Alam Mandala

Alam Mandala
Masalah masih berlanjut



Di depan gerbang Sekte Tao Gong, ratusan orang berdiri memegang payung berwarna emas. Semuanya menatap ke gerbang dengan tatapan tajam bagaikan elang menargetkan mangsanya. Mereka telah bersiap untuk mati dan berjuang demi pemimpin mereka.


Seorang memakai jubah berdiri di depan mereka semua. Di sampingnya berdiri seorang wanita memegang payung untuknya.


Zhao Wei menyilangkan kedua tangannya dan memeluk pedang panjang dan besar dengan selongsongan berwarna hitam peka. Ia menatap ke depan dengan aura kesatria yang sangat pemberani.


Wanita di sampingnya menatap ke depan, kemudian memandang ke atas.


Jun Hui telah datang dan berdiri di atas gerbang.


Zhao Wei tersenyum setelah melihatnya. Itu adalah senyuman meremehkan. “Jun Hui tua, lama tidak bertemu.”


“Lebih baik kita tidak bertemu untuk selamanya.” Jun Hui menjawab dengan nada dingin.


Zhao Wei tersenyum. Jun Hui sama seperti sebelumnya ketika pertarungan terakhir mereka di gunung. Ia tetap sama dengan sikap dinginnya dan mengeluarkan aura intimidasi. Waktu itu, ia kalah dan sekarang pun masih memiliki tingkat kultivasi yang lebih lemah, tapi ia telah memiliki rencana untuk mengani semua yang akan terjadi. Dan memastikan kemenangannya.


Pintu Sekte perlahan-lahan terbuka, puluhan murid sekte Tao Gong telah berbaris. Mereka rata-rata memiliki kultivasi mandala senior dan junior.


Setelah itu terbuka, Jun Hui berkata dengan dingin. “Hancurkan mereka.”


Semua murid mengangguk dan menarik pedangnya, kemudian keluar dengan semangat kesatria.


Sementara itu Zhao Wei tersenyum dan menarik pedangnya. “Saudara-saudara! Perlihatkan kekuatan kita yang sebenarnya!”


“Baik Tuan Zhao!”


Ujar mereka kemudian berlari dengan gagah berani.


Ketika mereka saling bertemu, mereka semua mengeluarkan cincin Mandala masing-masing dan mulai bertarung.


Salju emas berjatuhan menghiasi pertarungan mereka.


Di atas langit, Xue Ni masih terus berusaha mendekati anaknya. Dan Hao yu berusaha membantunya.


...----------------...


Jauh di dalam hutan dengan matahari yang telah ada di ufuk barat, Guang Ling terjatuh dan akhirnya mati. Ia ingin berkata dengan wajah di penuhi keterkejutan, tapi ajal terlebih dahulu menjemputnya. Kemudian darah kental keluar dari lehernya.


Tidak jauh dari sana, Bing jiazhi berdiri dengan pedang di tancabkan. Darah menetes di bilah pedangnya. Ia terbatuk-batuk dan memuntahkan seteguk darah.


“Apakah aku akan mati?”


Ia berkata dengan wajah pucat. Separuh tubuhnya telah di penuhi luka. Dan sangat sulit untuk di sembuhkan, mengingat bagaimana ia meningkatkan dengan paksa tingkat kultivasinya ke tingkat alam mandala ketua ahli dalam hitungan beberapa menit untuk melawan Guang Ling.


Seharusnya ia tidak melakukannya dan menunggu perlahan-lahan meningkat, tapi ia tidak punya pilihan selain melakukannya.


Teknik peningkatan kultivasi yang di berikan penjaga Perpustakaan itu sangat berharga dan kuat. Dan inilah risiko terberatnya, apalagi Bing Jiazhi melakukannya lebih parah.


Tubuhnya telah rusak dan di penuhi luka-luka dalam yang parah. Ia tidak dapat mendengar apa pun lagi dan perlahan-lahan pandangannya pun buram.


Ia tidak bisa mempertahankan tubuhnya dan akhirnya tidak sadarkan diri. Tapi sebelum itu, ia mencium bau yang sangat wangi dan tubuhnya terasa ada yang memegangnya.


...----------------...


Liang kemudian membawa Bing Jiazhi di bawah pohon terdekat. Lalu menyandarkannya dengan perlahan-lahan. Ia mengeluarkan sebuah kain dan mengusap darah yang menempel di wajah dan tangan Bing Jiazhi.


Setelah memastikan tidak ada darah yang tersisa, Liang kemudian pergi untuk mencari tanaman-tanaman herbal. Ia sangat tahu apa yang telah terjadi kepada Bing Jiazhi. Efek dari teknik gulungan itu memang sangat mematikan. Ia sebelumnya lupa mengatakan jika terjadi sesuatu seperti ini harus mencari tanaman obat untuk menyembuhkannya. Walaupun tumbuhan itu tidak memastikan akan menyembuhkannya, setidaknya luka yang di derita akan lebih cepat sembuh.


Namun, seperti kebanyakan tanaman herbal, semakin banyak kegunaannya dan khasiatnya, maka semakin sulit pula untuk di temukan.


Perlahan-lahan matahari mulai turun dan di gantikan bulan penuh. Kemudian cahaya matahari naik dari ufuk timur, tapi hanya sedikit terasa, yang di sebabkan salju yang terus-menerus semakin menebal.


Malam itu terasa lebih gelap dan siang lebih redup dari sebelumnya.


Xue Ni dan Hao yu berusaha sekuat mungkin untuk mendekati anaknya.


Arya semakin melemah dan murid-murid sekte Tao Gong mulai menggantikan yang lemah. Tetapi karena jumlah jiwa-jiwa semakin banyak, membuat mereka kewalahan dan menambah kekuatan arya. Bahkan beberapa ketua ikut membantu.


Sementara itu, pertarungan antara murid-murid sekte Tao Gong dan anak-anak buah Zhao wei terus berlangsung. Walaupun waktu bertarung semalaman, kedua pihak masih seimbang dan tidak ada korban jiwa yang berjatuhan. Tapi ada beberapa yang terluka.


Di pagi harinya, Liang kembali membawa semangkuk cairan berwarna ungu. Itu adalah ramuan tanaman herbal kunyit ungu yang sulit di temukan dan harganya sangat mahal. Sangat baik di jadikan obat untuk luka dalam dan luar. Kecepatan penyebuhannya juga sangat cepat.


Ia datang dengan pakaian yang kotor dan lusuh. Rambutnya berantakan dan wajahnya kotor. Namun itu belum cukup menghalangi kecantikannya.


Ketika ia datang, Zhu Han telah berada di dekat Bing Jiazhi. Ia kemudian menatap Liang, dan terpaku dengan kecantikannya. Untuk pertama kalinya, ia telah melihat seorang peri. Dengan pakaian putih, tubuh langsing dan rambut panjang, ia telah terpesona dengannya.


Liang tidak memperdulikan tatapan itu dan memberikan Bing Jiazhi minum.


Zhu Han telah berada di sana untuk semalaman. Ia telah melakukan beberapa upaya untuk menyembuhkan Bing Jiazhi. Namun itu hanya mampu membuat luka-luka Bing Jiazhi membaik. Zhu Han terus mencoba hingga energinya habis.


Ia kemudian memutuskan untuk berjaga-jaga di sana, dan menunggu adiknya kembali datang.


Liang kemudian duduk di sana dan menyisir rambutnya dengan sisir yang selalu ia bawa.


Zhu Han tidak tahan untuk bertanya tentang gadis itu. Ia pun bertanya ragu-ragu tentang siapa dia.


“Aku istrinya.”


Tiba-tiba suasana menjadi hening. Salju-salju tetap berjatuhan dan angin terus berhembus. Namun di telinga Zhu Han ia tidak mendengar apa pun.


Jawaban gadis tadi membuatnya terkejut dan sekaligus kecewa. Ia mengerti, ia adalah istri dari adik Juniornya.


Namun, Zhu Han mulai berpikir, kenapa gadis di depannya ini menikah begitu sangat muda. Wanita-wanita biasanya menikah di umur tiga puluh hingga empat puluh ke atas. Mereka tidak takut tidak menikah, karena dengan tingkat kultivasinya, mereka bisa hidup awet muda. Memikirkannya membuat ia bertanya. “Mengapa kau menikah muda?”


Liang menatapnya dengan lembut dan ia menjawab dengan nada seperti angin yang berhembus tenang. “karena ia telah menolongku.”


“Jika aku menolongmu, apakah kau mau menikahiku?”


Liang diam sebentar dan mengangguk.


Mereka berdua terdiam setelahnya. Zhu Han memikirkan tentang Liang. Sementara Liang sendiri duduk dan memeluk lututnya. Ia menenggelamkan wajahnya dalam kedua lutunya dan tertidur.


Sepanjang malam itu, ia tidak tidur sama sekali. Ia terus berjalan mencari kunyit ungu, bertarung dengan berbagai monster dan mencari makanan untuk di makan. Ia sangat kelelahan dan perlu tidur sebentar.


Namun, Bing Jiazhi bangun, kemudian terbatuk-batuk dan memuntahkan seteguk darah. Ia kemudian bersandar di pohon.


“Adik Junior.” Zhu Han membantunya.