Alam Mandala

Alam Mandala
Mimpi?



Setelah kekalahannya, Bing Jiazhi memutuskan untuk beristirahat memulihkan diri ke tempatnya.


Ia merasa lelah dan membutuhkan tidur setelah melakukan pertarungan melawan zhizhu. Walaupun itu singkat, tidak pernah menyangka pikiran dan tenaganya terkuras dengan cepat. Sebelumnya saat bertarung di sekte bambu, ia tidak merasa selelah ini. Ia tidak tahu pasti apa yang menyebabkannya.


Melawan zhizhu merupakan hal yang sulit, bahkan, beberapa kemampuan terpenting, seperti prediksi dan kecepatan pikirannya tidak berguna. Zhizhu sangat berbakat dan melebihi kemampuannya.


Bing Jiazhi bisa saja menang melawannya jika menggunakan teknik pedang yang sama ketika di sekte Bambu, hanya saja memerlukan persiapan yang matang untuk melakukannya.


Dengan merasakan kekalahan ini, ia akan tumbuh menjadi lebih kuat dan mencapai puncak, tentunya juga akan membalaskan dendam-dendamnya.


Ketika ia tiba di kediamannya, Xue Yan duduk di depan pintu dengan memasang wajah kesal dan di tumpu dengan tangan kanannya. Tapi wajah itu seketika terbit dengan kegembiraan saat melihat Bing Jiazhi. Gadis berpakaian putih anggun itu kemudian berdiri, berteriak dan Berlari mendekati Bing Jiazhi.


“kakak! Selamat datang kembali! Namamu Bing Jiazhi? Perkenalkan, namaku Xue Yan! Aku mengambil marga ibuku, gurumu. Aku datang untuk bertanya, bisa kau katakan, di mana ibuku berada, seberapa cantik dia, apakah dia merindukanku, dan kenapa dia tidak mengunjungiku, apakah dia tidak merindukan anaknya?”


Bing Jiazhi ingin sekali tidur, tapi melihat gadis ini datang membawa segenap harapan, membuatnya tidak tega. “Ibumu sekarang berada di tempat yang aman. Dia sangat cantik sama seperti dirimu. Dia sangat merindukanmu, tetapi dia sangat sibuk–”


“Sibuk melakukan apa? Kakak, tolong katakan di mana dia berada dengan jelas! Aku sangat merindukannya.”


Bing Jiazhi diam sebentar. “Dia sekarang berada di daerah selatan. Nanti aku akan mengajakmu bertemu dengannya.”


“Kapan?! Kakak, aku ingin segera bertemu dengannya!”


“Beberapa bulan lagi.”


Bing Jiazhi kemudian berjalan masuk kemudian menutup pintu.


Xue yan menatap rumah Bing jiazhi, kemudian mendekatinya. Informasi yang di berikannya kurang lengkap, ia ingin mengetahui lebih lanjut apa nama tempat ibunya tinggal. Ia tidak percaya, Bing Jiazhi akan membawanya pergi bertemu ibunya.


Ia kemudian duduk di depan pintu. Sedikit mengangkat wajahnya memandang cahaya matahari yang perlahan-lahan terhalangi awan-awan hitam. Perlahan-lahan awan-awan semakin banyak menutupi langit. Dan ketika angin berhenti, awan-awan sudah memenuhi langit, sementara Xue Yan tertidur dengan bersandar di pintu. Kepalanya menunduk dan kedua kakinya menekuk. Kedua tangannya di gunakan sebagai matras untuk wajahnya.


Satu sambaran petir muncul di langit, yang di susul suara gumuruh. Tapi gadis kecil itu tidak terbangun.


Tetesan hujan pun mulai berjatuhan, semakin tebal.


Dari kejauhan, seorang gadis berjalan seraya memegang payung. Ketika ia tiba di depan Xue Yan, ia menggeleng pelan. Ia menaruh payungnya, kemudian mengangkat Xue Yan dan mengambil kembali payungnya.


Tiga ketukan pintu pun terdengar, kemudian Bing Jiazhi membuka pintu.


“Seorang gadis tertidur di depan rumahmu, apakah kau tidak tahu?”


Bing Jiazhi kemudian memandang Xue Yan di dalam gendongan Xiang we yang sedang tertidur, kemudian mempersilahkan mereka masuk.


Xue Yan kemudian di bawa ke ranjang dan di selimuti. Xiang we dan Bing jiazhi duduk di meja seraya menikmati pemandangan hujan dan suara-suara yang di timbulkannya. Mereka bersulang dan meminum anggur.


...----------------...


Di luar, percikan-percikan hujan mampu membentuk ledakan-ledakan indah di halaman. Tidak jauh dari sana, sepasang burung saling merapat menghangatkan diri mereka.


Setelah Xiang we menaruh cangkirnya ia pun memulai topik, “Bagaimana hasilnya?”


Bing Jiazhi memejamkan mata dan meneguk satu anggur. “Memang sangat nyaman ketika hujan meminum anggur. Tunggu satu bulan lagi.”


“Aku mengerti.”


Maka, mereka pun melanjutkan acara minum-minum seraya memuji keindahan hujan.


Di langit, awan-awan hitam kian menghilang, dan di gantikan cahaya biru yang seolah baru di basuh. Bersamaan dengan itu juga, tetesan-tetesan hujan perlahan-lahan menghilang dan akhirnya reda.


Xiang we memberi hormat dan pergi dari rumah Bing Jiazhi seraya memakai payungnya.


Bing Jiazhi ingin masuk, tapi tiba-tiba seseorang memanggilnya. Ia tidak lain Zhu Nan yang entah dari mana munculnya.


Bing Jiazhi tidak ingin di ganggu hari ini. Ia dengan terpaksa berbalik. “Hari ini aku sakit.”


Zhu Nan tidak percaya. “Sakit di mana? Kau berbohong. Ayo kita pergi, guru sudah mencari-carimu!”


Zhu Nan menarik tangan Bing Jiazhi dengan paksa.


...----------------...



Matahari akhirnya terbit dari ufuk timur. Sepasang mata indah itu akhirnya terbuka dengan pelan dan lembut.


Cahaya itu menyinari hamparan salju tebal tiada ujung. Ketika itu, hamparan salju itu bersinar terang dan berkilauan.


Jiu Jiu berdiri mendekati jendela dan memandang ke luar. Walaupun itu indah, baginya itu hanya kedinginan tidak ada ujung dan penderitaan. Kemudian, ia memikirkan siapa gadis kecil yang telah membuatnya terkejut dan tidak sadarkan diri.


Tidak pernah ia merasa setakut itu hingga berlarian. Tidak pernah juga menyangka, ia bisa takut. Jika itu di siang hari, ia tidak akan setakut seperti itu.


Butiran-butiran bunga salju masih berjatuhan dan beberapa menyentuh kaca.


Dari kejauhan, perlahan-lahan bayangan muncul di salju, semakin mendekat. Sosok gadis berpakaian biru langit muncul. Itu tidak lain adalah gadis yang di temuinya kemarin. Namun, ia sekarang memiliki rambut berwarna biru panjang. Di bandingkan dengan kemarin, ia sangat manis dan tatapan bagaikan bunga bermekaran pada musim semi.


Jiu Jiu tertegun sebentar dan bertanya-tanya, apakah ia benar-benar gadis kemarin, yang sangat mengerikan, yang telah membuatnya takut.


Ia kemudian bergegas pergi ke luar. Setelah membuka pintu, gadis itu masih ada. Tetapi ia membalikkan badan untuk menatap cahaya matahari berwarna putih biru.


Jiu Jiu bergegas mendekatinya dan diam beberapa meter dari gadis itu. Ia merasa takut dengannya dan apakah aman berbicara dengannya. Ia ingin melangkah lagi, tapi tiba-tiba terhenti.


Ketika menyakinkan diri untuk melangkah, gadis itu berbalik. “Kau sudah sembuh?”


Jiu Jiu sedikit bingung. Ia tidak pernah merasa sakit sebelumnya.


“Kau kemarin sakit. Kami semalaman berusaha membantumu. Kau berteriak tidak jelas dengan mata tertutup dan tubuhmu panas. Kau sedang bermimpi apa kemarin?”


Jiu Jiu terkejut sekaligus heran, apakah kemarin itu mimpi? Tapi itu rasanya bukan mimpi, itu nyata, ia berlari dan masih ingat bagaimana ia terpeleset, bahkan sekarang, kakinya pun masih terasa sakit.


“Aku tidak bermimpi.”


“Kau bermimpi. Aku dan guru Fang menyembuhkanmu.”


“Tidak. Aku tidak bermimpi.”


“iya, kau benar, ada beberapa mimpi yang terasa sangat nyata.”


“Bukan, aku memang benar tidak bermimpi, bahkan aku masih merasakan sakit pada kakiku karena terpeleset kemarin.”


“Itu karena kakimu menendang sesuatu kemarin saat kau bermimpi.”


Jiu Jiu terdiam. “Aku rasa tidak.”


“Iya, kau rasa tidak.”


“ikut aku.”


Gadis itu Kemudian pergi ke dalam rumah. Jiu Jiu diam di luar. Tidak lama kemudian ia datang membawa sebuah kotak.


Gadis itu kemudian duduk, yang di ikuti Jiu Jiu.


Gadis itu kemudian membuka kotak itu. Ketika itu, Jiu Jiu terkejut dan tidak percaya dengan isi yang ada di dalamnya.