Alam Mandala

Alam Mandala
keindahan dalam kecacatan



Cahaya matahari masuk dari jendela yang telah terbuka, menyinari sosok berpakaian putih yang indah dan tubuh anggunnya.


Zhizhu bersila indah di atas lantai. Tetua berdiri di belakangnya sembari berbalik menatap tembok dengan kedua tangannya berada di belakang punggung.


Tetua itu sedang membaca huruf-huruf yang tidak terlihat di antara lukisan-lukisan tembok. Di sana ada lukisan ombak, bunga persik dan bunga lentera biru.


Zhizhu melepaskan Pedang yang ada di punggungnya. “Tetua yang terhormat, kenapa adik Junior ini yang tentu saja baru masuk sekte memilihku sebagai lawannya?”


Ia merasa kesal dan tidak di hargai, mengingat bagaimana peringkatnya di sekte. Sekarang harus berhadapan dengan murid baru yang mungkin saja lemah dan tidak layak bertarung melawannya.


Andai saja bukan ketua yang menjadi gurunya memilihnya, ia sudah pasti menolaknya. Tetapi di hadapan orang yang telah berjasa terhadapnya, ia tidak akan pernah berani melakukan itu.


Zhizhu menarik pedangnya.


“Kau lihat nanti bagaimana kemampuannya.”


Nada ketua sangat serius, membuat zhizhu menjadi tertarik. Orang seperti apa yang telah membuat gurunya berkata seperti itu.


Zhizhu tersenyum, dan tiba-tiba beberapa garis-garis muncul di wajahnya. Ukurannya sama dengan benang. Kemudian, beberapa helai rambutnya terpotong-potong dan di tiup angin, menyebabkan potongan-potongan rambutnya berayun-ayun bagaikan daun-daun berguguran.


Belum sampai potongan-potongan rambutnya menyentuh lantai, pintu merah besar terbuka, dan Bing Jiazhi masuk dengan pedang kayu di punggungnya.


Zhizhu kemudian menatap Bing Jiazhi dengan tatapan tajam. Kedua matanya memperlihatkan kesan meremehkan terhadap Pemuda di depannya.


Bing Jiazhi tidak mempedulikannya dan memberi hormat kepada pria tua yang sedari tadi menatap tembok.


“Zhizhu, lawanmu sudah datang.” Ketika ketua berkata, ia berbalik menatap Bing Jiazhi.


Zhizhu berdiri kemudian melompat di samping Bing Jiazhi. Kemudian memberi hormat dan melompat dengan jarak lebih jauh.


Bing Jiazhi mengerti dengan apa yang terjadi, sehingga pedangnya tiba-tiba keluar dan mendarat di tangannya.


“Namamu Bing Jiazhi, kan?” tanya gadis itu setelah mendarat.


Bing Jiazhi mengangguk. “Kakak senior siapa?”


“Namaku Zhizhu, kau harus memanggilku kakak zhizhu.”


Zhizhu kemudian berlari tanpa menunggu Bing Jiazhi menjawab. Ia berlari bagaikan peluru yang di tembakan. Ketika Bing Jiazhi melihatnya, ia mulai bersiap-siap mengayunkan pedangnya.


Saat beberapa meter mendekati Bing Jiazhi, satu cincin muncul dan bersamaan dengan itu, cahaya biru langit keluar dari dahi Zhizhu, kemudian menyinari pedang putih bersih itu. Dalam sekejap, pedang itu berwarna biru langit dengan garis putih di ujung-ujungnya.


Swuss...!


Pedang itu beradu tanpa menimbulkan suara logam, tapi menimbulkan suara hantaman air, kemudian di susul dengan percikkan air dari pedang itu. Tetesan-tetesan air menghujani Zhizhu dan Bing Jiazhi. Dan pedang zhizhu hancur. Namun, Bing Jiazhi tidak bisa bergerak sedikit pun saat ini, seolah-olah seluruh tubuhnya di ikat dengan kuat.


Dalam sekejap, mereka saling bertukar pandang dan mendaratkan keseriusan dengan tatapan yang ganas. Walaupun dengan tatapan seperti itu, sosok anggun zhizhu dengan rambut pendeknya sangat bercahaya dan anggun, di tambah lagi saat ia mengayunkan pedangnya dan membuat rambutnya terangkat, siapapun yang menontonnya akan terkagum–kecuali ketua yang kini menonton.


“Adik Bing, kenapa kau terdiam?”


Zhizhu tersenyum puas. Namun, Bing Jiazhi tidak menjawab, ia terlihat tenang dan berusaha melepaskan diri. Entah apa yang menimpa tubuhnya hingga tidak bisa bergerak. Mungkinkah karena percikan air itu?


“Adik Bing, terima ini!!”


Ketika zhizhu berujar, ia mengayunkan pedang yang hancur itu ke samping, tapi siapa yang menyangka, Pedang itu kembali ke bentuk semula. Dan....


Byurrrr!!!


Satu ayunan mampu membuat tubuh Bing Jiazhi terlempar keras bersamaan dengan percikan-percikan air yang di timbulkan oleh ayunan pedang itu. Bing Jiazhi merasakan tekanan dan kekuatan yang sangat mengintimidasi dari tubuh zhizhu. Ia tidak tahu seberapa kuat zhizhu saat ini, yang pasti lebih kuat darinya.


Ketika terlempar, tangan kiri yang terkena terasa sakit, tapi semakin lama, rasa sakitnya terasa melilit. Walaupun begitu, Bing Jiazhi bisa mengendalikan tubuhnya.


Ia sekarang berdiri beberapa tombak dari zhizhu dengan wajah sedikit pucat dan gelap. Wajah tenangnya menghilang saat ini.


Zhizhu tersenyum setelah melakukan serangan keduanya. Sesaat kemudian, bola-bola air jernih menggumpal di lantai dan terbang mengitarinya. Rambutnya yang pendek sedikit mengembang. Dan pedangnya kembali ke wujud semula.


Ketua yang sebelumnya memperhatikan huruf-huruf kini duduk bersila dan mengamati pertarungan.


Kekuatannya terasa lebih kuat dari Pria sebelumnya yang ia lawan. Bing Jiazhi tidak punya pilihan lain menggunakan teknik gabungan. Jika ia menggunakan teknik kuat sebelumnya saat di sekte bambu, ia belum mempersiapkannya.


Kedua mata Bing Jiazhi terpejam. Ia kemudian mengangkat pedangnya di depan dahinya. Tiga cincin lalu terbentuk dengan tekanan yang lebih berat seiring munculnya.


zhizhu sedikit terkejut tapi kemudian tersenyum, ternyata orang yang baru masuk ini memiliki kemampuan seperti ini, sebuah kemampuan yang jarang sekali baru datang ke sekte.


Ketua tidak memperlihatkan reaksi apa pun karena ia sudah mengetahui semua informasi mengenai Bing Jiazhi.


Bersama dengan ketiga cincin itu menghilang, Bing Jiazhi menghilang. Kemudian tiba-tiba muncul di belakang Zhizhu kemudian menganyunkan pedangnya. Tapi sayangnya, zhizhu diam-diam sudah menggunakan cincin keduanya lewat belakang punggungnya, sehingga serangan Bing Jiazhi di patahkan dengan bola-bola air yang mengitari tubuh zhizhu.


Bing Jiazhi menghilang dan muncul lagi beberapa sisi untuk menyerang, tapi semuanya tidak ada gunanya.


Bing Jiazhi kembali ke tempat awalnya. “Kakak Zhu, aku kalah.”


Kata-kata itu mengejutkan zhizhu dan ketua, mereka ingin mengetahui mengapa menyerah sebelum mengeluarkan semua yang di miliki oleh Bing jiazhi, tapi mereka lebih memilih menunggu apa yang akan di katakan Bing Jiazhi selanjutnya.


Awalnya Bing Jiazhi ingin menggunakan teknik gabungan, tetapi, ia tiba-tiba mengurungkan niatnya. Tidak ada gunanya melakukan serangan habis-habisan, jika pada akhirnya ia akan kalah. Pengalaman terdahulu membuatnya mengakui kalah daripada berjuang sampai batas yang hanya sia-sia. Bing Jiazhi tahu, ia tidak akan bisa mengalahkannya, walaupun mempunyai pedang yang kuat untuk mendukungnya.


Namun, bukan berarti ia berhenti begitu saja. Ia memberi hormat dan pergi.


Itu membuat ketua bertanya, “Jika kau tidak bisa mengalahkannya, maka kau tidak boleh pergi.”


Ia berharap membuatnya berjuang hingga akhir, tapi itu tidak terpengaruh terhadap Bing Jiazhi.


Bing Jiazhi membuka pintu dan cahaya matahari masuk ke dalam. “Aku mengerti. Kakak zhizhu, dalam satu bulan kita akan bertarung lagi di tempat yang sama.”


Bing Jiazhi berjalan menjauh dan pintu pun perlahan-lahan tertutup.


Ketua menghela nafas dan berdiri, kemudian membalikkan badannya untuk membaca huruf-huruf. “Ternyata dia tidak mempunyai dedikasi untuk tujuannya.”


“Mungkin saja.”


Zhizhu memandang lama ke arah pintu. Ia tidak yakin dengan apa yang di katakan ketua. Jika Bing jiazhi tidak mempunyai dedikasi, ia tidak mungkin akan mencoba melawannya lagi. Dan lagi pula, pertarungan ini tidak adil baginya.


Ia kemudian memasukkan kembali Pedangnya. “Ketua terhormat, aku pergi dulu.”


...----------------...


Kelopak-kelopak bunga persik kian berjatuhan tanpa tiupan angin. Para dayang dan anak-anak gadis biasanya mencari-cari kelopak-kelopak bunga unik di tengah berguguran pohon besar yang menutupi sebagian taman kediaman Tuan muda Xiang Li.


Di depan pohon itu ada telaga teratai yang indah dengan beberapa ikan-ikan warna-warni menghiasinya. Biasanya kupu-kupu berterbangan mengitari bunga-bunga teratai.


Xiang Li dengan tenang berdiri menatap para dayang dan anak gadis mereka yang melakukan hal yang tidak berguna itu.


Ia meneguk arak dan berkata sembari menatap pemandangan itu. “Sudah bertahun-tahun keluarga Xiang menjadi terkuat di desa. Kita mencapai puncak dan memiliki reputasi begitu mengagumkan. Tapi, tidak di sangka-sangka sampah tidak berguna itu datang dan menghancurkannya. Bajingan! Memang bajingan!!” Tanpa terasa, Xiang Li menghancurkan cangkir di tangannya menjadi debu. “Keluarga Xiang terkenal dengan kata-katanya, jika musuh memotong satu jari keluarga Xiang, maka keluarga Xiang akan memotong seluruh jari-jari musuh, bahkan hingga ke jari kakinya.”


“Aku ingin kau melakukannya. Bunuh sampah itu! Potong semua tangan dan kakinya! Dan Bawa jantungnya ke hadapanku!”


Pria berpakaian hitam dengan tato naga di lengannya mengangguk dan lenyap begitu saja.


Xiang Li merasa geram dengan tindakan Bing Jiazhi. Walaupun adiknya, Xiang Guang bisa di sembuhkan, reputasi keluarga dan kemarahannya tidak terbendung. Ketika Patriak keluarga mendengarnya, ia langsung mengerahkan semuanya dan segera melakukan tindakan. Namun belum mendapatkan hasil apapun. Sebagai kakaknya, Xiang Li tidak diam saja, meski ia tahu ada orang kuat di balik Bing Jiazhi.


Ia kini sangat mengharapkan kabar kematian Bing Jiazhi.


“Tuan muda! Tuan muda!”


Xiang Li ingin bergegas pergi, tapi seorang gadis memanggilnya. Ia adalah gadis dari anak pelayan itu. Setelah tiba, ia mengatur nafasnya, kemudian mengangkat tangannya. “Tuan muda! Lihat! Aku menemukan kelopak bunga yang unik! Tiga kelopak bunga bersatu, lihatlah! Begitu unik!”


Xiang Li mengambilnya. Tiga kelopak bunga itu memang unik. Dengan penyatuan tiga kelopak, menghasilkan kelopak bunga yang lebih besar. “Kau benar, tapi sayang sekali, keindahan itu terbentuk dari kecacatan.”


Xiang Li kemudian pergi meninggalkan gadis itu dengan penuh pertanyaan.


Gadis itu memandang sebentar dan mengangkat wajahnya. “Apa maksudnya, ibu?”