan dengan kedua rekannya, ia tidak ada apa-apanya.
Gu Yue tersenyum. “Sebuah penyambutan yang sopan.”
...----------------...
Matahari telah naik. Butiran-butiran air yang ada di ujung rumput perlahan-lahan berjatuhan. Burung-burung mulai berkicauan, tapi asap dupa yang menyala perlahan-lahan padam, dan akhirnya mati.
Sheng Shu telah duduk semalaman di atas rumput.
Ketika cahaya matahari menyinarinya, ia merasa segar kembali, seperti terlahir kembali.
Angin berhembus begitu pelan, tapi ia merasa sangat sejuk. Dan angin senang tiasa memainkan rambut indahnya.
Tidak lama setelahnya, seorang gadis datang menghampirinya dan memberi hormat. “Nona, pelajaran telah di mulai.”
Sheng Shu kemudian memandang cahaya matahari. Cahya yang sangat menarik, ia ingin lebih lama berada di sana, tapi ia harus belajar sekarang.
Sejak kepulangannya, telah di beritakan sebentar lagi ada perlombaan melukis terindah di sekte, dan ia di haruskan untuk ikut di dalamnya.
Ia sebenarnya tidak ingin, tapi ibunya memaksa. Ia bisa melukis dengan sangat baik, namun dengan semangatnya, tentunya hasilnya akan sangat tidak memuaskan.
Setelah merasakan cahaya itu, ia kemudian berdiri dan membuat gaun warna warninya turun dengan indah.
Ia lalu memandang bangunan sekte Lukis langit yang sangat indah, kemudian memandang istana kekaisaran yang lebih megah dari pada sektenya.
Ia menoleh. “Aku ingin belajar di sini saja. Bisa kau membawakanku kanvas dan peralatan lainnya?”
“Aku tidak bisa melukis di tempat berisik seperti itu. Katakan saja kepada ibuku tentang ini, ia akan mengizinkannya.”
“Ketua tidak akan mengizinkannya.”
“Kenapa tidak boleh?” Sheng Shu sedikit marah.
Wanita itu menunduk dan tidak mau menjawabnya.
Sheng Shu memandangnya, kemudian ia memandang ke arah timur. Wanita itu baru berani mengangkat wajahnya. Ia tidak tahu harus bagaimana cara membujuk Sheng Shu agar ikut bersamanya. Ia telah di perintahkan untuk membawanya, dan jika tidak, ia tidak akan boleh meninggalkan tempat ini.
Sheng Shu kemudian duduk lagi. Ia mengeluarkan dupa dari bajunya dan menyalakannya.
Bau dupa yang harum dapat mengembalikan suasana hatinya yang buruk. Ia kemudian berkata tanpa memandang gadis itu, “Katakan kepada ibuku, sebentar lagi aku akan menemuinya.”
“Apakah nona akan datang?”
“Iya, aku akan datang.”
Wanita itu merasa lega dan pergi dari sana untuk menjalaninya.
Tidak lama kemudian angin bertiup lebih kencang dan matahari lebih meninggi. Suhu yang lebih hangat telah menghantarkannya dalam suasana yang sangat nyaman. Ia kemudian mengeluarkan syal yang selalu di bawanya, lalu melingkarinya dengan lembut di lehernya yang ramping.
Ia kemudian menghela nafas dan memandang asap dupa yang bertiup ke utara karena angin.
Suasananya tiba-tiba menjadi lebih tenang, membuat ia memejamkan mata dan tertidur dalam posisi bersimpuh.
Angin dan matahari terus berjalan.
...----------------...
Setelah beberapa jam kemudian, seorang wanita berumur sekitar 40 tahunan datang dengan pakaian Han fu berwarna warni, seperti sebuah lukisan indah berada di bajunya. Tatapannya tajam dan penuh keberanian. Ia memandang tajam ke arah Sheng Shu yang sedang tertidur dengan posisi aneh.
Ternyata anaknya tertidur di tempat ini dengan tenang dan posisi yang aneh. Melihatnya seperti itu, membuat ia berpikir, seharusnya sekarang menghapus semua ingatan yang telah ada di pikiran Sheng Shu. Jika ia tidak menghapusnya, ia khawatir gadis itu akan sangat sulit di kendalikan, dan pergi pulang bersama Ibunya.
Ia tidak ingin gadis itu mengetahui ibunya dan bersatu kembali. Sheng Shu adalah anaknya dan harus ia yang memanfaatkannya.
Berjalan beberapa langkah, kemudian terdiam. “Sheng Shu anakku, mengapa kau berdiam di sini?”
Perlahan-lahan kedua mata Sheng Shu terbuka. “Ibu, aku tidak mau di paksa untuk belajar.”
Ia kemudian melanjutkan tanpa memandang ibunya, “biarkan aku bebas menentukan pilihanku sendiri.”
Wanita yang ada di belakangnya terdiam. Ia tentunya tidak akan pernah memberinya kebebasan sampai kapan pun, bahkan sejak kecil ia telah menekan Sheng Shu begitu keras. Tidak pernah gadis itu pergi jauh dari taman dekat rumahnya, juga tidak pernah keluar bertemu dengan anak-anak lainnya.
Ia melakukan itu bukan tanpa alasan. Sejak pertarungannya dengan Xue Ni, ia sangat takut kehilangan Sheng Shu. Meski ia tahu Xue Ni yang berhak memilikinya, karena ia yang telah melahirkannya. Sementara ia hanya ikut dalam prosesnya saja.
Walaupun begitu, ia merasa berhak memilikinya, sehingga pertarungan pun tidak bisa di hindarkan ketika pertengkaran mereka mencapai puncaknya.
Xue Ni yang sendiri melawan orang-orang Sekte Lukis langit pergi dengan kekalahan, tapi ia berjanji akan datang untuk menjemput anaknya.
Wanita itu kemudian mendekatinya dan duduk di samping Sheng Shu. Ia ikut memandang apa yang Sheng Shu lihat.
Sheng Shu kemudian memandang dupanya yang ternyata telah mati. Ia mengeluarkannya lagi, dan menyalakannya.
Ketika ia menaruhnya, ibunya bertanya dengan nada heran, “Anakku, kau ternyata masih menyukai bau asap dupa itu.”
Ibunya teringat saat pertama kali, Sheng Shu yang kesepian mencium bau dupa. Saat ketika ibunya menyalakannya untuk persembahan.
Sheng Shu dengan sedikit takut bertanya apa itu, dan mengapa baunya sangat harum.
Ibunya pun menjelaskannya dengan senang hati.
“Aku menyukainya.” Katanya, kemudian setiap hari meminta dupa itu. Karena ibunya sangat ingin melihat ia senang, membelinya sebanyak mungkin bukan masalah baginya.
Sheng Shu kemudian menjawab dengan pelan ketika ibunya bertanya tentang itu, “Sejak kecil, aku telah terikat dengan dupa, sampai sekarang pun, aku tidak bisa melepaskannya.”
Ibunya kemudian mengeluarkan tiga dupa berwarna hitam yang sama dengan milik Sheng Shu. Ia kemudian menyalakannya, tetapi angin tiba-tiba bertiup kencang membuatnya padam lagi.
Sheng Shu tetap memandang langit. Ia tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan ibunnya. Rambutnya yang hitam terus di mainkan oleh angin.
Setelah melakukan beberapa percobaan, akhirnya ketiga dupa itu menyala. Ia kemudian menaruhnya di tanah.
“Dupa ini memiliki bau yang sedikit berbeda dengan seperti yang aku punya,” kata Sheng Shu kemudian perlahan-lahan memejamkan matanya menikmati hembusan angin.
Ibunya mengangguk. Dupa yang di bawanya memang berbeda, ada sesuatu yang telah di campurkan di dalamnya, yang mana itu akan membuat Sheng Shu kehilangan ingatan.