Alam Mandala

Alam Mandala
Dunia kabut



Xiang we tersenyum misterius, membuat dua orang yang ada di depannya bertanya-tanya apa maksudnya itu. Namun, mereka tidak bisa menanyakannya, ketika salah satu penduduk berteriak dari luar mengisyaratkan ada penjahat.


Kedua orang berpakaian hitam itu kemudian memandang jendela yang terbuka. Dari sana, terlihat orang-orang mulai berkerumunan memandang mereka dan ada beberapa bergegas masuk ke dalam.


Seorang wanita dari dua orang itu kemudian memandang Xiang we dengan tatapan kebencian. Ia kemudian memerintahkan rekannya untuk berlari.


Orang itu mengangguk kemudian keluar. Setelahnya terdengar teriakan-teriakan orang-orang.


“Dalam keadaan seperti ini, nyawamu belum selamat,” kata wanita itu.


Ekspresi Xiang We lebih serius, tapi ia tetap bertanya dengan tenang, “Kau telah mendapatkan Gulungan itu, tapi tidak melepaskanku, apakah penjahat sejahat itu?” perlahan-lahan Xiang We mundur mendekati meja.


“Aku bukan orang seperti kakakku yang bodoh itu.” Wanita itu perlahan-lahan berjalan dan memegang pedang.


“Oh, ternyata orang yang masuk jebakanku adalah kakakmu, sayang sekali kau memiliki kakak sebodoh itu. Aku turut prihatin denganmu.”


“Maaf, aku tidak memerlukan perhatianmu.” Ujar wanita itu, kemudian berlari ke depan.


Xiang We dengan cepat mengambil vas bunga di meja dan melemparkannya.


Hanya membutuhkan satu ayunan saja, vas bunga itu telah terbelah menjadi dua. Sementara bunga-bunganya bertebaran.


Xiang We kemudian berlari, kemudian mengambil vas-vas bunga lalu melemparkannya. Akan tetapi semua itu hanya memperlambat pergerakan wanita itu.


“Apa itu saja?” Tanya wanita itu semakin mendekati Xiang We yang telah terdesak. Ia perlahan-lahan mundur, tapi wajahnya berusaha tetap tenang untuk berpikir, walaupun tubuhnya telah mengeluarkan keringat dingin. Dan akhirnya ia tidak bisa mundur lagi.


“Ini untuk kematian kakakku.”


“Ternyata kau datang hanya untuk membunuhku, bukan?”


“Benar.”


Wanita itu dengan tatapan tajam bergerak maju, kemudian dada kiri Xiang We tertusuk pedang. Namun itu tidak terlalu patal, karena jauh dari jantung.


Merasa kesal, wanita itu kemudian mengarahkan telapak tangannya ke dada kanan Xiang We. Xiang we ingin menghindar, tapi tubuhnya telah tertusuk pedang dan tangannya tidak mampu menahannya. Sehingga ia tidak bisa menghindari serangan itu.


Segera, tubuhnya menghantam tembok terbuat dari kayu itu dan meninggalkan cekungan. Tulang punggungnya beberapa retak dan ia kemudian mengeluarkan darah dari bibirnya dan mengalir.


Ekspresi wajah Xiang We sangat pucat dan dipenuhi kesakitan.


Wanita itu tersenyum puas menyaksikan penderitaan Xiang We. Ia kemudian menarik pedangnya, hendak menebas lehernya, tetapi tubuhnya terasa tertusuk dari belakang, tepat mengenai jantung. Ia berkeinginan untuk melihat pelakunya, tapi nyawanya telah melayang.


Xiang We terbatuk-batuk dan mengusap darah di bibirnya. Ia sangat lemah dan terjatuh. Namun orang yang datang dengan cepat memegang kedua bahunya.


Xiang We berkata lemah, “siapa kau?”


Orang yang membantunya adalah pria dewasa dengan umur sekitar 40 tahunan dengan zirah besi di tubuhnya.


“Aku bukan musuhmu.” Ia kemudian membaringkan Xiang We di ranjang.


Dengan wajah pucat seperti itu, Xiang we tidak bisa bertanya lebih jauh tentang pria itu; ia hanya bisa memejamkan mata menahan rasa sakit.


......................


Bing Jiazhi berjalan-jalan di gang-gang. Niatnya hendak mengunjungi rumah bordil sebelumnya yang pernah ia kunjungi, namun sekarang wanita itu sedang sibuk melayani orang lain.


Mendengar itu, ia tiba-tiba teringat dengan gadis pelacur yang sangat dicintainya, tapi telah mengkhianatinya dan telah menjadi musuhnya sekarang. Ia menjadi marah mengingat itu dan segara ingin membunuhnya, tetapi mengurungkan niatnya itu, mungkin saja wanita itu telah menjadi kuat setelah mencuri gulungan sakti itu.


Ia lalu berjalan lagi. Berdiam sebentar ketika melihat gerobak yang di tarik oleh seorang Kakek tua bersama cucu perempuannya.


Setelah berjalan beberapa langkah lagi, ia melihat seorang pria tua sedang bercerita dengan penuh aksi. Anak-anak dengan wajah polos yang di kepalanya di penuhi aksi heroik mendengarkannya tanpa menoleh.


Setelah berjalan beberapa saat, tibalah ia di depan jembatan melengkung. Tepat di tengah-tengahnya dua orang gadis berdiri. Mereka mengikat benang merah yang terhubung di kedua tangannya kemudian berlari sambil tertawa. Bing Jiazhi bertanya-tanya apa yang di lakukan oleh dua Gadis itu.


Ia kemudian berjalan mendekati tengah-tengah jembatan, kemudian memandang kanal kecil yang mengalir di bawahnya. Di sana sebuah perahu berlayar membawa beberapa orang. Di belakangnya seorang pria memakai topi capil mendorong dengan bambu panjang agar perahu mau berjalan, sementara di ujung depannya, seorang gadis berumur 7 tahun menatap lekat-lekat air. Gadis itu mungkin ingin melihat ikan-ikan yang ada di dalam air.


Tidak lama kemudian, ia berdiri kegirangan dan menarik salah satu baju seorang yang duduk untuk mendekati tempat di mana ia telah melihat sesuatu.


Bing Jiazhi kemudian mengangkat wajahnya memandang langit. Suasananya perlahan-lahan menjadi tenang.


Di jalan yang berlawanan, Zhizhu datang dan berdiri di samping Bing Jiazhi. Ia berdiri lama sebelum memulai pembicaraan. “Adik Bing, apa kau akan datang ke perlombaan melukis?”


“Aku lebih suka dengan suasana yang tenang, tapi mungkin aku akan datang sebentar.”


“Aku juga akan datang, aku ingin memastikan apakah apa yang di katakan tuan putri itu benar adanya. Jika tidak, aku akan menuntut balas kata-katanya.”


Mereka kemudian terdiam dan hanya ada angin berhembus dan cahaya matahari yang perlahan-lahan redup. Mereka sepertinya sedang berada dalam kehidupan pribadinya.


Zhizhu kemudian melentangkan tangannya. “Ah... sore yang indah. Adik Bing, aku pergi dulu.”


Ia kemudian menghilang begitu cepat, namun Bing Jiazhi tidak mempedulikannya. Ia kemudian mengangkat kepalanya lebih tinggi, memandang langit biru yang di hiasi awan-awan. Dan tiba-tiba angin berhembus kencang. Awan-awan di langit lebih banyak.


Satu jam berlalu, akhirnya langit di penuhi awan-awan hitam yang membawa air.


Bing Jiazhi kemudian memandang ke depan. Angin berhembus sangat kencang dan terasa sangat dingin.


Seorang perempuan berjalan melintas di belakangnya bersama seorang anak laki-laki. Mereka sedikit berlari untuk pulang, karena takut kehujanan. Anak itu memandang sekilas Bing jiazhi. Ia ingin menanyakan, mengapa ia tidak pergi berteduh sebelum hujan turun, akan tetapi ibunya memegang erat-erat tangannya dan berjalan lebih cepat.


Akhirnya dari depan Bing Jiazhi perlahan-lahan kabut yang di bawa angin mulai menyelimuti pandangannya. Hingga semuanya tertutupi kabut putih tebal seperti awan. Kabut itu menutup dengan baik, orang-orang hanya bisa melihat jarak 5 meter dan selebihnya hanya ada kabut putih.


Bing Jiazhi kemudian memandang ke bawah, yang mana di sana air terus mengalir dengan suara tenang. “seperti berdiri di tempat yang tidak di kenal.” Gumamnya setelah ia hanya melihat sedikit air dan hanya ada jembatan.


Gemuruh mulai terdengar, namun tidak lama kemudian semakin mengecil dan akhirnya menghilang.


Kabut perlahan-lahan bertiup dan menipis. Lalu dari arah kanan, seorang wanita berdiri di depan jembatan. Di tangannya ada tas keranjang kecil dan di punggungnya ada kanvas untuk melukis.


Cadar yang di kenakannya sedikit bertiup, namun siapa pun akan tahu jika ia sangat cantik.


Kemunculannya seperti seorang peri cantik dari kahyangan dengan kabut sebelumnya.


Ekspresinya dingin, tapi di saat bersamaan ada sedikit kelembutan.


Setelah memandang Bing Jiazhi, ia kemudian berjalan ke sampingnya, menjaga jarak sekitar 2 meter. Ia lalu menaruh barang-barangnya. Mengambil kursi lipat, kanvas dan membukanya. Tidak lupa juga ia mengeluarkan kuas-kuas dan cat dari keranjangnya.


Ia duduk dan tidak mempedulikan Bing Jiazhi, dan sepertinya juga Bing Jiazhi tidak juga peduli.


Akhirnya bintang-bintang bercahaya terang dan memantulkan cahayanya di air, dan kembali muncul pemandangan yang sangat indah.


Setelah beberapa saat wanita itu mulai menggores kanvas itu, tiba-tiba butiran-butiran hujan berjatuhan. Tidak banyak, tapi semakin lama akan membuat pakaian orang-orang kebasahan.


Wanita itu kemudian membuka telapak tangannya, lalu dua buah payung muncul. Ia membukanya satu dan entah mengapa payung itu bisa berdiri tegap di sampingnya.


Ia kemudian menghampiri Bing jiazhi dan mengulurkan satu payung yang satu lagi. “Wanita adalah makhluk yang sulit di tebak, kau tidak harus menghukum dirimu seperti ini karena itu.”