
Keesokan harinya, Bing jiazhi bangun lebih pagi. Tubuhnya yang terasa sakit kini lebih baik dari sebelumnya. Jika bukan karena sesuatu itu, mungkin ia masih terbaring di ranjang.
Bing Jiazhi tidak pernah berpikir jika kertas itu adalah semacam gulungan penyembuhan yang di berikan oleh gadis itu. Ia merasa bersyukur karena telah di berikan obat seperti itu.
Saat duduk di meja, pintu keluar perlahan-lahan terbuka dan memperlihatkan sosok wanita rambut panjang memakai Han fu berwarna coklat.
Ia membawa cangkir dan teko di tray. Menghidangkannya kemudian duduk di samping Bing jiazhi lalu memandangnya.
Bing Jiazhi mengucapkan terima kasih kemudian meminumnya.
Setelah satu tegukan, Xiang We berkata, “terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena telah menolongku.”
Bing Jiazhi mengangguk. “Kita akan pergi sekarang, apakah kau sudah menyiapkan semuanya?”
Xiang we mengangguk. Ia kembali teringat dengan adiknya, mengingat bagaimana penderitaan dan kesedihan yang di alaminya.
“Iya, aku sudah mempersiapkannya.”
*****
Saat matahari sedikit naik, Bing Jiazhi dan yang lainnya menaiki kereta kuda dan melanjutkan perjalanan.
Di lantai lima belas, ibu kota kekaisaran terlihat sangat mengagumkan. Apa pun akan terlihat di sini, bahkan akan terlihat batas laut yang jauh.
Tentunya angin yang bertiup sangat kencang dan jika muncul kabut, maka tempat ini yang lebih awal merasakannya.
Sheng Shu berdiri di sana dengan wajah damai.
Meski pemandangan di depannya luas dan indah, ia hanya memerhatikan kereta kuda yang sedang melaju melintasi ibu kota.
“Ia sudah pergi.”
Sheng Shu kemudian tersenyum lalu berbalik pergi.
...----------------...
Sosok anggun muncul dari pintu. Han fu berwarna merah darah dan tubuhnya yang indah membuat semua tamu yang ada memandang wanita yang sedang berjalan menuju ke aula utama.
Berjalan tenang, di kawal dua orang pelayan di sampingnya. Tangannya ada di depan.
Namun, Wajahnya tidak terlihat karena kain merah menutupinya, tapi samar-samar terlihat wajahnya yang bulat dan berwarna putih.
Di aula, sosok pria berumur sekitar 25 tahun berdiri memandang kedatangan gadis itu.
Saat sudah dekat, pengantin wanita terdiam, sedikit mengangkat wajahnya dan tersenyum.
Pria itu kemudian juga ikut tersenyum.
...----------------...
Sudah sepuluh tahun pernikahannya Chao Ming, akhirnya langit memberkatinya seorang anak.
Orang-orang yang ada di kota Jiangsu mulai membicarakannya selama sepuluh tahun terakhir.
Chao Ming merasa sangat marah ketika orang-orang membicarakannya, maka dari itu, ia pun berujar memarahinya kemudian pergi.
Tapi tetap saja mereka membicarakannya.
Saat ini akhirnya ia dapat melihat istrinya mengandung dengan perut besar, rasa bahagia yang dalam memenuhi hatinya.
Ketika membuka pintu, istrinya yang mengandung duduk sambil mengusap-usap perutnya yang sudah membesar dan sebentar lagi akan melahirkan.
Istrinya melirik Chao Ming kemudian berkata, “Apakah surga tidak memberkati kita?” ia diam sebentar. “Anak yang ada di dalam kandunganku tidak bergerak, tidak pernah. Tidak seperti bayi normal. Ketika aku memeriksakan diri, tabib mengatakan jika anak yang ada di dalam kandunganku sudah mati beberapa bulan yang lalu. Lalu aku bertanya mengapa perutku masih membesar, dia mengatakan itu adalah sesuatu yang aneh. Tuan, apakah aku mengandung anak monster?”
Chao Ming mendekatinya tanpa berkata.
Istrinya bertanya dengan mata berkaca-kaca.
“Ini bukan kutukan.”
“Lalu apa?”
Chao Ming tidak menjawab. Ia kemudian mengangkat istrinya lalu membaringkan di ranjang. Menarik selimutnya. “Kau terlalu banyak berpikir. Tidak ada kutukan dan anak monster. Anak itu hanya malas bergerak.”
Ia lalu pergi dari sana tanpa berkata apa-apa lagi.
...----------------...
Kelompok Bing Jiazhi akhirnya tiba di desa Laut biru. Sama seperti sebelumnya, desa itu sangat merendahkan perempuan. Di setiap Titik beberapa orang menjual anak gadis mereka, menawarkannya kepada orang-orang datang.
Xiang We merasa jengkel dan berjalan lebih cepat tanpa menoleh.
Tidak beberapa lama mereka akhirnya tiba di rumah Xiang We yang sedikit besar. Halaman rumahnya di penuhi daun-daun berguguran yang berwarna coklat.
Sangat banyak, yang bahkan tanah tidak terlihat.
Seorang wanita pelayan menyapu di halaman sambil tetap fokus pada pekerjaan itu, hingga tanpa menyadari Xiang We kembali pulang.
Wanita itu adalah pelayan yang ada di rumah. Mereka tentunya tidak hanya satu, tapi karena penghasilan keluarga Xiang yang menurun, membuat Pelayan perlahan-lahan di hentikan atau pergi karena belum mendapatkan gajih.
Xiang we berjalan mendekatinya.
Wanita itu kemudian terdiam dan melirik Xiang We, lalu memandangnya. Wanita itu mengerutkan kening beberapa saat, lalu terkejut. “N-Nona muda?!”
Xiang We mengangguk sedikit.
Wanita itu kemudian mendekatinya dan memegang pipinya.
“ah! Benar, anda memang Nona muda!”
Pelayan itu kegirangan dan memeluk erat Xiang We. Bing Jiazhi dan yang lainnya terdiam menatapnya.
“Nona muda, anda lebih kurus dari sebelumnya.”
Pelayan wanita itu berumur sekitar 40 tahunan. Sejak ia bekerja di keluarga Xiang, ia pernah merawat Xiang We kecil dan mengusap-usap Pipinya. Ia sangat mengenal bagaimana pipi Nona dari keluarga Xiang tersebut. Sehingga ia merasa perlu melakukannya untuk memastikannya.
Wanita itu kemudian menariknya. “Nona muda, tuan dan nyonya sangat merindukanmu!”
Xiang We tidak punya pilihan lain, dan mengikutinya. Ia tidak lupa mengisyaratkan Bing Jiazhi dan yang lainnya untuk mengikutinya.
Saat pintu tua rumah besar itu terbuka, perlahan-lahan bau kuno ke luar. Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu aula utama keluarga Xiang berada. Semuanya sedikit di penuhi debu-debu, dan ada beberapa sudut di penuhi sarang laba-laba.
Xiang We dan yang lainnya memandangnya.
Merasa tidak enak, wanita itu kemudian berkata, “Maaf karena belum saya bersihkan.”
Mereka lalu berjalan ke sebuah ruangan.
Di sana adalah sebuah kamar. Ketika di buka, dua orang paru baya berada di sana. Seorang pria berumur 50 tahunan duduk di meja sambil menulis, sementara seorang wanita duduk sambil melipat gaun-gaun.
Saat pintu terbuka, wanita itu kemudian memandang siapa yang datang, sementara pria itu masih fokus menulis.
Wanita itu terdiam beberapa saat ketika menatap Xiang We, lalu tersenyum tipis kemudian menaruh gaun yang telah di lipat. “Meski orang-orang memiliki rumah besar dan hal-hal penting di luar, mereka tidak akan bisa bertahan di sana untuk selamanya.”
Ia kemudian berdiri dan berjalan mendekati Xiang We. “We’er kamu pulang. Selamat datang kembali.”
Wanita itu kemudian memandang rambutnya yang panjang. “Rambutmu tampaknya lebih panjang dari sebelumnya, bahkan hampir menyentuh lantai. Aku harus memotong dan merapikannya.” Wanita itu kemudian memandang Bing Jiazhi dan yang lainnya. “Kamu juga membawa beberapa teman, ini adalah sebuah keberuntungan jika kamu membawanya, tapi sayangnya kita belum mempersiapkan apa pun.”
“Mereka datang bukan untuk berkunjung, tapi untuk membantu kita.”
“Setidaknya kita menyambut mereka.” Wanita kemudian memegang tangan Xiang We. “Kamu pasti menderita di luar. Beristirahat sebentar bersama temanmu. Nanti malam kita makan bersama.”