Alam Mandala

Alam Mandala
percakapan di siang hari



Zhu Nan melompat dan mendarat di arena.


Selama mereka berbicara, Bing Jiazhi memberi hormat dan memperkenalkan dirinya. Kemudian pria tua pun mengumumkan pertarungan sudah di mulai dan menjelaskan mengapa itu di lakukan.


Dalam sekte Tao Gong, memperkenalkan diri dan kemudian mengetes kemampuan bertarung di hadapan semua murid adalah cara terbaik untuk mengenal murid baru dan bagaimana kemampuannya.


Di sekte ini, dengan kekuatan membuat orang-orang menjadi terhormat dan mendapat kedudukan di sekte. Semakin tinggi semakin baik.


Ketika zhu Nan menyentuhkan kakinya di arena, semua orang memperhatikannya. Ada juga yang berbisik-bisik mengenai Zhu Nan. Ada juga yang mulai mengamati dan memprediksi apa yang akan terjadi.


Zhu Nan berdiri dan melepaskan pedang yang menempel di belakang punggungnya. Kemudian memberi hormat kepalan tangan dan memegang pedangnya.


Bing Jiazhi mengikutinya.


Zhun Nan mengeluarkan pedang dari selongsongnya dan begitu pun Bing Jiazhi.


Suasana tiba-tiba menjadi sunyi dan mencekam, dan hanya terdengar burung-burung berkicauan.


Dua cincin muncul di dahi Zhu Nan dan tekanan menyebar darinya. “Adik Junior, tolong berikan kakak ini kesenangan.”


Bing Jiazhi mengangguk. “Aku akan memberikannya, kakak senior.”


Cincin menghilang dan cahaya pun keluar dari pedangnya. Zhu Nan berlari ke depan dan membelah angin. Ia mengayunkan pedangnya beberapa kali, mengeluarkan aura pedang berbentuk bulan sabit.


Bing Jiazhi mengeluarkan kemampuan teleportasi dan muncul beberapa titik di arena.


Tempat-tempat yang terkena aura pedang berlubang-lubang dan hangus.


Mereka melakukannya beberapa detik, tapi itu memberikan kerusakan yang signifikan pada arena.


Semua siswa menikmati pertarungan ini. Dan para siswa yang sebelumnya tidak peduli mulai memperhatikannya.


“Adik Junior, kau melebihi harapanku.” Zhu Nan tersenyum menyeringai.


Dengan kecepatan mengayunkan pedang dan berusaha menghindar, ia tidak lagi dapat dengan mudah di kalahkan oleh Bing Jiazhi. Zhu Nan sebelumnya sudah belajar bagaimana cara mengalahkan kekuatan teleportasi Bing Jiazhi. Oleh karena itu, menggunakan serangan jarak jauh adalah cara yang tepat untuk mengatasinya.


Terlepas dari itu, zhu Nan juga merasakan pedang yang di miliki Bing Jiazhi bukan pedang sembarangan. Ia tidak tahu seberapa kuat pedang yang di milikinya.


Bing Jiazhi tanpa ekspresi mengeluarkan tiga cincinnya dan tekanan yang lebih kuat dari zhu Nan pun membuat orang-orang sulit bernafas. Dan, suasana pun semakin mencekam.


Zhu Nan tidak terkejut. Ia sudah memperkirakan kemampuan Bing Jiazhi. Dan itu ternyata sesuai harapannya.


Tertua yang tidak jauh berada mengangguk dan tersenyum. Ternyata pemuda yang bergabung di sektenya bukan orang lemah. Dengan seperti ini, kelak kedepannya kekuatan sektenya akan bertambah.


Tiga cincin itu pun menghilang di dahi Bing Jiazhi. Teknik teleportasi, bayangan dan ledakan atom di kombinasikan.


Ia melesat seperti bayangan. Saat itu, ia terlihat tiga orang yang bergerak cepat.


Zhu Nan mengeluarkan satu cincinnya lagi. Ia kemudian mengayunkan pedangnya untuk menyerang Bing Jiazhi. Aura-aura pedang pun melesat menyerang Bing Jiazhi. Tapi kali ini serangannya mempunyai dampak yang lebih besar. Petir-petir terlihat di beberapa sudut.


Semakin mendekat Bing Jiazhi, ekspresi zhu Nan semakin mengkerut dan kesal. Kali ini sulit baginya untuk menyerang. Apalagi semua serangannya tidak mengenai Bing Jiazhi.


Zhu Nan hanya bisa menahan serangan yang datang dengan sekuat tenaga.


Dang!!!!


Bing Jiazhi mengayunkan pedang dengan lembut dan tanpa ekspresi.


Zhu Nan menahannya dengan sekuat tenaga. Di belakangnya, lantai-lantai retak dan hancur. Kedua kaki Zhu Nan tenggelam. Ia merasa tubuhnya sangat berat dan ingin meledak. Giginya tanpa sadar saling menekan keras.


Kedua pergelangan tangannya terasa sangat sakit. Jika ia tidak menyerah saat ini, ia akan mendapatkan cedera parah dan mungkin tidak bisa melatih kekuatannya lagi.


Masih ada hari esok untuk melawan Bing Jiazhi. Ia pun mengumumkannya, “aku menyerah!”


“Adik Junior, kau terlalu mengerikan.”


“Ini hanya awal.”


“Aku akan mengalahkanmu nanti.”


“Aku akan menunggumu kakak senior.


Kegembiraan pun pecah dan Tetua mengumumkan siapa lagi yang ingin bertarung.


Zhu Han menghela nafas. Adiknya akhirnya bisa selamat. Ia melompat dan merangkul Zhu Han ke pinggir arena sambil berkata, “Kau harus berlatih lebih giat lagi.”


“Aku harus melakukannya.”


Pertarungan pun berlanjut.


...----------------...


Daun merah berayun-ayun pelan jatuh ke bawah. Di atasnya sebuah pohon tinggi dan besar tumbuh. Di lilit tanaman rambat dan menjuntai-juntai di sekitar cabang-cabang. Beberapa berayun pelan karena tiupan angin. Daun-daun kuningnya berjatuhan setiap menit dan menjadi pertunjukan yang membosankan bagi Xiang We.


Gadis dengan rambut panjang itu berdiri di bawah pohon besar. Sedikit mengangkat kepalanya memandang daun-daun yang berguguran. Bulu matanya yang melengkung sangat menawan. Dagunya yang runcing, membuatnya seperti peri.


Ia kemudian memandang ke arah lain, di mana Bing Jiazhi datang memakai pakaian putih khas sekte.


Ia sedikit tersenyum. Tidak pernah terpikirkan olehnya pemuda itu akan datang dan, bahkan membaca suratnya pun tidak.


Sekarang, menyakinkannya adalah langkah terakhir yang bisa di lakukan.


Bing Jiazhi memberi hormat dan Xiang We pun juga. “Siang yang indah untuk hari pertama.”


Bing Jiazhi mengangguk. “Hari pertama yang melelahkan.”


“Pernahkah kau mendengar sebuah cerita yang menyedihkan?”


“Tidak pernah. Tapi aku memiliki cerita seperti itu.”


Xiang We membungkuk untuk mengambil teko dan gelas. Ia membawa teh hitam yang baik untuk kesehatan.


Ia menyerahkan kepada Bing jiazhi. “Apakah kau ingin mendengarnya?”


Bing Jiazhi mengambilnya dan meminum sebentar sebelum menjawabnya. “Siang yang baik dan hati yang indah, sangat baik untuk mendengarkan cerita seperti itu.”


“Terima kasih. Ini kisah mengenai seorang yang sering di anggap pemberontak dan bodoh, tapi aku pikir ia adalah seorang jenius yang pernah ada.”


“Seorang laki-laki?”


“Bukan, dia seorang wanita yang ingin mengubah nasib bagi dirinya, keluarga dan masyarakat. Di sebuah desa yang terletak di selatan yang memiliki nama desa Laut biru, seorang gadis terlahir dengan nama Xiang ya. Sejak kecil, ia menyukai cerita, baik dari orang tuanya, masyarakat dan orang-orang dengan jasa bercerita. Ia menyukai cerita dan menganggapnya sebagai hiburan di sela kesedihan dunia.”


“Setelah tumbuh besar, ia menghasilkan beberapa cerita dari kesukaannya membaca. Judul Pertama ceritanya, ‘Apa yang terjadi jika aku tidak ada.’ Kedua, ‘Kematian mungkin sesuatu yang membahagiakan.’ Ia kemudian mulai membaca buku-buku selain cerita. Dan mulai mengamati kehidupan masyarakat. Dan menyadari jika perempuan mendapatkan hak yang tidak sama dengan laki-laki. Menulis sebuah cerita lagi dengan kata-kata akhir, ‘Oleh karena para wanita tidak mendapatkan pendidikan dan derajat yang sama di masyarakat, maka laki-laki yang di hasilkan sama bodohnya dengan diri mereka dan kelak masyarakat tidak akan pernah maju dengan cara merendahkan perempuan.”


“Apakah ini kisah kakakmu?”


“Bukan, tapi adiku. Dia hidup di tempat terpencil, tapi masih bisa membaca beberapa buku dan mendapatkan berbagai pendidikan. Di desa tempatku berada tidak seperti di sini yang penuh dengan pertarungan. Di sana, hidup sebagai manusia biasa dengan tatanan masyarakat. Ketika adikku kembali, ia menyadari ketidak adilan itu dan menulis sebuah novel yang aku tidak tahu apa judulnya. Kisah itu membangkitkan semangat para wanita untuk melawan ketidak adilan itu dan kaum pria yang menganggap itu benar.


Mereka pun mulai berjuang demi hal itu. Tapi sayangnya tidak berhasil dan adikku...”


Xiang we terdiam memandang ke jauhan. “Mati dengan tidak tenang. Arwahnya masih bergentayangan di tempatnya mati.”


Bing Jiazhi pun bertanya, “Oleh karena itu kau membunuh laki-laki?”