Alam Mandala

Alam Mandala
Aku tidak akan memakanmu



Zhizhu Bingung dengan Bing Jiazhi. “Jika kau tidak menginginkannya, apakah kau telah menyerah dari awal?”


“Tidak.”


“Lalu apa?”


“Aku tidak mau membuang-buang tenaga untuk melakukan hal yang sia-sia.”


“Bagaimana kau tau jika kau tidak melakukannya?”


“Aku mengetahuinya.”


“Kalau begitu apakah kau tahu ini?” zhizhu mengarahkan pedang ke depan, bersamaan dua lumba-lumba yang mengelilinginya bergerak ke depan masuk ke dalam tanah dan muncul lagi, seolah tanah itu adalah air.


Tekanan kekuatan semakin mendekat Bing Jiazhi, namun ia tidak melakukan apa-apa untuk menghalanginya, ia hanya terdiam dan menatap dengan tenang dua lumba-lumba seukuran 10 meter itu.


Zhizhu merasa menyerah karena tidak mampu memahami sikap Bing Jiazhi. Apakah ia benar-benar tidak mau bertarung dengannya? Atau ia benar-benar telah memiliki pengetahuan yang luas tentangnya.


Bing Jiazhi mengangkat pedang, dan satu cincinnya muncul.


Ketika lumba-lumba itu melompat ke arahnya, ia dengan cepat mengayunkan pedangnya, tapi sangat lembut dan seperti tidak bertenaga.


Dua lumba-lumba itu kemudian meledak ketika pedang Bing Jiazhi melewatinya. Percikan-percikan air menyebar dan lubang sedalam 10 meter terbentuk di depan Bing Jiazhi. Ini adalah kemampuan ledakan atomnya.


Namun percikan-percikan air itu melayang di udara, kemudian kembali mengitari tubuh Zhizhu.


Ekspresi Bing Jiazhi kali ini sangat serius. Ia kemudian mengeluarkan satu cincinnya lagi dan menghilang secepat kilat.


Lalu muncul di depan zhizhu dan menyerangnya dengan pedang.


Zhizhu tidak terkejut, ia menangani serangan Bing Jiazhi dengan baik.


Pertarungan adu pedang ini berjalan dengan baik, dan Bing Jiazhi mampu memilih waktu yang pas, di mana ia harus menahan serangan dan di mana ia harus menghindari serangannya.


Dengan pengetahuan sebelumnya yang ia miliki, ia mampu bertahan cukup lama. Tapi kemungkinan untuk menang sangat sulit, gumpalan-gumpalan air di udara itu kadang-kadang menghalangi serangannya. Dan Zhizhu sangat kuat dan berpengalaman.


Meski ia memiliki jumlah energi yang sama, kemampuan Zhizhu masih lebih tinggi.


Kadang-kadang juga muncul lumba-lumba yang menghalangi serangannya.


Jika ingin memenangkannya, Bing Jiazhi hanya perlu mencoba menggunakan kekuatan pedangnya.


Sementara Zhizhu sedikit kesulitan melawannya, kecepatan dan kemampuan berpedang Bing Jiazhi sangat hebat, dan cepat, sehingga ia harus berkonsentrasi penuh dalam melihat berbagai gerakan.


Ketika salah satu lumba-lumba menyerang, Bing Jiazhi secepat kilat menghilang muncul tidak jauh dari Zhizhu.


Kini pedangnya bercahaya hijau dan memiliki tekanan.


Zhizhu tidak terkejut. Sejak bertemu dengannya, ia telah mengetahui kekuatan apa yang terkandung di pedang Bing jiazhi.


“Kakak senior, bagaimana kalau kita lanjutkan saja besok.”


“Aku tidak punya waktu melakukannya. Apakah kau merasa akan kalah?”


“Tidak, tapi bertarung di malam hari seperti ini sangat berbahaya. Jika nanti kita kelelahan, dengan kekuatan kita saat ini, tidak mustahil orang-orang biasa dapat dengan mudah mencelakai kita.”


“Apa kau pikir aku selemah itu? Adik Bing, keluarkan semua kekuatanmu, kakak ini masih mampu menahannya.”


Bing Jiazhi mengangguk. Satu cincin terakhir muncul di dahi Bing Jiazhi.


Dalam setiap kemampuannya, ia hanya bisa menggunakan tiga sampai empat kali dalam sekali pertarungan, jadi ia masih mempunyai beberapa kali kesempatan untuk menyerang Zhizhu.


Kemudian dua cincin lagi muncul. Ketika cahaya hitam yang ada di dahinya bergerak ke bilah pedangnya, Bing Jiazhi menghilang sangat cepat.


Gumpalan-gumpalan itu bergerak mengelilingi Zhizhu.


Ketika Bing Jiazhi muncul, gumpalan-gumpalan itu melesat dan menghalangi pedang Bing jiazhi.


Zhizhu merasa tidak perlu turun tangan untuk menghalanginya. Tapi kemudian, air-airnya mulai terkikis, dan Bing Jiazhi bergerak maju, zhizhu dengan wajah terkejut mengayunkan pedangnya.


Ia terkejut melihatnya dan tidak menyangka, Bing jiazhi mampu mendorongnya seperti ini.


Setelah melakukan perjalanan jauh, kekuatan dan kemampuan Zhizhu jauh lebih berkurang, sehingga ia merasa kekuatan Bing Jiazhi semakin lebih kuat.


Ia menekan giginya dan tubuhnya perlahan-lahan terdorong. Ada ekspresi kesal dan marah ketika ia terdorong. Sementara itu, butiran-butiran air terus mengelilinginya dan berusaha menghalangi serangan Bing Jiazhi.


Dalam keadaan seperti ini, Bing Jiazhi tetap tenang dan terus mendorong pedangnya.


Tidak lama kemudian, ia tiba-tiba mengayunkan pedangnya dengan cepat ke depan.


Bommm!!!


Ledakan pun terjadi, air yang ada kemudian pecah dan berjatuhan di tanah.


Zhizhu terdorong dan ia kemudian roboh. Ia sedikit ceroboh terlalu percaya akan bisa mengalahkannya. Tapi ia belum kalah, ia cepat-cepat berdiri dan ingin melakukan serangan-serangan lagi, sayangnya Bing Jiazhi muncul secepat kilat dan langsung menghunuskan pedangnya ke arah leher Zhizhu.


“Kakak Zhizhu, anda telah kalah.”


Ekspresi terkejut dan kesal muncul di waja zhizhu. Ia tidak rela kalah, tapi ia tidak bisa melakukan apa pun sekarang. Ia pun mendesah dan menggelengkan kepalanya.


“Adik Junior, jika bukan pedang itu, bagaimana mungkin kau akan menang?”


Bing Jiazhi mengulurkan tangannya dan Zhizhu meraihnya, kemudian berdiri.


“Bagaimana kakak tahu, jika aku belum mencobanya?”


“Bagaimana kalau nanti kita mencobanya?”


Sementara itu, Xiang we dan pria kusir merasa kurang puas dengan pertarungan itu, seharusnya Zhizhu lebih serius dan berhati-hati, sehingga mereka dapat melihat kemampuan yang sebenarnya, tapi sayangnya tidak bisa sekarang.


Mereka lalu mendekati mereka setelah Bing jiazhi menarik Zhizhu untuk berdiri.


...----------------...


“Kakak Senior, seharusnya aku telah kau berikan pergi.” Kata Bing Jiazhi setelah menarik Zhizhu berdiri.


Zhizhu tersenyum. “Aku akan ikut.”


Bing Jiazhi terkejut, kemudian ia bertanya mengapa Zhizhu ingin pergi bersamanya, bukankah ia harus melakukan latihan?


Wajah Zhizhu terlihat jengkel. “Memangnya kenapa jika aku ikut? Apakah aku harus meminta izin darimu dulu? Tidak bukan.” Zhizhu mendengus dan memandang ke arah lain.


Xiang we datang dan memberi hormat kepada Zhizhu. “Kakak senior, namaku Xiang we.”


“Kita akan ke mana pergi?”


“kita akan pergi ke desa laut biru yang ada di selatan.”


“Ayo kita pergi.”


Dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, Zhizhu berjalan masuk.


Ketika ia melompat di atas kereta kuda, pria kusir sangat takut. Zhizhu memandangnya tajam. “pak tua, aku tidak akan memakanmu.” Ia kemudian masuk.