
Siang itu, burung surga yang indah berdiri di atas tebing. Bulu-bulu putihnya yang halus begitu bercahaya saat sang matahari siang menyinarinya. Ia menghempakkan kedua sayapnya dan mengangkat tinggi-tinggi kepalanya yang panjang seperti kepala burung merak. Jangernya yang indah menari-nari dan menarik perhatian Xiao Na.
Ia kemudian membuka ekornya beberapa saat lalu menutupnya, kemudian menundukkan kepalanya, sembari menutup kedua sayapnya. Ia seperti ingin di elus-elus oleh Xiao Na. Matanya yang putih yang sebelumnya memancarkan aura intimidasi kini terlihat sangat polos dan membutuhkan kasih sayang dari Xiao Na.
Sementara Xiao Na sendiri terkejut dan terdiam. Dengan pemandangan yang mengejutkan ini, ia tidak bisa berkata apa-apa selain hanya mematung. Kedua matanya saat ini mengandung kekaguman sekaligus ketakutan. Tentunya ia tahu makhluk itu adalah burung surga, burung yang sangat indah, sekaligus burung paling berbahaya di dunia ini. Kemunculannya yang tiba-tiba siapa yang tidak takut dan terkejut?
Karena angin yang sangat kencang akibat hempasan sayap burung itu, membuat rambut Xiao Na yang sebelumnya terikat terbuka dan terurai, membuat sosoknya yang cantik semakin cantik.
Mata ungu cerahnya kemudian berkedip. Ia tanpa sadar mengangkat tangannya. Bergerak ingin membelai kepalanya, tetapi tiba-tiba berhenti. Ia menyadari akan bahaya yang akan terjadi jika terlena dengan sikap polos burung itu. Ia kemudian memandangnya dan seperti mengerti, burung itu menurunkan kepalanya lebih rendah.
Xiao Na yakin dengan sikap burung itu dan tanpa ragu mengusap kepalanya. Ia sangat menikmatinya dan ternyata sangat lembut. Apalagi bulu jangernya yang begitu halus. Ia tanpa sadar melakukan beberapa kali hingga akhirnya tersadar.
Xiao Na kemudian menarik kembali tangannya, lalu memandang burung itu dengan wajah penuh tanda tanya. Mengapa ibunya memberikan ini? Apakah burung ini adalah hewan yang akan mengantarkannya pergi bertemu ayahnya?
Apakah selama ini ibunya akan mengatakan semua kebenarannya pada saat yang tepat. Tetapi kapan saat yang tepat itu? Apakah itu sekarang?
Xiao Na kemudian mengingat bagaimana ekspresi kesedihan ibunya setelah menderita karena penyakit bertahun-tahun, yang ibunya sembunyikan dan kondisinya semakin parah, kemudian pada akhirnya membuat ibunya pergi untuk selamanya. Wajah ibunya pucat, tetapi Xiao tidak tahu apakah itu karena ia mengatakan fakta tentang ayahnya atau karena sakitnya.
Xiao Na kemudian merenunginya sejenak. Dan ia akhirnya akan memutuskan mencari tahu segalanya dari kamar ibunya setelah pergi dari sini. Mungkin saja ibunya meninggalkan sesuatu yang penting terkait hal ini.
“Apakah kau bisa mengantarkanku pulang?”
Burung itu memejamkan matanya kemudian mengangguk. Ia kemudian menurunkan tubuhnya dan duduk, agar Xiao Na dapat menggapai punggungnya.
Xiao Na senang, kemudian mendekatinya dan duduk di atas punggung burung itu. Burung itu kemudian berdiri dan menghempakkan kedua sayapnya kemudian terbang.
...----------------...
Ketika berjalan beberapa meter lagi ke dalam hutan, akhirnya Huang Tang berhenti di sebuah gubuk tua lagi. Ia kemudian mengeluarkan pedangnya dan memandang tajam sosok yang muncul dari pintu.
Ia adalah seorang pria dengan wajah lembut dan rambut panjang. Orang-orang akan terpesona dengan ketampanannya, meski wajah itu tidak muda lagi. Sebuah pedang panjang keluar dari Jubah hitamnya.
“Sebelum kita bertarung, bagaimana kalau-”
Huang Tang sangat marah dan tidak ingin membuang waktu; ia tiba-tiba muncul di depan pria itu. Dengan pedang yang di selimuti aura kegelapan ia lalu menargetkan kepala pria itu.
Ayunan pedang itu sangat mengerikan. Satu ayunan itu tidak mengenai apa-apa dan pria itu dengan cepat menghilang. Kemudian setelahnya, gubuk yang ada di belakangnya hancur menjadi butiran-butiran yang sangat kecil. Pohon-pohon di sekitarnya meledak dan daun-daun menjadi butiran-butiran debu. Apakah sekuat ini serangannya?
Huang Tang kemudian memandang jauh ke arah pohon kemudian berjalan menjauh.
Sementara pria tadi berdiri di atas dahan seraya memandang kepergian Huang Tang. Ia bukan tandingannya dan pada akhirnya dengan bertarung dengannya hanya akan membuang nyawanya secara percuma. Jika bukan karena ia adalah orang penting di dalam organisasi, maka ia hanya akan mati, entah karena serangan mematikan Huang Tang atau karena segel organisasi.
Sebagai orang yang ingin mengembangkan kultivasinya, maka ia harus melakukan latihan-latihan yang berat dan membosankan. Suatu hari ia akhirnya menemukan solusi agar berkembang lebih cepat, yaitu dengan mendapatkan gadis dari suku peri itu, namun ternyata, orang yang melindunginya sangat mengerikan, yang tidak mampu ia lawan. Ia kemudian hanya bisa menghela nafas panjang dan mengurungkan niatnya.
Kemudian ia tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang dan memandang ke bawah. Di sana, Seorang gadis berjalan memayungi seorang gadis.
Xiao Yun kemudian berhenti. “Nona, kita telah sampai.”
Lu Hien mengangguk. “Tuan yang ada di atas, jika anda ingin berurusan dengan Huang Tang, maka anda jangan pernah mencobanya lagi, kecuali jika anda ingin bunuh diri.”
Pria yang ada di atas kemudian memandang gadis itu dan bertanya-tanya siapa ia.
Lu Hien melanjutkan, “Ada lagi orang-orang yang tidak boleh anda sentuh, ia adalah Huang Shu, anak gadisnya dan Bing Jiazhi. Mereka berdua mewarisi sikap dari Huang Tang. Jika anda ingin selamat, maka jangan pernah mengusiknya.”
Lu Hien kemudian menganguk kepada Xiao Yun lalu berjalan pergi, akan tetapi pria itu menghentikannya.
“Siapa dirimu?”
“Anda tidak perlu mengetahuinya. Aku bukan musuhmu, juga bukan rekanmu.”
Mereka berdua kemudian pergi dari sana dan pria itu membiarkannya.
...----------------...
Setelah berlari dan melompat-lompat, akhirnya malam menyelimuti langit dan membuatnya sangat hitam. Huang Tang akhirnya menemukan Shao Dong’er. Ia masih sehat dan tidak terjadi apa-apa. Ia hanya berdiri di atas rumput dan sesekali menikmati malam atau sekedar mengangkat tangannya.
Menyadari Huang Tang datang, ia kemudian berbalik sembari berkata, “Domba tidak akan pernah bisa hidup tanpa penggembalanya.”