
“i-iya, jiu jiu salah karena ingin mengungkapkan masalah nona kepada tuan Shui Liu.”
“Kau mengerti juga. Tolong ya... Jika kau melakukannya nanti, aku tidak akan berbelas kasih, Nona cantik jelita...” Huang Shu tersenyum dan menjewer pipi Jiu jiu. Ia tidak ingin melewati ekspresi wajah Jiu jiu seperti anak kecil yang di marahi.
“Apakah nona tidak marah?” Tanya jiu jiu hati-hati.
“Apa kau ingin aku marah?”
“Ah, tidak nona. Jiu jiu akan sangat senang jika Nona tidak marah. Akan senang lagi jika Nona bahagia.”
“ya.. Nona manis, aku tidak akan marah. Aku memerintahkan ini, ada sesuatu yang ingin aku katakan. Ini sangat rahasia... Jika nona jiu jiu mengatakannya kepada orang lain, maka...” Huang Shu memandang pas bunga yang ada di meja.
Sesaat kemudian, kelopak-kelopak bunganya berterbangan dan berguguran.
Jiu jiu menelan ludah. “Jiu jiu tidak akan berani melakukannya. Janji...”
Huang Shu tertawa lepas. Wajahnya sangat bahagia seperti ia kembali ke masa mudanya.
Jiu jiu baru pertama kalinya setelah begitu lama bersama Nonanya seperti ini. Ada rasa lega dan senang ketika ia melihatnya, membuat rasa takutnya menghilang. Aura kedamaian menyebar dari tubuh Huang Shu. Andai ia setiap hari seperti ini, maka Jiu jiu akan sangat menyukainya.
Melihatnya membuat jiu jiu tersenyum.
Namun kemudian Huang Shu terdiam. “Bing jiazhi masih hidup.”
“Hi-hidup?!” jiu jiu terkejut mendengar ucapan tiba-tiba itu. “Itu sangat bagus, kita bisa kumpul kembali seperti sebelumnya!”
“Nona benar, tapi aku tidak tahu di mana dia sekarang. Aku ingin Nona mencarinya selagi aku menekan penyakitku.”
“Nona, kita akan mengerahkan semuanya untuk mencarinya. Ketua sekte pasti akan membantu anda untuk mencarinya, sehingga nona tidak perlu pergi ke daerah utara.”
“Mereka tidak mau melakukannya. Aku sudah bertanya kepada guruku. Mereka tidak percaya dengan apa yang aku katakan.”
“kita harus meyakinkan mereka Nona.”
“Kita harus memiliki rencana.”
“Benar.”
...----------------...
Di langit sore dengan cahaya orange, sekumpulan burung-burung berterbangan dan bersuara merdu seolah mengumumkan waktu istirahat.
Huang Shu berada di bawah rerumpunan Bambu. Berdiri di sana menatap ke bawah yang di penuhi penerangan sederhana di sisi-sisi undakan.
Beberapa helai daun bambu hijau berjatuhan di tiup angin. Ada yang bergerak memutar; ada juga yang berayun.
Ia berdiri di sana tanpa ekspresi sembari memegang lampion.
Huang Shu kemudian mengangkat wajahnya, menatap bulan yang di kelilingi bintang-bintang.
Ia menghela nafas. “ maafkan aku... Jiu jiu.”
Rasa bersalah bersemayam di hatinya ketika ia berbohong kepada jiu jiu, mengenai rencana yang ia susun untuk menyakinkan ketua sekte dan yang lainnya. Ia tidak akan melakukan rencana itu karena semua orang tahu, jika tidak akan ada yang selamat di jurang itu, meski ia memiliki kultivasi yang tinggi.
Bahkan ia juga berbohong mengenai Bing jiazhi. Ia sebenarnya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Ia hanya merasakan jika ia masih hidup dan tidak terlalu yakin mengenai itu.
Tidak lama kemudian, seorang berjalan menuju ke arahnya.
Ia adalah seorang gadis cantik berpakaian hijau, sama-sama membawa lampion. Ketika ia melihat Huang Shu, tiba-tiba ia berbalik dan ingin pergi. Tetapi Huang Shu menghentikannya dan ia mendekatinya.
“Kakak senior... Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk mencelakai kakak Bing.” Ujar Xiao Na dengan ekspresi sedih setelah berbalik menatap Huang Shu.
“Aku tahu. Aku hanya ingin bertanya, mengapa kau datang pada malam hari seperti ini?”
...----------------...
Setelah Xiao Na memberi bunga dan sesajen, ia mencakupkan kedua telapak tangannya, kemudian berdoa.
Huang Shu berada tidak jauh darinya, kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah pemandangan lembah yang sangat luas dan dingin.
Tidak lama setelahnya, Xiao Na berjalan mendekatinya dan diam di samping Huang Shu yang menatap bintang-bintang dan pemandangan indah.
“Kakak senior, maafkan aku.”
“Aku sudah memaafkanmu. Itu musibah.”
“T-terima kasih.”
“Siapa ayahmu?”
Ketika Huang Shu berkata seperti itu, Xiao terdiam sebentar dan terlihat murung. “ Aku tidak mengenal ayahku. Dia meninggalkanku ketika aku masih di dalam kandungan. Katanya, ia adalah orang yang hebat, kuat dan bertalenta. Ibuku selalu membicarakan ini setiap kali aku menanyakannya.”
“Kita sama.”
“Apakah kakak senior juga....”
“Ya. Ayahku juga sudah meninggalkanku.”
“Kita sama-sama di tinggalkan.”
“Kau benar.
...----------------...
Dari balik jendela, angin bertiup lembut.
Xue Ni memandang bisu Bing jiazhi yang sedang tertidur. Tatapan matanya lambat, dan di penuhi berbagai peristiwa yang terjadi di masa lalu.
Ia menghela nafas dan menutup jendela. Kemudian pergi dari sana.
Saat ia keluar, neneknya berada di meja, duduk sembari membawa pot arak dan menuangkannya.
Ia adalah neneknya yang bernama Xue Hei Mei.
Xue Ni mendekatinya dan duduk. Mengambil satu cangkir yang berisi arak, meneguknya dan berkata, “Entah mengapa aku malam ini merasa sangat menyayangi pemuda ini. Rasa kasih sayang seorang ibu muncul lagi di dalam diriku. Bagaimana pendapatmu tentang ini, Nenek?”
Hei Mei menuangkan arak kembali. “Rasa kehilangan terhadap anakmu Sheng Shu masih membekas di hatimu, atau mungkin kau menyukai pemuda ini.”
Xue Ni menggoyang-goyangkan cangkir yang berisi arak dan memandanginya sembari bertumpu dengan tangannya. “Aku tidak pernah berharap peristiwa itu akan terjadi. Cinta pertamaku meninggalkanku, bahkan termasuk anakku sendiri. Aku tidak akan pernah melupakan itu. Suatu hari nanti, aku akan merebut anakku kembali dan membunuh istriku.”
“Apakah pernikahan sesama jenis tidak ada yang menyandang gelar suami?”
“Akulah suaminya dan termasuk istri. Aku telah melahirkan anak dan mengasuhnya. Sementara dia, hanya menikmati keindahan cinta sesama jenis dan meninggalkanku ketika sudah merasa bosan.”
“Apakah kau menyukai kehidupanmu sekarang?”
Xue Ni meneguk arak. “Aku merasa damai dan tenang, walaupun aku harus mendidik pemuda ini.”
“Apakah kau tidak merindukan suamimu dan anakmu?”
Setelah Xue Ni di tinggal wanita itu, Hei Mei ingat, jika ia menikah lagi dan memiliki seorang anak. Tetapi mereka berada di tempat yang jauh. Entah apa alasannya, Xue Ni berada jauh dari keluarganya.
“Tidak. Aku merasa mereka selalu dekat denganku.”
“Apakah kau tidak benar-benar menyukai pemuda ini?”
“Aku sudah menikah dan memiliki sebuah keluarga yang lengkap, itu sudah cukup bagiku.”
“Jika nanti suamimu meninggalkanmu?”
“Dia tidak akan berani. Kami saling terhubung di dimensi yang berbeda. Aku sangat yakin, jika dia sangat setia.”
“Mengenai Sheng Shu, kau harus cepat menanganinya.”
Xue Ni mengangguk. “Dia adalah anak yang unik, aku harus melakukan secepat yang aku bisa.”