Alam Mandala

Alam Mandala
Orang miskin



Tiga hari pun berlalu dari kejadian itu. Bing Jiazhi akhirnya bertemu dengan orang itu, dan mereka bercakap-cakap beberapa saat dan kemudian Bing Jiazhi berpamitan karena ada urusan penting.


Sepanjang percakapan itu, hanya tentang cerita mereka yang tidak terlalu penting.


Saat itu suasana sore di dominasi warna kekuningan yang cerah. Pohon willow membiarkan daun-daun yang panjang berayun-ayun seperti helaian rambut seorang wanita. Beberapa kali mulai berjatuhan dan mendarat di meja kayu di bawahnya. Xiao Zhong duduk di sana tanpa memperhatikan daun-daun berjatuhan, ia lebih memperhatikan cahaya kekuningan yang ada di ufuk barat dengan segerombolan burung-burung berterbangan melintasi langit dan bersuara merdu.


Ia menghela nafas kemudian memasukkan gumpalan nasi yang ada di meja, kemudian mengunyahnya beberapa saat. Lalu mengambil secangkir air dan meminumnya. Setelahnya, ia kemudian memandang ke arah gubuk tua di dekatnya. Ia memicingkan matanya menatap atap bagian bawah gubuk itu.


Dua ekor tikus kemudian keluar dan berlarian di sana kemudian kembali masuk, dan setelahnya terdengar suaranya yang melengking.


Zhao Zhong menghela nafas, kemudian menyilangkan kedua tangannya dan bersandar di pohon willow di belakangnya sembari mengangkat kedua kakinya di atas meja. Ia lalu memejamkan matanya dan menikmati angin membelai kulitnya dan cahaya matahari menghangatkan tubuhnya.


Namun, kemudian terdengar suara langkah kaki beberapa orang membuatnya kesal. Tapi ketika membuka matanya, rasa penasaran memenuhi hatinya. Ia bertanya-tanya siapa dua remaja yang bersama cucunya itu.


Bing jiazhi yang mengetahui apa yang di inginkan Zhao Zhong kemudian menunduk memberi hormat. “Anda tentunya mengetahui siapa saya tuan. Anak yang pernah anda tolong beberapa tahun lalu.”


Zhao Zhong mengerutkan kening dan mengingat-ingat siapa yang pernah ia tolong sebelumnya. Ingatannya pun kembali muncul saat ia berpisah dengan istrinya kemudian berpetualang seorang diri, lalu bertemu banyak orang-orang kuat, kemudian melihat berbagai keindahan dan masalah. Setelahnya, ia teringat dengan seorang anak yang telah di tolongnya. Ia terkejut dan wajahnya lalu terbit. “Kau waktu itu?!”


Wajahnya di penuhi keterkejutan. Tentunya ia tidak akan berpikir jika anak gelandangan itu akan menjadi tumbuh sehat dan dewasa seperti ini. Dunia ini sangat kejam bagi anak kecil itu. Menolongnya, bagi Zhao Zhong merupakan sebuah bentuk pertahanan di dunia yang kejam ini.


Ia menduga jika anak itu tidak akan selamat, tetapi siapa yang tahu takdir apa yang akan menimpa setiap orang di dunia ini? Ia tumbuh menjadi kuat dan memiliki tingkat kultivasi yang cukup tinggi untuk usianya saat ini.


“Namamu....”


Zhao Zhong berhenti dan mengingat-ingat nama Bing Jiazhi. Usianya yang kian menua membuat ingatan sangat rentan, meskipun ia memiliki tingkat kultivasi yang tinggi.


Bing jiazhi menjawab, “Bing Jiazhi.”


“Benar! Namamu Bing Jiazhi. Tidak di sangka kau ternyata tumbuh sehat dan tampan.”


“Ini salah satunya karena berkat anda tuan.”


Sebenarnya, Xiao Yuna tidak mau melayani Bing Jiazhi dan Zhizhu, namun karena ia harus bersikap baik di depan kakeknya dan tidak boleh melawan, ia hanya menunduk dan dengan kesal pergi.


Sementara Zhizhu tidak berkata apa-apa dan ia tidak tertarik dengan apa pun yang ada di sekitarnya. Ia hanya ikut bersama Bing jiazhi agar mendapatkan sesuatu yang dapat menghiburnya, tetapi ternyata tidak ada yang dapat menghiburnya. Suasana hatinya sekarang tidak terlalu baik, mungkin karena hujan yang sering turun baru-baru ini.


...----------------...


Akhirnya Xiao Yuna membuatkan empat teh tomat yang di dapatkan dari pasar. Ia mengiris-iris tomat itu kemudian menambahkan satu sendok gula ke dalamnya, agar rasa asam pada tomat itu berkurang.


Ia menghidangkannya dan setelahnya lalu duduk kesal. Ketika kedua tangannya menyentuh meja ia berseru kepada Kakeknya. “Kakek! Kakek harus membayar penghinaan yang di alami oleh cucumu ini! Tanganku terluka oleh orang itu!” Xiao Yuna menunjuk Bing Jiazhi dengan wajah kesal, kemudian memandang kakeknya dengan penuh kepolosan. “Kakek! Selain itu, gadis itu juga ingin membunuhku! Bagaimana kakek akan membalas penghinaan cucumu ini?”


Zhao Zhong tidak terlalu menghiraukan omelan cucunya itu, karena baginya ia hanya gadis yang belum dewasa dan tidak bisa mengetahui yang mana musuh dan rekan. Xiao Yuna hanya secara gamblang tanpa memilah-milah saat mengatakannya dan mengatakannya sesuai suasana hatinya yang sesaat.


“Na’er, lupakan itu. Manisan apa yang kau inginkan?”


Wajah Xiao Yuna yang cemberut tiba-tiba cerah mendengar ucapan menggoda kakeknya itu. Beberapa manisan bermunculan dalam imajinasinya. “Aku ingin semuanya! Kakek! Tolong berikan aku uang!”


Blak!


Dengan senyuman di wajahnya, Xiao Yuna menggebrak meja dan membuat kakeknya terkejut. Tapi itu tidak berpengaruh pada Bing jiazhi dan Zhizhu.


“Baiklah...”


Zhao Zhong hanya bisa pasrah. Ia kemudian memberikan sekantong koin kepada cucunya dan ia kemudian pergi dengan wajah berseri-seri.


Sementara wajah Zhao Zhong sangat menyedihkan. Itu adalah uang hidupnya sebulan bersama cucunya. Tidak dapat di pikirkan, jika ia harus menyerahkan semuanya kepada cucunya itu. Tidak dapat di pungkiri jika ia adalah seorang pendekar yang miskin dan memerlukan sangat banyak uang. Hanya dengan menjalankan sebuah misi, maka ia akan mendapatkan uang untuk kehidupannya.


Bing jiazhi kemudian mengambil sesuatu dari balik jubahnya. “Tuan, sepertinya anda sangat membutuhkan ini....”