
Bing Jiazhi hanya melihat warna putih, tapi kemudian setelah ia membuka matanya, cahaya matahari telah menyusup dari korden-korden jendela. Ia kemudian terbangun lalu melihat gulungan seribu pedang yang masih terbuka.
Gambar-gambar pedang di sana terlihat lebih jelas di pagi hari itu. Pedang yang disentuh sebelumnya masih sama, hanya saja, ada bekas darah dan tulisan-tulisan kecil yang sulit di baca.
Bing jiazhi berusaha membacanya, tapi itu sia-sia; tulisan itu terlalu kecil untuk di baca. Ia menghela nafas dan di saat itu juga, pintu terbuka memperlihatkan sosok pria berpakaian biru masuk.
Huang Tang berkata layaknya seorang yang bodoh dan polos, “oh, boleh aku masuk?”
Bing jiazhi sedikit menyeringai. Ia kemudian berdiri lalu berkata, “Tidak ada yang melarangmu datang, Ayah mertua.”
Bing jiazhi kemudian berjalan mendekati jendela. Ia menyibak korden merah di sana, lalu melihat pemandangan di luar, yang ternyata sangat indah dan sangat cerah, yang bahkan segerombolan burung-burung berterbangan riang di langit. Matahari di timur bagaikan lentera yang sangat besar, dan latar biru itu bagaikan sebuah kain raksasa menyelimuti dunia. Pagi itu tidak ada awan-awan sedikit pun, tetapi karena itulah, sosok matahari yang bersinar mampu menyinari celah-celah dunia yang tidak terlihat sekali pun.
Setelah mengamati beberapa saat, rasa sakit yang menusuk tiba-tiba muncul di dadanya, kemudian Bing jiazhi terbatuk-batuk lalu mengeluarkan darah.
Suara batuk-batuk itu terdengar seperti seseorang yang memiliki penyakit paru-paru, dan suara itu terdengar sangat menyedihkan.
Memegang korden, Bing Jiazhi memuntahkan darah dan batuk-batuk lagi.
Huang Tang mendekatinya, lalu ia berkata tenang, “Luka yang kamu alami sangat parah, jika tidak di obati, maka kamu akan sulit untuk melangkah maju.”
Bing Jiazhi memandang Huang Tang, ia kemudian duduk dan Huang Tang mengikutinya. Setelahnya, Bing Jiazhi berucap sembari menahan rasa sakit di dadanya, “Apa ada obat yang kau bawa? Jika kau sayang pada putrimu sekarang, maka kau harus mengobatiku, jika tidak, maka aku harus pergi dari sini.”
“Siapa yang tahu jika aku bertemu denganmu di sini. Tetapi karena itu, maka aku harus menolongmu, sayangnya ada bayaran yang harus kamu lakukan.” Huang Tang kemudian memandang Bing, dan ia tidak berkata-kata lagi seperti sedang melihat dan menunggu jawaban, serta reaksi Bing Jiazhi setelah mendengar hal itu.
Bing Jiazhi kemudian menunduk dan ia berpikir apa persyaratan yang mungkin akan di ajukan oleh Huang Tang. Setelah beberapa saat berpikir, ia kemudian mengangkat wajahnya memandang Huang Tang. “Apa itu?”
“Ini sederhana.”
...----------------...
Mengusap lembut pedang di pangkuannya, Zhizhu memikirkan mengapa pedang itu bisa berada di tangannya, dan mengapa pula keberuntungan seperti ini bisa menimpa dirinya.
Sejak masih kecil, keberuntungan kecil jarang sekali ia dapatkan, dan selalu berdoa agar di berikan keberuntungan, meski tidak besar, setidaknya itu adalah sebuah keberuntungan. Namun, keberuntungan tidak pernah menimpa dirinya, tapi sekarang saat ia tidak menginginkannya, keberuntungan itu datang begitu saja, seperti angin yang berembus tiba-tiba.
“Mengapa bisa terjadi?”
Ia merasa aneh dan bertanya-tanya apakah keberuntungan ini sebuah anugerah atau sebuah kutukan. Tapi setelah beberapa saat, ia menghela nafas. “Aku harap, setidaknya ini bukan sesuatu yang buruk.”
Ia kemudian mengusap-usapnya lalu memandang cahaya matahari yang menyusup dari jendela yang terbuka. Dari sana, angin berembus pelan dan membawa berbagai macam aroma.
Ia memandang lama kemudian memuji keindahan itu. Di saat itulah pintu terbuka dan seorang wanita berpakaian merah muda masuk. Ia mengetuk pintu pelan kemudian permisi dengan hormat, “Bisakah saya masuk, nona?”
Zhizhu mengangguk, ia lalu memandang pedang itu.
Wanita yang masuk, tidak lain adalah Shao Dong’er. Ia terdiam sebentar ketika Melihat Zhizhu memandang pedang yang ada di pangkuannya. Setelahnya berkata sambil mendekat, “Ternyata pedang master masih ada hingga saat ini.”
“Apakah anda juga murid dari master dewi pedang?” Zhizhu bertanya penuh antusias.
Saat itu juga, Zhizhu berkata tanpa memandangnya, “Sekarang anda tentunya akan mengambil pedang ini dan menyerahkannya kembali kepada Dewi pedang?”
Sangat berat ketika keberuntungan yang besar ini tiba-tiba lenyap di hadapannya, tetapi di saat bersamaan, itu juga membuatnya melepaskan bebannya, namun, tiba-tiba Shao Dong’er berkata sebaliknya. “Tidak juga. Guruku tidak ada lagi bersamaku.”
“Apakah anda tahu di mana ia sekarang?”
“Tidak ada yang tahu di mana ia sekarang, tapi dia, aku yakin, telah berada di suatu tempat yang damai.”
“Apakah anda akan berusaha menemukannya?”
Shao Dong’er menggeleng. “Tidak juga. Itu adalah hal yang sia-sia.”
Shao Dong’er kemudian mengulurkan tangannya yang berwarna kecoklatan itu. Zhizhu kemudian mengerti dan menyerahkan pedang itu kepadanya.
Saat pedang itu menyentuh tangan Shao Dong’er, tiba-tiba dari telapak tangannya muncul warna putih, lalu menyebar ke seluruh tubuh Shao Dong’er. Dalam sekejap, wajahnya yang hitam berwarna putih dan memiliki kulit yang halus. Rambutnya tambah lebih panjang, serat tubuhnya memancar aroma bunga persik.
Zhizhu terkejut dan membatin, ‘inikah kemampuan pedang itu?’ ia sebelumnya hanya mendengar kabar itu dari Buku-buku sejarah, dan ternyata itu benar adanya. Melihanya secara langsung, membuat Zhizhu merasa gembira dan senang.
Shao Dong’er kemudian memandang Zhizhu. Ia tersenyum. “ini adalah kemampuannya. Apakah kau menyukainya?”
Zhizhu secara otomatis mengangguk.
“Kau mungkin bertanya, mengapa tidak terjadi padamu saat menyentuhnya, itu adalah hal yang akan aku ajari kepadamu.”
“mengapa tidak anda saja membawa pedang itu dan menggunakannya?” Meski merasa gembira, Zhizhu penasaran apa alasan Shao Dong’er mengajarkannya, dan terlebih itu adalah pedang tingkat tinggi.
“Kau tidak menyukainya?”
“Bukan seperti itu, aku hanya penasaran.”
Shao Dong’er tersenyum. “Aku tidak bisa mewarisinya. Pedang ini memilih pewarisnya sendiri, dan itu kau. Aku tidak berhak membawanya, meski pedang ini merupakan pedang guruku. Jika aku tidak bisa membawa atau menggunakannya, setidaknya aku bisa memastikan pedang ini aman dan berada di tangan yang tepat.”
Zhizhu kemudian mengerti, tapi jawaban itu memicu pertanyaan lainnya, “Kenapa harus aku?”
“Aku tidak tahu tentang itu.”
Zhizhu memandang wajah wanita itu beberapa saat, dan kemudian menyimpulkan jika apa yang di katakannya benar. Ia kemudian mengangguk. “Aku akan menerima pengajaranmu dengan senang hati.”
Shao Dong’er kemudian berdiri, kemudian berjalan lima langkah ke depan. Sementara setelah melihatnya, Zhizhu berdiri dan melangkahkan tiga langkah ke depan. Ia lalu membungkuk dan mengangkat ke tangannya. Dengan wajah memandang ke bawah, ia berkata, “Aku berjanji akan selalu menuruti seluruh instruksi yang anda berikan, nyonya.
Shao Dong’er kemudian meletakkan pedang itu di tangan Zhizhu lalu berkata, “Di hadapan pedang ini, kau telah berjanji. Akan ada hukuman jika kau melanggarnya dan ada sesuatu yang kau dapatkan setelahnya.” Perlahan-lahan tubuh Shao Dong’er bercahaya dan wajah serta tubuhnya kembali seperti semula.
Zhizhu memandang pedang itu, kemudian mengangguk. “Aku akan memegang kata-kataku.”