Alam Mandala

Alam Mandala
Kejadian yang indah



Bing Jiazhi kemudian mengayunkan pedangnya ke depan dengan lembut.


Cahaya hijau melesat dengan bentuk bulan sabit.


Pria itu merasakan aura yang kuat, tapi ia cukup yakin bisa menahannya. Ia mengayunkan pedangnya, kemudian aura ungu berbentuk serigala lagi muncul dan suaranya menggelegar.


Kedua serangan mengeluarkan suara ledakan ketika bertemu. Serigala itu ingin melahap cahaya hijau itu.


Lalu tidak lama kemudian serigala itu mampu melahapnya dan membuat pria memakai capil itu tersenyum. Tapi tidak berselang lama, ia terlihat pucat, karena serigala itu meledak.


Tapi pria itu masih yakin dengan kemampuannya. Ia mengangkat pedang besarnya dan meletakkan di bahu. “Aku tidak percaya anak muda sepertimu memiliki kekuatan yang kuat.”


Ia kemudian mengambil ancang-ancang dan berlari. Kemudian mengayunkan pedangnya. Setelah pedang menyentuhnya, ia merasakan perlawanan yang kuat, ia masih mampu menahannya, tapi kemudian itu semakin kuat dan akhirnya membuat dirinya di lahap oleh cahaya hijau itu. Ekspresi wajah yang percaya diri, perlahan-lahan menjadi pucat dan akhirnya di penuhi ketakutan.


Ia berteriak kesakitan seolah di bakar api neraka.


Cahaya itu kemudian menjadi bulatan kecil dan akhirnya meledak.


Bing Jiazhi memandang dingin, kemudian ia terjatuh. Ia menancapkan pedangnya ke tanah, kemudian memandang ledakan besar di depannya. Asap-asap bermunculan.


Ia terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah. Tetapi, ini belum selesai.


...----------------...


Dari dalam kabut perlahan-lahan sosok samar-samar muncul dan akhirnya keluar dari sana, yang tidak lain adalah Pria tadi. Pakaiannya hancur dan topi capilnya sudah menghilang entah ke mana.


Sekarang terlihat jelas wajahnya, ia memiliki rambut pirang hitam dan wajah yang sangar. Ia tertawa lantang. “Ternyata kau mampu mendorongku hingga menjadi seperti ini. Sungguh luar biasa pedang itu. Jika tanpa itu kau tidak akan bisa melakukannya. Setelah aku membunuhmu dan mendapatkan pedang itu, aku akan menjadi semakin kuat.”


“Dengar anak muda.” Ia meletakkan pedang di bahunya. “kau akan mendapatkan cara terbaik untuk pergi setelah menyerahkan pedang itu. Kau juga harus ingat nama ini, aku adalah pembunuh. Namaku Guan Ling, sang pembunuh.”


Bing Jiazhi hanya terdiam menatapnya. Ia tidak mempunyai kekuatan lagi untuk melawannya. Semua kekuatan telah ia keluarkan. Dan semua rencana telah ia pikirkan untuk melawannya. Tapi semua itu masih belum cukup untuk membunuhnya. Ia juga tidak bisa melarikan diri karena tubuhnya terluka saat ini.


Namun, tiba-tiba di tempat yang jauh, pilar kuning terpancar dengan suara desingan yang tajam.


Setelah mencapai langit, lubang yang memperlihatkan langit biru terbuka. Seperti pilar itu menusuknya.


Bing Jiazhi dan Guang Ling memandangnya dan tiba-tiba Bing jiazhi menjadi khawatir. Ia mulai yakin, kekhawatiran dan perasaan buruknya ada hubungannya dengan pilar dan musim salju ini.


...----------------...


Sejak pagi, Hao Yu telah mencari putrinya. Ia semakin gelisah karena tidak menemukannya di mana-mana. Ia telah mencari di semua sudut dan tempat-tempat yang sering di kunjungi. Bahkan ia telah meminta bantuan kepada para murid untuk mencarinya, tetapi hingga sekarang, tidak ada informasi apa pun yang di dapatkannya. Ia semakin gelisah dan khawatir.


Dan ia juga mengingat bagaimana janjinya kepada Xue Ni ketika mereka berpisah.


Xue Ni pernah memperingatinya untuk menjaga anaknya dengan baik dan lakukan dengan kasih sayang.


Hao Yu berjanji melakukan itu. Tapi ia lupa dengan semua itu setelah bertahun-tahun Xue Ni tidak pulang dan memberikan kabar. Di tambah lagi dengan anaknya yang mulai mempertanyakan di mana Ibunya.


Ia mulai tertekan dan kesal dengan semua itu. Dengan minum dan mabuk ia dapat menguranginya. Ia tertekan karena tidak mampu memberikan informasi mengenai ibunya dan kata-kata Xue Yan yang sering kali menusuk-nusuknya.


Setelah mencari berbagai tempat, ia pergi ke perpustakaan. Tempat yang tidak mungkin Xue Yan datangi. Ia mengenal putrinya tidak akan pernah mengunjungi perpustakaan, karena anak itu suka bermain dan berjalan-jalan.


Ketika mendekati pintu, ia merasakan kehadiran energi yang kuat dan di penuhi keilahian.


Ia perlahan-lahan membuka pintu, dan butiran-butiran salju emas keluar.


Saat sepenuhnya di buka, ia melihat anaknya melayang dengan butiran-butiran salju mengelilinginya. Xue Yan melayang dengan melentangkan kedua tangannya. Ia memejamkan mata. Rambutnya sedikit terangkat dan menyebar indah.


“Yan’er, apa yang kau lakukan?!”


Hao Yu bergegas mendekatinya, tetapi tiba-tiba angin kencang mendorongnya ke luar.


Ia ingin mencobanya lagi, tapi tiba-tiba pilar kuning terpancar ke langit. Bersamaan dengan itu, Xue Yan tiba-tiba melayang di atas langit yang tinggi.


...----------------...


“Apakah aku terlambat?” dengan nada kesedihan, Xue Ni berdiri menatap kejadian mengagumkan di depannya.


Ketua sekte Tao Gong, Jun Hui, yang menjadi orang tertinggi bingung dengan kejadian ini. Sepanjang hidupnya, ia telah melihat berbagai kejadian-kejadian dan peristiwa -peristiwa penting dan mengerikan, tapi ia tidak pernah melihat dan merasakan peristiwa yang di penuhi aura ilahi seperti ini.


Ia hanya menyaksikannya dengan wajah terheran-heran.


Xue Ni memandang pilar emas itu dengan wajah dingin, lebih dingin dari sebelumnya. Tapi di dalam ia telah hancur dan rapuh.


Xue Yan adalah anak kedua yang ia miliki dan terakhir, ia tidak mau apa pun yang terjadi kepadanya.


Xue Ni telah berusaha bergerak cepat untuk tiba, tapi itu masih terlambat. Sekarang, ia tidak tahu harus berbuat seperti apa.


Seorang biksu tua berjalan mendekatinya dan berkata kepadanya, “Kau tidak terlambat. Selagi kau masih mempunyai waktu untuk melakukannya, kau masih bisa menyelamatkannya.”


“Aku tidak tahu harus berbuat seperti apa.”


“Pergi dan dekati dia.”


Xue Ni mempercayainya begitu saja. Ia kemudian melompat dan terbang mendekati anaknya.


...----------------...


Perpustakaan di bawah Xue Yan akhirnya hancur. Retakan-retakan merah terlihat dan bercahaya terang di tanah. Lubang akhirnya terbentuk dengan warna merah kental seperti lava yang ada di perut bumi. Di permukaannya bergelembung-gelembung dan mengeluarkan aura panas yang sangat mematikan.


Dari langit, jiwa-jiwa berwarna putih mulai keluar seperti kupu-kupu berterbangan. Dan lubang di bawahnya suara-suara menyeramkan terdengar dan aura-aura merah mulai keluar satu persatu dari sana.


Semua orang di desa salju memperhatikan kejadian ini dengan ketakutan. Mereka mulai mengemas barang-barang mereka dan mulai mengungsi.


“Langit telah marah.”


“Kita tidak bisa tinggal di sini lagi.”


“Bencana telah terjadi.”


Gumam orang-orang dan mulai mempersiapkan diri untuk pergi.


Beberapa dari mereka juga bertahan untuk melihat kejadian selanjutnya.


Kemudian, lingkaran emas muncul di langit dengan ukiran-ukiran unik, tepat di lubang biru itu. Kemudian cahaya-cahaya transparan keluar dan membatasi area lingkaran itu. Sebuah Arya terbentuk dan membatasi pergerakan roh-roh dari surga dan neraka.


Ini adalah kemampuan para murid untuk mengunci roh-roh. Mereka menggabungkan semua energi inti Mandala untuk membuatnya.


Sebelum itu terbentuk, Xue Ni telah berhasil masuk dan semakin mendekati anaknya.


Semakin ia mendekat, tekanan yang terpancar semakin kuat.


50 puluh siswa Sekte Tao Gong berdiri melingkar dan mengeluarkan semua energi mereka. Di antara mereka, dua ketua ikut membantu memperkokoh Arya tersebut.


Jiwa-jiwa yang datang dari surga dan neraka terbang bingung mencari celah di Arya tersebut. Beberapa mengetuk-ngetuk keras dan mengeluarkan suara melengking.


Lalu, di atas atap pagoda tertinggi kejauhan, Jun Hui berdiri dengan satu kakinya menyentuh ujung pagoda. Angin kencang mampu membuat jubah putihnya berterbangan. Namun angin itu tidak mampu mengacaukan keseimbangannya.


Ia menatap kejadian ini dengan sepasang mata tajam dan alis sedikit terangkat. Mencari penyebab kejadian ini adalah hal sulit, tapi ketika ia melihat yang menjadi penyebab semua ini adalah anak kecil yang baru berusia 6 tahun, membuatnya terkejut sekaligus tertawa. Ia pikir kejadian ini di sebabkan oleh para bandit yang selalu mengacaukan desa salju dan telah menjadi musuh sektenya.


Atau yang normal lagi sekte jahat yang ingin menghancurkan sektenya. Tapi ini penyebabnya seorang anak kecil.


Namun, sangat menarik jika anak itu di latih dengan baik di sektenya, dengan begitu, maka akan terlahir orang-orang hebat lainnya.


Tapi, sekarang ia harus menyelesaikan ini terlebih dahulu.


Ia bersiap untuk pergi tapi tiba-tiba ia mendengar suara berisik dari jauh.


“Jung Hui tua! Keluarlah! Hadapi aku sekarang!”


“Orang itu lagi.” Jung Hui berkata dengan kesal, kemudian pergi menghampirinya.