
Mata Liang Ting’er lebih bercahaya dan warna biru matanya lebih keras. Melihat Bing Jiazhi bergerak lebih cepat, Liang Ting’er lebih menfokuskan semua pikirannya kepada gerakan Bing Jiazhi. Sesuai dengan apa yang di lihatnya, Pemuda itu memiliki kemampuan memprediksi lawan sama halnya dengan apa yang di milikinya sekarang. Hanya, itu adalah kemampuan tanpa energi Mandala yang membuatnya unik.
Liang Ting’er kemudian mengangkat tinggi-tinggi pedangnya. Pedang itu bercahaya putih dan sangat berkilauan ketika cahaya matahari siang menyinarinya, yang bahkan silaunya sulit membuat Zhizhu melihat pedang itu. Di siang hari seperti ini, pedang itu bagaikan lampu yang menyilaukan.
Sembari mengangkat sedikit tangan untuk melihat pedang itu, Zhizhu bergumam, “Apa yang akan dia lakukan saat ini? Wanita ini adalah salah satu orang terhormat dan memiliki kekuatan yang tidak pernah aku lihat. Sangat menarik jika beberapa kemampuannya di pertunjukan saat ini.”
Zhizhu kemudian menoleh ke bawah, yang di mana pedangnya ada di sana.
Sebuah pedang yang memiliki sarung kayu gelap dan ada beberapa ukiran-ukiran bunga persik. Ia menariknya sedikit dan menggeleng. “bahkan silauan Pedangku tidak bisa di bandingkan dengan pedang wanita itu.”
...----------------...
Angin bertiup lebih kencang dari belakang Liang Ting’er yang membuat rambut hitam panjangnya bergerak tidak beraturan dan menutupi sebagian wajahnya yang sudah mengkerut karena usia, akan tetapi wajah itu tetap cantik dan anggun.
Ia kemudian menatap ke arah Bing Jiazhi dengan tatapan tajam yang bahkan lebih tajam dari pedang itu sendiri. Ia kemudian memejamkan mata dan di saat bersamaan muncul di langit menghalangi cahaya matahari. Liang Ting’er tetap dengan wajahnya yang dingin dan tajam. Namun, pedang di tangannya telah berubah menjadi ribuan jarum di belakangnya dan bergerak-gerak berputar.
Sementara itu, Bing Jiazhi berhenti ketika melihat Liang Ting’er berada di langit dengan ribuan jarum. Sama seperti sebelumnya, wajahnya masih tenang dan terlihat tidak takut dengan apa yang akan di lakukan oleh wanita itu.
Liang Ting’er mengancungkan jarinya dan ribuan jarum itu kemudian menerjang ke arah Bing Jiazhi.
Bing jiazhi yang tanpa ekspresi mulai mengayunkan pedangnya untuk mematahkan semua serangan itu. Karena jumlahnya yang tidak terhitung, kecepatan tangan Bing Jiazhi sangat tidak terlihat.
Suara-suara dentingan jarum-jarum terdengar nyaring di sekitar Bing Jiazhi dan beberapa kali Bing Jiazhi mengerutkan kening karena jarum-jarum itu berhasil mengenai tubuhnya.
Tidak beberapa saat, akhirnya semua jarum-jarum itu berhasil mendarat entah di tanah dan di patahkan oleh pedang Bing jiazhi. Beberapa juga ada yang mengenai tubuhnya.
Liang Ting’er tidak merasa bangga dengan pencapaiannya itu, sebaliknya ia terkejut. Beberapa gerakan yang di lakukan oleh jarum-jarum itu, sebagian besar Bing Jiazhi mampu mengikutinya, yang berarti kemampuan mengikuti dan memprediksi Bing Jiazhi sangat mengagumkan.
“Anak muda, kau sungguh berbakat. Aku akan datang kembali untukmu.”
Sebuah pusaran muncul di belakang Liang Ting’er dan ia masuk ke dalamnya.
Bing Jiazhi tetap diam memandangnya. Jika di perhatikan, ekspresi kesakitan terlihat sedikit di wajahnya yang tenang itu.
Tentunya, itu tidak lain karena beberapa jarum-jarum menusuk dalam tubuhnya dan itu harus di keluarkan jika tidak ingin terinfeksi.
Zhizhu kemudian melompat mendekatinya. “Adik Bing, kau kalah.”
Bing Jiazhi memasukkan kembali pedang ke dalam sarung yang berada di punggungnya sambil berkata, “Dari awal, pertarungan ini memang terlihat jelas siapa yang akan menang.”
“Jika kau membiarkan aku ikut maka kita pasti bisa mengalahkannya.”
“Kakak Senior Zhizhu, kekuatan mungkin bisa menyainginya, tapi pengalaman, kita tidak akan bisa menyainginya. Jika dia berkehendak membunuh kita berdua, dia mungkin dengan mudah akan melakukannya.”
...----------------...
Ketika mereka kembali, prajurit masih berjaga-jaga di sana dan kelihatannya tidak ada yang terjadi.
Para prajurit itu memberi hormat, sementara Bing Jiazhi dan Zhizhu berjalan tanpa membalasnya. Tapi, kemudian Bing Jiazhi tiba-tiba terhenti dan wajahnya terlihat sangat serius dengan kedua alis sedikit terangkat.
“akh!!!”
Itu bukan suaranya, tapi prajurit tadi yang memberi hormat terpental dan tersungkur di tanah dengan sangat keras.
Zhizhu yang sebelumnya melihat Bing Jiazhi terdiam, jadi mengerti dengan apa yang terjadi. Mereka berdua kemudian memandang prajurit itu. Mereka jelas-jelas melihat prajurit itu terpental, tapi sekarang ia terlihat bersimpuh dengan kedua tangannya lemas. Kedua matanya terpejam dan, ada sebuah pedang panjang menusuk kepalanya dengan ujungnya menetes satu tetesan darah. Pedang itu menembus kepala prajurit itu dan membuat prajurit lainnya tercengang.
Kemudian, perlahan-lahan keluar darah-darah dari tubuhnya itu tanpa alasan yang jelas.
Mereka kemudian mengangkat kepalanya dan memandang sosok yang melakukannya.
“Bukan aku yang melakukannya saudara-saudara.”
Seorang pria muda dengan tubuh sedikit langsing bersandar di atas dahan pohon dan menyilang kedua tangan di belakang kepala. Ia terlihat sangat santai dan seolah tidak menyadari sesuatu yang terjadi sebelumnya.
Sementara itu, di sampingnya seorang wanita berpakaian abu-abu duduk. Di tangannya ada sebuah teko dan cangkir. Sambil menuangkannya, ia berbicara kepada pemuda itu, “Suamiku, kau tidak perlu mempedulikan mereka.”
Wanita itu kemudian mengulurkan cangkir yang telah di isi.
Setelah mengambilnya, pria itu berkata tenang sembari menggoyang-goyangkan cangkir kecil di tangannya, “Jika mereka tidak menatapku seperti itu, aku tidak akan mempedulikannya.”
Pria itu kemudian meneguknya. Tatapannya kemudian menjadi lebih keras dan matanya menyipit menatap Bing Jiazhi. “Aku mual dengan tatapan mereka. Terutama pemuda itu.”
Ia kemudian membuang cangkir itu lalu melompat turun bersama wanita di sampingnya.
Meski ada beberapa prajurit yang berjaga, tidak ada satu pun dari mereka yang berani bertindak di hadapan pria itu. Dan para prajurit itu memperlihatkan ketakutan ketika kedua orang itu terjun ke tanah. Mereka semua menelan ludah.
Bing Jiazhi hingga saat ini tidak berbicara sepatah kata pun. Rasa sakit di tusuk jarum membuatnya terdiam menahan sakit.
Sementara itu, Zhizhu menarik pedangnya perlahan-lahan kemudian menunjuk kedua orang itu dengan pedangnya. “Kami percaya kau tidak melakukannya, tapi kami yakin jika tanganmu yang melakukannya tuan. Aku tidak tahu apakah tanganmu lepas kendali hingga melempar Pedang itu.”
Pria itu kemudian mengerut kening dan tertawa. “Lelucon apa yang telah kau katakan Nona muda? Tanganku lepas kendali?” Ia kemudian menggeleng. “ Tanganku ini tidak akan lepas kendali, ia hanya melakukan apa yang wajib di lakukan. Sekarang, kedua tangan ini ingin sekali membunuh kalian berdua. Ini bukan kesalahanku, tapi kesalahan kalian yang telah membuat tangan ini bergerak.”
Wanita yang ada di sampingnya melepas tusuk konde yang ada di kepangnya, lalu rambut berwarna putih terjun bebas. Wanita bertubuh mungil itu tampak lebih menyeramkan dibandingkan sebelumnya. “ Aku Han chi, ingin bertarung denganmu Nona cantik. Aku ingin menguji apakah dengan tusuk rambut ini bisa menusuk kulit cantik wanita sepertimu dan membuatnya hancur selain menghiasi rambut yang menjadi mahkota seorang gadis.”
Zhizhu kemudian menarik pedangnya. Ia kemudian menyentuh ujung pedang itu sambil melihat rambut pendeknya dalam pantulan pedang. “Pedang ini sangat berkilauan, sangat di sayangkan jika akan menyentuh darah kotor. Tapi, sesekali tidak apa-apa jika melakukannya, lagi pula, semua pedang tidak akan selalu mendapatkan darah yang bersih.