Alam Mandala

Alam Mandala
Bagian Tiga



Jubah Wen Lin yang hitam di ukir oleh ledakan itu, membuat beberapa lubang dan robek-robek. Tangan dan kakinya terlihat beberapa goresan terbentuk. Ia selamat dari ledakan itu, tapi pedangnya hancur tiada jejak. Mengetahuinya, ia merasa terkejut dan jantungnya bergetar, merasakan betapa kuatnya serangan itu.


Pedangnya memiliki tingkat menengah, dan itu di hancurkan dalam satu kemampuan cincin, bukankah itu terlalu mengerikan?


Beberapa rambut alisnya kemudian berguguran dan melayang-layang di depannya. Ia kemudian mengayunkan tangannya ke depan dan sebuah bambu panjang berwarna putih muncul di tangannya dan rambut alisnya hilang tidak tersisa.


‘dia adalah monster, bukan, dia iblis.’


Sementara jauh di depannya, Huang Tang berdiri tanpa ekspresi dan terlihat sangat tenang. Jubah hitamnya yang panjang berkelebat.


Namun karena debu-debu yang berterbangan membuat Huang Tang samar-samar terlihat.


Wein Lin berseru, “Jika hari ini aku mati, setidaknya aku pernah merasakan bagaimana rasanya bertarung dengan monster!”


Ia kemudian melesat. Dengan kedua tangannya mengayunkan bambu itu. Bambu itu kemudian hancur berkeping-keping kala berbenturan dengan pedang Huang Tang. Wen Lin kemudian melayangkan pukulannya, tapi Huang Tang berhasil menghindar. Ia kembali melakukannya dan melakukan tendangan. Sayangnya, semua gerakannya di hindari atau di patahkan begitu saja.


Ia lalu mengeluarkan dua cincinnya, dan dua pedang bambu panjang muncul. Ia menggunakannya untuk menyerang. Akan tetapi, sebelum mampu menggunakannya, Huang Tang mengeluarkan api hitamnya lagi dan membuat Wen Lin terkejut dan refleks mundur.


Saat itu juga, keringat keluar membasahi dahi Wen Lin dan ia mulai kelelahan.


Saat melihat Huang Tang, ia terkejut. Tidak ada keringat atau pun terlihat nafasnya yang memburu; ia masih sangat normal dan seperti tidak melakukan tindakan fisik apa pun.


Wen Lin merasa, Huang Tang benar-benar layak di sebut monster. Ia kemudian memandang dua pedang bambu di tangannya, kemudian memutarnya semakin kencang dan lebih kencang. Akhirnya terbentuk dua cakra hijau yang berputar-putar di tangannya. Ia lalu melemparkannya.


Huang Tang mengeluarkan satu cincinnya dan pedangnya kemudian bergetar. Setelahnya, aura hitam pekat muncul di pedangnya.


Huang Tang mengangkatnya, kemudian saat dua cakram itu mendekat, ia kemudian mengayunkannya. Dua cakram itu berputar-putar dan Huang Tang berusaha menghancurkannya. Perlahan-lahan, cakram itu melambat dan akhirnya berhenti, kemudian terlihat pedang bambu itu yang mulai hancur.


Huang Tang kemudian berlari dan dalam sekejap muncul di depan Wen Lin, kemudian mengayunkan pedangnya. Wen Lin terkejut dan akhirnya mengeluarkan cincinnya, kemudian bambu-bambu muncul dari dalam tanah guna menghadangnya. Tetapi sia-sia; api hitam muncul dan membakarnya hingga tidak tersisa. Dengan waktu yang singkat itu, Wen Lin kemudian mengeluarkan kemampuan yang lainnya. Dan segera muncul dinding es yang sangat tebal. Tapi, juga tidak bisa menghadangnya. Namun meski begitu, dinding itu mampu menahan sepersekian detik serangan Huang Tang dan memberinya waktu untuk menghindar.


Dinding es itu kemudian hancur dan meleleh. Dan Huang Tang kemudian memalingkan wajahnya setelah serangan itu. Ia kemudian melesat dan mengeluarkan kemampuannya lagi, mengayunkan pedangnya menyerang Wen Lin dan memojokkannya.


Sementara di atas tebing, Xiao Yuna terkejut dan tidak menyangka Wen Lin yang sangat kuat itu kini terlihat tidak ada apa-apanya di depan Huang Tang; ia seolah orang lemah.


“Bagaimana mungkin! Bagaimana mungkin! Wen Lin merupakan kartu AS, tapi mengapa sekarang ia terlihat terpojok? Siapa pria itu! Dan mengapa ia memiliki kekuatan yang sangat kuat? Bukankah hanya satu tingkat?”


Sementara Zhizhu kemudian memandang langit sore dan bergumam, “Ini hanya awal saja.”


Bing jiazhi menyetujuinya. “Mereka masih memiliki banyak waktu untuk bertarung. Aku tidak mau menontonnya.”


Ia pun kemudian pergi dari sana. Selain bertemu kakek Xiao Yuna, ia juga akan pergi ke desa tetangga untuk membalas perbuatan orang-orang yang telah merendahkannya dan menjadikannya seorang budak. Ia berencana akan memotongnya menjadi beberapa bagian dan memberi makan anjing-anjing kelaparan.


Meski Ia memiliki tingkat kultivasi yang tinggi, dengan kemampuan Huang Tang yang sangat mengerikan, satu tebasan itu mampu membuat lukanya tidak beregenerasi lagi, dan ia akan terluka sepanjang pertarungan ini.


Melihat wajah pucat itu, Huang Tang kemudian berkata, “Sudah lama aku tidak membunuh, dan aku tidak ingin lagi mengotori tanganku dengan darah kotor. Sekali lagi, jika kau ingin hidup, biarkan aku pergi.”


“Pergi? Langkahi dulu mayatku! Jika tidak, kau tidak akan bisa pergi!”


“Jika itu yang kau inginkan, maka aku tidak akan menahan diri lagi.”


Huang Tang kemudian mengeluarkan lima cincinnya dan kemudian semuanya langsung di aktifkan. Sementara Wen Lin memejamkan matanya kemudian menghela nafas. Ia tidak bisa menghindari kematiannya saat ini. Tapi, kelak, keturunannya akan membalaskan dan membuat ia tenang di alam kematian nantinya. Ia kemudian berdiri dan mengeluarkan sisa cincinnya. Lalu cincin-cincin itu bercahaya dan menjadi satu cincin yang sangat terang.


“Jika aku mati, maka kau juga akan mati!!”


Cahaya kuning keluar dan dalam sekejap itu, ledakan yang sangat dahsyat muncul, menghancurkan pohon-pohon dan membuat lubang yang sangat dalam di sana. Burung-burung yang sial hancur menjadi debu, dan para rusa berlarian ketakutan. Ledakan itu mampu menimbulkan gempa bumi dan daya hancur yang tinggi.


Sesaat kemudian setelah semua kembali tenang, muncul pancaran air dari dalam lubang itu dan kemudian semakin memenuhinya. Serpihan-serpihan kecil pohon-pohon mengambang di permukaan air. Huang Tang tanpa ekspresi memandang danau yang terbentuk itu. Ia kemudian berbalik dan pergi dari sana.


...----------------...


Mengangkat dupanya tinggi-tinggi dan memejamkan mata, langsung saja angin bertiup dari bawah bukit, membawa kesejukan dari bawah dan kesegaran yang tidak akan pernah orang-orang alami. Asap dupa yang putih itu seperti sebuah naga dan bergelung-gelung kala angin meniup-niupnya. Dari sana, terlihat elang mengambang dan berteriak melengking.


Mata ungu yang cerah itu akhirnya terbuka, dan Xiao Na kemudian memandang ke arah elang yang ada di langit.


Elang itu berputar-putar beberapa saat, kemudian menukik tajam kemudian menghilang dari lebatnya pepohonan.


Xiao Na kemudian teringat dengan bulu burung surga yang telah di berikan ibunya, sebelum akhirnya ia meninggal. Ini adalah bukti jika ayahnya masih hidup, bukan mati. Menyadari itu, Xiao Na bertanya-tanya mengapa ibunya membohonginya. Tanpa bertanya, ibunya mengatakan agar Ia dapat hidup tenang tanpa mempertanyakan kehadiran seorang ayah dalam hidupnya.


Ayahnya masih hidup, tapi tidak tahu di mana berada. Tetapi ia bertanya-tanya, bagaimana sosok ayahnya, apakah ia merupakan orang baik atau bukan. Apakah ia mengecewakan ibunya dan pergi bersama wanita lain?


Puluhan pertanyaan akan muncul ketika ia memikirkannya. Tetapi kembali lagi, jika ibunya sangat memuji ayahnya itu dan tidak pernah terlihat membencinya. Barangkali, ayahnya pergi karena alasan penting dan bahkan Ibunya tidak mengetahuinya.


Ia kemudian mengeluarkannya dan memandang bulu putih halus itu. Sangat lembut, indah dan penuh kehangatan saat tangannya menyentuhnya.


Setelah beberapa saat, tiba-tiba bulu itu bercahaya terang, yang menyilaukan mata dan membuat Xiao Na kesulitan untuk Melihatnya.


Bulu itu kemudian terbang dan melayang-layang di udara. Angin lalu bertiup tiba-tiba dan bulu itu berputar-putar. Setelahnya bulu itu semakin membesar dam membentuk seekor makhluk yang sangat besar. Pertama-tama muncul dua sayapnya, kemudian lehernya, perut dan kakinya. Kemudian ia menghempakkan dua sayapnya kemudian berteriak melengking.


Xiao Na terkejut dan membelalakkan matanya setelah melihat makhluk besar itu. Itu adalah makhluk yang sangat kuat dan mengerikan, yang bahkan hanya beberapa orang yang mampu melawannya. Itu tidak lain adalah burung surga!