Alam Mandala

Alam Mandala
Sebuah pertarungan part 2



Pria itu kemudian tiba-tiba berhenti. Ia berseru dan mengayunkan pukulannya ke arah tebasan air itu. Ukuran tebasan itu kurang lebih sama panjangnya dengan pisang dewasa dan memiliki tebal sama juga.


Petir putih kemudian pecah dan seperti akar-akar dengan cabang-cabang yang mengarah ke arah mana pun, dan suaranya sangat keras.


Aduan serangan itu mampu terasa sangat keras hingga jarak beberapa meter. Orang-orang yang menontonnya bisa merasakan angin kencang dan seberapa mengerikan petir putih itu. Jika mengikuti aturan normal, seharusnya serangan petir itu akan menyebar dan mengikuti tebasan air itu, dan itulah yang terjadi. Petir putih itu menggulung tebasan air dan kemudian meledak, seperti balon yang di isi air kemudian di tusuk dengan jarum; tebasan air itu pecah ke segala arah dan tanaman-tanaman yang terkena, otomatis di penuhi akar-akar petir, lalu menghancurkan tanaman itu hingga mati.


Orang-orang sudah memprediksi apa yang terjadi setelah serangan itu di luncurkan, oleh sebab itu, mereka mundur beberapa langkah untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan terjadi.


Pria itu yang berdiri di sana seperti di mandikan oleh tebasan air itu, tapi tentunya ia tidak akan terkena sengatan petirnya sendiri. Namun, saat ia ingin bergerak maju, tiba-tiba kedua kakinya tidak bisa di gerakkan, tidak hanya itu; seluruh tubuhnya seperti terkunci, kecuali mata dan bibirnya.


Ia terkejut dan bertanya apa yang terjadi, tapi kemudian ia menyadari jika tebasan air itu bukan hanya memuat satu kemampuan tapi, juga kemampuan lainya.


Ia pun mengeluarkan cincinnya dan petir putih merambat meledak ke segala arah, namun ia tetap tidak bisa melakukan apa-apa. Ia pun kemudian hanya bisa memandang Zhizhu demi meminta penjelasan.


Sama seperti apa yang terjadi kepada Bing Jiazhi, serangan cincin pertama Zhizhu mengunci lawan, tapi dengan gabungan dari serangan pedang bunga persik, serangan itu menjadi lebih kuat. Sekarang, dengan keadaan pria itu, Zhizhu sudah di pastikan memegang akhir dari pertarungan ini.


Jika seseorang ingin bebas dari kunci ini, ia harus mampu mengeringkan tubuhnya agar dapat kembali bergerak, dan itu sangat sulit dilakukan, kecuali jika ia memiliki gulungan berelemen api, dan tahu juga bagaimana mematahkannya. Selain itu, hanya orang-orang yang memiliki kultivasi yang tinggi saja yang mampu melakukannya.


Butuh beberapa menit agar air yang ada di tubuh pria itu mengeri, tapi Zhizhu tentunya tidak akan membiarkannya. “Sepertinya, aku akan memenangkan pertarungan ini. Sesuai apa yang aku katakan di awal tadi, kau tidak akan bisa pulang bertemu keluargamu, bahkan tubuhmu tidak juga berpulang.”


Pria itu baru terlihat takut dan cepat-cepat berujar, “T-Tunggu! Jika kau membunuhku, maka akan ada bahaya yang besar mengintaimu! Pikirkan baik-baik sebelum melakukannya!”


Dengan ancaman seperti itu, tidak ada perubahan di wajahnya dan tidak ada ketakutan dalam wajah itu. Terlihat sangat dingin, dan di saat bersamaan seperti wajah Psikopat; tanpa rasa dan ekspresi.


Sejak ia di caci maki dan di rendahkan oleh orang-orang, mulai sejak itu ia mengembangkan sikapnya, dan ketika satu persatu musuh-musuhnya ia hancurkan, orang-orang itu akan memohon pengampunan sama seperti apa yang di lakukan pria itu. Meskipun ia membunuhnya atau tidak, ia tentu akan tetap dalam bahaya, karena membunuhnya, orang-orang terdekatnya akan datang membalaskan dendam, dan jika tidak, orang itu tentu akan berusaha membunuhnya dengan berbagai cara, dan pada akhirnya sama terjadi.


“Jika aku tidak membunuhmu, maka kau akan membunuhku.”


Satu Cincin kemudian muncul di dahi Zhizhu dan dua lumba-lumba besar muncul dari dalam tanah lalu terbang di sekitarnya


“Kau tidak tahu siapa—”


“Aku memang tidak tahu siapa dirimu, dan aku tidak tertarik untuk mengetahuinya, yang perlu aku ketahui, jika kau mencoba membunuhku, maka kau harus mati.”


Pria itu ingin cepat-cepat lagi berujar, tapi Zhizhu tidak mempedulikannya dan dua lumba-lumba besar itu kemudian melompat-lompat di udara, seperti melakukan suatu pertunjukan. Dan ketika sangat dekat, lumba-lumba itu membuka mulutnya lalu melahap pria itu. Pria itu tidak bisa bernafas, kemudian darah-darah keluar dari tubuhnya. Ia berteriak, tapi karena ditutupi air, suaranya tidak mampu keluar.


Teriakan pun terdengar bersamaan dengan lumba-lumba itu meledak. Tubuh pria itu hancur lebur dan air yang meledak seperti ledakan air darah.


Zhizhu kemudian memandang orang-orang yang ada di sana dan seketika membuat orang-orang itu ketakutan. Zhizhu tidak peduli dan kemudian berbalik pergi lalu menghilang begitu saja.


Pemilik restoran, meski pun ia kerugian, ia merasa lebih baik rugi dari pada melayani wanita seperti itu. Di matanya, Zhizhu bagaikan sesuatu yang sangat mengerikan.


...----------------...


Melihat seorang pria tidur di ranjang, senyuman penuh misteri bermekaran di wajah gadis itu. Ia berdiri jauh beberapa langkah memandang sosok Bing Jiazhi.


Memandangnya beberapa saat, ia kemudian bergumam, “Ini adalah tugas yang mudah. Hanya melakukan dua gerakan saja, maka semua akan selesai. Ais, sungguh sayang sekali, jika tugas ini terlalu mudah dan... Sayang sekali pria sedikit tampan ini akan menjadi korbannya.”


Gadis itu kemudian mengeluarkan belatinya. “Tapi, dengan pengorbananmu, aku akan mendapatkan uang yang banyak.”


Sembari ia bergumam, ia melangkahkan kakinya mendekati Bing Jiazhi. Sangat pelan dan tidak berbunyi sedikit pun, sepertinya, gadis itu sudah memiliki banyak pengalaman.


Ketika sudah dekat, ia tersenyum. “Mati di tanganku adalah sebuah anugerah.”


Ia pun menusuk dada Bing Jiazhi. Ekspresi kemenangan pun muncul, tapi tiba-tiba berubah menjadi terkejut ketika ia melihat tidak ada darah yang keluar dan tubuh Bing Jiazhi dan juga berubah menjadi asap hitam lalu perlahan-lahan menghilang.


Tentunya gadis itu terkejut dan kemudian merasakan kehadiran seseorang. Tidak salah lagi, ia pun berbalik dan melempar belati di tangannya. Sayangnya, belati itu tidak mengenai apa pun, kecuali di dinding ruangan itu.


‘Di mana dia?’


Gadis itu menyebarkan pandangannya ke sekitar. Ia tidak melewati detail-detail sekecil-kecilnya yang ada di sana, bahkan butiran-butiran debu. Namun, tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang datang dari atas. Dengan cepat, ia mendongak, dan di sana Bing Jiazhi muncul dan menebaskan pedangnya.


Gadis itu kemudian melompat ke depan, tapi sayangnya ada goresan di pipinya dan darah mulai ke luar.


“K-kau!”


Gadis itu kemudian mengusap-usap darah yang keluar. “Berani-beraninya kau menggores pipiku! Apakah kau tidak tahu siapa diriku? Bahkan jika kau menjual dua tangan dan kakimu, kau tidak akan bisa mendapatkanku. Cepat menunduk dan meminta maaf. Setidaknya aku akan memberikan cara kematian yang tenang untukmu. Cepat menunduk!”


Gadis itu sangat marah ketika ada seseorang yang melukainya, terlebih itu adalah wajahnya! Tentunya, siapa wanita di dunia ini yang tidak marah jika wajahnya di lukai? Itu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi setiap wanita, kecuali jika ia telah gila .