Alam Mandala

Alam Mandala
Organisasi gelap



Lalu setelahnya, ia merasa kesakitan pada tangannya yang sedang memegang pedang. Zhizhu masih bisa menahan tolakan energi dari pedang itu. Kemudian muncul samar-samar aura keunguan dari bilah pedang itu, dan bau harum yang begitu harum memenuhi ruangan.


Tidak lama setelahnya, aura ungu itu meledak, dan ruangan itu di penuhi warna ungu, beberapa lalu keluar dari celah-celah yang ada.


Setelahnya muncul kelopak-kelopak bunga persik berterbangan mengitari tubuh Zhizhu. Dalam sekejap, ruangan itu di penuhi kelopak-kelopak bunga segar. Segera setelahnya, Zhizhu merasa terhubung dengan pedang itu. Ia merasakan energi dari pedang itu terasa lembut dan menyegarkan.


Selain itu, ia juga merasa tubuhnya terasa lebih ringan, rambutnya yang pendek terasa memanjang, dan tingginya juga terasa lebih tinggi. Zhizhu penasaran dan bertanya apakah ia berhasil mengendalikan pedang bunga persik.


Ia pun kemudian berdiri dan mendekati cermin. Benar, tubuhnya lebih tinggi dan berisi. Wajahnya lebih tirus dan kulitnya lebih lembut dengan warna putih cerah. Yang paling mengesankan, rambutnya tumbuh lebih panjang dan sangat sehat dengan warna hitam berkilau.


Zhizhu kemudian memandang pedang bunga persik yang di genggamnya. Ia kemudian mengayunkannya ke arah jendela, dan jendela terbagi-bagi menjadi beberapa bagian lalu terjatuh, terlihatlah pemandangan yang ada di luar yang di penuhi bintang-bintang.


“Aku berhasil.”


Ia gembira melihatnya dan mencoba pedang barunya itu. Mengayunkannya ke samping kanan dan kiri. Setelah di ayunkan akan muncul bunga-bunga persik yang indah.


...----------------...


Malam itu, begitu hening, mencekam dan dingin. Tidak ada suara kodok dan serangga-serangga lainnya, yang bahkan bintang-bintang tidak menampakkan dirinya.


Shao Dong’er berdiri di luar kamarnya sembari mengamati Huang Tang yang berjalan ke luar entah apa yang akan di lakukannya saat ini.


Tidak berusaha mencarinya dan mengatakan pergi, membuatnya kecewa, marah dan semakin membencinya. Lalu Setelah mencapai di gerbang, seorang wanita telah menunggunya sembari memegang lentera.


Shao Dong’er tidak tahu siapa wanita itu, tapi kecemburuan muncul di hatinya, kemudian bertanya-tanya apakah suaminya telah berkhianat hingga sejauh ini?


Jika apa yang di lihatnya ada benarnya, maka ia bertanya, apakah dirinya tidak cukup untuknya, apakah ia tidak cantik sehingga mencari wanita lain dan diam-diam pergi menemuinya tanpa meminta izin kepadanya?


Ia kemudian mengalihkan perhatiannya ke hal-hal lainnya. Ia percaya Suaminya itu tidak akan menghianatinya. Shao Dong’er sangat mengenalnya, Huang Tang sulit melanggar janji pernikahannya dan akan selalu setia dengannya, meski pun telah terjadi masalah di antara mereka.


Gurunya telah meramalkan perbintangan di antara mereka, dan gurunya berkata, “ seperti bunga kembang kertas yang menyelimuti pohon tua; saling membutuhkan meski sangat menjengkelkan.”


Dan apa yang gurunya katakan benar adanya, Shao Dong’er yang memiliki sikap keras, suka mengganggu dan mengerjai Huang Tang selalu membuat Huang Tang kesal, tapi tanpa itu, Huang Tang tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya kebahagiaan dan mempunyai orang dekat, meski, Shao Dong’er membuatnya kesal dan marah.


Sejak berguru di Sekte Bunga Persik, tidak ada gadis-gadis yang mau mendekatinya, kecuali Shao Dong’er dan itu merupakan keberuntungan dan kesialan yang selalu di alami Huang Tang.


Setiap kali Shao Dong’er menemukannya, maka ia akan mengatakan ‘domba’ atau sesuatu yang sama untuk mengejek Huang Tang. Sementara Huang Tang kesal dan melawan balik. Maka terjadilah keributan di antara mereka, yang pada akhirnya Huang Tang kalah kemudian pergi.


Di lain tempat, terjadilah saling membahu di antara mereka.


Setelah mengamati beberapa saat, Shao Dong’er memandang kepergian Huang Tang.


Ia ingin pergi, tapi pria yang sebelumnya ia lihat di telaga muncul dan bersandar di sampingnya.


“Wanita cantik, apakah aku bisa menemanimu?”


Shao Dong’er sangat malas berurusan dengan pria itu, tapi ia tidak bisa tidur, maka dari itu dengan dingin menjawab, “ Terserah, apakah tuan berkenan atau tidak. Tuan, aku bukan seorang Nona lagi; aku sudah menikah dan mempunyai anak.”


“Tapi di mataku kau masih seorang nona muda.”


Shao Dong’er memikirkannya. Jika ia menampilkan sosok aslinya, maka orang-orang menyebutnya seorang Nona karena penampilannya. Ia tidak tahu apakah pria itu hanya ingin menggodanya atau memang ia mengetahui tampilan aslinya.


“Apa yang membuat tuan berkata seperti itu?”


“Seorang yang sedang jatuh cinta tentunya.”


“Aku akan menunggumu.”


“Tuan tidak akan mendapatkannya.”


Shao Dong’er kemudian berbalik dan pergi dari sana.


...----------------...


Keesokan harinya, akhirnya Matahari yang cerah akhirnya kembali terbit dan burung-burung berkicau indah. Para pengunjung penginapan berjalan-jalan di luar sembari menikmati cuaca cerah hari itu. Beberapa juga merasa sangat senang, karena malam yang dingin akhirnya berlalu dan mereka bisa melakukan pekerjaan yang tertunda akibat hujan.


Shao Dong’er keluar dengan pakaian hijau pandan. Ia tidak menyapa para pengunjung atau pun memberi kesan ramah kepada mereka. Ia hanya terdiam dengan ekspresi dingin dan berjalan tanpa memandang seorang pun. Kesan itu membuat orang-orang membicarakannya, tapi ia tidak peduli dan terus melangkah.


Sementara itu, Bing Jiazhi akhirnya terbangun, ia terbatuk-batuk di ranjang. Wajahnya sangat pucat pasca ia menyerap niat pedang dan ia memilih memejamkan matanya lalu tertidur guna menyembuhkan penyakitnya itu.


Lalu Zhizhu dengan pakaian putihnya juga ikut keluar untuk mengunjungi sebuah restoran terdekat. Saat ia berjalan memasuki restoran, orang-orang mulai memandangnya dan bertanya-tanya siapa gadis cantik itu. Saat itu, Zhizhu memiliki rambut yang panjang yang di gulung dan di kunci dengan tusuk rambut. Tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang cantik membuat orang-orang terpana memandangnya.


Zhizhu berusaha tidak mempedulikannya, ia berada di antara senang dan merasa jengkel dengan tatapan-tatapan itu.


Saat ia duduk, seorang pelayan wanita menghampirinya dan menawarkan hidangan-hidangan yang mereka jual.


Zhizhu langsung memotongnya dan menginginkan semangkuk soup terbaik yang di miliki restoran itu.


Merasa tersinggung, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, pelayan itu kemudian mengangguk-angguk dengan wajah jengkel.


Satu menit berlalu, akhirnya soup yang di inginkan akhirnya tiba.


Zhizhu memesan soup dengan campuran wortel dan beberapa potongan lobak. Dengan ke-kreatifan dan keahlian memasak, soup itu terlihat indah dengan warna merah jernih dengan potongan-potongan lobak dan wortel yang di ukir bunga. Di atasnya di taburi potongan-potongan bawang, yang membuatnya memiliki bau yang wangi.


Zhizhu kemudian mengambil Supit yang ada di meja. Mengaduk-aduk soup itu beberapa saat sembari melihat wajahnya yang telah berubah. Ia merasa kesal dengan penampilan barunya itu, tentunya menarik perhatian semua orang di restoran itu.


Kemudian setelah mengaduk-aduknya sebagai ungkapan kesalnya, ia kemudian mengambil potongan wortel lalu memasukkan ke dalam mulut.


Sensasi rasa gurih bercampur pedas terasa dalam potongan wortel itu. Ia ingin memakannya lagi, tetapi tiba-tiba sebuah belati melesat.


Dengan cekatan, Zhizhu melompat dan memandang ke arah orang yang telah melakukannya.


“Kau sungguh cekatan.”


Seorang pria duduk jauh di ujung sembari memeluk sebuah pedang. Ia terlihat sangat santai dan seolah tindakannya itu bukan apa-apa.


“Jika aku tidak cekatan, maka aku tidak akan selamat dari belati itu.”


“Hahaha. Menarik, sangat menarik”


Pria itu kemudian berdiri dan memasang wajah tajam ke arah Zhizhu.


Zhizhu balik menatapnya tajam.


...----------------...


Di saat bersamaan, ketika Shao Dong’er berjalan dan menuruni tangga lalu tiba di telaga, ia dengan senangnya melangkah lebih cepat dan kemudian berdiri di sana memandang air telaga yang jernih dan beberapa ikan-ikan merah kecil bergerak-gerak. Ia mengamatinya beberapa saat, hingga Pria asing yang selalu mengganggunya datang.


Shao Dong’er setelah menyelidiki orang itu, akhirnya ia tahu siapa identitas sebenarnya dari pria itu, maka ia kemudian berkata dingin, “Anda sangat baik menyembunyikannya, tapi di hadapanku, itu tidak ada artinya. Organisasi-organisasi gelap hanya sedikit yang tidak aku ketahui. Dari ujung selatan hingga Utara benua rumput biru, semuanya aku ketahui, termasuk organisasimu, tuan.”