Alam Mandala

Alam Mandala
Sesi kedua



Lan qiu’er terus melakukan serangan-serangan untuk mematahkan hubungan otak dengan titik-titik penting di tubuh Bing Jiazhi. Ia mencoba menyerang kaki, mata, pergelangan tangan. Tetapi tidak satu pun yang bisa menembus pertahanan Bing Jiazhi.


Melihat ini, semua siswa terlihat sangat serius. Mereka mulai mengagumi Bing Jiazhi dan menganggap apa yang di katakan sebelumnya ada benarnya.


Tetapi banyak juga yang menganggap ini sebagai keberuntungan, di antaranya Xiang Guang salah satunya.


Liang Ting’er sedikit mengerutkan alisnya untuk menganalisis kecerdasan Bing Jiazhi. Wanita itu menatap dengan tenang di atas kursi, tetapi pikirannya bekerja sangat keras. Ia kemudian memejamkan matanya dan menghela nafas.


Qiu qiu yang ada di sampingnya sudah memperhatikannya sejak tadi dan bertanya apa yang membuat Liang Ting’er menghela nafas.


“Pemuda itu ternyata sangat berbakat. Ia mampu mengetahui berbagai gerakan yang di lakukan Lan qiu’er sebelum melakukannya. Ia seperti peramal dari segala peramal. Aku tidak mengerti bagaimana bisa ada seseorang seperti itu tidak terkenal. Jika saja ia menjadi muridku, mungkin aku akan mendapatkan beberapa terobosan di masa depan.”


Liang Ting’er kemudian mengambil cangkir yang berisi air dan meneguknya dengan anggun. “Sebagai salah satu tetua di sini, aku malu tidak mengetahui ini.”


Liang Ting’er kemudian berdiri, ia memberi hormat kepada Gado Feng dan yang lainnya, lalu pergi.


Gado Feng mengerti apa yang terjadi dan memberikannya.


Tepat saat Liang Ting’er pergi, Lan qiu’er menghentikan serangannya. Pertahanan Bing Jiazhi sangat kuat, bahkan hanya memakai pedang kayu polos seperti itu.


Ia menghela nafas dan menggelengkan kepalanya pasrah. Betapa pun ia melakukan serangan, tidak ada yang bisa menembus pertahanan kuat Bing Jiazhi. “Aku kalah.”


Gadis itu kemudian pergi dari sana dengan menundukkan kepalanya, menandakan kekalahannya.


Semuanya terkejut! Salah satu siswa menyerah setelah bertarung dan itu adalah salah satu orang yang memiliki ketrampilan, bagaimana dengan diri mereka?


Xiang Guang menggertakkan gigi dan maju ke arena.


Kakaknya ingin sekali menghentikan tindakan bodoh itu, tetapi apa daya, kebencian di dalam hatinya sangat besar, sehingga Xiang Li menyalurkan beberapa kekuatan untuk membantunya melawan Bing Jiazhi dan juga beberapa cara untuk menang.


Ketika Pria muda itu berhenti tidak jauh dari Bing Jiazhi, mereka sama-sama saling pandang dan kedua tatapan itu sangat dingin dan penuh intimidasi. Mereka berdua menatap penuh dendam.


Wajah Xiang Guang di penuhi kerutan-kerutan kemarahan, ia menggertakkan giginya dengan keras, bahkan sampai berbunyi kecil, dan matanya melebar dan tajam, seolah ingin sekali menusuk mata Bing Jiazhi dan membuatnya tidak pernah melihat lagi. Ia kemudian tersenyum menyeringai dan meremehkan Bing Jiazhi. “Sampah, kau pasti melakukan trik-trik curang untuk mengalahkan gadis itu!”


Semua orang yang mendengar apa yang di katakan Xiang Guang terkejut dan baru menyadari mungkin saja ada benarnya.


Bing Jiazhi bertarung tanpa mengeluarkan cincin-cincin Mandala, mustahil pertarungan itu di lakukan tanpanya, apalagi yang di lawanya adalah orang yang memiliki dua cincin. Itu sudah aneh.


Lan Qiu’er terkejut dan baru memikirkan itu. Tetapi semuanya sudah terlambat, ia sudah mengaku kalah, dan lagi pula itu belum tentu.


Di Benua rumput biru, ada banyak tumbuhan-tumbuhan herbal untuk melakukan berbagai penyembuhan, tentu juga ada beberapa tanaman-tanaman yang di gunakan untuk meningkatkan kekuatan dengan cepat, namun ada bayaran yang sama dengan apa yang di dapatkan.


Walaupun Xiang Guang berkata seperti itu, Wajah Bing Jiazhi tetap tenang dan berkata, “Kau yang melakukannya.”


Xiang Guang terkejut. Sebelumnya ia sudah meminta bantuan diam-diam kepada kakaknya untuk menyalurkan sedikit kekuatannya untuk melawan Bing Jiazhi. Tidak di sangka Bing Jiazhi mengetahuinya, atau mungkin hanya menebaknya.


“Orang sepertimu harus aku lawan dengan cara seperti ini.”


Xiang Guang menarik pedangnya, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi. Dua cincin Mandala muncul seiring dering yang keras. Xiang Guang akan menggunakan teknik gabungan.


Tepat suara guntur ketiga, hujan perlahan-lahan mulai turun. Tapi, tetesan-tetesan hujan tidak langsung turun, melainkan berdiam di langit dan saling menyatu membentuk gunung es besar yang sangat tajam dengan tajamannya mengarah ke arah Bing Jiazhi.


“Ini setara dengan kekuatan tingkat ahli!” Salah satu siswa berseru.


Gunung es runcing membentuk segitiga itu memiliki tekanan yang sangat mengerikan.


“Bagaimana mungkin!?”


Keributan pun pecah di antara para siswa, mereka menatap tidak percaya dengan apa yang ada di atas mereka sekarang. Menatap dengan mulut terbuka dan terbengong-bengong.


Qiu qiu dengan tenang menyesap tehnya. Ketika ia menaruhnya, ia berkata sembari menatap gunung es di udara, “Keluarga bangsawan memang selalu memperlihatkan hal-hal yang tidak terduga. Betapa pun kau memperlihatkan kekuatanmu, orang-orang tidak akan pernah percaya dengan kemampuanmu sendiri. Sungguh tidak berguna.”


Dari kejauhan, di sebuah rumah, Bai Shia dan Xiao Ning’er menatap gunung es dengan wajah tanpa percaya.


“Apakah ini mimpi? Bukan, ini bukan mimpi, siapa yang memiliki kekuatan seperti itu di sekte selain para ketua? Itu bukan Huang Shu, ‘kan? Sungguh mengagumkan...”


Bai Shia mengerutkan kening. “Bukan dia, dia tidak mungkin memiliki kekuatan seperti ini.”


“Lalu siapa?”


...----------------...


“Matilah!”


Xiang Guang berteriak dan mengayunkan pedangnya ke depan. Bersamaan dengan itu, perlahan-lahan gunung es dengan panjang 30 meter itu mulai bergerak.


Deru angin mulai menerpa tubuh Bing Jiazhi. Udara dingin mulai membekukan di sekitarnya, dan tekanan mulai semakin mencekam dan terus bertambah.


Xiao Na di penuhi khawatir melihat serangan itu. Ia memejamkan matanya dan terus berdoa.


Bing Jiazhi tampaknya tidak akan menghindari serangan Xiang Guang kali ini. Wajahnya pun mulai di penuhi keseriusan dan dengan tenang mengangkat pedang kemalangan di musim semi di wajahnya dan memejamkan matanya.


Ia tiba-tiba mendengar suara air mengalir yang tenang, hempakan kupu-kupu berterbangan, suara bunga-bunga yang mulai bermekaran.


Tiba-tiba ia membuka matanya dan mengayunkan pedangnya ke arah serangan itu.


Cahaya hijau muncul dari pedangnya dan bercahaya terang ketika bersentuhan dengan es itu. Angin kencang terus-menerus berhembus di sekitar.


Para siswa ada tidak mampu berdiri dan ada beberapa yang tidak mampu melihat.


Namun, beberapa detik kemudian, mereka pun akhirnya melihat dengan jelas. Hal yang mengejutkan pun terjadi di hadapan mereka. Tidak ada apa pun yang hancur, hanya butiran-butiran es berserakan di lantai. Bing Jiazhi masih berdiri tegak, dan tidak ada yang terluka, bahkan sikapnya pun masih sama seperti sebelumnya. Sementara Xiang Guang menatapnya dengan tidak percaya, sama seperti para murid, bagaimana bisa dia melakukan itu?


Apa yang dia lakukan?


Semuanya di penuhi keterkejutan, dan tidak pernah menyangka jika Bing Jiazhi bisa melakukannya tanpa terluka sedikit pun.


Tetapi berbeda di antara para tetua, Shui Liu mengerutkan kening dan dengan terpaksa harus mengakui, “Sampah ini mempunyai pedang yang luar biasa, dan pedang itu terbuat dari kayu. Siapa di negeri ini yang mempunyai kemampuan yang begitu hebat? Hah.... Aku menyesal telah menghinanya beberapa bulan sebelumnya. Dalam sekejap, dia menjadi sangat kuat dan berbakat, serta bertemu dengan master pembuat senjata, benar-benar membuat iri.”