
Maka, mereka pun akhirnya mengikuti apa yang di inginkan ibu Xiang We. Masing-masing dari mereka di berikan sebuah kamar untuk beristirahat. Namun, Meski kamar-kamar itu megah dan di depannya ada taman bunga-bunga indah, kamar-kamar itu tentu tidak pernah lagi di rawat dengan baik, sehingga akan terlihat beberapa di sudut-sudut tembok tanaman rambat dengan girangnya tumbuh.
Selain itu, di dalamnya juga tidak jauh berbeda dengan yang ada di luar; atap-atap kamar beberapa sudut dan di tengah-tengahnya terlihat lumut hijau tipis menempel, yang menandakan jika atapnya telah bocor. Beberapa detik jelas terlihat lubang di sana, dan cahaya matahari masuk dengan damai dari sana, memperlihatkan pemandangan yang unik.
Hal dikhawatirkan Bing Jiazhi benar malam itu, hujan perlahan-lahan jatuh dari langit dengan tenang, namun semakin lama hujan itu semakin deras. Perlahan-lahan mulai terdengar suara ketukan dari atap-atap yang bocor. Di luar, angin bertiup cukup kencang, menerbangkan butiran-butiran hujan hingga ke kamar Bing Jiazhi. Ia mampu merasakan bagaimana butiran-butiran kecil hujan menyentuh wajahnya.
Suara ketukan itu samar-samar semakin keras lagi, dan bertambah banyak, sementara di luar, angin kencang di sertai hujan deras terdengar begitu memilukan.
Bing Jiazhi ingin segera menutup jendela, tapi tiba-tiba ia mendengar suara Zhiter dari suara hujan di luar. Ia bertanya-tanya apakah itu adalah ilusi atau memang benar jika ada seorang yang memainkan Zhiter.
Jarak dari satu kamar dengan kamar yang lainnya berjauhan dan di pisahkan oleh tembok. Jika suara itu berasal dari sana mungkinkah akan terdengar dari jarak ini? Di tambah lagi suara itu terdengar nyaring.
Bing Jiazhi mencari-cari, tapi dalam pandangannya tidak ada sosok apa pun yang di lihatnya.
Maka dari itu, ia pun menutup jendela kemudian keluar.
Berjalan beberapa langkah di rumah tua itu, akhirnya ia menemukan sumber suara itu.
Di sebuah tempat dengan kain-kain merah bergelantungan, seorang gadis duduk seraya memainkan Zhiter.
Sosoknya beberapa kali di tutupi oleh kain merah yang berterbangan.
Memakai gaun berwarna merah membuat tubuhnya samar-samar terlihat. Di sampingnya seorang gadis kecil dengan rambut di kepang berdiri memegang sebuah payung. Meski angin bertiup kencang, payung itu seolah tidak terkena dampaknya sama sekali.
Bing mendekat dan berhenti.
Gadis kecil yang ada di sampingnya kemudian menoleh ke arahnya kemudian menyambutnya dengan penuh semangat, “Akhirnya kamu datang.”
Wanita yang memainkan Zhiter kemudian menghentikan jari-jarinya lalu memandang Bing Jiazhi. Di wajahnya yang indah terlihat sedikit senyuman tipis.
“Bing Jiazhi, aku ingin berbicara sebentar denganmu.”
Meski hujan deras menggema, percakapan mereka seolah-olah terdengar tanpa suara hujan, dan pakaian yang mereka kenakan tidak tersentuh sedikit pun oleh air, seperti air yang datang dari atas dan yang mengalir di bawahnya takut menyentuh mereka berdua.
Bing Jiazhi mengambil pedang di punggungnya, lalu mengayunkan ke arah wanita itu.
Tebasan pun keluar dari pedangnya, namun sebelum menyentuh wanita itu, tebasan itu perlahan menghilang. Tentunya itu karena jari-jari kecil wanita itu telah melakukan sesuatu, tapi entah apa yang di lakukannya. Jari-jarinya tidak bergerak memetik Zhiter, ia juga tidak mengubah ekspresinya ketika tebasan itu di layangkan.
Namun, gadis yang ada di sampingnya terlihat sedikit mengerutkan kening, kemudian memandang ke arah tangan kanannya yang sedang memegang payung. Perlahan-lahan dari sana keluar darah merah segar membasahi ganggang payung itu.
Xiao Yun berkata tenang setelah melihatnya, “inikah penyambutanmu?”
Bing Jiazhi mengangguk. Meski ia mempunyai insting dua orang itu tidak akan menyerangnya, ia merasa perlu menguji mereka dan seberapa kuat. Ia berjaga-jaga jika nanti kondisi berbalik tidak menguntungkannya.
Lu Hien kemudian memetik Zhiter dengan pelan. Lalu terdengar suara alunan musik yang indah.
Perlahan-lahan cairan darah yang mengalir berhenti, kemudian mulai memutih dan membeku, setelahnya hancur berkeping-keping seperti menjadi butiran-butiran salju.
Daun-daun yang di bawa bersama angin kemudian berputar-putar di sekitar tubuh Lu Hien membentuk pusaran. Rambut dan gaun yang mereka gunakan berterbangan pelan.
Setelahnya, Lu Hien memetik Zhiter keras ke depan. Daun-daun itu kemudian berterbangan cepat di tiup angin ke arah Bing Jiazhi. Menerjangnya dengan cepat, dan membuat rambut dan beberapa helai pakaiannya berterbangan. Bing Jiazhi masih diam di sana. Ekspresi wajahnya seperti biasa sangat tenang, bahkan, meski ia tahu angin yang membawa daun-daun itu adalah sebuah serangan.
Bing jiazhi kemudian meletakkan kembali pedang di punggungnya. Lalu melambaikan tangannya seperti seorang wanita penari yang melambaikan tangan, dan mengambil sebuah selendang.
Ia mengeluarkan ledakan atom secara diam-diam. Setelahnya, angin perlahan-lahan menghilang dan kembali normal. Meski itu adalah angin, tentunya mereka juga memiliki atom-atom, sehingga tanpa atom-atom itu, mustahil angin itu terbentuk.
Ia kemudian mengambil Pedangnya lalu meletakkan di depan.
Lu Hien memandang Bing Jiazhi meletakkan pedang itu kemudian bertanya, “Mengapa kau meletakkannya?”
“Sangat tidak nyaman untukku menaruh pedang di punggung ketika duduk, juga tidak nyaman tanpa ada pembatas di antara kita.”
Lu Hien sedikit mengerutkan kening. Ia kemudian menaruh Zhiternya di depan setelah beberapa saat berada di pangkuannya.
Satu jarinya yang manis memetik lembut Zhiter tersebut, dan kemudian terdengar suara merdu darinya.
Bing Jiazhi memerhatikan jari-jari wanita itu, kemudian memuji keindahan jari-jarinya yang bersih dan putih. Juga, memuji keahlian bermainnya.
Lu Hien kemudian tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya tinggi ke atas. Perlahan-lahan terlihat gelang giok yang ada di pergelangannya. Lalu terlihat pula lengannya yang putih dan nyaris sempurna.
Saat Bing Jiazhi memperhatikannya, ia lalu berkata dengan nada tenang, “Apa kau puas melihatnya?”
Bing jiazhi tidak menjawab.
“Oleh karena keindahan inilah membuatmu bahagia. Jika kau ingin mendapatkannya, datanglah ke tempatku berada.”
Xiao Yun terkejut lalu memandang Nona mudanya. Jika apa yang nona mudanya katakan benar, maka jika Bing Jiazhi datang ke sekte angin, maka pernikahan akan di gelar dan kejadian itu akan menggemparkan seluruh murid sekte.
Namun, untungnya Bing Jiazhi kemudian menjawab, “Untuk apa aku datang ke sana? Selain itu.... Aku tidak berminat denganmu.”
Tidak ada ekspresi kekecewaan di wajah Lu Hien ketika ia mendengarnya, sebaliknya, ia terlihat gembira saat mendengarnya. Ia pun kemudian memandang Zhiternya, lalu mengusap-usap senarnya dengan lembut, tapi tidak terdengar suara apa pun karena suara hujan. Ia lalu berkata seraya melakukannya, “Jawaban itu yang aku inginkan. Tentu saja, kau tidak akan menghianati dua istrimu itu.”
Bing jiazhi tidak merespon. Ia lalu memandang Lu Hien dengan tatapan datar. Bing jiazhi ingin pergi dari sana, karena tubuhnya sudah terasa dingin dan percikan-percikan air hujan membuat pakaian yang di kenakannya perlahan-lahan menjadi basah.
Namun, Lu Hien kemudian berkata tanpa emosi sedikit pun, “Jika kau berminat hanya untuk berkunjung, maka aku akan menyambutmu di sana.”
...----------------...
Rumah gubernur kota Jiangsu sangat besar dan memiliki beberapa bangunan megah. Pohon-pohon plum berwarna putih seperti pohon awam menghiasi beberapa halaman rumahnya. Musim ini, adalah musim dari bunga-bunga itu bermekaran, namun, beberapa hari ini hujan mengguyur kota setiap malam, membuat tunas-tunas bunga yang akan kembang menjadi busuk dan akhirnya berguguran.
Istrinya sangat senang dan setiap hari duduk menikmati buah-buahan segar seraya memikirkan bagaimana jadinya ia ketika melahirkan di temani bunga-bunga itu, dan membayangkan jika dirinya duduk di kursi kayu yang ada di bawah pohon bunga seraya memandang dan menyusui anaknya itu.
Namun, sekarang mungkin kejadian itu tidak akan pernah terjadi. Beberapa kali dalam sehari itu, ia mengeluarkan darah dan mengeluh perutnya terasa sakit. Tapi ketika pelayannya ingin membawa pergi, ia menolak dengan alasan baik-baik saja.
Istri gubernur itu tidak baik-baik saja, akan tetapi, ia lebih memilih berdiam di rumah dari pada mendengar jika terjadi hal buruk kepada kandungannya.
Chao Ming yang telah mendengarnya, lalu membiarkannya saja, tapi ia memerintahkan para pelayan agar senantiasa mengawasi istrinya itu.
Meng Lin sedang duduk di atas jendela seraya memandang rintikan hujan yang terdengar menyedihkan. Ia memandang tunas-tunas bunga yang satu persatu berguguran.
Ia mulai memikirkan jika tahun ini terasa sangat menyakitkan, yang bahkan bunga-bunga tidak mau bermekaran untuknya.
Ia kembali ingin beranjak pergi, tapi tiba-tiba ia merasa tangannya di pegang halus oleh seseorang. Tapi ketika ia menoleh, tidak ada seorang pun di sana, dan ia hanya sendiri di temani rintikan hujan dan hembusan angin.
Ia lalu akhirnya pergi tanpa memikirkannya, beranjak ke ranjang dan akhirnya menutup mata.
Lilin-lilin yang ada di meja samping ranjangnya, bergoyang-goyang dan akhirnya mati tertiup angin.