
Ia kemudian mengayunkannya ke depan, bersamaan dengannya ombak laut semakin meninggi kemudian berjalan menerjang Bing jiazhi. Pria itu dengan sisa-sisa kekuatannya melompat-lompat ke tempat lain.
Hingga beberapa saat, ia kemudian melompat dan tiga cincinnya kembali muncul. Lalu mengayunkan pedangnya ke depan.
Itu adalah gabungan dari ketiga cincinnya, antara kecepatan, bayangan dan ledakan atom.
Tapi sayangnya hanya dengan aduan angin di udara, serangan Bing Jiazhi meledak dan membuat serpihan-serpihan kapal semakin hancur. Sementara itu, ia melompat-lompat menghindar dari ombak air yang menyerangnya dari segala sisi. Ini tentunya bukan karena air itu di kendalikan, melainkan karena angin kencang yang ada di sekitarnya.
Bing jiazhi hanya perlu melompat-lompat untuk menghindar.
Sementara gadis itu semakin mengganas dan ia kemudian mengarahkan telapak tangannya lalu di ayunkan.
Angin semakin kencang dan ombak semakin tinggi.
Bing jiazhi kesulitan menghindar dan tubuhnya di penuhi keringat, meski beberapa kali tersapu karena ombak. Pada akhirnya ia melompat jauh ke belakang sembari memandang gadis itu.
Melihat kondisi Bing Jiazhi, gadis itu menghentikan serangannya. Ia kemudian menarik kembali pedangnya. Ekspresi di wajahnya terbilang sangat dingin dan tajam, keberaniannya begitu besar. Ia kemudian menunduk menatap Bing Jiazhi yang telah kelelahan. “Saya pikir, akan ada orang hebat yang datang, tapi ternyata dugaan saya salah. Sekarang, kembalilah ke tempat asalmu, tetapi, aku tidak akan membiarkanmu kembali dengan utuh, karena itu adalah kebiasaanku. Aku hanya memerlukan kedua tanganmu, hanya itu saja.”
Gadis itu kemudian mengayunkan pedangnya dan ombak setinggi 50 meter terbentuk. Kemudian menerjang Bing jiazhi.
Suara ombak yang jatuh sangat besar dan mampu membuat orang-orang ketakutan saat mendengarnya.
Ketika ombak besar itu perlahan-lahan tenang, Gadis itu memandang ke sekitar untuk memastikan keberadaan Bing Jiazhi. Dan setelah memastikannya, ia kemudian berbalik dan hendak pergi, akan tetapi, ada suara yang menghentikannya.
“Kau telah menguras tenagaku, sekarang, saatnya aku yang melakukannya.”
Gadis itu menjadi gembira setelah mendengarnya. Ternyata pria itu mampu melewati serangannya dan sekarang berdiri di depannya. Sebagai seseorang yang kesepian dan memerlukan hiburan, tentunya ia akan gembira jika Bing jiazhi bertahan lebih lama dan memberinya hiburan. Ia kemudian berbalik menatap Bing Jiazhi yang telah melayang di udara. Muncul di pikirannya, mengapa pria itu tidak terbang sebelumnya untuk menghindari?
Yang membuat gadis itu lebih penasaran, Pedang Bing Jiazhi bercahaya lebih terang dari sebelumnya dan ia bertanya-tanya, apakah pemuda itu mampu mengendalikan pedang yang ada di tangannya itu.
Bing jiazhi tersenyum kemudian mengayunkan pedangnya. Bersamaan dengan itu, sebuah tebasan berwarna hijau keluar seperti bulan sabit. Bergerak cepat menerjang ke depan.
Pedang di tangan gadis itu kemudian bergetar dan melesat. Namun ketika dua serangan itu bertemu, tiba-tiba tebasan Bing Jiazhi menghilang, tapi tidak membuat Bing Jiazhi terkejut ataupun gadis itu senang.
Bing jiazhi kemudian mengeluarkan cincin ke-tiganya dan berkata tenang, “Aku akan mengakhiri ini semua.”
Ia kemudian mengarahkan telapak tangannya ke depan.
Bommm!!!
Pedang itu mendarat di tangannya dan Bing Jiazhi berusaha menahannya.
Pedang itu memiliki tekanan yang sangat kuat.
Melihat Bing Jiazhi melakukannya, membuat gadis itu tertawa. Itu adalah pedang kekuatan tinggi, mustahil dihentikan seperti itu.
Namun, tiba-tiba muncul cahaya hijau dari tubuh Bing Jiazhi dan membuat pedang angin kering bergetar, dan itu membuat gadis itu terkejut, sekaligus penasaran.
Bing jiazhi kemudian berteriak menahan sakit dan tubuhnya terdorong. Kerutan-kerutan di wajahnya semakin keras, kemudian darah perlahan-lahan keluar dari mulutnya. Tangannya terasa sangat sakit, tapi ia yakin, sebentar lagi, Pedang itu mampu di kendalikan.
Gadis itu tahu situasinya, ia kemudian menarik pedangnya kembali, tapi tiba-tiba sebuah kurungan transparan berwarna hijau mengelilingi Bing Jiazhi dan membuat pedang itu tidak dapat ke luar.
Kemudian tidak beberapa saat, kekuatan pedang angin kering melemah dan akhirnya terdiam. Lalu berubah menjadi cahaya putih kemudian masuk ke dahi Bing Jiazhi.
Kurungan hijau itu kemudian semakin transparan lalu menyatu menjadi pedang kemalangan musim semi dan mendarat di tangan Bing Jiazhi. Sejak kapan pedang itu berubah menjadi kurungan?
Ketika Bing jiazhi mengayunkan pedangnya, Pedangnya langsung menghilang dan ia tidak punya pilihan lain selain menahan serangan pedang itu dengan mengaktifkan ledakan atom. Ia sadar, jika tanpa angin di sekitarnya, Pedang itu tidak berguna. Pedang itu mengendalikan angin, bukan menciptanya. Maka dari itu, Bing Jiazhi mengurungnya dan menghancurkan atom-atom yang ada di dalam angin.
Jika saja ia mengetahuinya lebih awal, maka ia tidak perlu membuang-buang waktu untuk bertarung melawan gadis itu.
Pedang kemalangan musim semi semakin bersinar dan angin muncul menyelimutinya. Bing jiazhi bertanya-tanya apakah itu adalah niat pedang angin kering
Gadis itu kemudian melayang mendekatinya. “Akhirnya tugasku selesai.”
“Senior, bolehkah aku bertanya siapa dirimu?”
Meskipun ia seorang kecil, Bing Jiazhi tahu jika ia bukan orang sembarangan.
“Identitasku tidak penting.”
Gadis itu kemudian melambaikan tangannya, lalu serpihan-serpihan kapal terangkat di udara, perlahan-lahan menyatu membentuk sebuah kapal utuh tanpa seolah tidak terjadi sesuatu sebelumnya.
Bing jiazhi dan gadis itu mendarat di sana.
Gadis itu kemudian berjalan ke pinggir dan menatap lautan. “Anak muda, gunakan niat pedang itu dengan baik.”
“Aku akan melakukannya dengan baik. Senior, bolehkah aku tahu...”
Sebelum Bing Jiazhi menyelesaikannya, tiba-tiba ia berada di kamarnya. Lalu rasa sakit yang parah menyerangnya, membuat ia terbatuk-batuk darah. Sembari menahan sakit, ia mendekati ranjang kemudian menjatuhkan dirinya di sana.
Sekarang ia terluka parah lagi karena memakai kekuatannya untuk melawan gadis itu. Tapi jika ia tidak memaksakan diri, apakah ia akan selamat hari ini?
Bing jiazhi kemudian memejamkan matanya menahan sakit.
...----------------...
Sementara itu, Zhizhu di kamarnya duduk sembari ia menatap pedang bunga persik yang sangat di kaguminya itu. Sekarang saatnya ia mencoba melakukan apa yang di perintahkan Shao Dong’er sebelumnya. Sebenarnya, ia ingin melakukannya besok, tapi karena ia tidak bisa tidur malam ini, ia akan mencobanya.
Siang itu ketika masih hujan, Shao Dong’er datang ke ruangannya dan berdiri memandang jendela yang di penuhi buih-buih hujan.
Ketika itu, Zhizhu melihatnya lebih cantik daripada sebelumnya.
Shao Dong’er berkata tenang sembari ia menatap hujan di luar, “Kau hanya perlu mengalirkan kekuatan inti Mandalamu ke dalam pedang itu, lalu merasakan energi di dalamnya. Jika kau beruntung, maka energimu dan pedang itu akan menyatu, dan pada saat itulah kau dan pedang bunga persik telah terhubung. Jika kau gagal, maka kau akan terluka parah. Hanya itu yang bisa aku sampaikan sekarang.”
Setelahnya, Shao Dong’er berbalik pergi.
Zhizhu melihatnya sangat dingin dan cepat-cepat pergi. Shao Dong’er terlihat memiliki masalah, tapi ia tidak tahu masalah apa yang ada.
Zhizhu kemudian memegang pedang itu. Kemudian mengalirkan energi inti Mandalanya. Perlahan-lahan energinya berjalan dan mulai menelusuri pedang itu.
Tidak beberapa lama, Zhizhu mengerut kening karena ia mulai merasakan energi pedang itu melawan energinya yang masuk.