
“Jika kau tahu, mengapa kau tidak takut?”
“Aku tidak mempunyai apa-apa untukmu, jadi, untuk apa aku harus takut?”
Shao Dong’er tahu jika organisasi tersebut mengincar dan mencari pusaka berserta harta benda, dan ia tidak mempunyai keduanya. Dan jika pun mereka ingin membunuh di sini, mereka akan berpikir seribu kali untuk melakukannya, selain karena tempat itu di penuhi banyak orang, Huang Tang tentunya tidak akan pernah diam melihat istrinya dalam bahaya.
“Tapi kau mempunyainya, Nona.”
“Apa yang aku punya?” Shao Dong’er menoleh menatap pria itu dan ia bertanya tenang dan tanpa ketertarikan apa pun.
“Tubuhmu... kau mempunyai tubuhmu.”
Shao dong’er Ingin bertanya, tetapi ia tiba-tiba merasa pusing. Ia kemudian bertanya, dan kemudian tidak sadarkan diri.
...----------------...
Melihat pria itu akan memulai keributan, Zhizhu lalu berjalan ke luar sembari ia berkata, “Aku akan melayanimu.”
Semua orang tentunya tahu apa yang akan terjadi dan mulai bertanya-tanya tentang identitas Zhizhu dan pria itu. Jika mereka mengetahuinya, maka pasti ada salah satu orang yang akan berteriak, tetapi tampaknya mereka tidak tahu apa pun tentang ke dua orang itu, selain, Zhizhu sangat cantik dengan pedang indah di punggungnya.
Semua orang ke luar dan melihat Zhizhu berdiri di lapangan. Kulitnya yang putih dan wajahnya yang cantik tampak berkilau ketika cahaya matahari menyentuhnya.
Orang-orang sangat menikmatinya dan berandai-andai jika mereka mampu memilikinya.
Sementara pria tadi kemudian berjalan dan berdiri berhadapan dengan Zhizhu. 20 meter jaraknya dengan gadis itu.
Pria itu tersenyum. “Jika aku hidup, maka kau akan mati.”
Zhizhu kemudian berkata, “Dan jika aku menang, maka tidak ada harapan untuk keluargamu mengkremasi jasadmu.”
Pria itu merasa marah, dan ia kemudian mengepalkan tangannya erat-erat. Satu cincin muncul di dahinya, lalu cahaya putih kemudian ke luar lalu menuju ke lengannya. Pria itu kemudian mengambil ancang-ancang. “Aku tidak akan membiarkannya.”
Ia pun melesat dan mengayunkan pukulannya.
Dang!!!!
Zhizhu dengan cepat menarik pedangnya dan dengan kedua tangannya memegang pedang, ia menahan pukulan pria itu.
Kemudian, Zhizhu lalu mengangkat kakinya dan mengayunkan tepat ke kepala pria itu. Pria itu menginjak kaki kanannya dan melompat mundur. Ia lalu menyiapkan kepalan tangannya dan bergerak maju. Satu cincin kemudian muncul lagi dan pria itu berteriak keras lalu mengayunkan tangannya.
Zhizhu lalu melompat demi menghindarinya, dan di udara itu, ia mengayunkan pedangnya ke kepala pria itu. Semua orang tentunya tahu, jika pria itu tidak menghindar maka ia akan kehilangan kepalanya itu.
Para penonton kemudian menebak, jika pria itu akan melompat mundur, tapi yang tidak terduga pria itu lakukan; ia menghadang dengan sikunya sendiri, dan anehnya tidak ada luka. Ia kemudian mengayunkan pukulannya.
Zhizhu ingin melompat mundur, tapi sialnya, pria itu berhasil memegang kakinya. Kemudian pria itu menariknya, lalu pukulan yang sangat keras mendarat di dada Zhizhu. Pria itu tidak menghentikan serangannya; segera setelah itu, pria itu membanting Zhizhu dan meninggalkan retakan di tanah.
Zhizhu melompat mundur dan bertumpu dengan pedangnya. Ia merasa punggung dan dadanya sakit. Lalu darah merah segar ke luar dari bibir cantiknya.
Pria itu menyeringai kemudian mengeluarkan dua cincinnya dan menghilang. Lalu muncul tepat di depan Zhizhu. “Kau akan kalah!”
Pria itu kemudian melayangkan tendangannya. Zhizhu tidak sempat menghindar, dan tendangan itu mengenai bahunya. Namun ia akhirnya berhasil mengendalikan tubuhnya agar tidak menyentuh tanah, lalu melompat mundur. Namun, pria itu tidak memberikannya nafas sedikit pun; ia tiba-tiba muncul di depannya dan melayangkan pukulan. Bersamaan dengan itu, cincinnya berdering keras, dan tangannya yang mengepal terselimuti kabut tipis yang kental.
Zhizhu mengayunkan pedangnya, lalu ia melompat mundur, dan apa yang ia duga benar adanya; ledakan pun terjadi dan menyisakan petir- petir di tanah.
Pria itu lalu tersenyum dan kemudian berlari ke depan menerjang Zhizhu. Ia melayangkan pukulan demi pukulan dan melancarkan serangan-serangannya dengan cepat. Sementara itu, Zhizhu belum mengeluarkan sedikit pun kekuatannya. Hingga pada akhirnya pria itu kelelahan dan Zhizhu sedikit tersenyum melihatnya. “Sekarang giliranku.”
Ketika kata-kata itu di jatuhkan, Zhizhu berusaha mengendalikan pedang di tangannya. Lalu setelahnya cincin pertama di keluarkan.
Air-air kemudian muncul dari tanah dan mengelilingi Zhizhu. Pedang Zhizhu berubah menjadi warna biru seperti biasa. Lalu kemudian di udara perlahan-lahan kelopak-kelopak bunga persik muncul dan berterbangan. Tidak lama setelahnya, kelopak-kelopak bunga itu berubah menjadi warna biru dan berwarna cerah ketika matahari menyinarinya.
Semua orang terpana melihat keindahan itu. Dan orang-orang ingin sekali memiliki Zhizhu dan menjadikannya istri. Selain itu, dengan apa yang mereka lihat sekarang, mereka menyimpulkan jika Zhizhu tentunya bukan berasal dari keluarga sederhana dan bukan juga Gadis dari sekte biasa.
Tapi ekspresi pria itu di penuhi kejutan dan bertanya-tanya bagaimana Zhizhu mampu mengendalikan pedang itu dengan cepat dan beberapa hari saja. Ia tentunya datang demi Pedang itu, dan membunuh Zhizhu sebelum mendapatkannya. Dengan mengandalkan pukulannya, ia sangat yakin mampu melakukannya, tetapi sekarang, setelah melihat apa yang terjadi, ia ragu-ragu, apakah bisa melakukannya atau tidak.
Tapi, dengan segenap kekuatan yang di milikinya sekarang, ia berkemungkinan mampu mengalahkannya dan lagi pula, ia yakin, Zhizhu tidak sepenuhnya bisa mengendalikan pedang itu.
Empat cincin lalu muncul di dahinya dan bersamaan dengannya tekanan yang sangat besar muncul. Cahaya putih menyebar, lalu di kedua tangannya muncul petir-petir putih yang sangat ganas. Pria itu kemudian mengambil ancang-ancang. Dengan ekspresi yang sangat serius di wajahnya, ia berkata, “Meski pun kau mampu mengendalikannya, kau tentu hanya bisa melakukan itu saja.”
Ia kemudian berlari ke depan dengan kecepatan yang sangat cepat bagaikan sebuah cahaya yang di tembakan.
Sementara Zhizhu tidak membalasnya, tapi ekspresi di wajahnya sedikit terajut. Tentunya apa yang di katakan pria itu ada benarnya, ia belum mampu sepenuhnya mengendalikan pedang di tangannya itu. Dan ia juga takut, jika pria itu memiliki kekuatan yang lebih besar darinya, sehingga membuatnya tidak bisa berkutik.
Zhizhu pun kemudian melangkahkan kaki kanannya ke depan dan di saat bersamaan mengayunkan pedang dengan keras. Buih-buih air yang ada kemudian menyatu dan membentuk bilah air yang sangat panjang dan besar, melesat ke arah pria itu.