
Huang Tang kemudian menarik nafas sebelum berbicara. “Setelah aku di selamatkan oleh Dewi pedang dan Shao Dong’er, aku kemudian memutuskan bersama mereka pergi ke sekte bunga yang ada di utara jauh. Kesan pertamaku bersama mereka tidak terlalu baik, dan alasan aku mengikutinya, karena ingin mendapatkan makanan untuk bertahan hidup.”
“Apakah anda tidak mempunyai siapa-siapa saat itu?”
Huang Tang kemudian menaruh botol araknya lalu menjawab, “Aku memiliki seorang ayah, tapi dia membenciku. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk bersama dua orang yang tidak aku kenal itu, dari pada bersama ayah. Dewi pedang saat itu sangat cantik dan aku selalu mencuri-curi pandang memerhatikannya dan selalu ingin dekat dengannya. Bau tubuhnya yang harum membuatku selalu ingin bersamanya, daripada Dong’er yang hitam legam itu.”
“Saat kami menuju ke utara, kami melewati sungai besar yang di pinggir-pinggirnya di penuhi tebing-tebing dan pohon-pohon. Warna airnya berwarna biru cerah, tapi sangat berbahaya; beberapa kali kami menemukan hewan-hewan buas bersembunyi mengintai kami. Tapi karena kekuatan Dewi pedang, hanya dengan memandangnya, hewan-hewan itu berubah menjadi kelopak-kelopak bunga dan berterbangan.”
“Lalu, sekarang, apa karena itu hubungan anda dengan Shao Dong’er tidak begitu baik?”
Huang Tang menggeleng. “Bukan karena itu. Dong’er memang seperti itu, tapi setelah beberapa jam, hubungan kami akan membaik lagi.”
Zhizhu tidak memahami apa yang di katakan Huang Tang. Ia juga tidak percaya setelah melihat kejadian itu. Shao Dong’er terlihat jelas di wajahnya penuh dengan kebencian dan kemarahan. Selain itu, ia merasa itu bukan hanya sekali saja. Tapi karena jawaban itu tidak terlalu menarik perhatiannya, ia kemudian bertanya tentang Dewi pedang.
“Dia adalah sosok yang anggun. Memiliki kekuatan yang sangat kuat. Hanya dengan menghunuskan pedangnya, seseorang akan menguap begitu saja. Kekuatannya setara tingkat 9 cincin. Aku hanya sekali melihat ia bertarung dengan ketua Sekte lain di taman bunga persik. Saat itu...
...----------------...
Ia duduk tenang di atas kursi bambu di bawah rerimbunan pepohonan bunga persik. Pada saat itu juga, seorang gadis datang dan membungkuk memberi hormat. Kemudian ia berkata, “Saya di perintahkan untuk mengantar anda ke aula, master.”
Sementara aku, berada jauh di balik pohon dan mengamati apa yang terjadi selanjutnya.
Dewi pedang yang penuh wibawa kemudian berdiri dan memandang gadis itu. Tatapannya itu membuatku semakin menyukainya. Ia lalu menarik pedangnya dan mengayunkannya ke leher gadis itu.
Gadis itu pun melompat mundur. Wajahnya yang polos kemudian terlihat lebih berani dan memandang tajam ke arah Dewi pedang. “Anda begitu jeli.”
“Jika aku tidak bisa mengenalimu, maka aku tidak layak memimpin sekte ini. Datang sendirian tanpa penjagaan apa pun, kau benar-benar mengantarkan nyawamu.”
Wanita itu kemudian mengubah penampilannya. Ia perlahan-lahan lebih tinggi dan rambutnya semakin terurai panjang. Wajahnya yang lembut berangsur-angsur lebih berani dan bercahaya, seolah ia menjadi orang lain.
“Tentu saja. Tapi kali ini aku datang untuk mengambil nyawamu, wanita tua.”
Wanita itu kemudian mengangkat tangannya. Dua butiran hijau kemudian muncul di telapak tangannya. Lalu bergerak ke samping. Di saat itu juga, muncul sebuah tombak panjang dengan bilah panjang dan sangat tajam.
Ketika melihat tombak itu, aku terkejut dan menyadari itu adalah salah satu senjata terkenal dan kuat, yang pernah aku lihat dalam sebuah buku.
Dewi pedang juga sedikit mengangkat selaput matanya dan tanpa sadar bergumam, “Tombak gunung. Kau benar-benar memilikinya, tapi tetap saja, tanpa kemampuan yang cukup untuk mengendalikannya, itu hanya akan menjadi sampah.”
“ Aku dengar, pedangmu di temukan di tempat sampah. Jadi, seharusnya pedang itu adalah pedang sampah. Tanpa pedang itu, kau juga seperti sampah, mungkin lebih buruk dari itu. Dewi pedang persik, adalah sesuatu yang lebih buruk dari pada sampah!”
Aku terkejut mendengarnya dan bertanya-tanya saat itu, siapa wanita yang berani memprovokasi guru hingga seperti itu dan memiliki keberanian yang besar di wajahnya.
Setelahnya, aku menyadari siapa ia. Ia adalah ketua sekte salju jatuh yang berada di selatan sekte bunga persik. Namanya Yu Mei. Orang-orang menyebutnya Peri salju, karena semua cincin Mandala memiliki elemen utama salju dan semuanya sangat hebat.
Aku sangat senang bisa menyaksikannya saat itu setelah menyadarinya.
Reaksi Dewi pedang saat itu di luar dugaanku, alih-alih ia marah, sebaliknya ia terlihat tenang, namun aku kemudian menyadari jika itu adalah tanda dirinya sedang sangat marah. Ia kemudian berkata pelan dan sangat lembut, “Kau lancang.”
Bau yang harum kemudian menyebar.
Ketika ia memegang pedangnya dan memandang Yu Mei, aku membayangkan bagaimana rupanya ketika masih muda. Ia mungkin sangat cantik, yang kecantikannya tidak ada tandingannya di dunia ini. Kemudian berandai-andai, jika suatu hari nanti istriku secantik itu dan memegang sebuah pedang yang indah.
...----------------...
“Selanjutnya apa yang terjadi?” tanya Zhizhu antusias setelah Huang Tang menghentikan ceritanya.
Huang Tang membuka tutup araknya, kemudian menjawab, “aku akan melanjutkannya besok.”
Ekspresi Zhizhu berubah kesal. “Mengapa besok? Aku mempunyai banyak waktu saat ini.”
“Tapi aku tidak. Saat ini, ada yang harus aku lakukan.”
Mendengar ucapan tegas dari Huang Tang, membuat Zhizhu kecewa, dan ia tahu, seberapa keras meminta, Huang Tang tidak akan memberikannya. Ia pun kemudian bertanya, “Jika kau menginginkan seorang wanita cantik, mengapa kau memilih Shao Dong’er menjadi istrimu? Maaf, jika ini menyangkut masalah pribadi, aku hanya ingin mengetahuinya.”
Huang Tang tertawa. “Nona, kau suka mencampuri urusan orang lain. Anda tahu, jika Shao Dong’er sangat cantik?”
“Cantik? Itu sangat jauh dari kata itu. Dia memiliki wajah yang biasa-biasa saja dengan kulit hitam, bagaimana bisa anda menyebutnya cantik? Aku tahu, jika semua orang memiliki pendapat masing-masing tentang kecantikan wanita, namun tentu saja, semua orang akan setuju jika Shao Dong’er tidak cantik. Jika dugaanku benar, maka Dewi pedang memiliki wajah yang persis dengan Shao Dong’er. Aku tegaskan kembali, dia jelek.”
Mendengar ejekan itu, Huang Tang tertawa, alih-alih ia tersinggung. Ia meneguk araknya kemudian menghela nafas. “Nona, pikiran anda sangat dangkal.”
Huang Tang melanjutkan, “Jika aku memiliki sebuah gelang emas, kemudian aku memasukkannya ke dalam lumpur dan mengeringkannya, lalu membuatnya seolah itu adalah gelang lumpur, apakah kau akan menyimpulkan saat aku memberikanmu gelang itu, bahwa itu adalah gelang lumpur?”
“Jika orang awam mungkin akan menduganya begitu, tapi aku memiliki mata yang tajam untuk mengenalinya.”
“Anda pintar. Begitulah Shao Dong’er, dia sebenarnya sangat cantik, hanya saja ia tidak mau memperlihatkannya di depan umum.”
“Apa yang membuatnya seperti itu?”
“Karena kecantikannya sangat luar biasa, selain itu, aku juga tidak ingin wajahnya dapat di lihat banyak orang.”
“Aku tidak percaya. Jika kau mampu memperlihatkannya, maka aku akan percaya.”
Zhizhu tentu saja tidak akan percaya dengan apa yang dikatakan Huang Tang, ia tidak pernah melihat atau pun mendengar seorang wanita menyembunyikan wajahnya yang cantik karena alasan seperti itu. Meski pun, itu adalah keinginan suami sendiri. Tentu saja, seorang wanita ingin selalu tampil cantik dan akan mengabaikan yang lainnya.
“Pendapatmu tidak terlalu penting bagiku Nona. Aku telah menjawabnya, sekarang pergilah dari kamarku.”
Zhizhu berdiri dan berkata, “Aku ingin mendengar kelanjutannya se-cepat mungkin. Aku tidak tahu, apakah akan mendapatkannya atau tidak.”
Ia pun kemudian berjalan pergi.
Huang Tang kemudian tersenyum memandang punggung gadis itu, lalu berkata, “Jika kau berkehendak, maka semua akan kau dapatkan.” Dan pintu keluar pun tertutup rapat-rapat.