
Wajah lembut berwarna cokelat itu sedikit terlihat kedewasaan ketika ia menatap Bing Jiazhi dan yang lainnya. Karena Bing jiazhi tidak berkata, ia pun melanjutkan, “Apakah ini anugerah yang di berikan surga?”
Bing Jiazhi memandang langit emas. Tidak ada lagi cahya matahari di langit, semuanya telah di penuhi warna-warni emas. Burung-burung juga tidak terlihat sama sekali karena salju emas ini sangat tebal.
“Seharusnya ini bukan anugerah.”
Tidak ada seorang pun berpikir jika ini adalah anugerah, namun karena gadis itu hidup miskin, ia menduga butiran-butiran ini telah di jatuhkan untuk menolong orang-orang miskin sepertinya.
Zhu Nan mengerutkan kening ketika menatap langit. Sepanjang ia tumbuh dan berlatih, tidak ada salju seperti ini, bahkan mengharapkannya tidak ada. Di tambah lagi salju ini semakin kuat seiring waktu berjalan.
“Kita harus menanyakannya,” kata kakaknya sambil menatap langit.
Zhu Nan mengangguk.
Bing Jiazhi tiba-tiba merasakan sesuatu yang sangat kuat dari puluhan mil dari tempatnya berada. Zhu Nan dan Zhu Han tidak akan merasakan ini, karena mereka lebih lemah dari Bing Jiazhi. Sesuatu yang datang bukan monster, tapi seseorang.
“kakak senior, kalian keluar lebih dulu, aku masih ada urusan sebentar.”
“Kau mau ke mana!?” seru zhu Nan. Tetapi Bing Jiazhi tidak mendengarnya, karena ia telah pergi dengan cepat.
...----------------...
Seorang pria memakai jubah keluar ketika Bing Jiazhi mendarat di tanah. Seluruh tubuhnya di balut dengan jubah panjang dan besar, bahkan wajahnya hanya terlihat bibirnya di penuhi kumis panjang yang menyeramkan. Memakai topi capil dan memiliki tubuh yang kekar, pria itu terlihat sangat misterius. Tapi, tidak ada yang tidak mengetahui tato naga yang ada di lengan kanannya, yang membuat ia seperti seorang penjahat.
Setelah Bing Jiazhi berada di depannya, ia tersenyum menyeringai, memperlihatkan senyuman seorang penjahat. Kumisnya tampak lebih menyeramkan.
Berdiri beberapa meter jauhnya, Bing Jiazhi merasa aura kematian dan kegelapan peka dari pria itu. Ia telah mengetahui pria ini ketika mengunjungi Sekte Bambu, tapi tidak pernah menyangka jika auranya tambah lebih kuat dari sebelumnya. Ia juga memikirkan, seberapa banyak orang-orang yang telah di bunuh oleh pria di depannya ini, hingga memiliki aura seperti ini.
Pria itu membawa pedang besar panjang di punggungnya. Ia mengambilnya. “Ketika bertemu denganku, tidak akan ada seseorang yang berhasil lolos, kecuali pergi ke neraka.” Nada Pria itu sangat keras dan menggema.
Bing Jiazhi sering bertemu dengan orang-orang seperti ini, sehingga ia tampak tenang dan tidak terlihat takut dengan ancaman pria itu.
Ia juga telah memprediksi kedatangan pria ini, sehingga rencana telah di persiapkan untuk melawannya. Walaupun pria di depannya lebih kuat dari Zhizhu, ia telah mengumpulkan semua kekuatannya. Dan jika nanti ia tidak bisa membunuhnya, setidaknya ia bisa melarikan diri.
Alasan ia tidak melibatkan kakak-kakak seniornya, itu tidak lain karena ia takut, kakak seniornya tidak bisa melarikan diri dan menjadi bebannya. Lagi pula, yang menjadi targetnya hanya Bing Jiazhi, membahayakan orang lain tidak baik baginya.
Pria itu mengeluarkan lima cincin di dahinya. Seperti biasa, tekanan yang sangat kuat mampu mempengaruhi gravitasi di sekitarnya. Ia setara dengan ketua yang pernah Bing Jiazhi lawan sebelumnya.
Cahaya ungu muncul dan mendarat di tangannya. Pria itu mengambil ancang-ancang. Ia menggenggam pedangnya dengan kedua tangan. Kemudian berlari ke depan dengan sangat cepat. Pedangnya ia seret, membentuk garis-garis di tanah.
Setelah lima langkah di depan Bing Jiazhi, ia melompat, bersamaan dengan itu mengangkat pedangnya di atas kepala.
Bommm!!!!
Bing Jiazhi melangkah mundur untuk menghindarinya, tetapi pria itu bergerak maju dan melayangkan beberapa ayunan pedang.
Sehingga mau tidak mau Bing Jiazhi menggunakan pedangnya. Namun, sekali pria itu melakukan tebasan, tangan Bing Jiazhi keram dan bergetar. Rasa sakit muncul di pergelangan tangannya. Ia tidak punya pilihan lain selain berusaha se-sedikit mungkin melakukan kontak dengan pedang itu.
Beberapa detik berlalu, pria itu tersenyum menyeringai, dan pedangnya di penuhi cahaya ungu gelap. Ia kemudian berteriak, “Kau tidak akan bisa mengalahkanku!”
Ia lalu mengayunkan pedangnya ke arah Bing Jiazhi. Dengan cepat, pemuda itu menggunakan pedangnya. Tetapi itu tidak mempan sama sekali. Cahaya ungu itu mampu membuat Bing Jiazhi mundur beberapa langkah ke belakang.
Ia merasa punggungnya sangat sakit dan kedua tangannya gemetaran. Ia tidak punya pilihan lain lagi selain mengeluarkan tiga cincinnya.
Pria itu sedikit terkejut dengan kekuatan Bing Jiazhi, tetapi sekalipun pemuda itu memiliki tiga cincin, ia cukup sulit untuk bisa mengalahkannya.
“Kau sangat berbakat.” Pujinya.
Bing Jiazhi mengangguk, kemudian berlari dengan cepat. Kecepatan saat ini lebih cepat dari sebelumnya.
Dalam hitungan detik, ia sudah tiba di depan pria itu. Ketika pria itu mengayunkan pedangnya ke samping, tiba-tiba Bing jiazhi berubah menjadi lima orang, yang mana mereka mengelilingi pria itu.
Pria itu menjadi waspada. Ia tahu ini adalah ilusi atau semacamnya. Hanya ada satu yang asli di antara mereka. Ia tidak dapat berpikir jernih. Maka dari itu ia mengayunkan pedangnya dengan asal.
Tapi semua bayangan Bing Jiazhi mampu menghindarinya.
Setelah semua ayunan, salah satu di antara mereka melesat dan mengayunkan pedangnya. Pria itu mampu menahannya. Lalu yang lainnya menyerang dari berbagai arah.
Tentu saja pria itu tidak akan mampu melawan semua serangannya. Maka, ia pun mengeluarkan satu cincinnya lagi. Kemudian mengayunkan pedangnya. Lingkaran ungu muncul dan membesar di sekitarnya.
Satu Bing Jiazhi menghilang dan beberapa mampu menghindar.
Pria itu tidak punya banyak waktu untuk melawan semua bayangan ini. Ia dengan cepat mengeluarkan tebasan-tebasan cahaya ungu. Hingga pada akhirnya hanya tersisa satu orang, yang tidak lain adalah Bing Jiazhi yang asli.
Pria itu merasa gembira, akhirnya ia menemukan yang asli, tapi kejadian tadi mampu menguras tenaganya. Ia telah bernafas lebih cepat dan di penuhi keringat.
“Sekarang aku harus mengirimmu ke neraka.”
Pria itu berlari dan satu lagi cincin muncul. Ia mengayunkan pedangnya. Aura ungu berbentuk serigala muncul dan menghancurkan pohon-pohon yang ada dan meledak.
Pria itu tersenyum. Akhirnya ia telah menyelesaikan tugasnya. Tapi setelah asap menghilang, wajahnya di penuhi keterkejutan. Ia tidak menemukan mayat di sana, yang berarti, musuhnya masih hidup. Di mana dia?
Pria itu berbalik setelah merasakan kekuatan yang kuat.
Di belakangnya, Bing Jiazhi berdiri memegang pedang kemalangan musim semi yang bercahaya hijau. Dengan wajah dingin dan tatapan kosong berkata, “Maaf, aku tidak mudah di kalahkan begitu saja oleh orang bodoh sepertimu.”