
Pria itu tidak akan pernah menyangka Bing Jiazhi memiliki kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ini melebihi kecepatan gerakan mata, pikiran dan tubuhnya.
Pria itu hanya bisa dengan refleks mengayunkan pedangnya ke belakang.
Tetapi..., Tiba-tiba ia merasakan tusukan di dadanya. Setelah melihat apa yang terjadi, barulah ia menyadari Bing Jiazhi juga ada di depannya dan sudah menusuknya.
Sejak kapan?
Pria itu tidak dapat memikirkannya, karena ia langsung tidak sadarkan diri dan terjatuh begitu saja dalam lubang yang telah di buat Bing Jiazhi. Walaupun ia terbilang kuat, pedang yang di miliki Bing Jiazhi bukan pedang biasa, sehingga dengan kombinasi kecepatan dan kekuatan yang luar biasa, pedang itu menembus jantung dan menghancurkannya dalam hitungan detik saja.
Dua cincin sebelumnya adalah teknik ribuan bayang dan teknik murni kecepatan yang telah ia pelajari selama pengembaraannya.
Melihat pria itu terjatuh, Liang mengambil satu kertas di sampingnya yang sudah tergambar. Ia sempat menggambarnya tadi, kemudian melepaskannya ke dalam lubang.
Cahaya emas keluar dari kertas itu, dan tanaman-tanaman rambat muncul darinya dan menyebar ke segala arah. Mengikat tubuh pria itu dengan baik dan merambat ke dinding-dinding hingga ke atas, seolah menjaga bangunan itu tidak roboh.
Bing Jiazhi kemudian mendarat di salah satunya dan memandang Liang.
Liang berdiri. “Kita harus membunuhnya.”
Ia kemudian pergi dari sana. Bing jiazhi tidak tahu harus berbuat apa selain mengikutinya.
...----------------...
Xue Ni berdiri di bawah pohon histeria. Tangkai-tangkai bunga histeria bergoyang-goyang di tiup angin, membuat kelopak-kelopak bunga histeria berguguran dia atas kepalanya.
Ia memandang ikannya yang besar melompat-lompat indah.
Ia memikirkan apa yang akan di lakukan Bing Jiazhi di sana, apakah ia bisa melakukannya atau tidak.
Apakah ia menyadari, jika apa yang di katakan kepadanya adalah cerita bohongan?
Tidak ada yang benar dengan apa yang dikatakannya. Itu adalah cerita yang pernah ia dengar sewaktu kecil pada saat-saat malam hari sebelum tidur.
Akan tetapi, apa yang di katakan Xue ada benarnya, hanya ia saja tidak menyadarinya–mungkin sedikit.
Selain itu, Xue Ni juga mengingat bagaimana dirinya pergi ke sana, bermaksud ingin melenyapkan kutukan itu, tetapi sebelum menemukan sumber penyebabnya, ia mengenang masa lalunya di dekat sungai dengan istrinya, yang selalu ia cintai dan menganggapnya tidak akan pernah meninggalkannya.
Memandang dirinya yang kecil dan istrinya di masa lalu, membuatnya marah dan langsung membunuhnya.
Gerbang menuju masa lalu di bentuk untuk menghapuskan kutukan bukan untuk membalas dendam, maka ia pun tiba-tiba di keluarkan dari sana dan tidak boleh masuk lagi.
Xue Ni menghela nafas.
“Tidak perlu memikirkannya.” Tiba-tiba Hei Mei, Neneknya muncul di sampingnya.
“Nenek benar, seharusnya aku melupakannya. Seperti kelopak-kelopak bunga histeria yang berguguran.” Xue Ni meletakkan tangannya, menyambut kelopak bunga yang berguguran. “Walaupun indah, harus di buang, daripada cepat atau lambat merusak keindahan pohon bunga itu sendiri.”
*****
Setelah berjalan beberapa menit, mereka akhirnya tiba di depan pohon oak tua yang sangat besar.
Buah-buahnya bertaburan di bawahnya.
Seorang pria tua duduk di bawahnya dengan bersila, tampaknya ia sedang bermeditasi dan merenung.
Liang terdiam. “Kita hanya perlu membunuhnya.”
“Berikan aku alasan yang sempurna untuk melakukannya.”
“Dia adalah pria yang tadi menyamar. Dia adalah dalang dari semua yang terjadi. Seorang kepala desa yang mengorbankan penduduknya sendiri demi sebuah kekuasaan.”
“Apa hubungannya dengan gadis bernama Yang itu.”
“Pria itu memanfaatkannya untuk mendapatkan apa yang di inginkannya.”
Bing Jiazhi mengangguk. Secepat kilat sambaran petir, ia sudah berada di depan pria tua itu dan mengayunkan pedangnya.
Tetapi sayang sekali, hanya batang pohon oak itu yang kena.
Pria tua itu muncul di belakang Bing Jiazhi, hendak menyerang, tetapi Bing Jiazhi mengayunkan pedangnya ke arah sana.
Pria tua itu lalu muncul beberapa meter darinya.
“Anak muda, kau sangat hebat,” puji pria itu seraya penampilannya berubah menjadi lebih muda.
Liang berjalan dan berhenti satu langkah di depan Bing Jiazhi. “Kau telah kalah.”
Pria itu menarik sedikit sudut bibirnya. Ia tersenyum seolah itu tidak akan mungkin terjadi, tetapi apa yang di katakan Liang memang benar. Ia tidak pernah menyangka jika anak gadis dari dua pasangan wanita itu bisa memiliki kekuatan seperti itu. Ia telah meremehkan mereka berdua.
Liang dan Bing jiazhi sama-sama memiliki tiga cincin, sementara ia hanya empat saja, di tambah lagi ia sedang terluka, membuatnya terpojok dan tidak mungkin melawan kekuatan itu.
Ia sebelumnya ingin melarikan diri karena terus di buru oleh Liang dan beberapa orang lainnya, siapa yang menyangka ia kali ini tidak bisa menghindarinya sama sekali.
Pria itu mengangguk. Cincin-cincin Mandala muncul di dahinya.
“Kalian berdua tidak bisa aku hindari. Oleh karena itu, aku mengajak kalian berdua pergi bersama-sama.”
Setelah mengatakan itu, cincin-cincin Mandala berdering kencang. Pria itu kemudian melesat ke arah Bing jiazhi. Dengan cepat juga tubuhnya menjadi air membentuk naga air.
Bing Jiazhi mengayunkan pedangnya. Tetapi belum menyentuhnya, ia sudah terlempar.
Tubuhnya di hempaskan begitu saja.
Naga itu memiliki panjang 50 meter dan lebar 20 m. Ia menuju ke atas dan meraung menutupi cahaya matahari. Kemudian terjun bebas ke arah Liang.
Wajah Liang masih tenang. Ia melompat di samping Bing Jiazhi.
“Aku memerlukan kekuatanmu.”
Bing Jiazhi mengangguk dan menyalurkan energinya dari bahu Liang.
Perlahan-lahan cincin-cincin Mandala muncul. Dengan cepat tiga cincin muncul di dahinya. Bing Jiazhi mulai mengetahui Gadis bersamanya bukan orang sembarangan. Lalu, cincin ke empat, lima dan enam muncul.
Tekanan yang tinggi menekan tanah-tanah. Daun-daun yang berguguran lebih cepat karena tertekan.
Liang mengambil sebuah kertas dari lengan bajunya yang panjang.
Sementara naga itu semakin mendekat dan mendekat. Baik Liang dan Bing Jiazhi dapat merasakan aura dingin dan sensasi sejuk dari udara yang di bawa naga itu.
Ketika beberapa meter dari Mereka berdua, Liang berlari ke depan dengan mengulurkan kertasnya ke arah kepala Naga itu.
Boommm!!!!
Dua kekuatan energi bertabrakan, membuat Bing Jiazhi kesulitan untuk mengontrol tubuhnya.
Setelah beberapa detik, ledakan pun reda.
Liang berdiri di depan dengan tubuh basah dan di sekelilingnya hancur; daun-daun pohon oak hilang tiada jejak dan beberapa ranting-rantingnya patah. Di sekelilingnya juga di penuhi air-air bekas naga itu.
Liang kemudian duduk di bawah pohon. Ekspresinya lembut, tapi sedikit pucat. Ia melambaikan tangannya, mengisyaratkan Bing Jiazhi mendekatinya.
“Aku akan beristirahat sebentar,” ucapnya setelah Bing Jiazhi datang.
Bing jiazhi hanya duduk.
Dalam kesempatan itu, Liang melanjutkan anyaman gelangnya tanpa mempedulikan apa pun yang terjadi di sekitarnya, walaupun pakaiannya basah.
Sementara Bing Jiazhi menikmati pemandangan di sekitarnya dan merasakan hembusan angin yang menyejukkan setelah energinya habis membantu Liang.
Setelah beberapa menit Liang melakukan hobinya itu, tiba-tiba ia bertanya, “Apakah yang pasti di dunia ini?”
Bing jiazhi terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, “Angka.”
“Kenapa bisa seperti itu?”
“Karena perkalian dan pembagian memberikan hasil yang selalu sama untuk semua orang.”
“Itu hanya kepastian yang di buat oleh ketidak sempurnaan.”
Bing jiazhi menatap gadis di sampingnya. “Mengapa kau menjawab seperti itu?”
“Tentu saja, yang pasti itu yang membuatnya dari kepastian yang lebuh besar.”
“Jangan berdiskusi tentang itu denganku.”
“Aku sedang mencari jawaban.”
Liang melanjutkan anyamannya.
Tidak lama setelahnya, ia berdiri dan mengisyaratkan Bing Jiazhi untuk mengikutinya.
Mereka kembali ke tempat yang sebelumnya. Ketika mereka tiba, matahari sudah mulai berada di barat.
Mereka berjalan dengan perlahan-lahan seraya berdiskusi tentang berbagai hal, walaupun itu membuat Bing Jiazhi jengkel, tetapi ia bersyukur bisa ada teman yang di ajaknya.