Alam Mandala

Alam Mandala
Tiga huruf



Sheng Shu kemudian berjalan ke tengah lapangan untuk melukis. Semua orang memandang serius setiap detik gerakan gadis itu. Tentunya, mereka semua tahu siapa yang ada di arena sekarang, dan mereka tidak mau melewatkan sedetik pun dari gerakan yang di lakukannya, bahkan berjalan saja.


Sheng Shu mengeluarkan sebuah kertas, kemudian mengambil sebuah kuas dari balik gaunnya.


Ia kemudian mengaris sesuatu di kertas itu. Tidak butuh waktu lama, akhirnya ia berhenti dan menyelesaikan goresannya.


Semua orang sangat penasaran dengan apa yang di buat Sheng Shu dengan sebuah kuas dengan tinta hitam itu.


Namun, mereka harus kecewa ketika Sheng Shu memberi hormat kemudian melompat dan kembali ke sisi Bing Jiazhi. Ia kemudian menyerahkan kertas yang telah di bawanya.


Bing Jiazhi memandangnya sekilas, lalu mengangguk. “Kau memang memiliki bakat dalam melukis.”


“Apa yang kau mengerti dari tiga huruf yang ada di sana?” Sheng Shu bertanya tenang.


Ia hanya menulis tiga aksara dalam kertas putih itu, dan itu tidak mungkin memiliki seni dalam melukis. Semua huruf yang ada di sana terlalu biasa untuk di sebut sebuah seni.


Bing Jiazhi tidak menjawabnya, sebaliknya ia menyampaikan untuk pergi.


Sheng Shu memberikannya. Tidak jauh berjalan, ia memandang kedua pergelangan tangan Bing Jiazhi. Ia tersenyum, kemudian berbalik dan akhirnya menghilang.


Tidak ada yang bisa menghentikan pergerakan Sheng Shu. Mereka semua hanya bisa penasaran dengan apa yang di lukisnya dan mengapa hanya di berikan kepada pria itu. Apakah ada hubungan erat antara Sheng Shu dengannya? Semua orang bertanya-tanya seperti itu, kecuali Liang Ting’er, ia sudah mengetahui siapa orang itu.


Ia kemudian berdiri dan berjalan keluar tanpa berkata. Orang-orang hanya memandangnya. Suasananya begitu hening ketika kejadian ini terjadi, namun tidak lama setelahnya mereka mulai berbisik-bisik, ada juga yang berbicara terang-terangan tentang hal ini.


Sementara itu, perlombaan terus berjalan, namun tentunya orang-orang tidak se-semangat sebelumnya, akan tetapi mereka tetap melanjutkan siapa yang akan menang, meski mereka tahu pemenangnya akan sulit di tentukan di karenakan Lan Se Se, juri dari perlombaan ini tidak ada.


...----------------...


Setelah keluar dari area perlombaan, Bing Jiazhi berhenti di depan gerbang keluar. Zhizhu ikut berhenti di sampingnya. Ia kemudian memandang Bing Jiazhi dan menayangkan apa yang membuatnya berhenti.


“Seseorang datang.”


Zhizhu kemudian sedikit menarik pedangnya dan bersikap waspada. Dengan rambut pendeknya yang sesekali terangkat dan wajah dinginnya yang cantik, ia terlihat sangat menawan.


Sesuai yang di katakan Bing Jiazhi, beberapa saat kemudian muncul pusaran angin di depannya. Perlahan-lahan kaki seorang wanita muncul dari dalamnya. Kemudian tangan dan tubuhnya. Seorang wanita berpakaian biru muncul dari sana dan segera pusaran itu menghilang. Ia tidak lain adalah Liang Ting’er.


...----------------...


Ia menatap Bing Jiazhi dengan tatapan tajam dan di saat bersamaan memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap pemuda itu.


Tatapan yang tenang dan penuh keberanian selalu saja menghiasi wajah Bing Jiazhi, yang bahkan sulit sekali di temukan dari orang lain.


Zhizhu yang ada di sampingnya telah menarik pedang dan kilauan yang memukau terpancar. Pedang itu sangat putih dan berkilau. Orang-orang akan bertanya-tanya seberapa tajam dan kuat Pedang itu.


Liang Ting’er tidak mempedulikan sikap Zhizhu, ia fokus kepada Bing Jiazhi dan mengutarakan niatnya datang. “Apa kau tidak ingin mengetahui keadaan istrimu, anak muda?”


Bing Jiazhi tetap tenang dalam keadaan seperti itu. Dan wajahnya tidak terlihat ketertarikan sedikit pun atas apa yang di sampaikan oleh Liang Ting’er.


Tapi, Zhizhu terlihat terkejut dan sangat tertarik dengan apa yang di katakan Liang Ting’er. Ia kemudian memandang kedua pergelangan tangan Bing Jiazhi kemudian mengerti.


“Hubungan di antara kami sudah tidak ada lagi,” jawab Bing Jiazhi dingin.


“Apa benar begitu?” tanya Liang Ting’er meyakinkan.


Bing Jiazhi mengangguk.


“Ia selalu merawatmu ketika kau berada di sekte bambu, merupakan suatu kejahatan jika kau tidak membalas kebaikannya.”


Bing Jiazhi terlihat tidak tertarik dengan apa yang terjadi kepada Huang Shu, jadi ia berkata, “Kau benar, tapi aku telah membalasnya dengan cara lain. Kami sudah saling membayar, jadi hal ini tidak perlu di lanjutkan lagi. Nenek tua, jika tidak ada lagi, aku harus pergi.”


Bing Jiazhi kemudian berjalan, tetapi Liang Ting’er menghadangnya dengan melentangkan tangan.


Di panggil nenek tua, ia tidak merasa marah, hanya saja ia melakukan ini untuk mengetahui kekuatan yang di miliki Bing Jiazhi. Jika ia tidak mampu membawanya ke sekte, setidaknya ia bisa mengobati rasa penasaran di dalam hatinya.


Energi alam Mandala perlahan-lahan menyebar dari tubuh Liang Ting’er dan membuat debu-debu di udara dalam kekacauan.


Enam cincin Mandala muncul dan bersinar di dahinya bersamaan dengan tekanan yang sangat kuat.


Jika Zhizhu dan Bing Jiazhi bersatu melawannya, kemungkinan besar mereka akan mampu mengalahkannya, akan tetapi ketika Zhizhu hendak melangkah ke depan dan mengeluarkan cincin Mandalanya, ia di hentikan oleh Bing Jiazhi.


Zhizhu mengerutkan kening dan bertanya kepada Bing Jiazhi dengan nada sedikit marah, “Mengapa kau menghentikanku?”


“Ia hanya ingin bertarung denganku.”


“Lalu, apa aku tidak boleh ikut campur?” Zhizhu bertanya kesal.


“Dia tidak akan senang jika kau ikut dan lagi pula, dia tidak akan berani melukaiku.”


Zhizhu kemudian memasukkan kembali pedangnya dengan cepat dan suara mendesis mengikutinya. “Hmp! Aku ingin lihat apa kata-katamu benar adanya.”


Zhizhu kemudian berbalik dan melompat ke atas gerbang. Ia mendengus dan wajahnya cemberut. Ia kemudian bersila dan menyilangkan kedua tangannya sembari melihat pertunjukan yang akan muncul. “Adik Junior terlalu sombong, berhati-hati lah, karena itu mungkin saja akan membawamu dalam bahaya.”


Bing Jiazhi kemudian mengeluarkan tiga cincinnya dan auranya beradu dengan aura Liang Ting’er. Namun, karena perbedaan kekuatan, aura Bing Jiazhi langsung menghilang ketika bersentuhan.


Wajah Liang Ting’er sangat dingin dan beberapa helai rambutnya berayun. Ia tidak memperkirakan jika lawannya memiliki aura dan kekuatan tingkat empat dalam beberapa hari tidak bertemu. Itu sangat mengagetkannya, tapi juga membuatnya sangat bersemangat untuk melanjutkan pertarungan.


Selain itu, ia juga terkejut setelah melihat aliran inti Mandala Bing Jiazhi yang sangat tenang bagaikan danau tanpa angin, yang menandakan jika Bing Jiazhi saat ini masih sangat tenang. Melihatnya membuat ia berpikir, apakah pemuda hadapannya memiliki semacam kartu atau kekuatan rahasia.


Satu cincin di lepaskan. Kedua mata Liang Ting’er berubah membiru dan terlihat lebih seram dari sebelumnya. Kemudian cincin kedua di lepaskan. Sebuah pedang panjang muncul di tangannya.


“Anak muda, berhati-hatilah,” seru Liang Ting’er dan berlari ke depan.


Sementara itu, Bing Jiazhi mengeluarkan dua cincinnya. Itu adalah kecepatan dan teleportasi.


Ia mengambil pedang di punggungnya kemudian berlari ke depan.


Meski kecepatan yang di miliki Bing Jiazhi sangat cepat, Liang Ting’er masih mampu mengikuti pergerakannya. Sehingga, meski itu sangat cepat, di matanya itu terlihat lambat.


Setelah memprediksi pergerakan Bing jiazhi, Liang Ting’er mengayunkan pedangnya ke samping ingin membelah tubuh Bing Jiazhi.


Bing Jiazhi cepat menghilang menggunakan teleportasi, kemudian muncul beberapa meter dari Liang Ting’er. Wajahnya masih tenang, tapi tatapannya lebih tajam dari sebelumnya.


“Anak muda... Kenapa kau mundur?” Liang Ting’er tidak bisa menahan untuk bertanya.


“Karena aku menginginkannya.”


Bing Jiazhi kemudian berjalan setelah mengatakan itu. Ia kemudian berlari cepat menuju Liang Ting’er lagi.