Alam Mandala

Alam Mandala
Persalinan



Sejak tadi pagi, Meng Lin merasa aneh pada tubuhnya. Pertama, punggungnya terasa sakit, kemudian setelah beberapa menit sekali, perutnya tambah sakit dan terus berlangsung. Setelahnya, perlahan-lahan ia merasa ada cairan yang keluar dari rahimnya.


Ia merasa tidak nyaman, terlebih lagi perutnya yang sebelumnya masih sakit.


Orang suci tua yang selalu menjaga Meng Lin kemudian di perintahkannya untuk mengecek keadaan, tapi sebelum ia berhasil menyentuh tubuh Meng Lin, perlahan-lahan air ketuban yang berwarna kekuningan ke luar dari ************ meng Lin mengalir dan akhirnya menetes ke lantai.


Orang suci itu tentunya tidak tahu tentang masalah ini. Ia datang hanya untuk mengusir setan-setan jahat yang mengganggu Meng Lin, maka dari itu, ia kemudian bergegas ke luar dan mencari wanita tua yang mengerti akan masalah kandungan wanita.


Orang suci itu tahu, jika masalah itu sudah pasti ada kaitannya dengan masalah kandungannya.


Ia mengetuk beberapa kali pintu kamar wanita itu, baru wanita itu beranjak dan membuka pintu. Ia terlihat lesu dan pucat, tapi wajahnya berusaha menampakkan kesan marah dan kesal. Ia kemudian berkata kasar dan mengutuk perbuatan orang suci itu.


Tapi orang suci itu tidak kesal, sebaliknya ia berkata khawatir, “Istri gubernur sepertinya akan melahirkan!”


Wanita itu tercengang dan wajahnya seketika menegang. Ia tentunya tahu jika beberapa hari lagi istri gubernur akan melahirkan, yang membuat ia memikirkan jika istri gubernur melahirkan lebih awal.


Tidak mau terjadi kenapa-kenapa, ia kemudian berujar sambil berlari, “Cepat panggil yang lainnya! Istri gubernur harus di beri pertolongan secepat mungkin!”


Pria suci itu, meskipun adalah orang yang di hormati, ia merasa tidak tersinggung oleh permintaan wanita itu, ia pun mengunjungi setia kamar pelayan dan memberitahunya. Kegemparan malam itu pun terjadi, seolah hujan deras tiba-tiba terjatuh di langit tanpa pertanda.


Sementara itu, wanita tua yang mengerti akan kandungan, merasa gembira sekaligus khawatir jika anak yang akan lahir sudah mati atau bukan anak manusia. Tetapi, untuk menghibur wanita calon ibu itu, ia sebaik mungkin mengatur pujian-pujian dan harapan-harapan untuknya, agar proses kelahirannya berjalan lancar.


Ia berkata, “Jika seorang ibu melahirkan lebih awal dari tanggal yang di tentukan, maka ia cenderung akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan gubernur sangat menyukai anak laki-laki. Yang mulia harus mengerahkan tenaga yang lebih besar untuk mendorongnya keluar, tapi juga jangan terlalu, itu akan mengakibatkan cedera.”


Meng Lin yang ada di ranjang berkata pelan, “begitukah?”


Ia menahan sakit yang lebih besar sembari mendorong bayinya ke luar.


Betapa sebaik mungkin dan selembutnya wanita itu berkata, Meng Lin bukan gadis yang mudah di tipu; ia tahu, kandungannya berada dalam masalah dan itu sangat serius. Meski nanti yang lahir seorang anak laki-laki, sudah tentu ia akan mati, atau yang lebih baik lagi, anak itu lahir dengan wujud lainnya.


Atau mungkin yang lainnya lagi, yang tidak ia ketahui.


Orang suci dan pelayan yang masih tersisa berdoa di luar kepada langit, agar proses kelahiran berjalan lancar.


Mereka tidak peduli, apakah dinginnya malam itu dan sangat tidak sehatnya.


Setelah melakukannya, orang suci memandang ke atap rumah, yang di mana, terlihat asap-asap hitam yang bergelung-gelung seperti asap dupa.


Ia pun terkejut dan semakin intens merapalkan mantra. Ia tentunya tidak berharap proses kelahiran itu di ganggu oleh para iblis ataupun setan-setan yang selama ini mengganggu kandungan istri Gubernur.


...----------------...


Zhizhu kemudian mendarat dengan lembut di halaman rumah ketika Chao Ming dan penjaganya datang.


Ketika itu, Penjaga Chao Ming mempersiapkan tangan untuk mengagapi pedang anggarnya jika Zhizhu untuk menyerangnya.


Zhizhu dengan pakaian hijau muda mendekat dan menundukan kepala, “guruku sudah menunggu anda di dalam.”


Chao Ming mengangguk dan berjalan melintasi Zhizhu bersama penjaganya, tapi saat sudah dekat dengan pintu, Zhizhu berkata masih dengan menundukkan kepala, “Maaf tuan gubernur, guruku hanya ingin bertemu denganmu secara pribadi.”


“Mengapa begitu!?” penjaga Chao Ming tidak terima dan berteriak


Zhizhu berbalik menatapnya, dan terlihat wajahnya yang dingin Tanpa ekspresi seperti es-es yang menyelimuti dinding gua. “Karena itu permintaan guruku, anda tidak boleh membantahnya.”


Merasa jengkel, penjaga itu kemudian menarik pedang anggarnya secepat kilat dan mengarahkan ke arah Zhizhu. “Memangnya siapa kau? Berani sekali memerintahkan itu kepadaku?” tanya penjaga itu sembari ujung pedang anggarnya bergetar karena kecepatan ia menariknya.


Zhizhu masih diam dan tenang. Ia tidak berniat mengambil pedang di punggungnya. Ia kemudian berkata, “Di sini, siapa yang memerlukan dan di perlukan? Jika kau menolaknya, silakan pergi dari sini.”


Penjaga itu tidak terima. Tentunya, itu adalah sikap merendahkan tuannya sebagai gubernur kota. Seorang gubernur memiliki kuasa atas kotanya, dan tidak seorang pun yang boleh mengaturnya.


Tanpa memberi Penjaga itu berkata, Chao Ming kemudian berjalan masuk ke dalamnya.


Penjaga itu sebenarnya tidak mau melakukannya, tapi Tuannya memiliki kontrol terhadap dirinya.


Tentu saja, jika terjadi apa-apa terhadap Chao Ming, penjaga itu akan mengetahuinya dan ia akan datang menyelamatkannya.


...----------------...


Setelah membukanya, pintu kembali tertutup. Di dalam ruang yang di sinari cahaya rembulan dari lubang-lubang kecil di atasnya, Bing Jiazhi duduk kemudian membuka matanya menatap Chao Ming. “Kau sudah datang.”


Alis Chao Ming terangkat dan sedikit muncul keterkejutan di wajahnya. Kemudian ia berusaha kembali tenang, “Aku ternyata telah di tipu.”


“Siapa yang menipumu? Ini adalah kesalahanmu sendiri.”


Chao Ming merasakan dan melihat samar-samar aura kematian yang mengelilingi tubuh Bing Jiazhi, yang berarti jika ia telah membunuh banyak nyawa.


Meski ada banyak sekali dugaan tentang usaha pembunuhannya, Chao Ming berusaha agar tidak terprovokasi. “Mengapa tuan ingin menemuiku?”


“Di Dunia ini ada banyak sekali musuh-musuh, dan ada banyak sekali dendam, kebencian, kemarahan, aku memanfaatkan salah satunya untuk mendapatkan sesuatu yang berharga.”


Chao Ming tentu tahu apa yang di maksud Bing Jiazhi, ia kemudian berkata, “jika anda bergabung denganku, maka aku bisa memberikan lebih dari apa yang orang itu berikan.”


“Sayang sekali, aku tidak tertarik.”


Bing jiazhi kemudian berdiri dan berjalan mendekat.


Chao Ming tahu apa yang akan di lakukannya dan ia telah gagal bernegosiasi dengannya, maka dari itu, ia kemudian membunyikan lonceng yang di bawanya.


Bing jiazhi tersenyum menyeringai seperti iblis kemudian terhenti. “Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu.”


...----------------...


Sementara itu di luar, penjaga Chao Ming di penuhi kegelisahan, dan ternyata itu benar adanya.


Setelah mendengar suara lonceng itu, ia mengambil pedangnya dan bergegas ke arah pintu.


Tetapi, secepat kilat Zhizhu muncul di depan pintu sembari memegang pedang yang di penuhi cahaya biru langit dengan beberapa garis-garis putih halus. Tatapannya mengganas dan sangat tajam seperti harimau yang mengintai musuhnya. “Tidak ada yang mampu menghalangi rencana kami. Jika kau ingin menolongnya, maka kau harus mengalahiku terlebih dahulu.”


Penjaga Chao Ming tetap bergerak maju dan tidak peduli dengan ucapan Zhizhu. Ia kemudian berteriak sambil menebaskan pedangnya, “Jangan halangi aku!!”


Namun usaha itu gagal. Zhizhu juga mengayunkan pedangnya dan mendorong pedang anggar penjaga itu dan membuatnya melompat mundur.


Wajah penjaga itu kemudian di penuhi keterkejutan ketika ia berhasil di dorong mundur.


Ketika ia mengayunkan pedangnya, samar-samar ia melihat buih-buih air yang bergerak menyelimuti tubuhnya dan ingin mencengkeramnya. Kejadian itu begitu cepat, sehingga ia tidak yakin, apakah itu nyata atau tidak. Tapi segera sesuai instingnya ia bergerak mundur. Jika ia tetap berusaha maju apa yang akan terjadi?


Empat cincin di dahi Zhizhu muncul dan membuat Penjaga itu lebih terkejut dan mulai bertanya-tanya mengapa ia tidak menyadarinya.


Ternyata gadis itu bukan orang sembarangan, membuat penjaga itu semakin gelisah tentang apa yang akan terjadi kepada tuannya.


Buih-buih air muncul dari rumput-rumput yang ada di bawah Zhizhu kemudian berkumpul membentuk seekor burung-burung kecil. Ini adalah kemampuan ke tiganya, mengubah bentuk.


Beberapa burung-burung terbang bebas mengitari tubuhnya. Jika sebelumnya muncul seekor lumba-lumba, maka sekarang, untuk menyerang penjaga itu, Zhizhu memiliki burung untuk melakukannya. Selain cepat, burung-burung juga lincah, namun meski tidak sekuat lumba-lumba.


Ia kemudian mengacungkan pedangnya ke arah penjaga itu, kemudian burung-burung terbang ke arahnya.